Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA IQBAL
Rani pun mendatangi kafe yang letaknya tak jauh dari rumah. Ia memesan Americano dua shut dan pancake.
Ia duduk dan menunggu, tak lama Iqbal datang bersamaan dengan makanan yang Rani pesan.
Pria itu duduk dan mengambil Americano yang dipesan oleh Rani.
"Cepat katakan apa maumu! Aku tak banyak waktu!" suruh wanita itu sambil menikmati pancake-nya.
Sejujurnya, Rani hanya memotong kecil-kecil pancake itu tanpa memakannya.
"Aku punya ide, bagaimana kalau kita ambil semua harta dan kita pergi jauh!" tangan Rani yang tengah mengacak-acak kue di piring berhenti.
Matanya langsung menatap Iqbal.
"Kita berlaga mau pindahan sayang. Lalu kita pergi jauh dan tak ada yang tau kita ada di mana. Aku jamin itu!"
Rani bimbang, ide Iqbal sangat menggiurkan.
"Tapi Claudia sudah kelas empat, sayang sekolahnya ... Lagi pula untuk mengurus kepindahan sekolah butuh waktu dan pasti tidak akan lolos dari pengetahuan Mas Farhan ...."
Mendengar itu Iqbal terdiam, Claudia yang sekolah tak mungkin diajak pergi begitu saja.
"Kita ambil paket B saja! Bilang semua data Claudia habis terbakar!" ide Iqbal masuk akal.
Rani kembali terdiam, ia berpikir keras. Iqbal meraih tangannya dan menggenggamnya erat-erat.
"'Sayang, aku nggak mau kehilanganmu dan Claudia!" bisiknya penuh permohonan.
"Tapi kita nggak bisa secepat itu membawa semua harta. Apa Mas sudah punya planing? Mau kemana, tinggal di mana dan mau bagaimana setelah itu?" tanya Rani beruntun.
"Yang penting kita lari dulu. Soal itu bisa kita rencanakan. Aku sudah tau kita ke mana. Farhan tak mungkin cari kita sampai sana?" sahut Iqbal sekali lagi meyakinkan Rani.
"Di mana itu?" tanya Rani masih ragu.
"Kalimantan!" jawab Iqbal.
"Apa kau gila! Itu jauh sekali!" protes Rani.
"Tapi di sana kita aman dan tidak mungkin Farhan sampai ke sana!" sahut Iqbal.
"Mas tau berapa biaya ke sana?" tanya Rani, Iqbal terdiam.
"Mas sudah kenal tempat itu? Bagaimana tempat tinggal? Kita nggak mungkin datang hanya bawa badan!"
"Kita jual barang-barang di rumah kamu untuk biaya semuanya. Aku rasa cukup untuk sewa rumah dan usaha ...."
"Mas ... Apa kamu yakin?" tanya Rani masih ragu.
"Aku yakin sayang. Kita sewa truk untuk mengangkut semua barang. Lalu kita pergi bersama mobilmu, dan menjual semuanya, termasuk mobil agar akses Farhan membuntuti kita terhenti!" jelas Iqbal sekali lagi meyakinkan Rani.
Rencana Iqbal terdengar seperti jalan pintas menuju kebebasan, tapi bagi Rani, ini adalah perjudian paling berbahaya dalam hidupnya. Menjual aset Farhan dan melarikan diri ke Kalimantan bukan sekadar pindah rumah—itu adalah kriminal murni.
Rani menatap mata Iqbal, mencari keyakinan di sana. Ide melarikan diri dengan membawa harta Farhan terasa seperti oase di tengah padang pasir ketakutannya.
Namun, logika kecil di kepalanya masih berdenyut.
"Menyewa truk? Mas, rumah itu dijaga sekuriti 24 jam! Bagaimana caraku mengeluarkan barang-barang besar tanpa izin Mas Farhan?" bisik Rani, suaranya naik satu oktav karena cemas.
Iqbal menyeringai, ia menyesap Americano-nya dengan santai.
"Itulah gunanya otak, Sayang. Katakan pada sekuriti kalau kamu mau renovasi atau barang-barang itu mau disumbangkan. Farhan sedang sibuk dengan dunianya, dia tak akan sadar sampai semua ruangan kosong!"
Rani meremas serbet di bawah meja.
"Dan mobil Mercedes merah itu? Itu ada GPS-nya, Iqbal. Farhan bisa melacakku bahkan sebelum kita sampai di pelabuhan!"
