Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 29. BCS.
Albi sedang meeting dengan beberapa klien. Mereka sedang membahas masalah proyek lama yang memakan waktu karena beberapa kendala. Salah satu klien baru bergabung kurang setuju dengan proyek tersebut menginginkan saham lebih besar. Sedangkan yang lain tidak terima karena sejak awal hanya menanam saham sedikit sekarang justru ingin menguasai.
Albi merasa klien baru hanya ingin memanfaatkan keadaan dan mengambil keuntungan sendiri. Ia tidak akan membiarkan klien merebut proyek tersebut. Tanpa Albi sadari klien bernama Edo sudah mengantongi beberapa dokumen miliknya melalui karyawannya.
"Apa Pak Albi ingin menarik saham dari pembangunan proyek tersebut?" tanya klien bernama Fredi.
"Tidak, bagi saya menanam saham berarti turut serta menabung jadi saya tidak akan mengambil tabungan saya karena itu baru sedikit siapa tahu bertambah nantinya," sahut Albi melirik klien bernama Edo.
Pak Edo merasa tersindir dengan perkataan Albi mengalihkan topik pembicaraan namun, diabaikan dan tidak direspon oleh yang lain.
Brakk
"Sebenarnya kita meeting membahas apa disini?" Edo bangun dari tempat duduk menggebrak meja.
Semua klien terkejut menatap Edo, tidak suka. Mereka berbisik satu sama lain, sedangkan Albi dengan santai menunggu Edo melanjutkan kalimatnya.
”Saya ikut andil masalah proyek tersebut dan saya menginginkan saham karena saya yang akan turun tangan mengelola proyek tersebut, " lanjutnya menatap satu per satu klien di ruangan meeting.
"Tidak bisa, anda tidak bisa membuat keputusan sepihak, pembangunan proyek belum selesai dan anda mau mengatur anda pikir mudah, lebih baik anda belajar lebih dulu dengan para senior," kata Albi.
Edo menatap perlawanan kepada Albi, ia tidak akan diam saja dipermalukan didepan klien lainnya. "Terimakasih atas kerjasama ini dan terimakasih saya sudah diijinkan bergabung dengan kalian. Mulai sekarang saya mengundurkan diri dan saya tidak akan pernah menjalin kerjasama dengan perusahaan kalian," ucap Edo beranjak dari tempat duduk melangkah pergi meninggalkan ruang meeting sambil tersenyum smirk ditujukan kepada Albi.
Albi tidak memperdulikannya, ia fokus dengan pembicaraan dengan klien dan melanjutkan topik pembahasan. Selesai meeting Albi langsung keluar menuju ruang kerjanya.
Asistennya Bisma baru saja datang membawa kabar penting dan memberikan beberapa laporan keuangan akhir pekan kepada Albi. Tanpa bicara Albi meraih dan membaca laporan dengan serius.
"Kurang ajar, suruh orang itu kesini," perintahnya dengan wajah menahan amarah.
Bisma menelpon salah satu staf masuk ke ruangan direktur. Sedangkan di ruangan staf karyawan bernama Elena dengan perasaan tidak enak membereskan pekerjaannya kemudikan melangkah menuju lift. Dalam hatinya merasa sesuatu tidak beres, ia sudah menduga akan ketahuan perbuatannya yang selama ini disembunyikan.
Suara pintu di ketuk dari luar Bisma membuka dan mempersilahkan Elena masuk. Elena berjalan dengan wajah tertunduk hormat mendekati meja direktur. Albi melihat wajah Elena rasanya sangat marah , kalau lelaki sudah ia pukul berkali-kali.
Albi berdiri menatap Elena lekat dan mendekatkan wajahnya dengan tatapan dingin dan datar. "Kamu tahu kenapa di suruh kemari?"
Elena menggeleng dengan degup jantung berpacu dengan cepat. Kepalanya sudah pening mendengar suara Albi. Albi tersenyum smirk berbisik ditelinga Elena. ”Munafik,"
Deg
Elena merasa dunianya runtuh seketika, harga dirinya hancur sudah mendengar perkataan Albi seolah menghakiminya dan membuatnya merasa rendah serendah-rendahnya. Elena tahu resiko melanggar peraturan apalagi bekerjasama dengan musuh tapi karena bujukan maut Edo akhirnya mau menuruti kemauannya.
