andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Aku mengerjapkan mata perlahan. Kesadaranku kembali di dalam sebuah mobil van. Aku duduk di bangku tengah, sendirian. Pandanganku langsung tertuju pada kedua tanganku yang terikat rantai besi dingin. Bukan borgol, melainkan rantai sungguhan yang membatasi gerakku. Di bangku tengah itu hanya ada aku seorang diri.
Di bangku belakang duduk dua orang bertubuh besar. Sementara di bangku pengemudi terdapat dua orang lainnya. Total ada lima orang di dalam mobil ini, dan suasananya terasa sesak. Udara di dalam van seperti menekan dada, membuat napasku terasa berat.
Mereka berbicara menggunakan bahasa Inggris. Untung saja aku masih memahaminya dengan baik. Salah satu pengemudi tampak seperti pria dari negara Afrika. Kulitnya hitam legam, rahangnya tegas, dan sorot matanya tajam. Ia tampak fokus mengemudi, kedua tangannya mencengkeram setir dengan kuat.
Di kursi depan, duduk seorang lelaki bermata sipit dengan perut buncit. Ia mengenakan pakaian tradisional khas Jepang, menyerupai kimono. Penampilannya kontras dengan tubuhnya yang pendek. Sementara dua orang di belakang tampak seperti raksasa. Kepala mereka hampir menyentuh langit langit mobil, membuat ruang semakin sempit.
“Ini penghinaan,” ucap pria berkulit hitam itu dengan nada kesal, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
“Sudahlah, Black. Yang penting bayarannya besar,” sahut lelaki berpakaian kimono. Suaranya aneh, nyaris seperti suara anak kecil.
“Siapa sebenarnya yang menyuruh kita, Master?” terdengar suara menggelegar dari belakang. Aku ingin menoleh, tetapi entah mengapa rasa takut menahanku. Padahal aku seorang polisi, seharusnya aku tidak gentar.
“Masih jadi misteri. Si Bisu saja tidak bisa melacaknya,” jawab pria kecil yang dipanggil Master. Dari caranya berbicara, jelas dialah pemimpin kelompok aneh ini. Kelompok yang kabarnya mampu mengalahkan pasukan elit dengan mudah.
Mereka terus berbicara dalam bahasa Inggris dan sepertinya sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia. Pertanyaan terus berputar di kepalaku. Mengapa mereka menculikku. Siapa mereka sebenarnya. Dari kelompok mana mereka berasal. Apakah ini ada hubungannya dengan teror 172.
Aku hanya bisa diam, mendengarkan setiap percakapan dengan pikiran yang kacau. Tubuhku terasa sangat lemah. Kakiku juga terikat rantai. Sebenarnya aku masih bisa melawan, tetapi untuk apa. Melarikan diri pun terasa percuma. Dalam hati, aku sudah pasrah dengan hidupku sendiri.
Anak dan istriku mempermainkanku. Institusi tempat aku mengabdi justru menjadikanku tersangka dengan bukti yang sama sekali tidak valid. Jika malam ini aku harus mati, aku tidak lagi peduli. Aku benar benar berada di titik frustrasi, sampai tidak peduli pada apa pun. Bahkan jika negara ini hancur sekalipun, rasanya tidak ada lagi arti bagiku.
“Tuan, Anda sudah bangun,” ujar pria kecil yang kupanggil Master. Ia berdiri di bangku depan. Karena tubuhnya sangat pendek, ia benar benar terlihat seperti anak berusia tujuh tahun.
“Ya,” jawabku singkat.
“Maaf, perintah user menyebutkan Anda harus dirantai. Tolong jangan bunuh diri, Tuan. Kalau Anda mati, kami tidak akan mendapatkan bayaran.”
Aku semakin bingung. Ada seseorang yang menginginkan aku tetap hidup. Jika aku mati, ia tidak mendapat bayaran.
“Minumlah, Tuan,” kata Master sambil menyerahkan sebotol air minum.
Aku memang haus, jadi aku menerimanya dan langsung meminum air itu. Sekali lagi, perlu kujelaskan, aku dirantai, bukan diborgol, jadi aku masih bisa membuka tutup botol sendiri. Setelah minum, tubuhku terasa sedikit lebih baik dan aku kembali memilih diam.
“Apa kata dunia nanti, pembunuh bayaran kelas dunia malah disuruh menyelamatkan orang,” gerutu salah satu pria besar di belakang.
Pembunuh bayaran. Bahkan pembunuh bayaran kelas dunia. Jadi sekarang aku berada di tengah tengah para pembunuh bayaran, tetapi mereka justru dibayar agar aku tetap hidup. Logika macam apa ini.
