Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28. PENGAKUAN DAN KETAKUTAN
Keheningan memenuhi ruangan saat Cecilia mendengar Rowan mengatakan sesuatu yang tidak pernah Cecilia sangka.
"Aku tidak mau kehilanganmu seperti aku kehilangan orang itu. Aku tidak ingin setiap malam selalu mengulang ingatan menyakitkan itu. Aku tidak yakin kuat jika itu dirimu," kata Rowan dengan nada sendu.
Luka yang tidak pernah Rowan ceritakan. Luka yang masih membekas sampai sekarang, tidak ingin lagi ia merasakannya.
Dan tanpa sadar Cecilia mengangguk.
"Baik. Aku janji tidak akan melakukan hal yang membahayakan hidupku lagi," janji Cecilia. Tak bisa mengatakan tidak ketika melihat ekspresi dan nada memohon Rowan saat ini.
Seketika ketegangan di tubuh Rowan runtuh, pria itu mengembuskan napas panjang.
Lalu sebelum Cecilia sempat bereaksi, Rowan langsung memeluknya sangat erat. Seolah takut gadis itu menghilang lagi.
Tubuh Cecilia menegang, namun perlahan ia membalas pelukan itu.
Rowan menundukkan kepala ke bahu Cecilia, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sag gadis.
"Kau tunanganku. Tidak peduli alasan awal pertunangan ini. Kau sudah terikat denganku. Jangan pernah berani meninggalkanku dengan cara yang akan membuatku membenci diriku sendiri seumur hidup," kata Rowan dengan pelukannya yang semakin erat.
Cecilia menutup mata. Ia bisa merasakan ketulusan itu, ketulusan yang tidak dibuat-buat.
"Aku minta maaf.Sudah membuatmu sangat khawatir. Aku janji tidak akan melakukan hal berbahaya tanpa izinmu setelah ini," ujar Cecilia lembut
Rowan tertawa kecil. "Terdengar seperti aku penjagamu."
"Mungkin memang begitu. Bukankah kau yang bertanggung jawab soal diriku di Aurelius ini." Cecilia ikut tersenyum.
Pelukan mereka perlahan terlepas.
Namun Rowan tidak menjauh, sebaliknya pria itu kembali memegang wajah Cecilia. Kali ini jauh lebih lembut. Ibu jarinya mengusap pipi gadis itu perlahan. Tatapan pria yang selalu keras dalam pertempuran itu kini menghangat.
Cecilia hanya diam, membiarkan Rowan menenangkan dirinya dari kekhawatiran tentang Cecilia kemarin.
Lalu tanpa peringatan, Rowan mencium pipi Cecilia.
Cecilia membeku.
Kemudian Rowan menciumi seluruh wajah Cecilia; pipi lainnya, hidungnya, matanya, hingga kening sang gadis.
"R-Rowan ...." gumam Cecilia gugup.
Namun Rowan hanya tersenyum, lalu saat pria itu bergerak lebih dekat ke bibir Cecilia.
Cecilia menahan napas.
Dan Rowan mengecup ujung bibirnya, sangat singkat dan lembut, ingin menggoda sang gadis untuk meminta lebih.
Namun itu saja cukup membuat wajah Cecilia langsung memerah. Gadis itu menatap Rowan seperti rusa yang terkena cahaya.
Sementara Rowan tampak sangat tenang, seakan baru saja melakukan sesuatu yang sangat wajar.
"Rowan!"
Pria itu mengangkat alis. "Ya?"
Cecilia bahkan tidak tahu harus berkata apa. Karena mereka seharusnya hanya menjalani hubungan yang saling menguntungkan.
Kita hanya bersama hingga bertunangan hanya karena keadaan, 'kan? Lalu kenapa semuanya terasa berbeda sekarang? Kenapa Rowan menciumku?! batin Cecilia.
Seolah bisa membaca isi pikiran sang gadis, Rowan tersenyum.
"Aku bukan pria brengsek yang akan mencium seorang gadis tanpa maksud serius, Cecilia," kata Rowan.
Cecilia langsung membelalakkan mata.
"Tunggu. Kau ... kau punya perasaan serius denganku? Sebagai pria dan wanita?" konfirmasi Cecilia.
Rowan kembali mencium pipi Cecilia, membuat Cecilia semakin salah tingkah.
"Iya. Aku tertarik padamu sejak pertama kita bertemu di festival," Rowan mengaku.
Cecilia membeku.
Rowan tertawa kecil melihat respon menggemaskan Cecilia.
"Kau sudah memerangkapku dengan mata safirmu itu. Mata yang selalu menatap langsung ke dalam diriku. Rasanya kau bisa melihat seluruh bagian diriku yang bahkan tidak pernah dipahami orang lain," kata Rowan.
