Seorang pemuda dengan kutukan api di dalam tubuhnya, membuat dirinya dibenci oleh seluruh warga desa.
Padahal di dalam hatinya, Subosito tak ingin melukai siapa pun dengan apinya.
Banyak pendekar yang mengincar kekuatan itu, untuk kepentingan pribadi mereka
Subosito mencoba untuk mengarungi dunia pendekar yang tidak mudah.
Bagaimana kisah perjuangan pemuda api itu dengan kutukan yang dimilikinya?
Ikuti keseruan kisahnya dalam 'Subosito'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eko yepe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cambuk Api dan Kesunyian Mata
Gema sorak-sorai untuk kemenangan "Sura si kuli pincang" belum sepenuhnya mereda dari permukaan Danau Segaran, namun atmosfer di sekitar panggung terapung itu tiba-tiba berubah.
Suhu udara di atas air yang tadinya sejuk oleh embusan angin danau, kini terasa kering dan menyesakkan. Giliran Larasati, sang gadis buta yang misterius, untuk menapaki papan jati yang masih basah oleh sisa pertarungan sebelumnya.
Di seberangnya berdiri seorang pria berperawakan kurus kering dengan membentuk mata yang dalam dan penuh kebencian. Namanya adalah Suro Geni, seorang pendekar kiriman dari kadipaten wilayah timur yang dikenal sebagai penganut aliran api hitam.
Di tangannya, mengulurkan sebuah cambuk panjang yang terbuat dari jalinan kulit naga tanah dan kawat tembaga. Setiap kali ujung cambuk itu menyentuh permukaan panggung, asap tipis berwarna gelap muncul, menyebarkan aroma belerang yang menyengat.
“Seorang gadis buta?” Suro Geni tertawa, suaranya parau seperti batu. "Majapahit benar-benar sudah kehabisan kesatria hingga membiarkan beban sepertimu mengotori arena suci ini. Aku akan mengirimmu ke alam baka sebelum kau sempat merasakan panasnya cambuk apiku, hahaha!"
Larasati tidak bergeming, gadis buta itu hanya berdiri tegak, memegang tongkat cendananya dengan kedua tangan di depan dada. Mata yang tertutup selaput putih menatap kosong ke arah depan, namun telinga bergerak lembut, menangkap setiap frekuensi suara—mulai dari riak udara di bawah drum perunggu hingga detak jantung lawannya yang tidak beraturan.
“Dunia tidak selalu membutuhkan mata untuk melihat kebenaran, Tuan,” suara Larasati mengalun tenang, kontras dengan kegarangan lawannya. "Terkadang, mata justru menjadi tirai yang menutupi kebusukan di dalam jiwa!"
Gong berbunyi.
TER!
Lecutan cambuk pertama membelah udara. Ujungnya menghasilkan ledakan api kecil yang berbau belerang pekat. Api ini bukan api biasa; ia adalah "Api Belerang Meranggi", sebuah teknik yang diciptakan khusus untuk memusatkan konsentrasi para pengguna energi batin.
Bagi seorang kesatria yang mengandalkan Indra keenam, bau belerang ini seperti racun yang membuyarkan penglihatan batin, sementara suara lecutannya dirancang untuk memekakkan pendengaran halus.
Larasati melompat ke samping dengan gerakan yang sangat ringan, seolah-olah tubuhnya tak memiliki bobot. Namun, Suro Geni tidak berhenti. Dia membungkusnya dalam pola melingkar, menciptakan badai api kecil di atas panggung kayu.
TAR! TAR! TAR!
Panggung kayu jati itu mulai menghitam. Aroma belerang semakin memenuhi udara, membuat penonton di tepi dermaga terbatuk-batuk.
Bagi Larasati, ini adalah ujian yang paling mengerikan. Sebagai seorang yang buta, gadis itu mengandalkan getaran udara dan aroma untuk memetakan posisi lawan. Kini, udara dipenuhi ledakan panas yang membingungkan Indranya, dan bau belerang menutupi aroma keberadaan Suro Geni.
"Kau tidak bisa lari selamanya, Gadis Kecil!" Suro Geni berteriak keras, memutar cambuknya di atas kepala, menciptakan pusaran api yang menghisap oksigen di sekitarnya.
