Iago Verbal tiba di Citywon, ibu kota Cirland, dengan niat sederhana: mencari pekerjaan dan memulai hidup baru. Namun, kota megah yang awalnya menjanjikan ketenangan itu justru menyimpan bayang-bayang masa lalunya yang hilang.
Secara bertahap, kilasan ingatan yang terpecah-pecah kembali menghantuinya, diikuti kehadiran orang-orang misterius yang mengaku mengenalnya, termasuk putri kerajaan yang penuh curiga dan organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago pun terseret dalam pusaran konspirasi dan kekerasan, memaksanya menyadari satu
kebenaran yang mengerikan: identitas aslinya bukanlah pemuda desa yang polos, dan kedatangannya ke kota ini mungkin bukanlah sebuah kebetulan, melainkan tahap terakhir dari rencana gelap yang bahkan ia sendiri sudah lupa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelapan yang Sebenarnya
Apa yang terjadi jika manusia mengunci niat terdalamnya di dalam dada tanpa pernah diakui? Apakah ia merasa lega? Atau justru niat itu menunggu saat yang tepat untuk meledak dan menghancurkan segalanya?
Manusia, katanya, diciptakan untuk mengatur sumber daya alam yang melimpah, menciptakan kenangan indah yang abadi, dan menabur kebaikan di muka bumi. Setidaknya itulah yang diajarkan mereka. Tapi apakah itu benar? Atau manusia sejatinya hanyalah wadah kosong bagi kebusukan yang bersembunyi rapi di balik kulit halus?
Setidaknya itulah yang dipikirkan pemuda itu di dalam ruangan yang sangat gelap ini, di mana kegelapan bukan sekadar ketiadaan cahaya, tetapi makhluk hidup yang bernapas dan bergerak.
Ruangan ini tak layak disebut ruangan. Iago tak bisa menapakkan kakinya di mana pun—kakinya hanya menggantung dalam kehampaan tanpa dasar. Tidak ada suara di sini. Bukan hanya sunyi, tetapi hampa total. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak dengan ritme yang cepat dan panik—tetapi suara detak itu tidak ada. Hanya getaran di dadanya yang memberitahu bahwa ia masih hidup.
Ia berusaha mengangkat kedua tangannya ke depan wajah, menunduk untuk menatapnya dengan saksama. Namun, tak ada yang bisa ia lihat. Kegelapan di sini adalah zat hidup yang menelan segala sesuatu dengan rakus, termasuk dirinya sendiri. Iago bisa merasakan dengan jelas tubuhnya yang utuh, tapi ia tidak bisa melihatnya sama sekali.
Iago membuka mulutnya lebar-lebar. Ia berteriak sekuat tenaga, dengan segenap paru-parunya. Ia menjerit hingga tenggorokannya serasa robek tercabik. Namun, tak ada yang bisa ia dengar. Bahkan getaran suaranya sendiri lenyap begitu keluar dari bibirnya yang kering.
Dengan putus asa yang memuncak, ia mencoba menyapu lengannya ke belakang dengan kuat, menendang-nendangkan kakinya dengan panik.
Di tengah keputusasaan yang mencekik dan mulai membius kesadarannya, ia hendak menyerah. Lengannya yang tadinya meronta berhenti bergerak. Tubuhnya yang kaku diam, pasrah, menyerah pada kegelapan yang terus menariknya ke bawah.
Apa yang terjadi? Apakah aku telah tiada? Apakah ini yang namanya kematian?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema dengan keras di dalam kepalanya. Tubuhnya berhenti bergerak total.
Sial... Dadaku... rasanya seperti dikoyak-koyak!
Sambil disergap oleh kehampaan yang mencekik dan kebingungan yang melumpuhkan, ia akhirnya melihat sesuatu.
Sebuah bayangan kabur muncul di kejauhan—samar dan berkilau sebentar. Gadis muda berambut merah menyala. Di sampingnya, seorang anak laki-laki kecil yang menggenggam erat jari-jemari kakaknya dengan penuh kepercayaan, menatap ke arah Iago dengan mata yang bersih.
