NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Pertemuan di Tengah Kerumunan

Salju yang turun di Ibukota semakin tebal, menyelimuti atap-atap gedung tua dengan warna putih yang dingin. Di depan klinik kecil itu, suasana mendadak kacau. Adelie, bocah kecil yang biasanya tenang, kini sedang menangis tersedu-sedu di teras. Ia menolak masuk ke dalam rumah, kakinya menghentak-hentak salju yang tipis.

"Tidak mau! Adel mau jalan-jalan sama Paman! Paman janji mau lihat istana salju yang besar!" Teriak Adelie. Suaranya yang serak karena tangis membuat Maira kewalahan.

Matthew berdiri mematung di samping mobilnya. Hatinya yang kaku seolah teriris melihat air mata bocah itu. Entah dorongan dari mana—mungkin rasa bersalah yang terakumulasi selama bertahun-tahun, atau mungkin rasa sayang yang tumbuh secara instan—Matthew melangkah maju.

"Maira, biarkan dia ikut dengan saya sebentar," ucap Matthew tenang, namun penuh otoritas. "Hanya ke pusat kota. Saya akan menjaganya dengan nyawa saya."

Maira menatap Matthew dengan kebencian yang bercampur keputusasaan. Namun, melihat Adelie yang mulai sesak napas karena tangisnya yang meledak-ledak, Maira akhirnya menyerah. "Satu jam, Tuan Duke. Hanya satu jam. Jika seujung rambutnya terluka, saya tidak akan memaafkan Anda."

Matthew mengangguk kaku. Ia menggendong Adelie—anak dari pria yang dulu ia benci—dan mendudukkannya di kursi belakang mobil mewah miliknya. Adelie segera berhenti menangis, matanya yang bulat menatap jendela dengan binar kekaguman.

Pusat kota Ibukota sore itu sangat ramai. Lampu-lampu kristal jalanan mulai menyala, memberikan kesan magis pada salju yang turun. Matthew berjalan di antara kerumunan dengan Adelie yang digandengnya erat. Jenderal Agung itu tampak sangat kontras, mantel hitamnya yang mahal bersinggungan dengan mantel merah marun Adelie yang sederhana.

Adelie menarik-narik tangan Matthew, menunjuk ke arah toko boneka dan kedai cokelat panas. Matthew, yang tidak pernah tahu cara berurusan dengan anak kecil, hanya mengikuti ke mana pun kaki kecil itu melangkah. Ia bahkan membelikan Adelie sebuah boneka kelinci putih dan segelas besar cokelat panas dengan marshmallow di atasnya.

"Paman, lihat! Ada es krim pelangi!" Adelie berseru riang, menunjuk ke arah sebuah kedai di sudut jalan.

Matthew tersenyum sangat tipis—sebuah senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Saat itu, ia merasa bukan sebagai Jenderal, melainkan hanya seorang pria yang sedang mencoba menebus dosa masa lalunya melalui seorang anak.

Namun, di seberang jalan, di dalam sebuah kafe kelas atas yang dindingnya terbuat dari kaca transparan, seorang wanita sedang duduk terpaku.

Daisy.

Ia ada di sana untuk urusan agensi musiknya, membahas kontrak kolaborasi untuk lagu terbarunya. Namun, fokusnya teralihkan sepenuhnya pada pemandangan di trotoar seberang. Ia melihat suaminya—pria yang tadi pagi pamit untuk urusan evaluasi militer—sedang menggandeng seorang anak kecil.

Daisy meletakkan cangkir kopinya dengan tangan yang gemetar. Ia memperhatikan bagaimana Matthew berjongkok untuk merapikan syal bocah itu. Ia melihat bagaimana Matthew menatap bocah itu dengan tatapan yang... lembut.

Siapa anak itu? Batin Daisy.

Gengsinya yang setinggi langit menahannya untuk tidak langsung berlari keluar dan melabrak Matthew di depan umum. Ia tidak ingin membuat keributan yang akan mempermalukan namanya sebagai keponakan Raja. Daisy memilih untuk tetap bungkam, duduk tegak di kursinya dengan wajah yang sedingin es, namun matanya terus merekam setiap detail pemandangan menyakitkan itu.

Ia melihat Adelie tertawa, dan ia melihat Matthew mengusap kepala bocah itu. Hati Daisy berdenyut hebat. Selama tiga tahun lebih pernikahan, Matthew selalu menjaga jarak diatas tempat tidur mereka. Namun di sana, di tengah keramaian, Matthew tampak begitu dekat dengan rahasia yang ia bawa.

