Kasih Permata Sari—
gadis yang lahir tidak sempurna, dengan satu kaki yang tak berfungsi.
Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya, Rani, yang menganggapnya sebagai aib keluarga. Satu-satunya tempat Kasih bersandar hanyalah ayahnya, Raka—hingga sebuah malam mengubah segalanya.
Kecelakaan itu merenggut nyawa Raka.
Dan sejak saat itu, Kasih tumbuh bukan dengan cinta—melainkan trauma.
Kini, di balik sosoknya yang tenang dan kuat, tersembunyi rahasia besar.
Ia bukan sekadar siswi berprestasi—
Kasih adalah pemilik perusahaan besar… tanpa seorang pun mengetahuinya.
Kehidupannya mulai berubah saat dua orang masuk ke dunianya.
Edghan—yang perlahan mendekat, mencoba memahami dua sisi Kasih yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun.
Dan Zevan—seseorang dari masa lalu yang kembali, membawa kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Kebenaran tentang keluarganya.
Tentang kecelakaan itu.
Dan tentang dirinya sendiri.
Di balik kebenaran yang perlahan terungkap—
siapa yang sebenarnya paling mengenal Kasih?
Dan di antara dua pilihan yang datang bersamaan—
siapa yang akan berhasil mendapatkan hatinya…
sebelum semuanya terlambat? 🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosanda_27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Dibalik Undangan Hitam Emas
Langit kota masih berwarna biru pucat ketika lift eksekutif berhenti di lantai paling atas gedung pusat PT Aditya Group.
Ruang kerja utama direktur sudah rapi bahkan sebelum pemiliknya masuk.
Interiornya dominan kayu gelap dengan jendela kaca tinggi yang memperlihatkan panorama kota yang baru terbangun. Cahaya matahari pagi menembus perlahan, memantul di atas meja marmer hitam yang luas dan bersih tanpa cela.
Aditya Bagaskara duduk tegak di kursinya, membaca laporan tender proyek infrastruktur yang baru masuk semalam. Setiap halaman dibalik dengan ritme tenang. Tidak terburu-buru.
Tidak ceroboh
Seperti caranya memimpin perusahaan.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Sekretarisnya melangkah masuk dengan map hitam dan satu amplop tebal berwarna hitam dengan emboss emas.
“Pak, ada undangan prioritas.”
Amplop itu diletakkan tepat di tengah meja.
Aditya meliriknya sebentar sebelum mengambilnya. Tekstur kertasnya eksklusif. Desainnya tidak berlebihan—tapi jelas mahal.
Ia membukanya perlahan.
Tulisan elegan tercetak di sana:
Gala Corporate Night
PT Permata Sari
Minggu, pukul 20.00 WIB
Alisnya terangkat tipis.
Beberapa bulan terakhir, grafik PT Permata Sari memang naik tajam. Terlalu tajam untuk sekadar kebetulan pasar.
Ia membuka kartu undangan lebih dalam.
Tema: Formal Black & Gold
Tamu terbatas.
Mitra strategis dan media terpilih.
Aditya menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi, menatap langit kota yang mulai terang sepenuhnya.
“Berani juga,” gumamnya pelan.
Bukan nada sinis.
Lebih kepada apresiasi profesional.
“Mereka ingin menunjukkan posisi.”
Sekretarisnya berdiri tenang.
“Apakah Bapak akan hadir?”
Aditya menutup undangan itu dengan gerakan terukur.
“Tentu,” jawabnya. “Dalam bisnis, kita tidak menghindari pesaing. Kita mempelajarinya.”
Ia mengetukkan jari pelan di atas meja.
“Siapkan jadwal saya Minggu malam. Pastikan tidak ada agenda lain.”
“Baik, Pak.”
Sekretaris itu keluar
Ruang kerja kembali sunyi.
Aditya memutar kursinya sedikit, memandang kota yang kini sudah ramai oleh lalu lintas pagi.
Enam bulan.
Restrukturisasi cepat. Strategi ekspansi bersih. Tidak ada kebocoran informasi berarti. Manuver yang rapi.
Ia tersenyum tipis.
“Saya ingin melihat siapa yang berdiri di belakang semua ini.”
Minggu.
Pukul delapan malam.
Menarik.
Tanpa ia sadari—
acara yang ia anggap sebagai langkah membaca pesaing, akan mempertemukannya dengan sesuatu yang jauh lebih personal dari sekadar strategi bisnis.
—————————
Di Rumah — Malam Hari
Rumah keluarga Aditya Bagaskara terasa hangat dan elegan. Lampu ruang tengah menyala lembut. Aroma teh melati menguar dari meja kecil di depan sofa.
dr. Nita duduk santai sambil membaca jurnal medis di tablet. Ketika Aditya masuk dan duduk di sampingnya, ia menoleh.
“Kamu terlihat berpikir,” katanya lembut.
Aditya menyerahkan kartu undangan itu padanya.
“Kita diundang.”
Nita membaca pelan.
“Gala Corporate Night… PT Permata Sari?”