Tepat setelah bayangan kabur itu melintas cepat di benaknya, seberkas cahaya terang muncul tiba-tiba di depan Iago.
Iago segera berenang dengan sekuat tenaga. Atau melayang. Atau apa pun nama gerakannya di tempat ini.
Akhirnya... Itu pasti jalan keluar! Terima kasih, Tuhan...
Namun kebahagiaan yang menyelimuti itu terasa seperti tulisan di pasir yang disapu ombak lautan—begitu cepatnya terkikis, meninggalkan permukaan yang polos kembali, seolah tak pernah ada apa pun di sana.
Setelah ia berhasil memasuki cahaya itu, suasana di sekitarnya menjadi gelap sejenak sebelum akhirnya Iago mengerjapkan mata dengan cepat.
Ruangan di hadapannya terlihat begitu mewah dan megah. Dinding-dindingnya berwarna putih susu yang bersih, berpendar lembut oleh cahaya yang tersembunyi di balik lapisan marmer. Lantainya mengilap sempurna.
Matanya yang masih basah membelalak lebar ketika ia melihat pemandangan di depannya.
Seorang lelaki dengan kedua tangan terikat rantai besi tebal, berlutut dengan tubuh tertekuk di lantai dingin yang dingin. Wajahnya babak belur—satu matanya tertutup rapat oleh bengkak keunguan yang mengerikan, bibirnya yang pecah-pecah mengeluarkan darah segar yang membasahi dagunya, dan darah mengering di sudut bibirnya.
Dan di hadapannya, beberapa langkah di depan, seorang wanita berambut pirang terurai disekap dengan kasar oleh dua orang lelaki tua berjubah putih bersih. Tangan-tangan keriput dan gemetar itu dengan rakus merobek pakaiannya yang tipis, sementara wanita itu meronta dengan segenap tenaga yang tersisa, menjerit dengan suara yang semakin lama semakin parau, menangis dengan air mata yang tak kunjung habis.
"Tidak, jangan... jangan sentuh dia..." Suara sang pria yang terantai keluar sangat parau. "Jangan sentuh dia, kumohon... lakukan apa saja padaku, tapi jangan sentuh dia..."
Dess... THAAKK!
Suara cambuk panjang itu menggema dengan keras di seluruh ruangan, memantul dari dinding marmer ke dinding marmer lainnya, sebelum akhirnya ditelan oleh keheningan yang langsung menyusul dengan cepat. Tepat setelah pria itu berhasil membuka mulutnya, cambuk itu mendarat dengan kejam di punggungnya yang telanjang.
Punggung pria itu robek. Dagingnya yang tadinya utuh terbelah lebar, memperlihatkan warna merah segar yang langsung membanjiri permukaan kulitnya yang pucat. Darah hangat memercik deras ke segala arah, membasahi jubah putih bersih para algojo yang berdiri di sekelilingnya.
"Tidak... ALESSIO!!!" Wanita itu menjerit sekeras-kerasnya, suaranya melengking tinggi penuh kepedihan yang tak tertahankan. Ia mengangkat salah satu tangannya yang masih bebas dengan putus asa, meraih ke arah suaminya yang tak pernah bisa ia capai. "Tidak... ALESSIO, TOLONG!!!"
Seorang algojo dengan cepat menarik rambutnya yang panjang dan indah, membanting tubuhnya yang ringkih ke lantai marmer yang dingin dengan kekuatan penuh. Wanita itu diseret dengan kasar hingga ia hanya bisa berbaring tak berdaya di lantai yang dingin dan keras, pipinya yang basah oleh air mata menempel pada marmer yang kini basah oleh darah dan air mata yang bercampur menjadi satu.
Pria yang terantai itu masih bisa membuka matanya yang terasa sangat berat. Darah segar bercucuran di setiap sudut tubuhnya yang hancur, mengalir deras, membentuk genangan kecil yang mengerikan di lantai tempat ia berlutut dengan lutut yang sudah tak terasa. Dan dengan cepat, tanpa ampun, ia lagi-lagi dicambuk.
Dess... THAAKK!
