Di mata keluarga suaminya, Arunika hanyalah istri biasa. Perempuan lembut yang dianggap tak punya ambisi, tak punya pencapaian, dan terlalu diam untuk dibanggakan. Setiap hari ia diremehkan, dibanding-bandingkan, bahkan nyaris tak dianggap ada dalam rumah tangganya sendiri.
Suaminya, seorang pengusaha ambisius yang haus pengakuan, tak pernah benar-benar melihat siapa wanita yang berdiri di sampingnya. Ia mengira Arunika hanya bergantung pada namanya. Padahal, tanpa seorang pun tahu, Arunika menyimpan identitas yang tak pernah ia pamerkan.
Di balik jas laboratorium dan sorot mata tenangnya, Arunika adalah dokter jenius, ahli bedah berbakat yang namanya disegani di dunia medis internasional. Tangannya telah menyelamatkan banyak nyawa, dan keputusan-keputusannya menjadi penentu hidup dan mati seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 34.
Malam itu, Rumah Sakit Cakrawala tidak pernah benar-benar tidur. Lampu di lantai penelitian masih menyala terang, tim medis bergerak cepat. Semua orang tahu, hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah awal.
Di ruang observasi khusus, Angkasa sudah dipindahkan dari ruang rawat biasa. Ruangan itu lebih sunyi, dan lebih steril. Monitor medis terpasang di berbagai sisi tubuhnya, kabel-kabel halus terhubung ke mesin analisis saraf yang terus berjalan.
Namun di tengah semua itu, Angkasa malah terlihat santai. Ia bersandar di ranjang, menatap langit-langit dengan ekspresi tenang, seolah-olah bukan dirinya yang akan menjalani prosedur berisiko tinggi.
Pintu terbuka, Arunika berjalan masuk. Ia masih mengenakan jas dokter putihnya, dengan rambut yang terikat rapi. Tatapannya tajam seperti biasa.
“Semua parameter sudah siap?” tanyanya tanpa basa-basi.
Salah satu dokter langsung menjawab.
“Ya, Dokter Arunika. Sistem stimulasi saraf sudah dikalibrasi.”
“Tim anestesi siap.”
“Tim monitoring juga sudah standby.”
Arunika mengangguk, ia berjalan mendekat ke ranjang Angkasa... tatapan mereka berdua bertemu selama beberapa detik tanpa kata-kata.
“Kita akan mulai tahap pertama malam ini.” Ucap Arunika tenang.
Angkasa tersenyum tipis, ia menatap wanita itu lebih dalam. “Akhirnya... aku resmi jadi pasien spesial-mu.”
“Ini bukan hal yang bisa dianggap ringan.” Arunika tidak menanggapi candaan itu, nada suaranya tegas. “Efeknya bisa tidak terduga, dan rasa sakitnya juga kemungkinan jauh lebih tinggi dari prosedur biasa.”
Angkasa hanya mengangkat bahu, dan tersenyum santai. “Kurasa aku bisa bertahan, karena aku percaya padamu.”
Beberapa dokter di belakang mereka saling melirik.
Namun Arunika tidak tersenyum, ia justru menatap Angkasa lebih lama. “Ini berbeda, ini bukan luka luar. Prosedur ini... akan langsung mempengaruhi sistem sarafmu.”
Nada suara wanita itu terdengar… sedikit personal. Angkasa menyadarinya, dan itu membuat senyumnya menjadi lebih lembut.
“Kalau aku kesakitan…” Ucap Angkasa pelan. “Apa kau akan menghentikannya?”
Arunika tidak langsung menjawab, tapi akhirnya ia berkata tegas. “Jika itu membahayakan hidupmu, aku akan berhenti.”
Angkasa mengangguk pelan, sudut bibirnya terangkat tipis. “Itu sudah cukup bagiku… setidaknya berarti kau tak ingin melihatku kesakitan.”
Beberapa detik mereka saling terdiam, berbagai emosi berkecamuk dari keduanya.
Lalu tiba-tiba...
“Dokter Arunika.”
Suara itu datang dari belakang, Veronica datang menghampiri. Ia sudah mengenakan pakaian medis lengkap, wajahnya serius. Tidak ada lagi emosi berlebihan seperti sebelumnya.
“Semua sistem sudah siap.” Ucap Veronica.
Arunika menoleh, lalu mengangguk. “Mulai persiapan.”
Ruangan langsung bergerak, perawat menyesuaikan posisi alat. Dokter anestesi mulai bekerja, dan layar monitor menampilkan grafik aktivitas saraf secara real-time.
Semua orang fokus, dan tentu saja sangat tegang. Beberapa menit kemudian, Angkasa sudah dalam posisi siap prosedur. Sebagian tubuhnya mulai dibius ringan, namun ia masih sadar. Tatapannya tetap mencari satu orang... Arunika.
Wanita itu berdiri di sisi kepala ranjang, matanya tertuju pada monitor. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Angkasa.