Wajah Cecilia semakin merah. "Tapi kita belum lama bertemu. Bagaimana jika perasaanmu hanya semu atau rasa bersalah karena ritual kemarin?"
Rowan menggeleng. Tidak ada sedikit pun keraguan di wajahnya.
"Cecilia, aku tumbuh di keluarga yang sangat menghormati perempuan. Dan kami tidak bermain-main dengan perasaan. Jika kami sudah menemukan satu perempuan yang membuat kami tertarik. Kami tidak akan berpaling meskipun pertemuannya singkat," beritahu Rowan.
Cecilia masih terlihat ragu. "Tetap saja kita baru bertemu."
Rowan tertawa pelan dan berkata, "Kau tahu Paman dan Bibiku? Grand Duke dan Grand Duchess?"
Cecilia mengangguk.
"Mereka jatuh cinta setelah menikah. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah bertemu," beber Rowan.
Mata Cecilia membesar. "Benarkah?"
"Benar."
Mereka sama-sama jatuh cinta setelah pernikahan mereka yang dibentuk oleh Kaisar dan Permaisuri tanpa keduanya pernah saling bertemu.
Cecilia terkejut dan berkata, benarkah?
Rowan mengangguk, "Benar. Bahkan dulu Grand Duchess adalah gadis bertubuh gemuk yang difitnah oleh keluarganya ke titik reputasi terendah. Namun Paman tetap menikahinya ketika Kaisar dan Permaisuri berkata bahwa Bibi adalah gadis baik dan hebat. Dan ketika keduanya menikah, Paman tidak pernah mencela Bibi sedikit pun dan justru jatuh cinta pada pandangan pertama ketika di altar. Dan saat Paman paham dia jatuh cinta pada Bibi, Paman tidak pernah melepaskan Bibi hingga hari ini dan sangat protektif dengan keluarganya."
Cecilia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Cecilia bertanya, bagaimana bisa kau tahu sedetail itu soal, Pamanmu?" tanya Cecilia.
Rowan menjawab, "Karena aku tinggal dengan mereka berdua sejak usia lima tahun Saat ibuku dan ayahku ada jauh di wilayah barat. Jadi aku tahu pertemuan ketertarikanku denganmu tidak semu, Cecilia."
Wajah Cecilia memanas dan merona saat ini. Cecilia menunduk malu.
Dan Rowan tampaknya menikmati reaksi gadis itu.
"Bahkan Kaisar juga sama," kata Rowan.
"Kaisar?"
"Iya. Kaisar jatuh cinta pada pandangan pertama pada Permaisuri ketika dia berada di Aurelion," cerita Rowan dengan senyum lebar.
Cecilia berkedip. Lalu bertanya dengan polos, "Apa semua pria di keluargamu punya sinyal menemukan jodohnya?"
Untuk beberapa detik Rowan hanya diam, lalu ia tertawa keras. Suara yang jarang sekali Cecilia dengar.
"Mungkin kau benar. Sepertinya keluarga kami memang memiliki semacam sinyal hanya tertarik pada perempuan yang akan menemani kami sampai akhir hayat," kata Rowan. Pria itu mengusap rambut Cecilia lembut.
Cecilia tersenyum kecil. "Itu terdengar romantis."
Tatapan Rowan kembali menjadi lembut. "Sama seperti mereka. Awalnya aku tertarik padamu karena hal sepele. Dan aku tidak tahu kapan ketertarikanku berubah menjadi suka. Dan setelah malam ritual itu. Ketetarikan itu berubah menjadi takut kehilanganmu," katanya.
Cecilia mendengar pengakuan Rowan namun juga ketakutan di matanya.
"Aku sangat takut, Cecilia. Aku takut kehilanganmu, bahkan saat ini. Saat kau ada di pelukanku dan hidup, aku masih takut," kata Rowan.
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Cecilia menggigit bibirnya, lalu berkata pelan, "Rowan, waktuku tidak banyak."
Senyum pria itu menghilang.
"Kau sudah mendengar dari Garrick, 'kan? Jika aku gagal mengumpulkan relik. Dan gagal membuka gerbang arwah untuk mengambil kembali sisa hidupku, aku akan mati. Waktuku kurang dari dua tahun lagi."
"Cecilia ..." Rowan berucap lembut.
"Aku tidak ingin menyakitimu ketika hari itu tiba. Aku tidak ingin kau kehilangan seseorang lagi, Rowan. Aku tahu bagaimana rasanya ditinggalkan dengan kematian. Kau akan tersiksa dengan rindu yang bahkan tidak bisa kau obati karena yang kau rindukan tidak berada di dunia yang sama denganmu," kata Cecilia.
Keheningan panjang terjadi.
Lalu Rowan mengernyit, tidak menyukai apa yang baru saja ia dengar.