Suara cambuk yang sama. Dagingnya lagi yang robek lebih dalam. Rasa sakitnya lagi yang menjalar ke seluruh saraf yang masih hidup.
Sementara ia hampir tak sadarkan diri, tubuhnya bergoyang lemah, ia menatap dengan mata sayu para lelaki berjubah putih itu yang dengan bebas meraba-raba dan merobek pakaian wanita berambut pirang itu. Air matanya yang jernih mulai mengalir pelan di pipinya yang penuh darah, namun air mata itu segera tergantikan oleh warna merah pekat yang terus mengalir dari luka-luka menganga di sekujur tubuhnya.
Alessio, sang pria yang dicambuk terus-menerus tanpa henti itu, yang punggungnya sudah tak berbentuk lagi, akhirnya menoleh dengan susah payah ke arah Iago dengan gerakan yang sangat lambat, sangat berat.
Mata mereka bertemu dalam keheningan yang mematikan.
Dess... THAAKK! Dess... THAAKK!
Suara cambukan tidak pernah berhenti, tidak pernah memberi ampun.
Mulut Alessio yang penuh darah gemetar hebat, terbuka-tertutup berkali-kali tanpa suara.
Melihat pemandangan mengerikan itu, Iago gemetar hebat tak terkendali. Tubuh kecilnya—ia baru menyadari dengan ngeri bahwa tubuhnya kecil, tubuh anak-anak yang tak berdaya—bergetar hebat. Matanya melebar hingga nyaris keluar dari rongganya yang sempit, mulutnya ternganga lebar tanpa suara.
Dan setelah berkali-kali mulutnya terbuka-tertutup dengan sia-sia, setelah perjuangan yang luar biasa untuk mengeluarkan suara dari tenggorokan yang tersumbat oleh tangis yang tertahan, Iago akhirnya berhasil mengeluarkan suaranya yang lemah.
"A-ayah..." bisiknya, suara itu hampir tak terdengar sama sekali karena suara cambukan dan tangisan wanita yang terus-menerus memecah keheningan. "Ma-mama..."
Iago melihat ayahnya yang kini kepalanya tertunduk lemas dan tak bergerak lagi. Punggungnya hancur tak berbentuk, dagingnya tercabik-cabik dengan kejam hingga tulang-tulang punggungnya terlihat jelas di sana-sini, putih bersih di antara daging merah. Kemudian pandangannya yang basah beralih dengan berat ke ibunya. Wanita itu menatapnya dengan mata yang sayu.
Iago tak bisa berkata apa-apa. Hanya sanggup melihat dengan mata terbelalak, dengan jantung yang berhenti berdetak.
Saat ia masih memproses pemandangan mengerikan itu dengan otak yang tak lagi berfungsi, ia akhirnya melihat ke bawah dengan gerakan yang sangat lambat. Ia menyadari pergelangan tangannya yang kurus terikat erat oleh tali tambang yang kasar, meninggalkan lecet merah berdarah di kulitnya yang masih muda dan rapuh.
Pemandangan itu perlahan memudar. Warna-warnanya yang tadinya tajam membaur tanpa bentuk, bentuk-bentuknya yang tadinya jelas meleleh dengan lambat, dan akhirnya hanya tersisa kegelapan dan keheningan mutlak—yang pada akhirnya segera digantikan dengan paksa oleh pemandangan lainnya, oleh kenangan lainnya, oleh luka lainnya.
Ia sekarang melihat pemandangan gunung yang sunyi di saat langit gelap. Jalur gunung yang terjal dan curam. Di kejauhan, bayangan puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi.
Seorang pria tua berjubah compang-camping yang sudah sangat lusuh duduk bersandar dengan lelah pada batu besar yang dingin, tongkat kayu bengkok tergeletak di sampingnya. Rambut dan janggutnya yang panjang putih. Matanya, meski sudah sangat sayu, masih bersinar dengan kewaspadaan yang tajam.
"Sayangnya," ucap pria tua itu, "yang kumaksud bukan persis menghapus ingatan. Itu sama sekali mustahil dilakukan. Ingatan bukanlah benda mati yang bisa dikubur begitu saja. Ia seperti akar pohon tua yang telah menjalar di seluruh tanah, semakin kau coba bunuh dan potong, semakin dalam dan kuat ia merambat mencari kehidupan."
