NovelToon NovelToon
Skenario Rahasia Sang CEO

Skenario Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Shee Lyn

"Pernikahan ini adalah benteng, dan rahasia adalah senjataku."
Bagi dunia luar, Mike Raharja adalah lambang kesempurnaan sekaligus kutukan. Sang tirani korporat yang dingin, tak tersentuh, dan dirumorkan tidak bisa memberikan keturunan bagi dinasti bisnis raksasa Raharja Group. Demi menjaga takhtanya dan melindungi sebuah rahasia besar dari musuh-musuh dalam selimut, Mike merancang sebuah skenario gila: pernikahan kontrak selama empat tahun dengan pengacara ambisius, Anita.
Namun, ketika masa kontrak berakhir dan topeng-topeng mulai berjatuhan, sebuah kejutan besar yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di balik dinding sangkar emas yang penuh manipulasi, ada satu jiwa yang selama ini disembunyikan Mike dari radar dunia—sebuah pelabuhan hati rahasia yang menjadi alasan di balik semua kelicikan dan pengorbanannya.
Saat badai korporasi mengancam dan masa lalu menuntut balas, akankah skenario yang disusun Mike berakhir sebagai kemenangan mutlak, atau justru menjadi bumerang untuknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shee Lyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 (Riak di air tenang)

Suara denting gelas kristal dan sisa tawa dari perjamuan sore di taman Menteng perlahan memudar seiring malam yang kian pekat. Setelah para sahabat berpamitan pulang, kediaman utama keluarga Raharja kembali ke dalam keheningan klasiknya. Di dalam kamar tidur utama yang temaram, Alisha sudah tertidur lelap dengan posisi miring, memeluk bantal guling dengan napas yang teratur. Efek kelelahan pasca-sidang dan *morning sickness* membuatnya begitu mudah terlelap belakangan ini.

Mike berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah gerbang luar. Ia mengenakan jubah mandi satin hitamnya, menatap lurus ke kegelapan malam dengan segelas air putih di tangan. Di bawah cahaya lampu jalan, ia melihat mobil sedan hitam milik Kevin dan mobil sport merah milik Marvel bergerak beriringan meninggalkan pekarangan rumahnya.

Senyuman tipis di bibir Mike perlahan menghilang, digantikan oleh garis rahang yang mengeras. Sebagai seorang pria yang terbiasa hidup di tengah intrik korporasi, Mike memiliki insting yang terlampau tajam untuk mendeteksi bahaya. Kehancuran Paman Hardi sebulan lalu memang mutlak, namun Mike tahu, ular yang kepalanya terpotong terkadang masih menyisakan anak-anak ular yang siap menetaskan dendam baru dari balik bayangan.

Di bawah, di dekat gerbang luar yang sunyi, sebuah mobil SUV perak terparkir di bawah pohon peneduh yang gelap. Mesinnya mati, lampunya padam. Di dalam kabin yang gelap itu, seorang pria muda dengan setelan kasual hitam duduk sembari memegang sebuah kamera lensa panjang.

Pria itu menurunkan kameranya setelah berhasil menangkap siluet Mike di jendela lantai dua. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman dingin yang penuh dengan kabut kebencian. Dia adalah seseorang yang selama ini sengaja menghapus jejaknya dari silsilah resmi keluarga, bergerak di luar radar intelijen Raharja Group.

"Nikmati kemenanganmu selagi bisa, Mike," bisik pria itu, suaranya terdengar mendesis pelan di keheningan kabin. Tangannya beralih membuka sebuah map digital di tabletnya, menampilkan foto Alisha saat berada di kampus, serta foto ruko PAUD milik Ibu Sarah. "Kamu menghancurkan Ayahku dan merebut segalanya. Kita lihat, seberapa kuat benteng yang kamu bangun untuk melindungi mainan barumu ini saat aku mulai bergerak."

Pria misterius itu menyalakan mesin mobilnya dengan halus, lalu perlahan melaju membelah malam Jakarta tanpa meninggalkan jejak, bersiap memosisikan bidak catur gelapnya di atas papan permainan yang baru.

Sementara itu, di sebuah kedai ramen 24 jam di kawasan Senopati, suasana jauh lebih bising dan kasual. Kevin dan Marvel duduk di meja bar kayu, menghadapi dua mangkuk besar ramen dengan kepulan asap yang menggugah selera. Setelah pulang dari rumah Mike, kedua pria lajang elite ini memutuskan untuk mengisi perut mereka yang belum sepenuhnya kenyang karena terlalu sibuk melempar lelucon tadi sore.

