NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Mas?

Pagi hari telah menyapa.

Karena Deana sudah terbiasa bangun pagi, kini ia justru bangun lebih pagi lagi karena merasa aneh dengan suasana kamar tidurnya. Kamar baru membuat Deana belum bisa tidur nyenyak.

"Aku di sini." gumamnya pelan lalu menghembuskan napasnya panjang. Menatap seluruh sudut kamar yang luasnya tidak seberapa itu. Untung saja, di sana sudah ada kamar mandi di dalam, jadi Deana merasa lebih nyaman karena tidak harus bolak-balik terlalu jauh jika ingin ke kamar mandi.

Deana bangun dari tidurnya, ia mengambil handuk dan pakaian gantinya yang masih ada di dalam tas besar miliknya itu. Ia belum sempat mengemasi barang-barangnya di dalam lemari.

Deana selesai mandi, rambut hitam panjangnya basah karena Deana menyempatkan diri untuk keramas, rambutnya sudah kumal karena kemarin terlalu banyak beraktivitas.

Deana sudah rapi, ia hanya memakai parfum dan mengoles bibirnya dengan lipbalm berwarna peach. Hanya itu saja, Deana masih terlihat sangat cantik dengan wajah naturalnya.

Hampir berkutat dengan semuanya, Deana masih termenung di hadapan kaca riasnya yang terpampang besar itu, kemudian ia membuang napasnya panjang.

"Haruskah aku berdamai dengan hidupku?" Deana menatap pantulan perutnya di cermin, ia meremasnya kuat-kuat

"Ya Allah jangan sampai aku mengandung anaknya." gumamnya

Selesai dengan semuanya, Deana keluar dari kamarnya menuju dapur. Ia ingin ikut memasak bersama para pelayan. Ingin mencari kegiatan agar tidak bosan.

"Selamat pagi semuanya...." sapa Deana kepada semua orang yang sedang bertugas di dapur.

Ada tiga orang pelayan di sana. Mereka semua tersenyum tipis melihat kedatangan Deana pagi-pagi.

"Mbak, saya ingin membantu menyiapkan keperluan untuk sarapan." ujar Deana mengajukan diri. Ia ikut mengambil piring dan gelas dari lemari dapur.

"Nyonya jangan, biar kami saja... Nanti kami pasti kena marah Tuan. Nyonya ingin kami buatkan apa?" ucap salah satu pelayan itu menahan tangan Deana.

Deana mengelus lengan pelayan itu, "Dea mau bantu masak. Tenang saja tidak ada yang perlu kalian khawatirkan, nanti kalau Tuan marah, urusan saya." balas Deana terkekeh.

Deana masih belum bisa memposisikannya sebagai seorang Nyonya, mendengar para pelayan memanggilnya dengan sebutan itu, telinganya saja merasa geli.

"Baik Nyonya... Hari ini, kami membuat menu sarapan soto daging sapi." ucap pelayan yang masih memotong daging sapi berbentuk dadu itu.

Deana mengangguk, "Lena ikut makan dengan menu ini?"

Pelayan itu menggeleng, "Kami belum memikirkan menu untuk Nona kecil." ucapnya. Karena biasanya, Lena makan pukul sembilan atau sepuluh pagi, ikut sarapan hanya sesuai moodnya saja.

"Kalau begitu, Deana ingin buat nasi goreng sosis untuk Lena. Pasti dia menyukainya." ucap Deana.

Pelayan mengangguk setuju, "Pasti Nona kecil senang kalau dibuatkan menu oleh Nyonya sendiri." puji pelayan itu tersenyum.

Deana membalas senyumannya, "Makasih Mbak."

Deana langsung memakai apron yang tergantung di sudut ruangan itu. Membuka kulkas berukuran besar untuk mengambil bahan-bahan yang akan ia gunakan untuk membuat nasi goreng.

Beberapa menit kemudian akhirnya nasi goreng sosis buatan Deana sudah matang. Deana membuatnya dua porsi, ia membuatkan untuk Lena di atas piring dan satunya lagi ia taruh di dalam kotak bekal untuk suaminya. Deana juga inisiatif membuatkan kopi untuk Reno.

***

Deana terpaksa dari dapur karena Lena menangis mencarinya, padahal Deana sedang membantu mengupas kulit buah-buahan.

"Iya sayang, Mommy di sini." seru Deana lalu tersenyum melihat Lena yang terisak di gendongan Suster Ina.

"Mommy...."

Ucap Lena membuka kedua tangannya ke depan, Deana langsung menggendongnya dan mengecup keningnya.

"Lena cari Mommy, hm?" tanya Deana sambil merapihkan rambut Lena.

Lena mengangguk. Tangannya semakin mengeratkan pelukannya pada Deana.

Deana terkekeh pelan, "Lena mandi ya? Mommy temani...."

"Len mau minum susu...." ucap Lena. Lena memang masih bergantung dengan susu formulanya dan dimimum sebelum tidur dan setelah bangun tidur.