"Mustahil?" Tangan Iago mengepal erat di samping tubuhnya, buku-buku jarinya memutih. "Lalu? Apa tak ada cara lain?"
"Hmm, cara lain ya?" Pria tua itu mengelus-elus janggut putihnya yang panjang dengan gerakan lambat. "Mungkin masih ada satu cara. Dengan sihir pengunci, yang sangat jarang digunakan karena risikonya yang besar."
"Sihir pengunci? Apa itu?"
"Seperti namanya, Nak. Sihir ini tidak akan menghapus ingatanmu, tapi akan mengunci rapat-rapat semua memori dan niat terdalammu. Kau akan tetap hidup normal, tapi ingatan tentang tujuan aslimu yang sesungguhnya, semua itu akan terkunci. Dan mereka tidak akan pernah bisa kembali, kecuali jika ada suatu pemicu."
"Baiklah." Tangan Iago yang dingin gemetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya yang pucat. "Tolong lakukan pada saya! Sekarang juga!"
Pria tua itu diam sejenak, sangat lama, menatap Iago dengan sorot mata yang begitu dalam. "Apa kau benar-benar yakin, Nak? Jika suatu saat nanti ingatan atau niatmu itu kembali, efek samping dari kembalinya ingatan yang terkunci itu akan sangat mengerikan. Bukan sekadar sakit kepala biasa. Kau bisa saja mengalami halusinasi."
Kata-kata berat itu mengendap sejenak di udara dingin yang menusuk, membeku di antara mereka. Lalu Iago menelan ludah dengan susah payah.
Di sampingnya, seseorang bergerak dengan cepat.
Tangan seorang gadis berambut hitam panjang mencengkeram lengannya dengan kekuatan penuh. Jubah cokelatnya yang longgar dan lusuh menyembunyikan hampir seluruh wajahnya yang pucat, namun dari balik bayangan gelap tudung itu, sepasang mata merah delima yang basah menatapnya.
Merasakan ketegangan di lengannya, Iago menoleh padanya dengan gerakan lambat. Ia tersenyum tipis sambil memegang tangan yang mencengkramnya itu dengan erat. Jari-jarinya yang dingin membelai punggung tangan Eliana dengan lembut.
Si pria tua di depannya melihat itu lalu berkata, "Jujur saja, Nak, saya sangat menyarankan agar kau tidak melakukannya. Efek sampingnya benar-benar tidak bisa diremehkan."
"Tidak apa-apa." Iago menggeleng pelan. "Saya tetap ingin melakukannya."
Si gadis di sebelahnya menguatkan cengkeramannya pada lengan Iago secara naluriah. Iago lagi-lagi menoleh padanya dengan lembut, tersenyum lagi lalu berkata dengan suara yang sangat pelan, "Tak apa-apa, Eliana. Semua akan baik-baik saja, aku janji."
"Ta-tapi..." Suara Eliana serak dan pecah oleh tangis yang tak lagi bisa ditahan, yang sudah menggelembung di tenggorokannya. Matanya yang merah delima kini berkaca-kaca. "Apakah itu berarti... Anda akan melupakan semuanya, Tuan? Tujuanmu... Organisasi IV yang kau bangun dengan susah payah... dan..." ia berhenti tiba-tiba, "dan... aku?"
Mata Iago seketika melebar lebar mendengar pertanyaan itu. Senyum tipis di wajahnya menghilang. Dia tidak langsung menjawab, melainkan mengamati gadis di depannya dengan seksama. Akhirnya, dengan gerakan yang sangat lambat, Iago memegang kedua tangan gadis itu dengan tangannya yang juga mulai bergetar, dan mencondongkan tubuhnya dengan lembut hingga dahi mereka hampir bersentuhan.