"Maka akan kulakukan apa pun," ujar Rowan.
Cecilia tertegun.
Rowan menatapnya lurus.
"Apa pun itu. Mengumpulkan relik. Membuka gerbang arwah. Bahkan masuk ke dunia arwah sekali pun. Semuanya akan kulakukan. Karena aku tidak menerima kemungkinan kau meninggalkanku dengan cara itu," kata Rowan tegas.
Jantung Cecilia berdegup kencang. "Rowan..."
"Aku pernah melawan Abyss. Hanya mencari relik dan mengambil kembali hidupmu. Itu bukan hal mustahil bagiku," kata Rowan dengan senyum penuh keyakinan di wajah.
Air mata mulai menggenang di mata Cecilia.
Dan Rowan melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Pria itu selalu melihat apa pun tentang gadis ini.
"Kau hanya perlu hidup di sisiku. Menikmati waktumu dan berbahagia," kata Rowan. Jari hangat Rowan menyentuh rambut gadis itu dan memainkannya dengan jari.
Cecilia hanya diam, menahan air mata yang tidak ingin ia tumpahkan.
"Kau sudah bekerja terlalu keras selama ini, Cecilia. Kau gadis yang hebat yang bisa bertahan dalam kondisi seperti itu. Jadi bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padamu. Saat wanita bangsawan lain sibuk memoles diri, sedangkan kau sibuk menyelamatkan kerajaan dan hidupmu sendiri," ucap Rowan.
Air mata Cecilia akhirnya jatuh. Ia tidak bisa menahannya. Tidak ada yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya. Bagaimana rasanya ia ingin diakui akan kerja kerasnya selama tiga tahun ini dalam menghadapi segala keburukan yang menimpanya.
Rowan mengusap air mata Cecilia perlahan. "Jangan menangis. Aku bertaruh kau sudah lebih banyak menangis dari pada tertawa selama hidupmu."
Cecilia menatapnya, belum sempat bertanya.
Rowan melanjutkan, "Kau juga sering menangis dalam tidurmu."
Mata Cecilia langsung membesar. "Bagaimana kau tahu?"
Rowan tersenyum bersalah. "Aku sedikit nakal."
Cecilia menyipitkan mata.
Pria itu tertawa dan mengaku, "Aku sering masuk ke kamarmu saat kau tidur untuk mengecekmu, setelah Garrick memberitahuku kalau kau suka mimpi buruk."
Cecilia membeku. "Kau apa?!"
"Aku hanya memastikan kau baik-baik saja," jawab Rowan tanpa rasa bersalah.
"Tapi tetap saja ..." Cecilia cemberut sekarang.
"Setiap malam kau terlihat tersiksa. Kau menangis dan mengigau. Belum lagi kau harus menghadapi Madness. Sudah cukup kau berjuang sendirian. Setidaknya aku hanya ingin memastikan kau aman setiap malam di kediamanku," kata Rowan dengan suara selembut beledu.
Cecilia menunduk, dadanya terasa hangat dan nyaman pada saat bersamaan. Ia tidak tahu bahwa Rowan memerhatikannya sejauh itu. Tidak tahu bahwa pria itu melihat seluruh sisi lemahnya, seluruh luka yang selama ini Cecilia sembunyikan.
"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti," kata Rowan tiba-tiba.
Cecilia mengangkat kepala. "Hm?"
Pria itu tersenyum. "Sepertinya ada seseorang yang datang. Dilihat dari langkah kakinya, dia orang yang sangat ingin bertemu denganmu."
Cecilia berkedip.
Dan benar saja, beberapa detik kemudian ...
BRAK!
Pintu terbuka begitu keras hingga nyaris menghantam dinding.
Cecilia terlonjak.
Rowan bahkan tidak terlihat terkejut, sudah menduga hal itu.
Di ambang pintu berdiri seorang wanita cantik mengenakan gaun mewah kerajaan.
Matanya langsung menatap sosok Cecilia dengan penuh kelegaan dan berkaca-kaca.
Cecilia mengenalnya. Tentu saja.
Wanita cantik itu adalah Permaisuri. Sosok yang Cecilia selamatkan sampai nyaris tertelan kegelapan alam arwah.
"Cecilia ... Oh, syukurlah," ucap sang Permaisuri yang sudah meneteskan air mata dan berlari ke arah Cecilia.
Cecilia menyadari bahwa dirinya tidak hanya berhasil menyelamatkan seseorang. Ia juga telah menjadi seseorang yang sangat berarti bagi banyak orang.
Termasuk wanita yang nantinya akan Cecilia lihat kalau Permaisuri bukan wanita yang duduk di singgasana, tapi yang akan menarik pedang untuk mengeksekusi seseorang.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/