“Kelompok Bruno mendapat order tujuh orang dan Alfonso delapan orang. Dengan memejamkan mata saja aku bisa membunuh mereka. Tapi kenapa user kita selalu penuh drama. User ini sepertinya suka sekali mempermainkan orang,” gerutu Black dengan nada tidak senang.
“Ya, aku juga ingin tahu siapa sebenarnya user kita,” sahut pria besar di belakang. “Aneh sekali, kita disuruh membunuh anak remaja, memberi mereka kode, lalu pergi begitu saja. Astaga, biasanya target kita pejabat atau kepala keamanan. Sekarang kita cuma membunuh semut.”
Kepalaku benar benar pening. Jadi mereka inilah para eksekutor teror yang membunuh beberapa remaja itu. Lebih gilanya lagi, mereka sendiri tidak tahu siapa yang memberi perintah pembunuhan. Mereka hanya menyebutnya sebagai user. User yang identitasnya tersembunyi.
User itu siapa.
Nirmala?
Seorang anak berusia tujuh belas tahun mampu mengerahkan pembunuh bayaran kelas dunia. Di dalam mobil ini saja ada orang Afrika, Eropa, dan pemimpinnya seorang pria bertubuh kecil mengenakan pakaian tradisional Jepang. Rasanya tidak masuk akal.
“Sudahlah, jangan banyak mengeluh. Satu nyawa anak remaja bayarannya dua miliar. Lumayan,” ujar si Master dengan nada datar.
“Ya, andai saja bayarannya tidak besar, aku malas sekali melaksanakannya,” timpal pria di belakangku.
“Aku justru makin penasaran. Siapa sebenarnya pencipta Memento itu,” lanjut pria besar tersebut.
“Hey, Bisu, ngomong dong,” katanya lagi. Mobil sedikit bergoyang, sepertinya ia menepuk pundak pria di sampingnya. Dari caranya, jelas pria itu tunawicara. Aku sempat melihat sekilas ke arahnya. Sejak tadi matanya tidak lepas dari sebuah tablet.
“Sudahlah, jangan ganggu dia terus, Bigwan,” kata Master. “Memento adalah marketplace untuk mencari order pembunuh bayaran.”
Aku terdiam. Tubuh Master kecil, tetapi cara berpikirnya terasa dewasa dan tenang. Aku bertanya dalam hati, kemampuan apa sebenarnya yang ia miliki sampai bisa memimpin kelompok seaneh ini.
Dan apa itu Memento.
Marketplace pembunuh bayaran.
Istilah yang baru pertama kali kudengar sepanjang hidupku. Ternyata zaman sudah sejauh ini. Bukan hanya ojek yang bisa dipesan secara daring. Sekarang, nyawa manusia pun bisa dipesan melalui sebuah marketplace.
Siapa pembuat Memento.
Nirmala?
Aku kembali meragukannya. Ini sudah skala internasional. Mana mungkin anak usia tujuh belas tahun mampu menciptakan sistem sebesar ini. Namun, semua korban memang memiliki benang merah yang sama. Mereka terlibat dalam perundungan terhadap Nirmala.
Semakin kupikirkan, kepalaku semakin sakit.
Beberapa hari terakhir, satuan antiteror sibuk memburu pelaku teror. Sampai akhirnya aku sendiri dijadikan tersangka. Dan sekarang, ironisnya, aku justru berada bersama para eksekutor sebenarnya. Mereka malah mengamankanku, sementara rekan rekan seprofesiku sibuk menyiapkanku sebagai kambing hitam.
Ini benar benar absurd.
Tiba tiba, orang yang disebut si Bisu bergumam pelan. Ia tidak bersuara, melainkan menggunakan bahasa isyarat. Kedua tangannya bergerak cepat dan teratur. Si Master menatapnya dengan saksama, seolah setiap gerakan memiliki arti penting. Jelas hanya Master yang benar benar memahami bahasa si Bisu.
Setelah selesai memberi isyarat, si Bisu kembali duduk dengan tenang, menatap layar tablet di pangkuannya.
“Order masuk lagi. Bayaran lima miliar. Target tiga orang. Nama dan identitas lengkap sudah ada di tablet. Kita diberi waktu tiga jam. Tepat jam sembilan pagi, semua target harus sudah mati,” ucap si Master dengan suara datar.
Aku tercengang. Rupanya begini cara kerja pembunuhan itu dilakukan. User memberikan perintah lengkap kepada para pembunuh bayaran, mulai dari data target hingga batas waktu eksekusi.
Yang ingin kukatakan hanya satu. Ini gila.
Dan yang membuatku semakin tidak tenang, mereka berbicara begitu terbuka di depanku. Seolah mereka yakin aku sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris.