NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

..

Bau antiseptik yang tajam kembali menyapa indra penciuman Kalea, membawa memori buruk tentang masa-masa sulitnya empat tahun lalu. Namun kali ini, ia tidak terbangun di bangsal umum yang bising. Ia berada di Suite Royal Rumah Sakit Medika Utama—lantai khusus yang seluruh aksesnya telah diblokir oleh pasukan keamanan Jionel Group.

Cahaya lampu ruang rawat temaram. Kalea mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa perih di pelipis dan bahunya membuatnya meringis. Ia menoleh ke samping dan menemukan Liam sedang duduk di kursi kulit, masih mengenakan kemeja hitam yang sama dengan semalam, kini kusut dan ternoda bercak darah kering. Pria itu tertidur dengan posisi duduk, kepalanya bersandar di pinggiran tempat tidur Kalea, sementara tangan besarnya masih menggenggam erat jemari Kalea.

Kalea mengusap rambut Liam dengan sangat lembut. Liam tersentak bangun, matanya yang merah karena kurang tidur langsung waspada, namun seketika melembut saat melihat Kalea sudah sadar.

"Kalea... Syukurlah," bisik Liam, suaranya parau. Ia mencium punggung tangan Kalea berkali-kali. "Jangan pernah lakukan itu lagi. Jangan pernah lari sendirian ke tempat seperti itu. Kau hampir membuat jantungku berhenti, Sayang."

"Aku harus menyelamatkan Felicia, Liam. Dia tidak salah apa-apa. Dia hanya korban dari nama besar kita," sahut Kalea lirih.

Liam mengencangkan rahangnya. "Dia sudah aman. Aris membawanya ke paviliun rahasia. Dia trauma berat, tapi secara fisik dia baik-baik saja. Tapi kau... kau terluka karena kebodohanku yang membiarkan Clarissa punya celah."

Liam berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta yang mulai sibuk di pagi hari. Auranya berubah menjadi sangat dingin, jenis kedinginan yang sanggup membekukan seisi ruangan.

"Aku sudah memberikan instruksi pada Aris semalam," ucap Liam tanpa menoleh. "Semua orang yang membantu Clarissa kabur dari Austria, semua orang yang menyewakan gudang itu, hingga sipir penjara yang menerima suap... mereka semua akan kehilangan segalanya pagi ini. Tidak ada pengadilan bagi mereka. Hanya ada kehancuran finansial dan sosial yang total."

Kalea menatap punggung Liam. Ia tahu suaminya sedang dalam mode predator yang paling kejam. "Liam, jangan biarkan kebencian menguasaimu lagi. Kita sudah menang."

Liam berbalik, matanya berkilat penuh obsesi yang gelap namun protektif. "Menang saja tidak cukup, Kalea. Di Jakarta, jika kau tidak menghancurkan lawanmu sampai ke akar-akarnya, mereka akan tumbuh kembali seperti gulma. Aku tidak akan membiarkan Leo dan Lili tumbuh dalam bayang-bayang ketakutan seperti kita dulu."

Siang harinya, pintu kamar rawat diketuk perlahan. Aris masuk membawa sebuah tablet, wajahnya tampak kaku. "Tuan, Tuan Adipati Adiwinata ada di depan. Beliau memohon untuk bertemu Nona Kalea dan melihat kondisi Felicia."

Liam menyeringai sinis. "Biarkan dia masuk. Aku ingin bicara dengannya."

Adipati masuk dengan langkah gontai. Pria yang dulunya angkuh itu kini tampak hancur lebur. Begitu melihat Kalea, ia langsung jatuh berlutut di ujung tempat tidur.

"Kalea... maafkan Ayah. Ayah tidak tahu Clarissa akan sekejam itu. Terima kasih sudah menyelamatkan Felicia," isak Adipati.

Kalea menatap pria itu dengan perasaan hampa. Rasa benci itu masih ada, namun rasa iba mulai menyusup. "Bangunlah, Tuan Adipati. Jangan berlutut di depanku. Berlututlah di depan makam Ibu dan mintalah maaf padanya, bukan padaku."

Liam melangkah maju, berdiri di depan Adipati dengan gaya mengintimidasi. "Dengarkan aku, Pak Tua. Aku menyelamatkan putrimu bukan karena aku peduli padamu. Aku melakukannya karena Kalea menginginkannya. Mulai hari ini, kau dan seluruh sisa keluargamu dilarang mendekati radius satu kilometer dari istri dan anak-anakku. Jika aku melihat wajahmu lagi di acara publik mana pun, aku akan memastikan sisa hartamu yang tinggal recehan itu hilang dalam semalam."

Adipati hanya bisa menunduk pasrah. Ia tahu kekuasaan Jionel saat ini jauh lebih besar daripada saat Liam masuk penjara dulu. Liam telah menjadi monster yang lebih cerdas, lebih kaya, dan lebih tak tersentuh.