“Iya. Minggu, jam delapan malam.”
Nita tersenyum ringan.
“Perusahaan yang menggeser posisi perusahaan keluarga kita?”
Aditya mengangguk.
“Dalam enam bulan, restrukturisasi mereka luar biasa rapi. Saya ingin melihat siapa yang berdiri di belakang perubahan itu.”
Tak jauh dari ruang tengah, di lorong menuju tangga, seseorang berhenti melangkah.
Edghan.
Awalnya ia hanya lewat hendak mengambil minum.
Namun telinganya menangkap satu nama.
PT Permata Sari.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Nama itu terasa… familiar.
Dan dalam hitungan detik, ingatannya mundur beberapa hari lalu.
Siang itu.
Gedung tinggi.
Blazer cream.
Kasih berjalan masuk ke dalamnya dengan langkah bertongkat.
Ia membeku di tempat.
Suara ayahnya kembali terdengar dari ruang tengah.
“Perusahaan itu sedang di puncak performa. Strateginya bersih dan agresif sekaligus. Saya penasaran siapa direktur utamanya.”
Tanpa sadar ia melangkah mendekat.
“Ayah… acaranya hari apa?”
Aditya dan Nita menoleh bersamaan. Sedikit terkejut karena biasanya Edghan tak pernah tertarik urusan bisnis.
“Minggu,” jawab Aditya tenang. “Pukul delapan malam.”
Edghan mencoba terlihat santai.
“Malam?”
“Iya.”
Ia mengangguk pelan.
Dalam kepalanya hanya ada satu pertanyaan:
Kasih sedang apa di sana waktu itu?
Ia ingat jelas bagaimana gadis itu keluar sore hari dengan pakaian formal… lalu berganti kembali menjadi seragam sekolah sebelum masuk gang rumahnya.
Ia belum pernah melihat sisi itu dari siapa pun.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
ia ingin ikut acara bisnis ayahnya.
“Ayah… aku boleh ikut?”
Nita menoleh kaget kecil.
“Kamu?”
Aditya mengamati putranya beberapa detik.
“Kamu biasanya menghindari acara seperti itu.”
Edghan mengangkat bahu, berusaha terlihat biasa.
“Sekali-sekali nggak apa-apa, kan? Anggap aja pengalaman.”
Aditya menatapnya tajam, mencoba membaca sesuatu di wajah anaknya.
Namun yang ia lihat hanya tekad.
Baiklah.
“Kalau begitu, ikutlah.”
Jawaban itu sederhana.
Tapi bagi Edghan, itu seperti pintu yang baru saja terbuka.
Minggu, Jam delapan malam.
Ia akan datang.
Sementara di ruang tengah, Aditya menyeruput tehnya dengan tenang.
Ia tidak tahu—
bahwa malam gala itu bukan hanya tentang persaingan bisnis.
Tapi juga tentang takdir yang perlahan mempertemukan dua dunia… dalam satu ballroom yang sama.
——————————————
Pagi ini sebenarnya tidak benar-benar longgar.
Sejak pagi, ponsel Kasih hampir tak berhenti berbunyi. Pesan dari panitia. Vendor dekorasi. Tim konsumsi. Konfirmasi ulang daftar tamu.
Besok malam acara itu akan berlangsung.
Tidak boleh ada yang salah.
Dan hari ini adalah hari terakhir baginya untuk memastikan semuanya benar-benar beres.
Itulah alasan ia memilih kontrol sekarang.
Bukan karena ia sedang kambuh parah.
Tapi karena besok jadwalnya terlalu padat.
Besok ia harus hadir penuh. Fokus. Tenang. Tidak boleh goyah.
Hari ini memang juga padat—rapat final, pengecekan venue, memastikan rundown sesuai waktu—namun masih ada sedikit celah yang bisa ia sisihkan.
Dan celah itu ia gunakan untuk kontrol.
Rumah masih sama seperti biasa.
Rani dan Raisa mengira Kasih ada di kamarnya yang kecil di pojok. Mereka tidak benar-benar memperhatikan kapan ia keluar.
Bang Usman sudah menunggu.
Seperti biasa, Kasih duduk di kursi belakang.
Ia belum siap duduk di depan.
Perjalanan cukup lancar. Meski beberapa kali suara kendaraan besar membuat jantungnya melonjak, ia bisa mengendalikannya.
Menarik napas.
Menghitung.
Melepaskan perlahan.
Ia datang ke rumah sakit bukan untuk memeriksa fisiknya.
Ia datang untuk memastikan mentalnya stabil.
Karena besok malam, ia tidak boleh runtuh.
Tak butuh lama mobil itu masuk ke lobi rumah sakit, bang Usman tidak bertanya banyak ia cuma mengantar kasih, lalu kembali pulang kerumah.
—————
“Pagi, Kasih.” Sapa dr. Nita saat melihat kasih yang berjalan masuk ke dalam ruangannya
“Pagi, Dok.”
Mereka duduk berhadapan.
“Bagaimana minggu ini?” tanya Nita.
