Dia pangeran yang selamat dari eksekusi bertemu arwah artis figuran yang mati di rel kereta. Wajah mereka sama. Arwahnya minta tolong pada Pangeran. Pangeran itu mau—karena dia ingin hidup abadi. Tapi kemudian dia bertemu gadis yang tak ingin hidup sama sekali. Namun Sang Takdir membiarkan Pangeran membentur fakta: gadis ini belahan jiwamu.
Hng Sih Kian Li — bertemu dirimu di masa yang jauh.
oleh The Bwee Lan (Anggrek cantik dari Marga The)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR DI HARI LIBUR
Malam itu, Eng Sok duduk di ruang tengah dengan laptop terbuka di pangkuannya. Video tutorial dari kursus online terus berputar — dalam bahasa Benua Bintang, bahasa internasional yang asing di telinganya. Tapi ada teks Cia Agung di bagian bawah layar, dan memori Sioh Bu bekerja dengan cepat.
Seperti otak yang menerjemahkan tanpa perlu mikir, pikir Eng Sok. Aneh. Tapi berguna.
Setelah tiga puluh menit menonton, mencatat, dan memutar ulang beberapa bagian, ia menutup laptop.
"Makasih, Sioh Bu," katanya. "Memori kamu ciamik."
Sioh Bu melayang di atas — tersenyum, manggut-manggut, seperti dosen yang bangga pada mahasiswanya.
Eng Sok membuka tas di sampingnya. Satu per satu, botol-botol kecil dikeluarkan: ekstrak klerak, minyak kayu manis, ekstrak citrus, dan potongan kulit jeruk Mandarin — kering, warnanya masih cerah.
Ia membuka kotak paket kursus online. Ternyata ada kotak kecil yang nyempil di bagian bawah — terlewat karena kemarin ia buru-buru mandi.
Dia membuka kotak itu. Butiran-butiran putih halus.
Bubuk Mutiara Pesisir atau sekarang namanya Natrium Hidroksida. Eng Sok melihatnya. Lebih putih dan kinclong… dulu? Abu hitam hasil pembakaran tanaman dekat laut atau tambang garam.
Untuk membekukan sabun.
"Persis kayak dulu," bisiknya dalam hati. "Tapi pake alat ginian."
Ia mencampur bahan. Mengaduk.
Sama persis seperti di istana dulu. Tapi dulu pakai kuali tanah liat dan sendok kayu. Sekarang pakai beaker kaca dan termometer digital.
Campuran itu memanas. Panas sekali. Uap tipis naik ke udara. Eng Sok tidak bergeming. Matanya memperhatikan perubahan warna, tekstur, konsistensi.
Lalu — perlahan-lahan — campuran itu mulai mendingin.
Ah Ti, yang sudah bangun dan duduk di kasur, memperhatikan dengan teliti. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan kakaknya.
Setiap kali Eng Sok bingung, ia memutar ulang video tutorial. Dua kali. Tiga kali. Sampai paham.
Akhirnya, adonan sabun siap. Ia menuang ke cetakan. Meratakan permukaan. Menepuk-nepuk cetakan agar gelembung udara keluar.
"Dua sampai tiga hari bisa dipotong. Sebulan sudah kering bisa dipakai," katanya. Nada suaranya sedikit takjub.
"Lama ya, Ko?" tanya Ah Ti.
Eng Sok menggeleng. "Biasanya dulu... Koko bikin sabun seminggu baru bisa na dipotong. Kadang sebulan baru bisa dipotong. Ini sebulan Uda bisa sabunan."
Ah Ti menyipit menggosok dadanya yang sesak.
Eng Sok tidak memperhatikan. Ia mencopot peralatan satu per satu — dicuci, dikeringkan, disusun rapi kembali ke dalam kotak.
Lemari plastik kecil di sudut ruangan sekarang sudah terisi. Bahan-bahan herbal — kering dan segar — tersusun rapi dalam wadah kedap udara.
Ia mengumpulkan semua itu dari uang hasil live dan streaming di sela istirahat syuting. Sejak video potongan syutingnya viral. “Padahal aku cuma mau ‘balas dendam’ di film. Malah ngasih rezeki”, batinnya.
