Karya terbaru Gurania Zee yang menceritakan tentang gadis tidak peka dan cinta segitiga antara Aluna, Arsen dan Prasha Arzelio.
memiliki kisah yang sedikit rumit perihal rahasia misteri kematian ayahnya dan adanya permainan bisnis yang menjadikannya sebuah kunci utama dari misteri tersebut. dan Cinta yang mulai tumbuh perlahan. Aluna seorang gadis yang polos tanpa sadar menjadi pusat permainan dalam dunia bisnis mendiang ayahnya. yang jauh lebih besar dari semua intriks itu bahkan paling tidak menyadari akan hal yang paling sederhana yaitu, perasaannya sendiri. karena terkadang misteri dalam hidup, bukanlah rahasia dari kisah masa lalu melainkan hati yang terlambat menyadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langkah Arsen tidak melambat sedikit pun, sepatu pantofel ya beradu dengan lantai marmer yang ritmenya begitu tegas seperti isi kepalanya yang sudah memutuskan akan sesuatu tanpa ruang lagi untuk meragu.
Pintu ruang meetingpun terbuka lebar, satu persatu direksi sudah mulai pada duduk. Tatapan mereka begitu campur aduk, heran, tersinggung, deg degan, panik tapi semua itu Arsen tidak peduli akan semua itu. Yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan satu persatu masalah sebelum ke inti masalah.
Ia berjalan lurus ke ujung meja, duduk dan terdiam sejenak, kemudian matanya menyapu ke seluruh para pekerja yang duduk dihadapannya saat ini mengelilingi meja rapat saat itu.
"Kek, kita mulai."
"Silahkan, kakeh serahkan semuanya sama kamu." Arsen mengangguk mengerti, "Oke semua, Gue enggak punya banyak waktu, jadi kita langsung aja, mulai hari ini semua proyek ekspansi yang belum fix,..TAHAN!."
"Pardon sir, salah satu direksi mengangkat tangannya untuk angkat suara, Arsen langsung memberikan kesempatan untuk berbicara "Please"
"Pak Arsen, itu suatu keputusan besar, sementara kita sudah jalan,.."
"I don't Care about that!, Gue bilang tahan ya tahan!"
nada Arsen datar tapi begitu tajam, kalau ada yang keberatan ya silahkan keluar sekarang." semua saling memandang satu sama lain, saling menggerakkan alisnya masing masing seolah saling memberikan kode. Dan semua itu Arsen perhatikan gelagat semuanya satu persatu.
semua hanya terdiam tak ada yang berani membantah dan berani lanjut bicara. "Perusahaan ini lagi butuh kestabilan bukan keambisian" tangannya mengepal pelan dibawah meja. "Dan gue butuh semua selesai dengan cepat!"
Disisi lain jakarta yang terasa begitu jauh dan lebih sempit dari yang dibayangkan untuk Lola malam itu " Apa?! Sekarang?! Suara Lola naik satu oktaf. Didepannya Darto berdiri dengan wajah yang begitu santai yang justru bikin darahnya makin naik.
"Iyo mbak e, itu ada bapak mbae katanya mbae suruh kedepan, kalau tidak lima belas menit lagi pak gembul yang akan datang jembut mbae"
Lola menatapnya tidak percaya. “Lo bercanda kan?”
“Enggak mbae." Tangannya langsung dingin.
“Ya Alloh To, tolongin gue bilang aja gue kagak ada ya, gue enggak mau dibawa sama bapak, gue mau dinikah paksa To sama anaknya pak gembul."
"Owalah, Kenapa nggak bilang dari tadi Mbae, sek sek, Darto mikir dulu."
"Darto kelamaan gue mau kabur aja kalo gitu."
"Yowes Mbae gini aja, mbae di sini aja biar Darto yang hadepin Yo, jangan takut Darto sudah dapet pesan dari bos Arden kalo harus jaga mbak Lola."
"Yaudah To, bilang aja gue lagi kemana kek gitu gue enggak mau ketemu sama tuh orang."
Ponsel Lola beberapa kali berbunyi, melihat bapaknya yang terus menerus menghubungi membuat Lola benar benar frustasi dibuatnya. Sementara bapak Lola sudah ada diluar pagar rumah catur tersebut.
Lola pun menjawab panggilan tersebut, "Pak, maksud bapak apa sih pak, sampai suruh pak gembul jemput Lola, Lola enggak mau ah pak,"
"La, pokoknya bapak enggak mau tau, kamu harus mau bapak jodohkan, Turun sekarang bapak ada diluar pagar eggak perlu nunggu kelulusan segala."
"Pak!."
"Enggak ada tapi tapi Lola, kamu mau ngarepin si Arden arden itu mau sampai kapan Lola, kalo dia serius sama kamu pasti dia akan jawab cepat enggak bikin bapak atau kamu lama nunggu, ini sudah lebih dari satu Minggu bapak tunggu tidak ada kabar sama sekali."
"Pak, please jangan paksa Lola, bapak sayang nggak sih sama anak kandung bapak sendiri, apa jangan jangan Lola ini bukan anak kandung bapak?."
"Lola!, jaga bicara kamu!."
"Bapak lakuin ini buat yang terbaik untuk masa depan anak bapak!."
"iya Lola tau pak, tapi enggak gini caranya juga pak, Lola masih pengen sekolah enggak mau buru buru nikah."
Meninggalkan kekisruhan dirumah catur kembali ke Singapura. Arden masih berdiri di lorong, namun kali ini, langkahnya terhenti. Ponselnya bergetar.
Nama: Lola. Ia langsung angkat. “Kenapa, La?” Tidak langsung ada jawaban.
