NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Herman mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

Ningsih duduk di kursi kebesarannya, merapikan beberapa berkas kerja. Di sampingnya, pak Roni, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya sejak lama, sedang menutup laptopnya.

"Kerja bagus untuk hari ini, Pak Roni. Semua poin meeting tersampaikan dengan baik," ucap Ningsih sembari tersenyum tipis.

"Terima kasih, Ibu Ningsih. Oh ya, mohon maaf sebelumnya, Bu," Pak Roni menjeda ucapannya, melirik ke arah pintu keluar. "Di luar ada seseorang yang sudah menunggu cukup lama. Beliau bersikeras ingin menemui Ibu secara pribadi untuk membahas sebuah penawaran."

Ningsih mengernyitkan dahi sejenak. "Siapa? Apakah sudah membuat janji sebelumnya?"

"Beliau adalah Bapak Satria, CEO dari PT Adhitama, Bu. Beliau datang sendiri," jawab Pak Roni takzim.

Ningsih terdiam sejenak. Nama Satria dan PT Adhitama tentu tidak asing di telinganya. Perusahaan raksasa itu bergerak di bidang teknologi dan investasi yang skalanya sudah sangat masif.

Ningsih mengangguk pelan. "Baiklah, bawa beliau ke ruangan saya, Pak Roni."

Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja Ningsih yang luas, pintu terbuka. Pak Roni menuntun seorang pria muda, berwajah tampan dengan tatapan mata yang sangat tajam dan cerdas.

Namun, pria bernama Satria itu duduk di atas sebuah kursi roda elektrik yang canggih. Keadaan fisik yang lumpuh sama sekali tidak mengurangi wibawa besar yang terpancar dari dirinya.

"Selamat siang, Ibu Ningsih. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertatap muka langsung dengan wanita hebat di balik kesuksesan PT Adiwangsa," sapa Satria, suaranya bariton dan terdengar sangat ramah saat menghentikan kursi rodanya di depan meja kerja Ningsih.

Ningsih berdiri, membungkuk pelan dengan penuh rasa hormat.

"Selamat siang, Pak Satria. Suatu kehormatan juga bagi saya dikunjungi oleh Ceo PT Adhitama yang luar biasa. Silakan duduk, em maksud saya, mari kita mengobrol santai. Ada hal penting apa yang membawa anda kemari?"

Satria tersenyum tipis, menghargai kesopanan Ningsih.

"Saya langsung pada intinya saja, Bu Ningsih. PT Adhitama ingin mengajak PT Adiwangsa untuk bekerja sama dalam proyek ekspansi digital di sektor properti dan retail. Saya rasa, gabungan kekuatan kita akan menjadi sesuatu yang sangat besar."

Ningsih mendengarkan penjelasan singkat Satria dengan saksama. Ia terdiam beberapa detik, menimbang-nimbang berkas proposal yang disodorkan Satria, lalu menutupnya kembali dengan sangat perlahan.

"Pak Satria, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan penawaran luar biasa ini," ucap Ningsih dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, namun terselip ketegasan yang mutlak. "Namun, mohon maaf, untuk saat ini PT Adiwangsa harus menolak tawaran kerja sama ini."

Satria tidak tampak terkejut, ia justru menaikkan sebelah alisnya dengan penuh minat. "Boleh saya tahu alasannya, Bu Ningsih? Jarang sekali ada perusahaan yang menolak suntikan dana dan ekspansi dari Adhitama."

Ningsih tersenyum tulus, tidak ada nada sombong sedikit pun dalam kalimatnya. "PT Adhitama adalah perusahaan raksasa yang sudah berada jauh di atas kami, Pak. Fokus dan visi bisnis kita saat ini berbeda. Adiwangsa sedang berfokus pada penguatan fondasi internal dan pasar lokal, sementara Adhitama sudah melangkah ke ranah global. Jika dipaksakan menjadi rekan, saya khawatir Adiwangsa hanya akan menjadi pengikut, bukan mitra yang seimbang. Saya ingin membesarkan perusahaan ini dengan kaki kami sendiri terlebih dahulu."

Satria tertegun sejenak, lalu senyum tipisnya melebar. Sudah lama sekali ia penasaran dengan sosok pemilik Adiwangsa yang kabarnya bermental baja.

Dan hari ini, ia membuktikannya sendiri.

Ningsih adalah wanita tangguh yang menolaknya secara elegan. Biasanya, semua wanita akan mengejar-ngejar Satria dan menyetujui apa pun demi uang dan kekuasaannya, meskipun mereka tahu Satria lumpuh.

Tapi, wanita di hadapannya ini sangat berbeda.

"Alasan yang sangat visioner dan masuk akal, Bu Ningsih," ucap Satria sembari memundurkan kursi rodanya sedikit. "Saya menghargai keputusan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Satria. Mari saya antar sampai depan," kata Ningsih dengan sopan.

Satria memutar kursi rodanya menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju lobi, ia hanya melihat punggung Ningsih yang berjalan di sampingnya sembari tersenyum penuh arti di dalam hati.

Pria itu sangat yakin, dengan pesona dan keteguhan Ningsih, suatu saat nanti wanita ini pasti akan menerima tawarannya, baik di dalam dunia bisnis, atau mungkin di ranah yang lain.

*

*

Hendra sudah berada di dalam ruangan kerja kantor milik Nawang. Sebagai sopir pribadi baru, Hendra sebenarnya hanya bertugas mengantar-jemput. Siang ini, Nawang justru menyuruh Hendra masuk ke ruang pribadinya dengan alasan ada berkas yang harus dibantu bawa.