Setelah Adipati keluar, Felicia dibawa masuk menggunakan kursi roda oleh perawat. Begitu melihat Kalea, Felicia menangis histeris. Kalea merentangkan tangannya, membiarkan adik tirinya itu memeluknya erat.

"Kak... maafkan aku. Selama ini aku jahat padamu," tangis Felicia pecah. "Aku pikir Kakak wanita murahan, tapi Kakak malah mempertaruhkan nyawa buat aku."

Kalea mengusap punggung Felicia. "Sudahlah, Fel. Semuanya sudah lewat. Fokuslah pada kesembuhanmu. Liam akan mengirimmu ke fasilitas rehabilitasi terbaik di Swiss agar kau bisa mulai hidup baru tanpa bayang-bayang Jakarta."

Liam memperhatikan dari sudut ruangan. Ada rasa bangga melihat kebesaran hati Kalea, namun di sisi lain, ia semakin bersumpah dalam hati untuk menjadi dinding baja bagi wanita ini.

Malam harinya, saat suasana sudah tenang, Kenzo dan Rayyan datang berkunjung. Mereka membawa kabar yang lebih serius dari dunia bawah Jakarta.

"Liam, ada pergerakan aneh di bursa saham Jionel Group sore ini," Kenzo memulai, wajahnya serius. "Seseorang sedang mencoba melakukan hostile takeover besar-besaran saat kau sedang sibuk mengurus masalah Clarissa. Mereka menggunakan perusahaan cangkang di Cayman Islands."

Rayyan menambahkan, "Bukan cuma itu. Rekaman cctv pelabuhan semalam... ada bagian yang hilang secara misterius sebelum tim kita sampai. Seolah-olah ada 'pihak ketiga' yang membersihkan jejak seseorang selain Clarissa."

Liam menyesap kopinya, matanya menyipit. "Maksudmu Clarissa tidak bekerja sendirian?"

"Clarissa hanya bidak yang digerakkan oleh dendam," sahut Rayyan. "Tapi pencucian dana dan pelariannya dari Austria butuh logistik yang jauh lebih besar daripada yang dimiliki Clarissa. Ada pemain lama yang kembali ke permukaan, Liam. Seseorang yang sangat membenci kakekmu... dan sekarang membencimu."

Kalea yang mendengarkan dari tempat tidur merasakan hawa dingin merayap. Ternyata, kepulangan mereka ke Jakarta adalah pembukaan dari kotak pandora yang jauh lebih besar.

"Siapa?" tanya Kalea pelan.

Kenzo menatap Liam, lalu menatap Kalea. "Namanya Hendra Jionel. Pamanmu yang dulu dibuang kakekmu ke pengasingan karena kasus penggelapan dana keluarga. Dia sudah kembali, dan dia ingin merebut kembali takhta Jionel yang menurutnya adalah haknya."

Liam tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya. "Paman Hendra? Dia pikir dia bisa kembali setelah sepuluh tahun bersembunyi seperti tikus? Bagus. Aku sedang butuh sesuatu untuk dihancurkan setelah Clarissa."

Liam berjalan menuju tempat tidur, menggenggam tangan Kalea dengan sangat protektif. "Kalea, besok kita akan pindah ke rumah baru kita. Bukan mansion Menteng yang lama, tapi sebuah fortress di pinggiran Jakarta. Aku tidak akan membiarkanmu dan anak-anak keluar tanpa pengawalan berlapis. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Kalea menatap mata Liam. Ia tahu, kedamaian di Hallstatt kini hanyalah kenangan indah. Di Jakarta, mereka harus kembali menjadi prajurit. Namun kali ini, mereka bertarung sebagai satu kesatuan.

"Aku siap, Liam," ucap Kalea tegas. "Asalkan kita selalu bersama."

Di kegelapan luar rumah sakit, sebuah mobil sedan hitam terparkir diam. Di dalamnya, seorang pria paruh baya dengan bekas luka di pelipisnya menatap lantai atas gedung rumah sakit sambil memegang foto keluarga Jionel.

"Nikmatilah kemenangan kecilmu, Liam," gumam pria itu, Hendra Jionel. "Satu miliar untuk satu malam... kau pikir itu harga yang mahal? Tunggu sampai kau tahu berapa harga yang harus kau bayar untuk tetap mempertahankan mereka di sisimu."

Hendra menyalakan cerutunya, asapnya membumbung di kabin mobil yang gelap. Rencana besarnya untuk meruntuhkan dinasti Liam Jionel baru saja dimulai, dan kali ini, ia akan menyerang titik terlemah Liam: rahasia tentang kematian Andini yang sebenarnya, yang ternyata melibatkan tangan kotor Liam sendiri tanpa ia sadari.

Badai besar sedang menuju ke arah keluarga Jionel, dan kali ini, kejujuran akan menjadi senjata yang paling mematikan bagi hubungan Liam dan Kalea.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!