“Prosedur akan dimulai dalam 30 detik.”
Suara Arunika terdengar jelas, dan terkontrol. Namun jari-jarinya di balik sarung tangan, sedikit menegang.
“20 detik.”
Ruangan semakin sunyi.
“10 detik.”
Semua orang menahan napas.
Angkasa tersenyum kecil. “Arunika…”
“Ya?” Arunika menoleh sedikit.
“Aku mempercayakan hidupku padamu.”
Kalimat itu diucapkan tanpa ragu oleh Angkasa, tanpa ketakutan. Dan kata-kata itu... terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Arunika menatap pria itu beberapa detik, tapi ada kelembutan di dalamnya yang hanya bisa dilihat oleh Angkasa.
“Fokus pada nafasmu.” Kali ini, ia tidak mengalihkan pandangan dari Angkasa secepat biasanya. “Mulai.”
Perintah itu akhirnya keluar.
Alat stimulasi diaktifkan.
Gelombang listrik halus mulai dialirkan ke sistem saraf Angkasa.
Monitor langsung bereaksi.
Grafik bergerak cepat.
Angka berubah.
Dan dalam hitungan detik, tubuh Angkasa menegang. Nafasnya tertahan, alisnya berkerut. Rasa sakit itu datang, begitu cepat dan dalam serta menusuk.
“Respon saraf meningkat drastis!” salah satu dokter berseru.
“Tekanan darah naik!”
“Detak jantung meningkat!”
Namun Arunika tetap berdiri di tempatnya, matanya tajam mengawasi setiap perubahan.
“Pertahankan level.” Suara wanita itu tetap tenang, jelas penuh kendali.
Angkasa menggertakkan giginya, tangannya mengepal. Keringat mulai muncul di pelipisnya, tapi dia tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Veronica yang berdiri di sisi lain mulai tegang. “Dokter Arunika, ini sudah melewati ambang normal!”
Namun Arunika tidak langsung menghentikannya, matanya masih tertuju pada data. “Belum, ini masih dalam batas yang bisa diterima.”
Detik demi detik terasa lambat.
Lalu tiba-tiba, monitor menunjukkan lonjakan besar.
BIP—!
“Dokter!”
“Aktivitas saraf melonjak!”
“Ini tidak stabil!”
Veronica langsung menoleh. “Ini terlalu berbahaya! Kita harus menghentikan—”
“Tidak.”
Suara Arunika memotong tegas, semua orang terdiam. Ia menatap layar dengan tajam. “Ini bukan kerusakan, ini respon regenerasi.”
Semua orang membeku.
Dan di atas ranjang, tiba-tiba jari Angkasa bergerak, sangat kecil tapi jelas.
Seseorang langsung berseru pelan. “Dia… bergerak…”
“Mustahil…” Veronica menatap tidak percaya.
Sementara tatapan Arunika berubah, ada sesuatu di sana. Bukan hanya fokus dan ketenangan. Tapi juga... harapan.
“Pertahankan.”
Suaranya terdengar lebih pelan sekarang, tapi jauh lebih dalam. Dan di tengah rasa sakit yang luar biasa, sudut bibir Angkasa perlahan terangkat.
___
Semua mata tertuju pada satu titik. Jari Angkasa, yang benar-benar bergerak. Bagi mereka yang memahami artinya, itu adalah keajaiban.
“Respon motorik terdeteksi!” salah satu dokter hampir berbisik, seolah takut merusak momen itu.
“Ini tidak mungkin terjadi secepat ini…”
Veronica menatap monitor dengan mata membesar. “Ini… ini di luar prediksi…”
Arunika tetap berdiri tegak di tempatnya, tatapannya tetap tajam.
“Fokus pada data.” Suaranya menenangkan, namun penuh kendali. “Jangan teralihkan.”
Dibalik ketenangan Arunika, jantung wanita itu berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Dan ia juga tahu, ini baru awal.
Di atas ranjang, tubuh Angkasa masih menegang. Rasa sakit yang menjalar di sepanjang sarafnya bukan sesuatu yang bisa dijelaskan dengan kata-kata, itu bukan sekadar nyeri. Itu seperti... tubuhnya dipaksa untuk hidup kembali.
“Tekanan darah meningkat!”
“Detak jantung tidak stabil!”
Suara-suara panik mulai muncul lagi.
Veronica melangkah lebih dekat. “Dokter Arunika, kita tidak bisa teruskan ini! Ini terlalu berbahaya!”
Kali ini Arunika tidak langsung menjawab, tatapannya beralih. Bukan ke arah monitor, tapi ke wajah Angkasa. Pria itu menggertakkan giginya, keringat membasahi pelipisnya. Namun mata pria itu... tetap terbuka dan sedang menatapnya.
Tidak ada permintaan untuk berhenti, tak ada tanda menyerah. Hanya satu hal—kepercayaan. Arunika menarik napas pelan, keputusan itu harus diambil sekarang. Jika ia melanjutkan, risikonya besar. Tapi jika ia berhenti sekarang, kesempatan ini mungkin tidak akan datang lagi.
Beberapa detik.
Hanya beberapa detik, namun terasa seperti waktu berhenti disaat itu.
“Dokter…!” Veronica kembali mendesak.
Arunika akhirnya berbicara. “Turunkan intensitas 5%.”
Semua orang langsung bergerak.
“Stabilisasi parameter.”
“Pertahankan jalur stimulasi.”
Perintahnya jelas dan tegas, namun tidak gegabah.
Veronica terdiam, dia tidak menyangka Arunika memilih jalan tengah. Tidak menghentikan, namun juga tidak memaksakan.
Monitor perlahan menunjukkan perubahan, lonjakan mulai menurun. Namun aktivitas saraf, tetap aktif.
“Respon masih ada…” bisik seorang dokter.
“Ini… berhasil dipertahankan…”
Arunika mengamati layar beberapa detik lagi.
“Cukup.” Satu kata itu langsung membuat semua orang bergerak cepat. “Matikan stimulasi.”
“Turunkan sistem.”
“Masuk ke fase stabilisasi.”
Mesin perlahan berhenti, ruangan kembali dipenuhi suara napas. Dan akhirnya... hening.
Beberapa detik kemudian, tubuh Angkasa mulai rileks. Napasnya masih berat, tapi tidak lagi menegang seperti sebelumnya. Matanya perlahan menutup… lalu terbuka kembali.
Tatapannya langsung mencari Arunika, wanita itu masih berdiri di tempatnya tidak bergerak. Seolah masih memastikan semuanya benar-benar aman.
“Arunika…” Suara Angkasa serak.
Arunika langsung mendekat. “Apa yang kamu rasakan?”
Nada suaranya kembali profesional, tapi kali ini sedikit lebih lembut.
Angkasa tersenyum tipis, meski lemah. “Seperti… baru saja ditarik kembali dari kematian.”
Beberapa dokter terdiam.
“Itu respon normal.” Arunika hanya berkata singkat.
Namun Angkasa menggeleng pelan, ia menggerakkan jari-jarinya. “Tidak, aku merasakannya… ada sesuatu yang kembali.”
Ruangan kembali sunyi, Semua orang melihat itu. Pergerakan kecil itu, tidak bisa dibantah. Veronica menutup mulutnya perlahan, matanya tidak lepas dari tangan Angkasa.
“Ini… benar-benar berhasil…”
Arunika tidak tersenyum sama sekali, ia hanya menatap tangan itu beberapa detik. “Ini baru tahap awal.”
Namun suaranya, tidak sepenuhnya setenang biasanya. Beberapa saat kemudian, tim medis mulai keluar satu per satu. Meninggalkan ruangan itu lebih sepi.
Veronica berdiri diam beberapa detik, lalu akhirnya menatap Arunika. Tatapannya berbeda sekarang, tidak lagi hanya penuh permusuhan. Tapi juga… pengakuan.
“Aku tidak menyangka ini bisa terjadi.” Ucap Veronica. Ia menatap Angkasa sekilas, lalu kembali ke Arunika. “Tapi ini... belum selesai.”
Nada suaranya kembali tegas. “Aku akan tetap mengawasi.”
“Lakukan saja.” Arunika hanya menjawab singkat.
Veronica terdiam sejenak, lalu akhirnya berbalik dan keluar.
Kini ruangan itu benar-benar sepi, hanya tersisa Arunika dan Angkasa. Beberapa detik tidak ada yang bicara, hanya suara monitor yang kembali stabil.
Bip… bip… bip…
Angkasa menatap langit-langit. “Aku tidak salah memilih.”
Arunika meliriknya.
Angkasa menoleh pada wanita itu, tatapannya lembut. “Aku memilih mempercayakan hidupku padamu.”
“Itu keputusanmu sendiri.” Jawab Arunika.
Namun Angkasa tersenyum. “Dan aku... tidak menyesal.”
Arunika menatap pria yang baru saja kembali dari ambang antara hidup dan mati itu dengan sorot mata yang perlahan melunak.
Sementara itu, Kenzo baru saja menerima kabar tentang penyerangan terhadap Arunika. Ia masih berada di Jepang, namun tanpa ragu langsung memutuskan kembali ke Indonesia dengan pesawat pribadinya.
“Cari tahu siapa pelakunya, bawa dia ke hadapanku!“ Ucap Kenzo dingin begitu ia duduk di dalam pesawat. “Berani sekali dia menyentuh dokter berhargaku!”
“Baik, Tuan,” jawab anak buahnya sigap.
Tatapan Kenzo menggelap, tak boleh ada siapa pun yang berani menyentuh Dokter Jenius—miliknya.
jangan marahan lagi..,..
ga enak tau memendam perasaan....berasa ada batu di dada....sesak kali buat nafas....🤭