Kasih berpikir sejenak sebelum menjawab.
“Aku masih kaget kalau dengar suara keras,” ucapnya jujur. “Tapi sekarang cuma beberapa detik. Nggak sampai blank lama.”
Nita mengangguk sambil mencatat.
“Mobil?”
“Aku masih duduk di belakang.”
Ia tersenyum kecil, sedikit malu. “Belum berani di depan.”
“Itu tidak apa-apa,” jawab Nita tenang. “Proses penyembuhan tidak diukur dari keberanian lompat jauh. Tapi dari kemampuanmu kembali lebih cepat.”
Kasih terdiam.
Dulu, setiap suara yang mirip dengan malam itu akan membuatnya membeku.
Pandangannya kosong.
Napasnya tak terkendali.
Sekarang?
Ia masih terkejut.
Tapi ia bisa kembali.
Lebih cepat.
“Tubuhmu mulai percaya bahwa kamu aman,” lanjut Nita lembut.
Aman.
Kata itu masih terasa asing, tapi tidak lagi mustahil.
Ruangan hening beberapa detik.
Lalu Nita menatapnya lebih dalam.
“Ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?”
Biasanya Kasih akan menggeleng dan berkata tidak.
Namun kali ini ia tidak.
Ia menatap tangannya sendiri.
“Ada.”
Nita tidak menyela.
“Akhir-akhir ini… pikiranku kebagi.”
“Kebagi bagaimana?”
Kasih menarik napas pelan.
“Aku lagi fokus sembuh. Fokus pada urusanku. Dan Fokus kontrol diri. Supaya nggak gampang panik.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi ada seseorang yang terus masuk ke pikiranku.”
Nita tersenyum tipis, seolah sudah menduga arah pembicaraan.
“Dia nggak melakukan sesuatu yang besar,” lanjut Kasih pelan. “Cuma hal-hal kecil. Cara dia bicara. Cara dia lihat aku.”
Ia mengerutkan dahi.
“Dan itu bikin aku… kepikiran terus.”
“Perasaan itu membuatmu takut?” tanya Nita.
Kasih menggeleng pelan.
“Nggak takut.”
“Cuma… bingung.”
“Bingung karena?”
“Karena aku nggak pernah mikirin orang seperti ini sebelumnya.”
Suaranya makin pelan.
“Aku takut ini mengganggu proses sembuhku, dan juga hidupku.”
Nita tersenyum hangat.
“Kasih,” ucapnya lembut, “itu bukan gangguan. Itu tanda kamu mulai membuka ruang.”
Kasih menatapnya.
“Trauma membuatmu fokus pada keselamatan.
Pada bertahan.”
Nita melanjutkan pelan.
“Tapi ketika kamu mulai memikirkan seseorang tanpa rasa takut… itu artinya hatimu pelan-pelan merasa lebih aman.”
Kasih terdiam.
“Aku masih trauma,” gumamnya.
“Dan kamu juga tetap manusia,” jawab Nita lembut. “Keduanya bisa berjalan bersamaan.”
Ruangan kembali sunyi.
“Kalau seseorang bisa masuk ke pikiranmu di tengah semua usaha kerasmu untuk tetap kuat,” lanjut Nita, “mungkin dia bukan ancaman. Mungkin dia justru bagian dari proses pulih itu sendiri.”
Kalimat itu membuat dada Kasih terasa hangat.
Ia tidak lagi merasa bersalah karena memikirkan seseorang.
“Jadi ini… normal?” tanyanya pelan.
“Sangat normal,” jawab Nita. “Dan itu bukan kemunduran. Itu perkembangan.”
Perkembangan.
Kasih mengangguk kecil.
Ia berdiri perlahan.
Tok.
Traumanya belum sepenuhnya hilang.
Ia masih duduk di kursi belakang mobil.
Ia masih terkejut pada suara keras.
Namun kini—
di sela-sela proses sembuhnya,
ada seseorang yang membuat pikirannya terbagi.
Dan untuk pertama kalinya—
ia tidak merasa itu sesuatu yang harus ia hindari.
———————-
hari ini belum selesai.
Sore nanti ia harus kembali mengecek beberapa hal di venue.
Dan setelah itu—
Dira sudah menagih janjinya.
“Pokoknya hari ini kita nonton,” kata Dira tadi pagi melalui telepon. “ kita sudah lama tidak keluar bareng”
Kasih sebenarnya ingin menolak.
Tapi ia tahu, Dira tidak akan menerima alasan apa pun.
Dan mungkin… ia memang butuh jeda.
Beberapa jam untuk tidak memikirkan rundown.
Tidak memikirkan daftar tamu.
Tidak memikirkan kemungkinan terburuk.
Hanya duduk di bioskop.
Menonton layar besar dalam gelap.
Bersama sahabatnya.
Hari ini padat.
Sangat padat.
Tapi ia masih bisa meluangkan waktu untuk menjaga dirinya sendiri.
Dan mungkin—
itu yang paling penting sebelum besok malam tiba.