Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maëlle sadar
Rick pulang dengan langkah yang tenang.
Kereta menurunkannya di stasiun kecil, lalu taksi membawanya melewati ladang yang mulai menguning, menuju rumah Mercer yang berdiri seperti titik sunyi di antara dunia normal dan dunia gelap. Ia membawa tas ringan—tidak ada barang mencolok—dan wajah yang sudah terlatih untuk tidak menampilkan apa pun.
Namun begitu pintu rumah Mercer terbuka, dunia Rick bergetar.
Bukan karena ancaman.
Bukan karena senjata.
Melainkan karena sesuatu yang selama ini hanya hidup dalam bunyi monitor jantung dan harapan yang pelan.
Maëlle sadar.
Ia berada di ruang tamu, duduk di kursi roda. Rambutnya lebih pendek sekarang, rapi, dan wajahnya masih pucat—tapi matanya…
Matanya hidup.
Masih dingin, masih tajam, tapi tidak lagi kosong. Itu mata yang melihat, bukan sekadar ada.
Rick membeku di ambang pintu. Tenggorokannya tiba-tiba sempit.
Mercer berdiri di samping Maëlle, tangan memegang cangkir kopi seperti selalu, seolah momen ini sudah lama ia siapkan agar terlihat “biasa”.
“Dia bangun pagi tadi,” kata Mercer datar, tapi ada sesuatu seperti lega yang disembunyikan rapi di antara kata-katanya.
Rick melangkah masuk pelan, hampir takut kalau ia bergerak terlalu cepat, Maëlle akan kembali jadi bayangan yang tidak bisa disentuh.
Maëlle menatap Rick.
Dan untuk pertama kalinya sejak semuanya dimulai, Rick melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah Maëlle: pengakuan tanpa kata.
Maëlle mengangkat tangan sedikit, gerakan kecil, lalu mengangguk sekali.
Rick menelan ludah. “Kamu…”
Ia ingin mengatakan seribu hal: kamu hidup, maaf, aku berhasil, aku masuk lingkaran, aku benci semuanya. Tapi kata-kata itu macet.
Mercer menyela sebelum Rick tercekik emosinya sendiri.
“Mulutnya belum boleh banyak bicara,” kata Mercer. “Ada bekas tembakan yang membuatnya sulit. Kalau dipaksa, sakit.”
Rick mengangguk cepat, memaksa dirinya menahan gelombang yang naik. “Jadi… dia bisa bicara sedikit?”
Mercer menggeleng. “Sedikit. Tapi jangan dipancing.”
Rick menatap Maëlle lagi. “Kamu… gimana caranya komunikasi?”
Maëlle mengangkat satu jari, lalu mengetuk pelan sandaran kursi roda, ritme pendek yang langsung membuat Rick paham: dia masih punya cara.
Mercer menjawab untuknya, “Dia bisa mengangguk, menggeleng. Dan kalau perlu… kode morse.”
Rick menghela napas panjang, lalu, tanpa sadar, tersenyum.
Maëlle tidak membalas senyum. Wajahnya tetap dingin, tapi matanya bergerak sedikit, seolah Maëlle memahami humor kecil dunia: orang seperti mereka harus berbicara lewat ketukan.
Rick melangkah mendekat, berlutut sedikit agar sejajar dengan Maëlle.
“Kamu mau keluar?” Rick bertanya pelan. “Taman.”
Maëlle menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk.
Taman kecil di dekat rumah Mercer tidak besar. Hanya jalur tanah halus, beberapa bangku kayu, dan pohon-pohon yang anginnya selalu terdengar seperti bisikan.
Rick mendorong kursi roda Maëlle pelan. Roda berderit ringan. Udara pagi dingin tapi segar, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Rick merasa seolah ia sedang berjalan dengan seseorang, bukan berjalan sendirian membawa beban.
Mereka berhenti di dekat bangku. Rick memutar kursi roda agar Maëlle bisa melihat ladang.
Maëlle memandang jauh. Wajahnya tidak menunjukkan “terharu”. Maëlle bukan tipe yang menunjukkan hal semacam itu. Tapi Rick bisa melihat napas Maëlle sedikit lebih panjang, seperti orang yang baru sadar dunia masih ada di luar ruangan steril.
Rick berdiri di belakang kursi roda, lalu mulai bicara.
Tidak ada pertanyaan yang memaksa. Tidak ada “maaf” yang berbunyi seperti tuntutan.
Ia hanya bicara.
“Tugas pertama aku di Prancis… kacau,” kata Rick, suara pelan tapi mengalir. “Aku masih… masih belum terbiasa jadi ‘Paper’. Tapi aku berhasil masuk. Mereka kasih aku HP satelit. Mereka kasih aku lima identitas.”