"Itu benar," bisiknya, suaranya begitu pelan hingga nyaris hilang diterpa angin gunung yang dingin. "Tapi kau harus ingat bahwa ini adalah misi terbesarku, Eliana. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kau dan semua anggota Organisasi IV harus mencariku suatu saat nanti, setelah keadaan negeri ini mulai membaik. Kau harus percaya padaku."
"A-apakah itu benar-benar akan berhasil, Tuan?"
"Pasti. Itu pasti akan berhasil, Eliana. Dan kita..." ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan, "Kita akan meruntuhkan negara busuk ini bersama-sama dan membangunnya kembali dari awal!"
Suaranya menggema dengan kuat di antara bebatuan dingin, membuat Eliana ternganga kaget sekaligus gemetar hebat.
"Tolong mengertilah, Eliana," suaranya akhirnya memelan. "Kita tak akan pernah sanggup melawan mereka dalam keadaan seperti ini. Mereka terlalu kuat saat ini. Tapi aku yakin... di masa depan, Gereja Cahaya dan Kerajaan Valemira akan saling memanas dengan sendirinya. Dan saat itulah kita akan bangkit."
"Tuan?" Eliana memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahnya yang basah oleh air mata. "Entah mengapa... Anda lebih banyak berbicara hari ini. Itu... sedikit menakutkan."
Mendengar celaan kecil itu, Iago hanya tersenyum lagi lalu perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Eliana. "Mungkin kau benar. Mungkin ini adalah pertama dan terakhir kalinya aku berbicara sebanyak ini dalam hidupku." Ia menarik napas panjang yang terakhir. "Pergilah sekarang, Eliana. Dan carilah aku... ketika keadaan sudah membaik."
"Tapi... tetap saja, Tuan... Itu terlalu—"
"Ini perintah terakhirku untukmu, Eliana. Tolong... mengertilah."
Mata Eliana membelalak lebar. Air matanya lagi-lagi pecah dengan deras, membasahi seluruh wajahnya yang mulus. Dia berkali-kali mengusap matanya dengan lengan jubahnya yang kasar. Sedangkan Iago, ia hanya menatapnya dengan ekspresi yang sangat lelah.
Setelah menatap Iago untuk yang terakhir kalinya, Eliana akhirnya berbalik.
"Sampai jumpa... Tuan," ucapnya dengan suara serak, hampir tak terdengar.
Ketika gadis itu hendak berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan tempat ini dan semua kenangan yang akan segera dilupakan oleh tuannya selamanya, Iago memanggilnya dengan suara yang sangat pelan.
"Eliana."
Ia menoleh dengan cepat, hampir tersentak. "Y-ya, Tuan?"
Iago diam sejenak, sangat lama. Angin gunung yang dingin menderu kencang di antara mereka berdua, membawa serta aroma pinus yang tajam dan salju yang akan segera turun. Dan kemudian, untuk terakhir kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum dengan tulus.
"Jaga dirimu baik-baik, Eliana."
Melihat itu, Eliana juga tersenyum sekuat tenaga. "Ya, Tuan. Anda juga. Jaga diri Anda."
Dengan begitu, Eliana berbalik dengan cepat dan berlari dengan lincah di antara bebatuan yang dingin, jubahnya yang cokelat berkibar-kibar di belakangnya, meninggalkan Iago sendirian bersama dengan penyihir tua itu. Sosoknya semakin kecil, semakin kabur, semakin jauh, hingga akhirnya ditelan sepenuhnya oleh bayangan malam yang pekat dan kabut gunung yang tebal.
Dan lagi-lagi, pemandangan itu perlahan memudar dengan lambat, warna-warnanya yang kaya luntur satu per satu, bentuk-bentuknya yang jelas meleleh, membawanya kembali ke kegelapan total yang tak berujung.
tapi karena di pf ini didominasi sama novel kultivasi atau fantim, novel ini jadi sepi. sayang sekali, padahal novel ini punya potensi besar.
novel ini saya kasih rating 9/10 lah. paling masalahnya itu pacing di 5 bab pertama. itu cukup lambat dan mungkin para pembaca ada yang langsung gak betah dan kabur.
tapi percayalah, kalau kalian sanggup membaca 5 bab pertama, kalian pasti akan ketagihan.