Subosito, yang mengamati peserta dari di tepi danau, mengepalkan tangannya sendiri hingga kukunya memutih. Pemuda itu bisa merasakan betapa terdesaknya Larasati. Cambuk itu adalah kelemahan alami bagi siapa pun yang bertarung dengan kesunyian jiwa. Setiap lecutan tidak hanya menyerang fisik, tetapi juga mengguncang ketenangan batin.
Di atas panggung, Larasati mulai terpojok di sudut arena. Ujung cambuk api itu sempat menyambar ujung pakaian putihnya, membakar kain itu seketika. Namun, di tengah kekacauan api dan asap belerang, Larasati tiba-tiba berhenti bergerak. Gadis itu menurunkan tongkat cendananya, membiarkannya menyentuh permukaan panggung kayu yang bergoyang.
Larasati memejamkan mata putihnya lebih rapat. Gadis itu berhenti, mencoba "mendengar" dengan telinga, dan mulai "merasakan" dengan seluruh pori-pori kulitnya.
Larasati membiarkan goyangan panggung masuk ke dalam ritme tubuhnya. Jika dunia di luar penuh dengan gangguan api, maka dirinya akan mencari kesunyian di dalam dirinya sendiri.
Takk!
Tongkat cendana Larasati bergetar lembut.
Suro Geni melepaskan lecutan maut yang mengincar leher Larasati. Cambuk itu meluncur seperti ular api yang lapar. Namun, dengan gerakan yang nyaris tak terlihat oleh mata manusia, Larasati menarik kepalanya ke belakang hanya berjarak satu jari. Cambuk itu lewat di samping telinga.
Tanpa menunggu, Larasati melangkah maju. Bukan lari, tapi sebuah langkah yang tenang di tengah badai.
TER!
Cambuk kembali meledak di depan wajahnya, namun Larasati terus melangkah. Gadis buta itu seolah-olah menari di antara lidah-lidah api belerang. Setiap serangan Suro Geni yang membabi-buta hanya mendekati udara kosong.
"Kenapa! Bagaimana kamu bisa menghindar!" Suro Geni mulai panik. Dia meningkatkan kecepatan serangannya, membuat seluruh panggung tertutup asap kuning yang menyesakkan.
Larasati tetap diam, baginya, setiap lecutan cambuk sekarang memiliki "warna" suara yang unik. Gadis itu tahu kapan udara akan meledak sebelum api itu muncul. Saat jarak mereka hanya tersisa tiga langkah, Suro Geni mencoba melakukan serangan sapuan kaki dengan ujung cambuknya.
Inilah saat yang ditunggu-tunggu Larasati.
Gadis buta itu melompat rendah, dan di tengah udara, dia memutar tongkat cendananya. Ujung tongkat itu mencengkeram tangan Mahesa Gni yang sedang memegang hulu cambuk.
Takk!
Suara benturan kayu dan tulang terdengar jelas di tengah desisan api. Suro Geni mengerang, hulu cambuknya terlepas dari genggaman. Sebelum cambuk itu jatuh ke panggung, Larasati menggunakan ujung tongkatnya untuk mengait tali cambuk tersebut dan memutarnya kembali ke arah pemiliknya.
SRET!
Cambuk api yang masih menyala itu melilit tubuh Suro Geni sendiri. Peluncuran belerang yang tadinya dia banggakan kini membakar zirah kulitnya.
"Aaarrghhh!" Suro Geni berteriak kesakitan saat api hitamnya sendiri mulai menghanguskan pakaiannya. Dia kehilangan keseimbangan di atas panggung yang bergoyang dan terjatuh ke dalam air danau dengan suara ceburan yang keras.
Asap kuning perlahan menghilang tertiup angin danau. Larasati berdiri sendirian di tengah panggung yang kini penuh dengan bekas luka bakar.
Napasnya sedikit terengah-engah, namun wajahnya tetap tenang seperti permukaan telaga yang dalam. Gadis itu telah menang, namun kemenangan itu tampak sangat melelahkan bagi batinnya.
Pengadil kerajaan mengangkat tangan. "Pemenang: Larasati!"
Sorak-sorai kembali pecah, meskipun kali ini penuh dengan rasa heran. Bagaimana mungkin seorang gadis buta bisa mengalahkan pendekar api yang paling ditakuti? Di tribun peserta, Subosito mengembuskan napas lega. Namun, dia menyadari sesuatu yang aneh, Larasati tidak segera turun dari panggung. Larasati berdiri membeku, kepalanya tertunduk menatap hulu cambuk yang patah milik lawannya yang masih tertinggal di atas papan kayu.