Sekarang Elena tidak bisa berkutik dan beralasan, ia siap menerima hukuman apapun asal bukan diberhentikan dari pekerjaannya. Ia belum siap menjadi pengangguran karena harus membiayai hidupnya, meskipun orang tua mampu ia tidak mau mengandalkan hasil kerja keras orang tuanya karena ia ingin hidup mandiri dan membuktikan bahwa ia bisa.
"Dimana dokumen perusahaan yang asli?" tanya Albi dengan nada kasar.
Elena terkejut sampai bergidik, lalu menggeleng dengan cepat. Elena tidak tahu menahu soal dokumen karena memang tidak pernah melihat dokumen yang asli. Albi tidak percaya dengan jawaban Elena mengancamnya.
”Kalau kamu tidak memberitahu maka nyawa mu taruhannya," kata Albi berbisik.
Elena mengangkat kepalanya menatap Albi dengan berkaca-kaca. " Sumpah demi apapun saya tidak tahu dokumen asli dan saya tidak tahu anda menyimpannya,"
Elena merasa tersudut dengan tuduhan Albi. Ia tidak menyangka jika yang cari Albi adalah dokumen asli sedangkan yang ia ambil waktu itu bukanlah dokumen melainkan laporan keuangan. Ia berpikir salah ambil dan tidak melihat lagi isi map yang diambil.
Albi menggebrak meja dengan kasar. Sampai Elena dan Bisma terlonjak. Bisma geleng-geleng kepala melihat sikap Albi yang pemarah. "Apa aku percaya dengan apa yang kamu katakan? sama sekali tidak, kamulah yang mengambil dokumen itu dan hanya kamu yang berani masuk, "
Albi menahan amarahnya ingin sekali menampar perempuan didepannya. Tangannya tertahan rahangnya semakin kuat, sedangkan Bisma sudah siap jika kemungkinan terjadi diruangan tersebut.
Elena memohon sambil berlutut, tangannya mengatup di depan dadanya wajahnya tengadah melihat Albi penuh harap. ”Saya tidak melakukan apapun, saya tidak mengambil apapun. Jangan libatkan saya, saya mohon, "
Bisma melihat ada sesuatu dileher Elena mendekat kemudian mengambil paksa benda tersebut lalu tersenyum smirk." Elena, "
Elena menoleh melihat Bisma mengambil benda dilehernya dan mengambil paksa dari tangan Bisma. "Pak, tolong kembalikan benda itu, benda itu sangat berharga buat saya. Saya mohon,"
Elena terkejut Bisma mengetahui benda yang sudah ia selipkan di leher untuk mendeteksi keberadaan dirinya ketika membutuhkan bantuan. Sekarang benda itu di tangan Bisma dan ini tidak baik untuk dirinya.
"Apa itu, Bisma?" tanya Albi memperhatikan benda tersebut.
Bisma memberikan kepada Albi. Benda itu kecil berbentuk bulat seperti karet yang terbungkus jeli terlihat seperti mainan ternyata alat pendeteksi. Albi tahu alat itu kemudian membongkar benda itu di dalamnya ada memory ia masukkan ke dalam laptop dan membukanya melalui file.
Albi dan Bisma mengerutkan alisnya melihat apa yang dilakukan Elena didalam video tersebut. Elena terdiam sambil merencanakan sesuatu, ia berjalan perlahan keluar namun, langkahnya di tahan oleh Bisma.
Elena tidak bisa lari dari ruangan. Ia diikat oleh Bisma di sofa membuatnya sulit melepaskan diri. Elena berontak berusaha melepaskan ikatannya ternyata sangat kuat. Bisma tersenyum licik sambil mencengkeram lehernya.
"Kalau kamu berani kabur, aku tidak segan mematahkan lehermu yang mulus ini," ancam Bisma kemudian menjauh dari Elena.
"Bagaimana?" tanya Bisma kepada Albi.
"Dia memang biang keladinya, dan mengelak mengambil dokumen untuk menyelamatkan dirinya sendiri," jawab Albi menunjuk Elena.
”Lihat ini," perintah Albi menunjukkan layar laptop kepada Bisma.
Di layar itu terlihat Elena dengan sengaja masuk ke dalam ruangannya dan mengambil dokumen miliknya.