Aluna hanya ingin bekerja.
Sebagai istri yang terdesak ekonomi, ia tak pernah menyangka dunia kerja akan memberinya lebih dari sekadar gaji—ia menemukan rasa dihargai.
Sampai ia bertemu atasannya.
Pria dingin yang terlalu sering mengkritiknya.
Terlalu sering memanggil namanya dengan nada rendah.
Terlalu sering berdiri lebih dekat dari yang seharusnya.
Aluna sudah menikah.
Dan pria itu telah dijodohkan.
Seharusnya tidak ada yang tumbuh di antara mereka.
Namun setiap sindiran terasa seperti perhatian.
Setiap jarak terasa seperti godaan.
Dan setiap konflik… justru memperdalam sesuatu yang tak boleh ada.
Ketika rumah tak lagi menjadi tempat pulang,
dan kantor menjadi pelarian yang berbahaya—
Aluna harus memilih:
bertahan pada ikatan yang retak,
atau tenggelam dalam cinta yang tak pernah dimaksudkan untuk terjadi.
Karena beberapa pernikahan dimulai bukan dari restu…
melainkan dari keberanian menanggung dosa bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Tidak Mencintaiku?
"Kenapa?" tanya Arka lirih. "Kamu tidak mencintai ku, Aluna?"
"Saya.." kalimatnya tertahan. "Saya tidak tahu."
Mereka terdiam sesaat.
Tiba-tiba ingatan itu muncul, tanpa izin. Tentang sikap buruknya terhadap Aluna dulu, yang sekarang terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya.
Ia terdiam, saat ingatan tentang caranya memperlakukan Aluna kembali menghantam pikirannya.
"Aku mengerti.. jika kamu tidak mencintai ku," ucap Arka memecah keheningan.
"Tapi.. seperti kata ku. Monster itu bisa berubah tergantung bagaimana cara mu memandang ku sekarang."
"Saya percaya untuk saat ini.. Pak Arka datang kepada saya dengan sikap yang jauh lebih baik," kalimatnya berhenti sejenak. "Namun.. perihal perasaan saya, saya sendiri pun tidak tahu."
Suara jarum jam terasa lebih keras.
"Setelah saya merasakan luka dari pengkhianat, dari orang-orang yang saya sayangi. Membuat saya tidak lagi bisa membedakan mana cinta dan mana kebohongan."
Arka membelai rambut perempuan itu. "Aluna," panggilnya.
Aluna menoleh padanya.
"Terima kasih karena sudah bertahan diantara luka yang terus menghujani mu."
Aluna menatap Arka begitu dalam, matanya mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih karena tetap berdiri tegak dan menjaga calon anakku."
Arka memeluk Aluna begitu erat, seolah kini perempuan itu adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.
"Apa Bapak akan menyayangi anak ini?" pertanyaan Aluna membuat Arka menatapnya.
"Tentu.. karena dia tumbuh di dalam tubuh perempuan yang aku cintai."
"Apa anak ini akan tumbuh dengan baik atau justru berakhir seperti saya?"
Kalimat itu terucap begitu saja dari mulut Aluna.
Arka menatapnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
"Memangnya kamu kenapa?" tanya Arka akhirnya.
Aluna menundukkan wajahnya. "Saya terlahir dari keluarga yang tidak mau menerima saya."
Ruangan itu kembali hening dengan denting jam yang terus berputar.
...***...
Aluna Pramesti.
Tumbuh besar di Jogja.
Dibesarkan oleh Bude—kakak dari Ayahnya.
Bude Ima tidak memiliki keturunan, dan ketika adik laki-lakinya menghamili seorang perempuan di luar nikah—
Menjadi sebuah kesempatan bagi Bude Ima untuk mengambil dan mengasuh bayi itu.
Rahasia itu tersimpan rapi hingga Aluna beranjak dewasa. Ketika memasuki masa SMA, identitasnya akhirnya terungkap.
Di sisi lain—Saat Aluna berusia 5 tahun.
Saat itulah Bude Ima dikaruniai keturunan, seorang anak perempuan yang usianya hanya terpaut 4 tahun darinya.
Saat Hesti—Anak kandung Bude Ima mengetahui bahwa Aluna bukan saudara kandungnya.
Ia mulai bersikap buruk terhadapnya.
Hanya karena tidak ingin kasih sayang kedua orang tuanya terbagi, hanya karena tidak ingin harta orang tuanya juga terbagi.
Aluna mengerti bagaimana posisinya.
Ia tidak ingin menjadi benalu maupun pemecah hubungan antara anak dan orang tua.
Ia mulai menyadari bahwa kehadirannya tidak lagi dibutuhkan.
Ketika Aluna akhirnya lulus SMA—Ia memutuskan untuk pergi mandiri.
Memilih tinggal di sebuah kontrakan seorang diri dan bekerja untuk bertahan.
Bude Ima berniat untuk membiayai kuliah Aluna, ia juga ingin agar anak angkatnya melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
Namun Aluna menolak—
Baginya sudah dibesarkan dan di sekolah hingga sejauh ini, sudah lebih dari cukup.
