Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. PULANG MENDADAK
" APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN!". Mata Azra melotot, tadinya dia sedang bersantai dengan suaminya. Tetapi salah satu maid mengabari terjadi sesuatu di halaman belakang.
Sekarang yang dia lihat sungguh diluar prediksi. Dua pria dewasa sedang bertengkar didepan anak anak. Padahal dia mengira tadi para bocah yang sedang bertengkar.
" HALIL, MURAT LEPASKAN TANGAN KALIAN". Tetapi tidak ada yang mendengarkannya, kedua pria dewasa itu masih dibaluti emosi dan ego masing masing.
" AKU BILANG LEPAS, SEBELUM PAPAH DAN MAMAH MELIHAT KALIAN!". Suara Azra semakin meninggi. Dan kedua pria bodoh itu tidak menghiraukannya.
" Papah". Suara ketakutan Keanu menyadarkan Murat. Akhirnya pria itu melepas cengkramannya terlebih dahulu. Tetapi tatapan tajamnya tidak lepas dari Halil.
Halil pun sama pria itu menatap tajam Murat. Namun tangannya membenarkan kerah kemeja dan menepuk nepuk bajunya seolah tekanan yang Murat lakukan bukanlah apa apa baginya.
Azra menghembuskan napas lega. " Honey, calm down.." Mark mengusap usap bahu istrinya untuk menenangkannya. Azra mengangguk seolah memberi kode pada suaminya kalau dia baik baik saja.
" Papah malah..?" Murat berjongkok didepan anaknya. Hampir saja dia kelepasan. Untungnya suara Keanu menghentikannya.
" Tidak sayang papah cuma sedang latihan drama". Hanya itu alasan yang pas agar anaknya tidak takut.
Wajah Keanu tidak jadi menangis. Murat membelai sayang rambut anaknya. " Ayo kita main sama dede". Pria itu berdiri dan menggandeng tangan anaknya.
Halil terlebih dahulu melewati ayah anak itu. Dia juga harus bersiap ke Rumah Sakit. Sepertinya untuk saat ini dia tidak jadi menginap lebih lama di Mansion seperti rencana awal.
Murat dan Keanu menghampiri Hanna yang sedang berada diruang bermain anak. Wanita itu kini sedang membacakan buku cerita untuk putrinya, meskipun bayinya baru menginjak usia 6 bulan.
Yang Hanna tahu semakin sering bayi mendengarkan cerita atau diajak berbicara maka stimulus otaknya akan semakin berkembang baik.
" Tante...abang juga mau baca buku". Keanu berlari mendekati Hanna.
" Boleh sayang, ayo abang pilih bukunya disana, nanti tante bacain ceritanya". Keanu menurut, dia bersemangat untuk memilih buku.
Ayah dua anak itu mendudukan dirinya tidak jauh dari istri dan kedua anaknya. Pria itu bersandar dan mengambil asal buku cerita yang berserakan di atas karpet.
Murat memandangi istrinya, dia melihat bagaimana begitu keibuannya Hanna. Betapa lembutnya wanita itu. Pandangannya bahkan tidak bisa berpaling darinya.
" Memangnya dia tahu apa tentang Hanna". Murat masih sangat kesal dengan kakak sepupunya itu.
Pria itu memandang lekat istrinya. Dia sungguh tidak terima ada pria lain yang begitu perhatian pada istrinya.
Pandangan mereka tiba tiba bertemu. Namun Murat langsung mengalihkan pandangannya pada lembaran buku yang dia pegang. Pria itu sedikit grogi.
"Ehkmmm... Setelah makan siang kita kembali pulang". Murat memecahkan rasa canggungnya.
" Tapi kak bukankah rencananya kita pulang besok?" seingat Hanna suaminya itu bilang akan pulang hari senin.
" Memangnya kenapa? apa kamu keberatan? Apa kamu ingin disini lebih lama dan berbincang akrab dengan si Halil itu?". wanita itu menelan ludahnya karena gugup, dia tidak mengerti dengan kemarahan suaminya yang tiba tiba.