Dia mengambil pil herbal yang dia beli di Toko Herbal dekat lokasi syuting. Obat 9 Naga merek Hou Yong untuk luka dalam. Antibiotik masih jalan tapi sama dia dikasih jeda 2 jam dengan obat 9 Naga. Obat 9 Naga sudah lama ada, dan jadi andalan para prajurit seperti dirinya kalo ada kecelakaan ginian.
Ah Me dan Ah Ti diam saja. Mereka tidak bertanya.
Karena dari pada bahan-bahan itu — uang yang Eng Sok berikan untuk kebutuhan rumah jauh lebih banyak.
---
Setelah membereskan semuanya, Eng Sok merebahkan diri di sofa.
Matanya terpejam.
Tidak ada syuting hari ini.
Pikiran tentang libur nasional Cia Agung membuatnya lega terlalu lega sampai kebablasan.
Ia begitu badan menyentuh kasur dan kepala di bantal, ia tidur. Dalam. Nyenyak. Tanpa mimpi.
Sampai jam delapan pagi.
---
Jam delapan pagi. Tidak ada syuting. Nekat syuting maka akan kena denda besar — 90% dari perjanjian upah. Semua orang yang terlibat, sampai OB, ikut kena. Produser dan Toian masuk penjara 3 tahun, dan denda miliaran yang harus dibayarkan pakai emas bentuk cetakan tael. Saat Eng Sok melihat pengumuman gitu di HP, hatinya tertawa. “Dih! Denda bandar pake uang tael padahal udah zaman hari gini”.
Eng Sok bangun. Cuci muka. Sikat gigi. Lalu — tanpa berpikir — ia menyalakan robo vacum.
Robot bundar itu bergerak pelan. Menyusuri lantai. Menghindari kaki meja.
Ia melipat cucian kering. Kaus kaki. Kaos oblong. Handuk.
Ah Ti sudah di dapur. Ia membuat mie cup — ditambah sedikit sawi yang sudah dipotong-potong.
"Maaf, Ko. Males masak," kata Ah Ti.
Eng Sok mengangguk. Tidak protes. Libur, pikirnya. Rakyat boleh istirahat.
Setelah sarapan, mereka kultivasi bertiga — Eng Sok, Ah Ti, dan Ah Me yang sudah sehat.
Duduk bersila. Pejamkan mata. Tarik napas. Buang napas.
Ah Ti ingin menyalakan TV. Tapi hanya ada satu acara: upacara bendera dari TV pemerintah.
"Ah Ti akan upacara hari Senin," kata Ah Ti. "Hari ini... enggak."
Eng Sok mengangguk. Memang negara ini aneh. Kalo negara lain hari besar ya upacara, baru kegiatan lain. Tapi adat di sini ikut adat kuno: hari jadi harus kumpul keluarga. Karena kalau keluarga sejahtera, negara ikut sejahtera.
---
Habis makan mie, Eng Sok meminjam buku sejarah Ah Ti. Lalu ia mengambil buku Sioh Bu dari rak: Ensiklopedia Seni Panggung dan Estetika Tradisional Negara Cia Agung.
Pengen update dikit, pikirnya.
Ia membaca buku sejarah Ah Ti.
Perkara protokoler itu sebenarnya bangsa-bangsa lain menyerap budaya Negara Bintang. Negara yang sempat bersaing dengan Region Barat Jauh menguasai banyak wilayah — termasuk Region 9.
Untung Cia Agung jadi batas antara Negara Utara dan Negara Barat Oriental yang dikuasai kubu bersebrangan.
Negara Utara dikuasai Negara Bintang.
Negara Barat Oriental dikuasai Persatuan Barat Jauh.
Jadi Kaisar Ong Hou Ling memanfaatkan hal ini untuk diplomasi dan membuat wilayah netral.
Eng Sok mengangguk. Jadi begitu sejarahnya.
Ia membuka Ensiklopedia Sioh Bu. Pegangan wajib artis Cia Agung — terutama artis kostum.
Ia melongo.
Pakaian sudah berubah. Berevolusi.