"Den,.." suara Lola terdengar kecil tapi panik "Gue,.."
sementara dijakarta pak gembul dan anaknya yang bertubuh gempal mulai datang dengan gaya tengil dan sombongnya, kedua netranya menyapu ruangan dengan detail menelisik ke setiap sudutnya.
Semua yang berada distudio para penghuni rumah catur pun pada keluar satu persatu dan mereka saling berbisik satu sama lain, ada lagi yang saling sikut menyikut "Bro siapa yang dateng gayanya tengil banget."
"Enggak tau, baru liat gue, tamunya si Abah kali." sebutan akrab kakek dengan panggilan Abah.
"Bentar gue panggil Darto dulu, tuh anak enggak keliatan batang hidungnya." ucap Bimo.
"Dartooo," panggil Bimo yang langsung berlari mencari kesetiap sudut ruangan.
Dan Zahra yang kelewat kepo bertanya pada pak gembul yang sedang berdiri petantang petenteng gayanya sudah seperti triliuner saja.
"Maaf pak, bapak mau cari siapa ya?." tanya Zahra saking keponya.
"Lola," sahut pak gembul singkat.
"Iya dimana Lola?." ucap pak gembul lagi.
"Oh Lola toh, bapak siapanya" tanya Zahra.
****
“Siapa yang datang?!” sepersekian detik melewati kesunyian malam itu.
"Mereka Den." ucap Lola sambil terisak.
Satu kata, tapi sudah cukup untuk Arden dan ia langsung mengerti, “Lo lagi di mana sekarang?”
“Di kamar…”
“Denger gue ya.” ucap Arden.
Nada Arden berubah menjadi tegas sambil berpikir cepat saat itu, masih dalam sambungan telponnya dengan Lola, Lola belum berani turun dari kamar tersebut. Darto sudah meminta tolong pada ibu Ratna yang baru saja datang, dan pak gembul berhasil teralihkan oleh kekompakan para penghuni rumah catur yang sudah mendapatkan pesan beruntun dari Arden agar mereka dapat mengatasi masalah Lola selagi dirinya tak ada disana.
“Jangan turun sebelum gue bilang.” titah Arsen dari balik telpon. Lola mengiyakan ia masih modar mandir tak tenang dan terus menangis di dalam kamar.
“Gue telepon lagi lima menit.” ucap Arden dan ponsel pun terputus. Belum sempat Lola jawab Arden sudah menutup sambungan. Prasha yang dari tadi memperhatikan langsung berdiri.
“Ada apa?” tanya Prasha. Arden mengambil jaketnya cepat. “Gue harus balik.”
“Hah, balik?, sekarang?!” Prasha begitu terkejut sekaligus heran. “Iya. Sekarang.” Prasha mengernyit. “Terus di sini?” Arden Sanjaya menatap ICU Beberapa detik. Lalu ke Aluna. "Jaga dia aja, gue ada urusan dulu” Nada itu pelan tapi Prasha langsung mengangguk faham “Pasti.”
Di Jakarta, Lola berdiri di depan cermin tangannya gemetar bukan karena takut bertemu. Tapi karena merasa tidak punya pilihan. Ketukan pintu terdengar.
“Lola. Keluar.” Itu suara bapaknya. Lola menutup matanya sebentar. Menarik napas panjang. Namun saat ia membuka mata, ponselnya bergetar lagi.
Pesan masuk, Dari: Arden, “Jangan turun. Gue lagi jalan ke lo.” ucap Arden dalam pesan singkatnya itu.
Deg. Dunia seperti berhenti satu detik.
“Gila…” teriak Lola dalam batinnya yang saat ini sedang frustasi berat. Ia menatap layar itu lama.
"lo beneran ya…” Untuk pertama kalinya di tengah panik ia malah tersenyum kecil.
"Thanks ya Den"
**
Di ruang tamu, pak gembul yang sedari tadi sudah datang bersama bapa Lola dan anaknya masih setia menunggu Lola yang tak kunjung turun juga
pria berkemeja dan bertubuh gempal dengan tatapannya tajam mengamati setiap sudut rumah.
“Mana anaknya?” tanyanya singkat. Darto dengan tingkat konyolnya berusaha mengalihkan dengan humor recehnya.
Namun tetap tidak berpengaruh sama sekali, tetap mereka fokusnya pada Lola saat itu. Darto panik, "Pegimana ini mbae susah kalidarto ngalihin."
Lola belum keluar juga, Darto sudah keringat dingin dibuatnya.
Di Kalimantan, Meeting yang belum selesai tapi Arsen sudah berdiri. “Meeting cukup.”
“Pak, ini belum,..?."
“Gue bilang cukup.” tegas Arsen.
Semua terdiam, Arsen mengambil map yang ia raih dari tangan Clara asistennya dan langsung berjalan keluar. Clara menyusul cepat. “Pak Arsen, Anda mau ke mana lagi?”
Langkahnya tidak berhenti.
“Jakarta.” Clara kaget. “Sekarang?”
“Iya.” “Kenapa mendadak?."
Arsen berhenti, menoleh sedikit dengan tatapannya yang dingin. “Karena kalau gue telat…” Ia diam sejenak. “semuanya bisa berantakan.” Clara tidak berani tanya lagi.
Semua bergerak secara kebetulan diwaktu yang hampir bersamaan. Arden dari Singapura dan Arsen dari Kalimantan. menuju satu titik yang sama yaitu Jakarta. sedangkan Lola ia masih mondar mandir dengan pikiran yang tidak karuan. Dengan ketidak tenangan.