"Maka dari itu, kita tukar tambah di jalan. Kita ganti dengan mobil bekas yang surat-suratnya bersih. Kita hilang dari radar," jawab Iqbal enteng.
Rani terdiam lagi, sementara Iqbal menahan semua kekesalannya. Karena Rani masih meragukan dirinya.
"Sayang, apa kamu bahagia dengan Farhan?" tanyanya hati-hati.
Rani menatap Iqbal, sebelum kemarin. Ia sangat bahagia. Tapi setelah kejadian ia meninggalkan Asih dan dua anaknya begitu saja di klinik.
"Aku ...," Rani menghentikan ucapannya, ia menyandarkan punggungnya ke kepala kursi.
"Aku dilayani pelayan, uang tak pernah putus, makan enak setiap hari. Tidur nyenyak dan aku diperlakukan bak Ratu oleh Mas Farhan ...."
"Cukup Rani!" sentak Iqbal cemburu.
"Hal yang tidak kau berikan, Mas. Jadi katakan padaku. Apa yang membuatku harus mengikuti keinginanmu?" tanya Rani remeh.
"Karena aku adalah suami sah mu!" jawaban Iqbal membungkam Rani.
Kalimat itu menggantung di udara.
Rani terpaku. Tangannya yang sejak tadi digenggam Iqbal perlahan melemas, tapi pria itu justru mengeratkannya, seolah takut wanita itu benar-benar lepas.
"Suami sah?" ulang Rani lirih, nyaris seperti bisikan yang tak ingin ia dengar sendiri.
Matanya menatap meja. Ke arah potongan pancake yang sejak tadi ia hancurkan tanpa pernah benar-benar ia makan.
"Apa arti sah, Mas... kalau hidupku justru terasa lebih hidup di tempat yang katanya tidak sah?" lanjutnya pelan.
Iqbal mengernyit. Rahangnya mengeras.
"Kamu mulai membela dia?" suaranya turun, tapi penuh tekanan.
Rani menggeleng cepat.
"Bukan membela. Aku cuma... jujur!"
Ia menarik tangannya, kali ini berhasil.
"Mas datang bawa mimpi besar. Lari, mulai hidup baru, ambil semuanya... Tapi Mas lupa satu hal," tatapannya naik, menatap lurus ke mata Iqbal.
"Aku bukan cuma perempuan yang bisa diajak kabur." Iqbal terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia kehilangan kata-kata.
"Di sana ada hidup yang sudah terbangun rapi. Ada Claudia, ada sekolahnya, ada masa depannya. Dan... ada Farhan yang—"
"Lagi-lagi Farhan!" potong Iqbal tajam.
Beberapa pengunjung mulai melirik. Rani menahan napas, berusaha tetap tenang.
"Iya. Karena mau aku lari sejauh apa pun, kenyataannya dia tetap bagian dari hidupku sekarang."
Iqbal tertawa kecil, tapi tawanya hambar.
"Jadi ini jawaban kamu?"
Rani tak langsung menjawab.
Ia bangkit perlahan dari kursinya. Dompet diambil, beberapa lembar uang diletakkan di meja.
"Aku butuh waktu, Mas."
"Buat apa?" Iqbal ikut berdiri, suaranya mulai meninggi.
"Buat mikir... ini cinta, atau cuma pelarian."
Sunyi. Ucapan itu seperti tamparan. Iqbal menatapnya tak percaya.
Sementara Rani, tanpa menunggu jawaban lagi, berbalik dan melangkah pergi.
"Ah ... Sial?" Iqbal meninju meja pelan.
Hatinya sangat kesal, ternyata pengaruh Farhan begitu kuat sampai Rani pun enggan melepaskan status palsu itu walau Iqbal mengancamnya.
Iqbal duduk kembali dengan kadar. Menatap pancake yang sudah jadi bubur di piringnya karena Rani memotongnya sampai jadi seperti itu.
"Baiklah Rani. .. Jangan salahkan aku jika mengambil paksa yang sudah jadi milikku!" lalu ia berdiri dan mengambil uang tips yang diletakkan Rani di atas meja.
Rani sudah berada di rumahnya. Tubuhnya langsung merosot di lantai. Airmatanya jatuh berurai tanpa kendali.
"Aku akan kehilangan semuanya ...?" tanyanya bergumam sambil menatap seisi rumah.
"Arrgghhhh!" teriaknya frustrasi.
bersambung.
Kau yang mancing. Sekarang kamu terima apa yang kamu dapat.
next?