Ia sendiri merasakan. Pas jadi Leng Tiat, lengan bajunya enak — tidak mengganggu gerakan. Besoknya jadi Pangeran Bintang, lengan bajunya sangat besar — sampai ia ngomel, "Nyulik Ah Ti tinggal masukin ke lengan, muat ini!"
Ia melihat gambar-gambar itu.
Lalu telinganya mendengar sesuatu.
Pukulan berkali-kali. Halus.
Dari kamar Ah Me.
Awalnya ia tidak bergeming. Tapi suara "greeek!" — seperti benda logam beradu — membuat rasa penasarannya naik.
Ia berdiri. Berjalan pelan ke pintu kamar Ah Me.
---
Ah Ti sudah di depan pintu. Melongo.
Ah Me duduk di kursi. Di depannya — mesin. Tiga mesin.
Mesin jahit. Mesin obras. Mesin bordir.
Kain. Benang. Jarum.
Ah Me menengadah. "Eh, anak-anak..."
Ia berdiri. Mendekat.
"Ini Ah Me betulin lagi mesin-mesin jahit lawas Ah Me."
Ia menunjuk satu per satu.
"Dulu Ah Me kerja di pabrik tekstil. Ini mesin bordir. Ini mesin jahit lawas. Ini obras lawas. Ini mesin jahit baru."
Eng Sok tidak bisa berkata apa-apa. Cuma melihat Sioh Bu — yang melayang di samping — tersenyum bahagia.
---
"Sejak Ah Me mulai seger — dipijat, minum ramuan, dikasih duit itu — Ah Me coba bordir lagi."
Ah Me mengambil kain kecil. Membordir saputangan. Motif kupu-kupu dan bunga.
"Ah Me coba panggil Empek Tio — tukang servis mesin jahit. Serviskan tiga mesin: obras, bordir, mesin jahit."
Ia menunjuk ke sudut ruangan. Kain-kain berwarna-warni dilipat rapi.
"Lalu coba beli kain dan bahan bordir online. Pas Koko kerja dan Ah Ti sekolah, Ah Me kumpulin foto-foto lama bordiran. Pelan-pelan foto ulang. Lalu minta Ah Ti edit-in sepulang sekolah."
Ia membuka HP. Menunjukkan Instagram. Akun Lan Hoe bordir. Eng Sok terkejut. Dia mau pesan Tng sa di sini kemarin. Tapi malah punya Ah Me dia dong akunnya!
"Pelan-pelan up di Instagram dan TikTok."
Eng Sok melihat. Sudah ada pesanan. Tapi untuk bulan depan — bukan baju siap pakai. Tapi sapu tangan banyak. Untuk syuting dan sovenir pernikahan.
“Ah Me gak ditangkap?”, bisik Eng Sok.
"Aman, Tauke a! Jadi kalo Ah Me ngebordir asal bareng anak-anak..." Ah Me tersenyum. "Itu dianggap mewariskan ilmu keluarga. Legal. Malah diharapkan dan didorong."
Ah Me nerusin jelasin tentang mesin kuno dia, benang mesin ini itu. Juga menunjukkan gambar mesin jahit baru yang besar dan canggih. Cuma Ah Me belum pengen beli yang besar, pake jadul dulu. Dia takut kambuh lagi kankernya. Selain itu dia masih lemah dan sering tidur.
Eng Sok menyipit.
Otaknya gak nyampe diajak ngomong tentang mesin. Ah Me yang kesal membordir sapu tangan lagi. Sampai selesai, 5 menit jadi.
Eng Sok merasa di depannya ini... Ah Me lagi pake alat sulap. Yang menyulap kain jadi pakaian dan barang siap pakai.
"Ini..." Eng Sok menerima bordiran Ah Me yang udah jadi. "Ini gak disulam tangan, Ah Me?"
Ah Ti mulai menarik napas panjang. Sudah berdamai dengan kerasnya fakta. Mau dibilang kuno atau apa pun — tidak akan mengubah Koko barunya jadi modern.
---
Ah Me mengambil kain kecil. Menjepitnya di lingkaran kayu. Menekan pedal mesin.
Dek... dek... dek...