Marvel mematahkan sumpit bambunya dengan bertenaga. "Gila ya, melihat Mike sekarang rasanya aneh banget. Pria sekaku dia bisa jadi se-posesif itu kalau urusan istri. Kamu lihat tidak tadi? Tangannya tidak lepas dari pinggang Alisha. Beneran kayak takut istrinya terbang ditiup angin."

Kevin terkekeh, menyeruput kuah ramennya yang pedas. "Wajar saja, Vel. Empat tahun dia menahan diri bertingkah seperti robot mandul di depan Anita demi menjaga Alisha. Sekarang setelah semuanya legal, dia pasti mau membalas dendam atas waktu yang hilang."

Kevin terdiam sejenak, lalu melirik Marvel dengan pandangan menyelidik dari sudut matanya. "Tapi ngomong-ngomong soal menahan diri... bagaimana dengan progresmu sendiri, Vel? Jangan bilang kamu masih sibuk mengoleksi mobil sport baru hanya untuk menutupi fakta bahwa kamu kalah cepat dari Alvin yang sudah dapat restu?"

Marvel hampir saja tersedak sepotong daging ayam di dalam mulutnya. Ia batuk beberapa kali sebelum menatap Kevin dengan tatapan tajam yang dibuat-buat. "Hei! Jangan samakan aku dengan Alvin, ya. Jalurku ini jalur bebas hambatan, tidak pakai kontrak-kontrakan bodoh seperti Mike."

"Jalur bebas hambatan tapi tidak ada penumpangnya buat apa?" sindir Kevin telak, disusul tawa renyah yang membuat beberapa pengunjung kedai menoleh ke arah mereka.

"Sialan kamu, Kev," Marvel mendengus, namun sudut bibirnya ikut tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi bar. "Aku hanya... belum menemukan yang pas saja. Menjadi CEO di bidang properti membuatku terlalu sering bertemu dengan wanita yang hanya melihat seberapa luas tanah yang kupunya, bukan seberapa tulus hatiku."

"Wah, kalimatmu barusan puitis sekali, Vel. Cocok buat ditulis di brosur penjualan apartemen terbarumu," goda Kevin lagi, tidak memberi ampun pada sahabatnya.

Marvel melempar selembar tisu ke arah Kevin yang langsung ditangkap dengan mudah oleh asisten kepercayaan Mike itu. "Tapi serius, Kev. Kamu sendiri bagaimana? Kamu itu tangan kanan Mike. Semua rahasia kotor Raharja Group kamu yang pegang. Apa tidak ada satu pun sekretaris atau pengacara di firma Anita yang menarik perhatianmu? Jangan bilang kamu mau jadi jomlo abadi demi menemani Kakek Surya di Menteng."

Kevin menghentikan sumpitnya. Pandangannya menerawang menatap dinding kedai ramen yang dipenuhi hiasan lampion Jepang. Sebuah bayangan samar tentang seorang wanita dengan pembawaan tegas namun memiliki senyuman yang hangat mendadak melintas di kepalanya—seseorang yang belakangan ini sering ia temui saat mengurus administrasi pembersihan nama baik mendiang kakak Alisha.

"Ada beberapa hal yang memang lebih baik dinikmati dalam prosesnya, Vel," jawab Kevin misterius, menyunggingkan senyuman tipis yang membuat Marvel menaikkan sebelah alisnya dengan penuh rasa penasaran.

"Wah, wah, ada yang mencurigakan di sini!" Marvel menunjuk wajah Kevin dengan sumpitnya. "Siapa dia, Kev? Cepat katakan padaku! Aku bersumpah tidak akan menceritakannya pada Mike."

"Kalau aku mengatakannya padamu, sama saja aku memasang pengeras suara di seluruh gedung kantor, Vel," kilah Kevin tertawa, kembali melanjutkan makannya.

Malam itu, di tengah tawa dan saling lempar lelucon di kedai ramen yang hangat, Kevin dan Marvel menikmati sisa masa lajang mereka dengan santai. Mereka tidak pernah tahu bahwa riak kecil dari dendam lama yang baru saja lahir di Menteng tadi malam perlahan akan mulai menyeret mereka masuk ke dalam pusaran konflik baru. Konflik yang tidak hanya menguji kesetiaan mereka pada Mike, melainkan juga akan memaksa mereka untuk menghadapi takdir dan pelabuhan hati mereka masing-masing di bawah bayang-bayang dinasti Raharja Group yang kembali terancam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!