sepasang sahabat yang telah berbagi segalanya selama belasan tahun harus menghadapi ujian terberat dalam hubungan mereka, kehadiran orang baru dan ketakuran akan kehilangan satu sama lain jika mereka melangkah lebih jauh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayemon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kontraksi beton
Debu konstruksi beterbangan di udara perbukitan Bogor yang sejuk. Suara deru mesin molen dan hantaman palu godam menjadi musik latar di lahan seluas dua hektar itu. Di tengah hamparan tanah merah yang mulai tertutup pondasi beton, Arlan berdiri dengan helm proyek putihnya, menatap lembaran cetak biru yang mulai kusam terkena keringat.
"Lan, elevasi di sayap timur ini selisih lima senti dari gambar. Kita harus bongkar bekisting-nya sekarang atau strukturnya bakal miring pas pasang atap," terkapar suara Rian, asistennya, yang tampak kelelahan.
Arlan mengernyit, memeriksa penggaris laser di tangannya. "Sial. Pak Gunawan minta presisi total buat gedung perpustakaannya. Rian, panggil mandornya. Kita nggak boleh kompromi soal ini. 'Lentera Sebelas' harus jadi bangunan paling aman di Jawa Barat."
Di sudut lain, di dalam sebuah kontainer modifikasi yang dijadikan kantor lapangan sementara (dan dilengkapi AC yang sangat dingin atas perintah Arlan), Kira duduk di kursi ergonomisnya. Perutnya yang kini memasuki bulan keenam sudah tampak bulat sempurna. Ia sedang sibuk mencocokkan sampel ubin tegel kunci yang akan digunakan untuk selasar sekolah.
"Ra, ini contoh warna terracotta-nya. Gimana?" Maura masuk ke kontainer, membawa dua keping ubin. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini hanya dikuncir kuda sederhana, dan ia mengenakan sepatu safety yang penuh lumpur.
Kira mendongak, menyesap air jahenya. "Kurang gelap, Mau. Aku mau kesan hangatnya lebih dapet. Kita mau anak-anak di sini merasa kayak di rumah, bukan di kantor pemerintahan. Oh ya, laporan anggarannya gimana? Pak Gunawan sudah lihat progres minggu ini?"
Maura duduk di sofa kecil di depan Kira, menghela napas panjang. "Ayah sudah dipindahkan ke perawatan rumah, Ra. Beliau senang banget lihat foto-foto tiang pancangnya kemarin. Tapi dia cerewet banget soal biaya marmer lobi. Katanya jangan terlalu mewah, nanti anak-anak malah takut mau masuk."
Kira tertawa kecil. "Pak Gunawan bener. Mewah itu di hati, bukan di lantai. Kita ganti pakai ubin buatan perajin lokal saja. Lebih murah dan lebih punya jiwa."
"Setuju," Maura tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong, kamu pucat banget hari ini, Ra. Sudah makan siang?"
"Sudah, tadi dibawain bekal sama Arlan. Tapi... perutku rasanya kencang banget dari tadi pagi. Mungkin si Jagoan lagi pengen ikut ngaduk semen," canda Kira, meski tangannya terus mengelus bagian bawah perutnya dengan raut sedikit meringis.
Maura langsung siaga. "Kencang? Kayak kontraksi?"
"Nggak tahu, kencang-hilang, kencang-hilang gitu. Kata dokter sih kontraksi palsu, Braxton Hicks katanya. Normal buat bulan keenam."
Satu jam kemudian, Arlan masuk ke kontainer dengan wajah yang kuyu dan baju yang basah kuyup oleh keringat. Ia langsung menuju dispenser, menenggak dua gelas air putih sekaligus.
"Proyek pemerintah di Jakarta telepon terus, Ra. Pak Broto bilang ada revisi mendadak soal sistem panel surya di pusat riset. Aku harus ke Jakarta sore ini juga," ucap Arlan sambil menyeka wajahnya dengan handuk kecil.
Kira mencoba berdiri untuk menghampiri suaminya, namun tiba-tiba ia memekik kecil. Tangannya mencengkeram pinggiran meja gambar. "Aduh... Lan..."
Arlan menjatuhkan gelas plastiknya. Dalam sekejap, ia sudah berada di samping Kira, menopang tubuh istrinya. "Ra! Kenapa?! Ada yang sakit?!"
"Perutku... kencang banget, Lan. Kali ini... ini nggak kayak biasanya. Sakit sampai ke pinggang," bisik Kira, napasnya mulai pendek-pendek.
Maura, yang tadinya sedang memeriksa berkas di pojok ruangan, langsung berdiri. "Lan, bawa ke rumah sakit di Bogor yang paling dekat saja. Jangan risiko bawa ke Jakarta, macetnya parah jam segini!"
Arlan tampak panik, matanya bergerak liar antara laptopnya yang masih menyala menunjukkan denah proyek kementerian dan wajah Kira yang mulai berkeringat dingin. "Tapi aku ada janji sama menteri jam empat sore..."
Kira menatap Arlan, mencoba tersenyum di tengah rasa sakitnya. "Pergi saja, Lan... aku nggak apa-apa. Ada Maura di sini. Paling cuma kontraksi biasa..."
"Enggak!" Arlan membentak pelan, namun tegas. Ia meraih ponselnya dan menelepon Rian yang ada di luar. "Rian! Batalkan semua jadwal saya di Jakarta. Bilang ke Pak Broto, kalau dia mau pecat saya, silakan. Istri saya darurat. Siapkan mobil sekarang!"
"Tapi Lan, itu karir kamu—" Kira mencoba memprotes.
"Kira, dengerin aku," Arlan memegang wajah Kira dengan kedua tangannya, menatapnya dalam-dalam. "Sebelas tahun aku kejar ambisiku, sebelas tahun aku bangun gedung-gedung tinggi. Tapi kalau aku kehilangan kamu atau anak kita... gedung paling tinggi di dunia pun nggak akan ada gunanya buat aku. Paham?"
Kira terdiam, air matanya menetes. Ia mengangguk pelan.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa seperti selamanya bagi Arlan. Di kursi belakang, Kira bersandar di bahu Maura. Ya, Maura Anastasia, yang dulu menjadi musuh bebuyutan mereka, kini sibuk mengelap keringat di dahi Kira dengan tisu basah.
"Tarik napas, Ra. Pelan-pelan. Ingat kata dokter, jangan panik," ucap Maura dengan nada tenang yang sangat tidak biasa baginya.
"Lan... pelan-pelan nyetirnya, jalannya banyak lubang!" teriak Maura ke arah Arlan yang mengemudi seperti pembalap F1.
"Aku tahu! Ini sudah paling pelan!" balas Arlan stres.
Sesampainya di IGD, Kira langsung dibawa ke ruang observasi. Arlan mondar-mandir di depan pintu, meremas jemarinya sampai memutih. Maura berdiri tidak jauh dari sana, tampak gelisah juga.
"Lan," panggil Maura.
"Apa?" jawab Arlan ketus, sisa-sisa trauma masa lalu terkadang masih muncul di saat ia stres.
"Maaf ya. Kalau bukan karena proyek 'Lentera Sebelas' ini, Kira nggak perlu jauh-jauh ke Bogor tiap minggu."
Arlan menghela napas panjang, kemarahannya mereda. Ia duduk di kursi tunggu, menunduk dalam-dalam. "Bukan salah kamu, Mau. Ini pilihan kami. Kira itu keras kepala, dia nggak mau cuma duduk di rumah. Dia mau kasih jiwanya buat sekolah ini."
Dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang cukup tenang. Arlan langsung berdiri tegak. "Gimana, Dok? Istri saya?"
"Tenang, Pak Arlan. Ini memang kontraksi palsu yang cukup kuat. Ibu Kira terlalu lelah dan sepertinya dehidrasi ringan. Janinnya baik-baik saja, detak jantungnya kuat. Tapi saya harus tegaskan: Ibu Kira harus bed rest total selama minimal dua minggu. Tidak ada perjalanan jauh, tidak ada naik-turun tangga proyek."
Arlan membuang napas lega yang sangat panjang, bahunya merosot saking leganya. "Terima kasih, Dok. Syukurlah."
Malam itu, Kira sudah diperbolehkan pulang namun dengan pengawasan ketat. Mereka kembali ke rumah di Jakarta. Arlan menggendong Kira dari mobil sampai ke tempat tidur mereka di lantai atas, mengabaikan protes Kira yang merasa malu dilihat tetangga.
"Lan, aku bisa jalan pelan-pelan!"
"Diam, Nyonya Dirgantara. Dokter bilang apa? Bed rest. Berarti kaki kamu nggak boleh nyentuh lantai kecuali buat ke kamar mandi," ucap Arlan sambil menyelimuti Kira.
Arlan duduk di tepi tempat tidur, mengambil laptopnya yang penuh dengan email kemarahan dari Pak Broto. Ia membacanya satu per satu dengan wajah datar, lalu mulai mengetik balasan.
"Lan... Pak Broto marah ya?" tanya Kira pelan.
"Dia bilang tim kementerian kecewa berat karena aku absen di rapat final," Arlan tersenyum miring. "Tapi aku baru saja kirim email balasan. Aku bilang, aku mengundurkan diri sebagai ketua tim arsitek pusat riset. Aku tetap jadi konsultan, tapi aku minta posisi ketua dialihkan ke Rian. Rian hebat, dia bisa handel."
Kira terperanjat, ia mencoba duduk namun ditahan oleh Arlan. "Lan! Itu proyek impian kamu! Kamu sudah kerjakan itu berbulan-bulan!"
Arlan meletakkan laptopnya, menggenggam tangan Kira dan menciumnya lama. "Ra, dengerin. Sebelas tahun kita sahabatan, aku selalu jadi orang yang paling ambisius. Aku mau dikenal, aku mau sukses. Tapi kejadian tadi siang di kontainer itu... waktu aku lihat kamu kesakitan dan aku hampir milih kerjaan... aku sadar aku hampir jadi orang yang paling bodoh di dunia."
"Tapi kamu nggak perlu lepas proyek itu sepenuhnya..."
"Aku butuh waktu buat kamu, Ra. Buat jagoan kita. Aku mau ada di setiap momen kamu hamil. Aku mau antar kamu kontrol setiap minggu tanpa harus lihat jam karena ada rapat menteri. Aku mau jadi suami yang beneran ada, bukan cuma suami yang kirim bunga lewat kurir karena lagi survei lapangan."
Kira terisak, ia menarik Arlan ke dalam pelukannya. "Makasih, Lan. Makasih sudah milih aku."
"Selalu kamu, Ra. Dari sebelas tahun lalu, sekarang, sampai nanti rambut kita putih semua," bisik Arlan.
Keesokan paginya, suasana rumah terasa sangat berbeda. Arlan benar-benar mewujudkan janjinya. Ia menyiapkan sarapan (meski roti bakarnya sedikit terlalu cokelat), mengatur semua vitamin Kira di atas nakas, dan memasang bel panggil nirkabel di samping bantal Kira.
Tiba-tiba pintu depan diketuk. Maura datang membawa keranjang besar berisi buah-buahan dan beberapa buku tentang perawatan bayi.
"Pagi, Pasangan Perfeksionis," sapa Maura saat masuk ke kamar atas setelah diizinkan Arlan. "Gimana kondisimu, Ra?"
"Sudah jauh lebih baik, Mau. Cuma bosen aja disuruh tidur terus," jawab Kira sambil tersenyum.
Maura duduk di kursi di samping tempat tidur. "Aku sudah bicara sama tim di Bogor. Aku ambil alih pengawasan lapangan sepenuhnya selama dua minggu ini. Kamu cukup lihat progres lewat foto dan Zoom dari kasur. Arlan juga, jangan coba-coba ke Bogor kalau nggak dipanggil darurat banget."
Arlan, yang sedang membawa nampan air jahe, menaikkan alisnya. "Tumben kamu jadi manajer yang sangat perhatian begini, Mau?"
Maura memutar matanya. "Anggap saja ini investasi biar 'ponakan angkatku' lahir dengan sehat dan nggak stres gara-gara bapaknya yang gila kerja."
Mereka bertiga tertawa bersama. Suasana yang dulu penuh dengan ketegangan dan kecurigaan kini mencair menjadi sebuah kerja sama yang unik.
"Lan," panggil Maura saat ia hendak pulang.
"Ya?"
"Ayah titip salam. Beliau bilang, keputusanmu mundur dari kementerian buat jaga Kira adalah desain hidup paling bagus yang pernah kamu buat. Beliau bangga sama kamu."
Arlan terdiam, sebuah rasa haru menyelimutinya. "Sampaikan terima kasihku ke Pak Gunawan, Mau."
Setelah Maura pergi, Arlan kembali ke samping Kira. Ia merebahkan kepalanya di samping perut Kira, mendengarkan detak jantung jagoannya lewat stetoskop yang sengaja ia beli.
"Ra," bisik Arlan.
"Hm?"
"Mulai sekarang, struktur hidup kita bakal berubah. Nggak ada lagi pondasi yang dibangun di atas lembur. Kita bangun semuanya di atas waktu luang dan tawa kita berdua."
Kira mengusap rambut Arlan, menatap langit-langit kamar mereka dengan penuh rasa syukur. Sebelas tahun persahabatan mereka telah melewati banyak fase, namun fase menjadi orang tua ini adalah desain yang paling rumit sekaligus paling indah yang pernah mereka buat.
"Lan," panggil Kira.
"Ya, Sayang?"
"Aku sayang kamu."
"Aku lebih sayang kamu, Ra. Dan jagoan di dalam sini juga pasti setuju."
Malam itu, di rumah yang tenang, Arlan dan Kira menyadari bahwa kadang-kadang, untuk membangun sesuatu yang benar-benar kokoh, kita harus berani meruntuhkan ambisi pribadi dan membiarkan cinta yang menjadi semen perekatnya.