Jarum bergerak naik turun. Cepat. Benang berwarna merah membentuk kelopak bunga.
"Coba, Koko," kata Ah Me.
Eng Sok duduk di kursi. Ah Me memandu tangannya — meletakkan kain di bawah jarum, menekan pedal.
Ia kaku. Tangannya gemetar — bukan karena takut, tapi karena tidak biasa.
Tapi Ah Me sabar.
Sepuluh menit. Dua puluh menit.
Jelang makan siang — gambarnya mulai bagus. Bahkan lebih bagus dari punya Ah Me.
Ah Ti sampai minta digambarin.
Ah Me menggeleng. "Dari mana kamu bisa, Sioh Bu?"
Eng Sok tersenyum nakal.
"Diam-diam belajar nyulam."
"Dulu... di Istana Leng... putri-putri datang tengah malam. Minta Koko desainkan pola di atas kain."
Ah Ti memegang kepalanya. "Apa-apaan, Koko? Putri-putri tengah malam? Bukannya ga boleh…"
“Ga boleh ketauan!”, jawab Eng Sok sambil tertawa nakal. Sampai Ah Ti melongo, siapa sangka Pangeran kuno dan kaku bisa setengil itu. "Masih tabu kalo keterampilan gini di laki-laki," kata Eng Sok.
Ia menyimpulkan dalam hati. "Jadi bordir itu... sulam tapi pakai mesin.”
"Ko, gambarin kain aku dong!"
Eng Sok mengambil kain baru. Menggambar dengan tangan kiri.
“Kamu kidal?”, tanya Ah Me. Eng Sok mengangguk. Dia memang lahir kidal tapi tampak normal hampir seminggu ini.
“Kok bisa”, kata Ah Ti.
Eng Sok membuka HP, menunjukkan video konyol di Tik Tok berjudul “Colonial Parenting”. Ah Ti tersenyum pahit.
“Dihukum gimana Ko, dulu?”, tanya Ah Ti.
“Kayak di komik Pendekar Bun. Gak ada sensor. Makanya Koko tangannya terkilir masih lancar kerja. Udah punya biasa. Kalo ga kerja…”, dia melirik Ah Ti yang menelan ludah.
Ah Me menahan nafas,”Masi paham, zaman Ah Me gitu walaupun ga sampe becek-becek gitu”
Gambar jadi Ah Ti ambil Kain. Eng Sok minum. Haus.
Ah Ti memasang benang cekatan.
Dek... dek... dek…
Ah Ti membordir dengan cepat. Tangan dan kaki anak yang lebih cepat terampil.
Wajah Ah Ti — tersenyum — terbentuk dari benang-benang hitam dan merah.
Ah Ti menjahitnya sendiri — dengan bimbingan Ah Me.
Selesai.
"Bagus gak, Ko?"
Eng Sok dan Sioh Bu mengacungkan 2 jempol.
---
Sambil Ah Ti membordir tadi, Ah Me ke dapur. Membuka kulkas. Mengeluarkan makanan beku — dimasukkan ke dandang.
Ah Ti mendadak ke dapur lalu belok ke toilet.
Eng Sok kaget saat ambil minum. "Sejak kapan ada stok makanan beku banyak di kulkas?"
Ah Ti melihat Eng Sok yang melihat tajam dia di pintu kamar mandi. Lalu ke Ah Me.
Seolah-olah Ah Ti lapor tanpa suara sambil menunjukkan tangannya yang merah sebelum membordir. "Kemarin gua siangnya nguli, Ko. Pulang sekolah. Disuruh angkat makanan jatah tiga harian ini. Capek. Tangan gua bengkak."
Habis itu Ah Ti masuk toilet sebentar lalu lanjut bordir.
Eng Sok mengangguk. Sioh Bu bingung.
"Jadi siapa yang nyetok?"
"Ah Me," jawab Eng Sok. "Dia nyuruh Ah Ti nguli ngangkut dari supermarket. Makanan beku jatah tiga hari. Katanya awet seminggu — dan ga usah masak. Tinggal kukus di dandang 15 menit."
Sioh Bu melongo.