Dari kejauhan, Subosito menggunakan ketajaman penglihatan Garuda-nya. Di hulu cambuk itu, terukir sebuah simbol kecil: seekor burung gagak yang mengelilingi rantai.
"Simbol itu...!" Subosito tersentak. Itu adalah simbol dari organisasi Sayap Hitam , kelompok pembunuh bayaran yang belasan tahun lalu membantai keluarga bangsawan di wilayah pinggiran, sebuah peristiwa yang dikaitkan dengan hilangnya ayah, Arga Sangkara.
Apakah Larasati adalah salah satu penyintas dari kematian itu? Ataukah dia memiliki dendam yang sama dengannya?
Larasati memungut hulu cambuk itu, jemarinya meraba ukiran gagak tersebut dengan gemetar. Air mata bening jatuh dari mata putihnya, membasahi pipinya yang pucat. Gadis itu segera menyeka air mata itu dan turun dari panggung sebelum orang lain menyadari emosinya.
Pertarungan hari itu berakhir dengan kejutan besar. Dua peserta "tak berarti"—seorang kuli bisu dan seorang gadis buta—telah melaju ke babak berikutnya, mengalahkan kesatria-kesatria pilihan kadipaten.
***
Malam harinya, Trowulan diselimuti kabut tipis. Subosito duduk di dalam kamar penginapannya yang sempit di pinggiran kota. Pemuda itu sedang mengasah belatinya ketika dia merasakan sebuah kehadiran yang luar biasa di luar pintunya. Hawa dingin yang tajam, seperti logam yang baru saja keluar dari es, membeku masuk melalui celah lantai kayu.
Subosito meletakkan belatinya, Segel Garuda di punggungnya berputar kencang, memberikan peringatan akan bahaya yang mendekat.
Pintu penginapan itu terbuka perlahan, meski tak ada suara langkah kaki. Di sana, berdiri sesosok pria tinggi dengan zirah perak yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak yang temaram. Wajahnya tertutup topeng setengah wajah yang juga berwarna perak, namun matanya—mata tanpa pupil yang berputar seperti pusaran air—menatap langsung ke arah Subosito.
Itu adalah Kala Dirja , sang Kesatria Naga Sisik Perak.
"Sura..., atau siapa pun namamu," suara Kala Dirja terdengar berat dan menggembung, memenuhi ruangan sempit itu dengan tekanan batin yang luar biasa. "Penyamaranmu mungkin cukup untuk membodohi rakyat jelata dan pengadil kerajaan yang dungu. Tapi di suhu dingin, aroma apimu lebih busuk dari bangkai yang terbakar!"
Subosito bangkit perlahan, tetap tidak mengeluarkan suara. Pemuda itu mempertahankan matanya yang redup, mencoba menekan intimidasi lawan.
Kala Dirja melangkah masuk, setiap gerakannya menyebabkan udara di ruangan itu terasa membeku. "Aku datang bukan untuk mengungkap rahasiamu di sini. Aku hanya ingin melihat sedalam apa kau menyembunyikan matahari di dalam tubuhmu. Karena saat kita bertemu di arena nanti, aku akan memastikan matahari itu padam untuk selamanya!"
Dua kekuatan besar, perak yang dingin dan emas yang terpendam, saling beradu dalam perang dingin di tengah kegelapan malam Trowulan. Pertarungan yang sesungguhnya bahkan belum dimulai di atas arena, namun di dalam ruangan kecil ini, takdir seolah sedang mengunci mereka dalam sebuah duel yang tak terelakkan.
Larasati telah membuktikan bahwa kesunyian mampu mengalahkan badai api, namun kemenangan itu justru membuka luka lama yang sangat dalam. Sementara itu, identitas Subosito kini berada di ujung tanduk saat sang Kesatria Naga mulai melakukan intimidasi secara langsung.
Rahasia apa yang tersimpan dalam simbol gagak berantai itu? Mampukah Subosito bertahan dari tekanan batin Kala Dirja tanpa memicu ledakan api Garuda?
Simak kelanjutannya dalam kisah Subosito.