"Iya nanti Mommy buatkan, sekarang Len mandi dulu biar tubuhnya segar. Nih ecesnya masih kelihatan, malu... Len kan sudah besar." Deana tertawa pelan, begitu juga dengan Lena ikut tertawa dengan candaan yang Deana berikan.

Suster Ina juga ikut tertawa dan mengikuti langkah Deana yang masuk ke dalam kamar Lena. Kamar Lena bersebelahan dengan Reno.

Sementara Deana memandikan Lena, Suster Ina yang menyiapkan pakaian ganti untuk Lena.

Tubuh Lena dililit handuk tebal oleh Deana, "Len sudah wangi...." puji Deana mencubit pelan pipi Lena.

Lena menampakkan deretan gigi susunya, "Mommy sudah mandi? Mommy wangi juga."

Cup... Cup....!

Lena mencium pipi Deana dengan sayang.

Deana mengelus pipi Lena, "Pakai baju dulu lalu sarapan. Mommy sudah buatkan Len nasi goreng sosis."

"Len mau!" serunya senang sambil bertepuk tangan.

"Boleh dong... Mommy buatkan spesial untuk Len."

Lena mengangguk, bocah kecil itu begitu antusias ingin mencicipi nasi goreng buatan Mommy barunya.

***

Deana keluar dari dalam kamar Lena, berpapasan dengan Reno yang keluar dari dalam kamarnya.

"Daddy!" Lena meloncat kegirangan. Tubuh kecilnya mendekati Reno dan menarik tangan Reno untuk digenggamnya.

"Lena...." Reno tersenyum lalu menggenggam tangan kecil putrinya.

Lena menghampiri Deana, tangan kirinya yang kosong menarik tangan Deana. Ia menggenggam kedua tangan orang tuanya di kanan dan kirinya. Sangat manis.

"Eum...." Deana bingung, tapi ia mengikuti drama bocah kecil itu.

"Lena sudah bangun? Sudah mandi?" Reno tersenyum. Begitu banyak kemajuan Lena di tangan Deana.

"Iya Dad, Len sudah mandi sama Mommy...." ucap Lena bercerita.

Reno menatap Deana yang tingginya hanya selengannya itu.

"Iya Mas... Tuan." Deana menatap Reno tergagap. Ia tidak menyadari panggilan itu keluar dari mulutnya.

Mas?!

Reno menelan ludahnya dengan kasar mendengar panggilannya.

Sesaat ia terdiam, flashback bersama mendiang istrinya. Bella selalu manja padanya dengan panggilan yang sama.

Reno mendengus pelan, "Ubah panggilanmu, menjijikan." ucap Reno dengan datar, rahangnya mengeras. Benci sekali ada seseorang yang menyamai Bella.

Reno mendekatkan mulutnya di telinga Deana, "Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menganggapmu sebagai istriku." tekannya berbisik.

Deana terdiam, ia menatap mata Reno dengan lekat, "Ma... Maaf." lirihnya mengangguk tipis. Mencoba tersenyum pada Reno.

Deana menyadari, ternyata Reno memang sama sekali tidak ada niatan untuk membangun cinta bersamanya.

Saat itu juga, Reno langsung membawa Lena dalam gendongannya. Berjalan menuju meja makan untuk memulai sarapan paginya.

"Mommy tidak ikut di sini?" ujar Lena, ia melihat Deana berdiri jauh dari sana.

Deana tergelak, ia langsung buru-buru masuk ke dalam dapur.

"Lena kan bisa makan dengan...."

"Tidak! Len mau dengan Mommy Cantik!" ucap Lena.

Reno mendengus kasar, "Deana." panggilnya.

Deana yang mendengarnya langsung keluar menampakkan diri, "I... Iya."

Mommy Ellen menghela napasnya berat melihatnya, ia menatap suaminya, yang ternyata sama saja diam sepertinya.

"Len mau sama Mommy...." ucap Lena lalu mendorong piring kecilnya di depan Deana, "Len mau disuapi Mommy."

"Len... Kan bisa dengan Suster Ina." tegas Reno.

"Len mau dengan Mommy!" balas Lena menjerit.

Deana segera mengambil piring kecil Lena dan mengangguk, "Lena... makan di sana saja yuk?" tawar Deana menunjuk ruang keluarga.

"Di sini saja, kamu bisa duduk di samping Lena." sahut Reno menunjuk kursi kosong dengan dagunya.

Deana mengangguk ragu, ia duduk di samping Lena dan menyuapi Lena sarapan dengan menu buatannya.

Lena begitu lahap, makannya sambil bercerita pada Deana tentang mainannya. Sesekali Deana menyahutnya dan memujinya.

Reno juga meminum kopi racikan Deana, ia bahkan tidak tahu yang membuatkan kopi untuknya di pagi hari ini adalah Deana, istrinya sendiri.

Baik Reno, Tuan Samuel dan Nyonya Ellen tidak menawarkan Deana untuk sarapan bersama. Mereka hanya menganggap Deana sebagai pengasuh dari cucunya saja.

1
🇮🇩
tau hamil kabur aja nanti ya..
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!