Lampu-lampu taman Glanzwald berpijar pucat di bawah sisa salju yang turun. Di dalam paviliun, suasana terasa begitu vakum, seolah-olah udara sengaja menahan napas. Daisy duduk di kursi beludru dekat perapian yang apinya mulai mengecil. Tangannya menggenggam sebuah buku, namun matanya tidak membaca satu kata pun. Pikirannya masih tertahan pada siluet pria tegap yang berjongkok merapikan syal seorang bocah merah marun di pusat kota tadi.

Pintu besar paviliun terbuka. Suara langkah bot militer Matthew terdengar berat, namun kali ini ada sedikit keraguan dalam ritmenya.

Daisy tidak beranjak. Ia tidak menoleh. Ia hanya membalikkan halaman bukunya dengan gerakan yang sangat pelan dan elegan.

"Kau belum tidur, Daisy?" Suara Matthew memecah kesunyian. Ia berdiri beberapa meter di belakang kursi Daisy, berusaha mengatur napasnya agar tidak terdengar seperti pria yang baru saja berlari dari sebuah rahasia.

"Belum," jawab Daisy singkat. Suaranya sangat tenang. Tidak ada nada tinggi, tidak ada getaran kemarahan. Hanya ada ketenangan yang jernih seperti air danau di musim dingin. "Pertemuan di barak militer sepertinya sangat menyita waktu Anda hari ini, Jenderal."

Matthew melepaskan mantel hitamnya. "Ya. Evaluasi akhir tahun selalu melelahkan. Banyak dokumen yang harus ditandatangani."

Daisy menutup bukunya pelan, lalu bangkit berdiri. Ia berbalik, menatap Matthew dengan pandangan yang sulit dibaca. Matanya yang cokelat madu menatap lurus ke dalam mata dark blue suaminya.

"Ini sudah ketiga kalinya dalam minggu ini Anda memberikan jawaban yang sama," ucap Daisy datar. Ia melangkah mendekat, namun ia berhenti tepat sebelum jarak mereka menjadi intim. "Jawaban yang sangat... konsisten. Saya menghargai kedisiplinan militer Anda dalam menyusun alasan, Matthew."

Matthew menegang. Ia merasa ada yang berbeda dari cara Daisy menatapnya hari ini. Biasanya Daisy akan menyindir atau menunjukkan kekesalan dengan jelas, tapi hari ini, istrinya tampak sangat terkontrol. Terlalu tenang.

"Apakah ada yang salah?" Tanya Matthew, mencoba menguji air.

Daisy tersenyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya. "Tidak ada yang salah. Saya hanya berpikir, betapa hebatnya Anda. Bekerja keras di barak yang dingin, namun tetap bisa menjaga kehangatan tubuh Anda seolah-olah Anda baru saja menghabiskan waktu di tempat yang penuh dengan... tawa anak-anak dan cokelat panas."

Degup jantung Matthew seolah berhenti sejenak. Ia terdiam, mencari kata-kata yang tepat, namun lidahnya terasa kelu.

"Istirahatlah, Jenderal," lanjut Daisy sebelum Matthew sempat membela diri. Ia mengusap pundak seragam Matthew sejenak, menghilangkan sebutir salju yang masih tersisa di sana. "Anda pasti sangat lelah karena harus memerankan banyak peran sekaligus."

Tanpa menunggu balasan, Daisy berjalan melewati Matthew menuju tangga. Langkah kakinya ringan, namun bagi Matthew, setiap ketukan hak sepatu Daisy di lantai porselen terdengar seperti hitungan mundur bom waktu.

Malam itu, di dalam kamar yang gelap, Daisy tidak langsung tidur. Ia berbaring membelakangi Matthew, matanya terbuka lebar menatap kegelapan. Ia tidak menangis. Baginya, air mata hanya akan mengaburkan pandangannya dari kebenaran.

Tiga kali berbohong, batin Daisy. Matthew yang kaku tidak akan berbohong sebanyak itu jika hal ini tidak sangat penting baginya.

Daisy mulai menyusun kepingan teka-teki itu di kepalanya. Pria yang membenci anak kecil dan keramaian itu tiba-tiba menghabiskan waktu sorenya di pusat kota dengan seorang bocah perempuan. Bocah itu bukan anak sembarangan, Matthew menatapnya dengan rasa bersalah sekaligus kasih sayang. Hanya ada satu kemungkinan: bocah itu adalah jembatan menuju masa lalu yang belum selesai.

Keesokan paginya, suasana sarapan di Glanzwald berlangsung sangat normal. Terlalu normal. Daisy tetap menuangkan teh untuk Matthew dan bertanya tentang jadwal militernya seperti biasa.

"Saya ada latihan lapangan di wilayah Barat hari ini," ucap Matthew, tetap pada pola kebohongannya.

"Baiklah. Hati-hati di jalan, Jenderal," sahut Daisy manis.

Begitu mobil Matthew keluar dari gerbang Glanzwald, ketenangan Daisy berubah menjadi ketegasan yang dingin.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!