"Apa hubungannya dengan kak Halil" herannya.
" Tidak, baiklah kak, aku akan segera membereskan koper kita ". Hanna menurut meskipun tidak mengerti dengan rencana kepulangannya secara mendadak.
Pria itu mengumpati dirinya sendiri yang selalu berbicara ketus pada istrinya. Untuk mengalihkan perasaan bersalahnya Murat memindahkan baby Malika kedalam pangkuannya.
" Baiklah Zahra sayang, kemarilah nak, biar papah bacakan cerita padamu". Meskipun murat hanya memanggil nama putrinya tetap saja rasanya sesak bagi Hanna, seolah suaminya itu memanggil sayang pada mendiang istrinya.
" Tante ayo baca lagi". Keanu protes karena Hanna berhenti membaca cerita.
" Baiklah sayang...." Hanna coba menguatkan hatinya lagi agar terbiasa.
...****************...
Halil keluar dari kamar dengan mendorong koper kecilnya. Rencananya dia akan berpamitan terlebih dulu kepada Om dan Tantenya.
Pria itu mendatangi balkon utama, tempat yang biasanya dipakai bersantai oleh suami istri paruh baya itu.
Suara sepatu pantofel menggema diruangan itu. Pria itu melipat tangan dan menyandarkan punggungnya pada pintu balkon.
Hal yang selalu dia suka di Mansion ini adalah kemesraan dari pasangan paruh baya itu. " Ck..ck..aku cari kemana mana ternyata mojok disini..ha..ha..ha". Halil menggoda Om dan Tantenya.
Ny. Amel mencibir. " Ah lebay kamu". Tuan Mahmet memutar bola matanya malas.
Langkah kaki Halil mendekat, dia mendudukan diri di salah satu bangku disana.
" Tan, Om aku pulang ya ke Apartement". Ny. Amel yang sedang mengaduk kopi terdiam. Begitu pun Tuan Mahmet yang merasa heran.
" kok pulang sih, katanya mau menginap seminggu disini". Ny. Amel protes karena rencananya Halil akan menginap seminggu di Mansion.
"Kapan kapan deh tante, Aku sedang sibuk sekarang, Lagian Mansion sama Rumah Sakit lumayan jauh". Dengan santai Pria itu mengunyah cake yang terhidang di meja.
" Ah Alesan, palingan juga kamu mau party party sama teman kamu". Wanita tua itu mendelik.
" Astaga tante, aku ini seorang dokter, mana sempat untuk party party". Halil tidak terima dengan tuduhan tantenya.
" Maaf tante, Om aku berangkat dulu". Pria itu melihat jam tangannya. Dia beranjak dan berpamitan pada kedua orangtua itu.
...****************...
Setelah berpamitan dengan Azra dan keluarganya, disinilah Halil, masih diam didalam mobilnya. Entah apa yang dia tunggu padahal waktu sudah menunjukan jam 8 lewat.
Pria itu mengetuk ngetuk tangannya di stir mobil, seolah berpikir. Halil keluar dari mobilnya saat melihat Hanna dan putranya keluar lewat pintu utama Mansion.
" Hanna bisa bicara sebentar" Halil baru saja berlari mendekati Hanna. Hatinya tidak tenang sebelum meyakinkan wanita itu untuk melakukan pemeriksaan.
" Ada apa kak?"
" Hanna tolong dengarkan aku, aku mohon datang lah ke Rumah Sakit untuk melalukan medical chek up. Dan aku tidak menerima penolakan".
Halil lalu memberikan kartu namanya, agar Hanna bisa menghubunginya. " Aku benar benar menunggumu Hanna". Wajah Halil sangat serius dan tegas.
Hanna menerima kartu itu tanpa menjawab dia hanya mengangguk. " Aku pergi dulu". Halil berjongkok didepan Keanu.
Pria itu tahu kalau Keanu saat ini sangat takut padanya. Halil memeluk Keanu dan membelai kepala bocah itu." Om pulang dulu yah" Pria itu tersenyum lembut pada keponakannya.