Status pendidikannya yang hanya lulusan SMA, membuatnya sedikit kesulitan mencari pekerjaan yang lebih baik.
Hingga suatu hari takdir mempertemukannya dengan Gavin.
Lalu—Menikah adalah sebuah keputusan terakhir yang ia miliki.
Agar ada seseorang yang melindungi.
Agar rasa kesepiannya, hilang.
Agar dia, tidak lagi menjadi seseorang yang berjalan sendirian.
Ketika Arka pernah mengucapkan kalimat "jangan berjalan sendirian".
Itu membuat Aluna kembali mengingat masa-masa yang paling menyedihkan dalam hidupnya.
Seolah pria yang bernama Arka itu.. mengerti bagaimana perasaannya.
Dan itu adalah sebuah awal dari berontak nya hati dan logika Aluna terhadap perasaannya pada Arka.
Ia ingin terus membenci—Namun hatinya masih berusaha menahannya.
...***...
"Aluna."
Arka mendatangi meja kerja Aluna.
Aluna menoleh padanya, "iya Pak?"
"Nanti pulang kerja, tunggu saya di lobi."
Pria itu langsung meninggalkan Aluna menuju lift, tanpa menjelaskan maksudnya.
Aluna hanya melongo, namun ia sudah terbiasa dengan sikap pria itu.
Saat akhirnya jam kerja telah usai.
Aluna duduk di sebuah sofa yang berada di lobi kantor.
Tatapannya kosong, sesekali melirik jam di tangannya.
Dua jam telah berlalu.
Aluna mulai merasa lelah, ia merenggangkan otot lehernya ke kiri dan ke kanan.
Sampai kemudian perempuan itu mulai frustasi dan berdiri dari duduknya.
"Dia hanya ingin menyuruhku menunggu?"
Gumamnya kesal sambil berjalan keluar.
Di tengah keramaian jalan raya malam itu, ia merasa sesuatu yang tidak biasa.
Dadanya sedari tadi berdegup lebih kencang, suasana hatinya berubah.
Ia berjalan perlahan di pinggir trotoar, sengaja memperlambat jalannya karena masih berharap pria yang menyuruhnya menunggu tadi, bisa menemukannya.
Tiba-tiba langkahnya terhenti karena tangannya ditarik dari belakang—
Arka.
"Aluna.. maaf aku terlambat," ucap Arka yang terengah-engah.
Aluna menatap pria itu dari bawah hingga atas.
"Bapak kenapa?"
"Ayo kita ke mobil." Arka membawa Aluna menuju mobilnya.
Aluna hanya menurut dengan isi kepala yang penuh tanda tanya.
Di sepanjang perjalanan dengan gemerlap kota Jakarta yang begitu mengagumkan.
Aluna dan Arka hanya fokus pada jalanan yang padat.
Hingga akhirnya Aluna mulai memecah keheningan.
"Kita sebenarnya mau kemana, Pak?"
Arka fokus menatap depan. "Nanti kamu juga tahu."
Aluna menghela nafas kesal.
Setelah cukup lama berada di jalan, akhirnya mobil memasuki sebuah halaman rumah.
Rumah itu tidak begitu besar juga tidak begitu kecil, cat rumah itu berwarna putih.
Sebelum mereka turun dari mobil, Arka menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Gimana? Sudah siap? Aku sudah di depan."
Lalu ia menutup telponnya.
Aluna hanya mengerutkan keningnya.
Arka turun dari mobilnya, lalu di susul Aluna.
Pria itu menggandeng tangan Aluna menuju rumah.
"Ini rumah siapa?" tanya Aluna.
Namun Arka tidak menjawabnya.
Saat mereka memasuki rumah itu, beberapa orang menyambut dengan antusias.
Orang-orang yang berada di dalam rumah itu memakai pakaian rapi, setelan jas, dan kebaya putih yang melekat di tubuh para perempuan.
Aluna mulai merasa tidak nyaman.
Arka mengisyaratkan pada beberapa perempuan untuk membawa Aluna kepada mereka.
Aluna digiring ke sebuah kamar.
Di sana ia melihat meja rias dan sebuah baju kebaya putih yang begitu indah.
Seorang perempuan menyuruhnya untuk duduk di meja rias.
"Untuk apa?" tanya Aluna pada salah seorang perempuan.
"Kita akan merias mu," jawab seorang perempuan.
"Memangnya ada apa?" tanya Aluna dengan wajah yang kebingungan.
"Kamu akan menikah," jawab perempuan itu.
Sontak Aluna kaget.
"Menikah? Dengan siapa?"
Perempuan itu saling menatap satu sama lain.
"Dengan pria yang datang bersama mu."
Aluna menutup mulutnya, rasa tak percaya menyelimuti dirinya.
Ia berlari keluar dari kamar, berlari melewati beberapa orang di ruang utama dan melewati Arka.
Arka mengejar Aluna, ia menarik tangannya.
"Aluna.. dengarkan aku dulu."