Maëlle tidak menoleh, tapi Rick melihat jarinya bergerak sedikit di sandaran kursi, ketukan pendek, seolah menandai: lanjut.
Rick melanjutkan, seperti orang bercerita pada pasien yang sadar tapi belum bisa bicara.
“Terus ada peringkat. Peringkat D. Aku dikirim ke Brussel.” Rick menelan ludah. “Targetnya rentenir. Brian Olsen. Dua bodyguard. Aku observasi satu hari.”
Maëlle menoleh sedikit. Matanya menatap Rick sekilas, lalu kembali ke ladang. Tapi itu cukup: Maëlle mendengar.
Rick terus, tanpa dramatis. “Aku pakai sniper di tas bawah karpet. Yang kamu simpan. Aku… aku menembak. Selesai.”
Ia menunggu reaksi. Maëlle mengangguk kecil.
Rick menghembuskan napas lega yang tidak ia sadari ia tahan.
“Aku masih… kadang merasa aneh,” kata Rick pelan. “Seperti aku sedang memakai tubuh orang lain. Tapi aku bisa… menguasai diri. Aku bisa jalankan peran.”
Maëlle mengetuk dua kali pelan. Rick tidak yakin artinya, tapi ia merasa itu bukan penolakan.
Mereka berjalan lagi.
Rick berbicara lagi.
Tentang latihan Mercer yang lebih kejam setelah ia masuk lingkaran.
Tentang pisau yang beberapa kali melukai tangannya sendiri.
Tentang bagaimana Mercer memaksa kecepatan bongkar pasang senjata sampai jari-jari Rick seperti mesin.
Tentang bagaimana Rick dulu gemetar, dan sekarang ia bisa menahan gemetar itu sampai tidak terlihat.
Maëlle mendengarkan.
Bukan dengan kata-kata.
Tapi dengan kesunyian yang tidak menghakimi.
Itu jauh lebih membantu daripada nasihat.
Hari itu bukan cuma sekali.
Hari-hari berikutnya, Rick melakukan hal yang sama.
Setiap pagi atau sore, ia mendorong kursi roda Maëlle ke taman, duduk di dekatnya, lalu bicara. Tentang pekerjaan. Tentang target. Tentang map. Tentang “Violet.” Tentang “Fox” yang masih seperti noda hitam di kepala.
Komunikasi satu arah.
Maëlle tidak bicara, hanya mengangguk, menggeleng, atau mengetuk morse saat Rick menanyakan sesuatu yang benar-benar butuh jawaban.
Rick tidak bosan.
Karena Rick tahu, bicara bukan cuma untuk memberi informasi.
Bicara adalah cara agar dirinya tidak tenggelam.
Dan Maëlle, meski diam, adalah jangkar yang membuat Rick merasa ia tidak sendirian dalam kegelapan ini.
Seiring waktu, rekening Rick bertambah.
Tugas dari Violet untuk Peringkat D terus berdatangan dan Rick dapat mengerjakan dengan baik. Setiap selesai tugas, Rick selalu ingin cepat pulang walau sekedar ngobrol satu arah.
Bayaran untuk tugas-tugas berikutnya meningkat, pelan tapi pasti. Uang yang dulu terasa mustahil kini terlihat nyata: angka yang cukup untuk membeli mobil bagus, cukup untuk hidup nyaman, hal yang dulu bahkan tidak pernah ia masukkan dalam mimpi.
Dan anehnya, justru itu membuat Rick makin waspada. Makin terbiasa dan makin berpengalaman.
Karena dunia ini tidak membayar mahal untuk hal yang ringan.
Beberapa periode pekerjaan selalu rutin datang. Seolah tugas peringkat D tidak ada habisnya.
Namun minggu itu, telepon satelit tidak berbunyi.
Jam lima sore tetap sepi, tidak berbunyi..
Rick tetap menatap kotak kecil itu.
Tetap stand by seperti aturan.
Tapi tidak ada panggilan.
Tidak ada tugas baru.
Tidak ada “Paper”.
Seolah lingkaran itu menahan napas, mengukur sesuatu.
Rick duduk di ruang tamu suatu sore, memandang Maëlle yang tertidur ringan di kursi roda setelah latihan fisioterapi kecil. Mercer membaca map di meja.
Rick menoleh pada Mercer. “Kenapa tidak ada panggilan?”
Mercer tidak mengangkat kepala. “Kadang mereka menguji. Kadang mereka menunggu. Kadang mereka sibuk.”
Rick menelan ludah. “Atau…”
Mercer akhirnya menatap Rick, mata tajam.
“Atau mereka sedang memutuskan apakah kamu layak naik peringkat,” kata Mercer pelan.
Rick mengangguk.
Di sudut ruangan, jam berdetak.