---
Eng Sok benar-benar melongo saat makanan itu matang. Dan Ah Me memanggil Ah Ti yang sudah menyelesaikan bordiran dia untuk ditunjukkan ke Ah Me dan Eng Sok.
Di zaman Eng Sok dulu, makanan ginian sehari aja bisa basi.
Tapi...
Ia takut gak sehat. Setelah lihat bahan — dan Ah Me bilang, "Cuma dua hari, Ko. Biar kalian puas liburan" — ia menurut. Bahannya cukup sehat. Teknik pengawetan juga tidak pakai bahan kimia berbahaya. Hanya teknik pengurangan air ekstrim dengan ….alat sihir? Entahlah. Dia seolah merasa ada negeri khayangan beberapa hari ini. Kendaraan melayang, kendaraan bukan kuda. Mesin jahit. Dan HP.
Habis makan, tempat makannya ia cuci dan simpan.
Entahlah. Mungkin untuk wadah benang.
---
Jam empat sore.
Eng Sok dan Ah Ti sudah bisa menggunakan ketiga mesin jahit — dengan pengawasan Ah Me.
Eng Sok coba mengukur pakaiannya sendiri. Mencatat angka-angka di kertas. Lalu mengecilkan ukuran untuk pola.
Awalnya hitung manual. Ah Ti pinjami kalkulator.
Eng Sok agak pesimistis.
Tapi setelah pola jadi — Eng Sok memuji ketelitian hasil ukur kalkulator.
"Barangmu ini ciamik!"
Ah Ti menghela napas. Ah Me menghela napas. Lao Ma — yang kebetulan lewat — ikut menghela napas. Kalkulator aja dipuji. Tapi bagi Eng Sok, menghitung secepat itu adalah sihir.
---
Eng Sok mencoba menjahit pola Tng Sa di kain kecil itu.
Cepat.
Lima menit. Pakai mesin.
Padahal dulu — bisa tiga sampai empat hari jika dikerjakan banyak orang. Bahkan kalo kerja sendiri untuk kain sulit bisa berbulan-bulan.
Ah Me kaget. Hasilnya sangat baik.
"Kok bisa?" tanya Ah Me.
"Bukannya Pangeran dulu ga boleh..." kata Ah Ti.
"Ga boleh ketahuan!" jawab Eng Sok sambil tersenyum nakal terpingkal-pingkal.
Sioh Bu menunjuk-nunjuk Eng Sok.
Pangeran ini...
Eng Sok tertawa tengil.
---
Setelah makan malam, Eng Sok kembali belajar.
Kali ini: gincu natural padat.
Ini cepat. Soalnya caranya sama dengan yang ia pelajari. Cuma kaku di alat.
Itupun — dia syok.
Dengan mesin beginian — setengah hari bisa jadi banyak. Cukup buat buka toko.
Warna-warna yang dihasilkan sangat cantik. Lebih pekat. Lebih merata.
Ia minta Ah Me mencoba.
Ah Me mencium gincu itu. Wangi.
Setelah beberapa jam — tidak ada reaksi alergi.
Ah Me memegang gincu itu. Melihat warna merah keunguan alami di tangannya.
"Buat Ah Me," kata Eng Sok.
"Beneran?"
Eng Sok mengangguk.
Air mata Ah Me mengalir di pipinya. Wanita tua itu memeluk Eng Sok.
Anaknya.
Bukan sedih. Bukan karena obat. Bukan karena kanker yang hilang.
Tapi karena — di hari libur nasional ini — ia dipikirkan.
Ah Ti ikut memeluk dari samping.
Sioh Bu menutup mulut dengan tangan. Bahunya gemetar. Dan heran.
“Perkenalkan: Kok Eng Sok, Pangeran Alkemis Militer berkedok Perdana Mentri wilayah vazal dari Cia Agung”, katanya dengan tatapan dingin dan senyum lurus ke arah Sioh Bu yang melongo.
---
BERSAMBUNG
---
Libur nasional.
Belajar membordir, menjahit, membuat gincu.
Dan Ah Me — menangis karena bahagia.
Eng Sok tidak menemukan elixir keabadian.
Tapi ia menemukan sesuatu yang — mungkin — lebih berharga.
🪷👩❤️👨💐