Hendra baru saja duduk di sebuah sofa di sudut ruangan ketika Nawang tiba-tiba berjalan mendekat setelah mengunci pintu kerja. Nawang, dengan pakaian seksinya yang ketat, berjalan pelan lalu duduk di sofa yang sama, tepat di samping Hendra hingga aroma parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidung pria itu.

"Mas Hendra," panggil Nawang manja, menopang dagunya sembari menatap wajah tampan Hendra. "Aku mau tanya sesuatu, boleh?"

Hendra menunduk sopan, merasa canggung dengan jarak yang terlalu dekat ini. "Boleh, Non Nawang. Mau tanya apa?"

"Mas Hendra... sudah punya pacar belum? Atau mungkin, sudah punya istri?" tanya Nawang dengan mata yang berkedip-kedip genit.

Hendra terdiam sejenak. Pertanyaan itu seketika memicu ingatan pahitnya tentang Ningsih dan kehancuran masa lalunya.

Hendra berpikir keras. Apakah ia harus berbohong demi menjaga pekerjaannya? Tidak, Hendra tidak mau membangun kebohongan baru lagi. Ia harus jujur agar tidak membuat wanita ini kecewa pada akhirnya.

"Saya, seorang duda, Non," jawab Hendra dengan suara baritonnya yang pelan namun jujur.

"Mas duda?!" Mata Nawang seketika membelalat sempurna, namun detik berikutnya senyumnya malah merekah semakin lebar. Ia menggeser duduknya hingga bahu mereka saling bersentuhan. "Kok bisa sih pria setampan, segagah, dan se-perkasa Mas Hendra ini jadi duda? Mantan istri Mas pasti tidak punya mata karena sudah menyia-nyiakan pria seperti Mas."

Hendra hanya bisa tersenyum getir di dalam hati. Ia sama sekali tidak tahu kalau Nawang diam-diam sudah mulai sangat tertarik dan terobsesi pada bentuk tubuhnya yang kekar sejak pandangan pertama kemarin.

Nawang tiba-tiba meraih jemari tangan Hendra, menggenggamnya dengan lembut. "Mas Hendra mau uang tidak?"

Pertanyaan frontal itu membuat Hendra mengernyit bingung. Ia pun mencoba menjawab dengan realistis.

"Siapapun pasti mau uang, Non. Apalagi saya. Saya hanyalah seorang pria miskin yang sedang merangkak dari bawah untuk menyambung hidup."

Nawang tersenyum licik, merasa umpannya berjalan dengan sangat lancar.

"Bagus. Kalau begitu, apa Mas Hendra mau menikah denganku?"

"Hah?!"

Hendra seketika melongo lebar, matanya membelalak sempurna menatap wajah Nawang yang tampak sangat serius dengan tawarannya. Otak Hendra mendadak blank dan mengalami disorientasi instan. Ia baru saja resmi bercerai dari Ningsih beberapa waktu lalu, hidupnya hancur luntang-lantung.

Dan sekarang, seorang gadis muda, cantik, anak seorang konglomerat kaya raya, tiba-tiba menembaknya dan melamarnya untuk menjadi suami secara instan?

Hendra yang tidak tahu harus menjawab apa atas keberuntungan yang baru saja datang menghampirinya.

1
Sri Rahayu
Luna ga tau aja kl papa mu uda ditendang oleh si tante genit Arumi /Facepalm//Facepalm//Facepalm/...tp skrg papa mu uda dpt tante genit baru adik tiri mu🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu
Yeni..Nawang...ketemu Hendra kyknya bakal seru nih...lanjut Thorr 😘😘😘
Sri Rahayu
kamu mau memanfaatkan Hendra 😇😇😇...yg ada kamu yg akan dimanfaatkan Hendra🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ hei sawang sinawang lu gak tahu ajj kelakuan Hendra .... bukan nya cek latar belakang dulu
Nice1808
🤣🤣🤣luna pinter ya bilng arumi tante genit kyk ulat bulu menempel pd papanya👍👍👍
Nice1808
nawang sat set bbgt mau menikah dgn hendra demi aset dr adiwangsa🤣
Nice1808
parah yudha melihara ular juga😃bego bngt😃😃😃
Nice1808
nawang milih hendra kyk apa ntar anknya bersaudara dgn luna kandung🤣🤣
Susma Wati
hendra dan nawang sama-sama ular, yang akan saling mematuk dan akan hancur bersama
tinie
hendraq jangan sombong dulu
ingat ya Luna sangat cerdas ,,

ooh kalau soal Ningsih mungkin dia akan di incar oleh CEO aditama🤣🤣
tinie
intinya sama sama memanfaatkan
Nawang kepengen punya anak agar bisa
dapat warisan
dan Hendra numpang hidup supaya bisa kaya lgi🤣🤣🤣
tinie
makanya kalo gak bisa cari harta sendiri ya jangan mancing emosi orang
cari tau dulu
emang orang kere kepingin kaya hanya mengandalkan omongan manis merayu orang😁😁
bermulut tajam merayu orang
tinie
bener sebentar lgi akan dikuras sama hendra
tinie
eeh kamu salah
justru Hendra yang membuat hidup Ningsih hancur
jangan kau pungut
Susma Wati
nawang kalau memilih hendra bakalan nyesel gak yah, soalnya hendra tuh sampah yang di buang ningsih, Kalau hendra menikahi nawang dan dia merasa sudah kaya lagi pasti dia buat ulah lagi, ehh tuh si pelakor tahu hendra kaya lagi pasti dia rayu si hendra, kalau hendra kena rayu lagi sama sia arumi, memang hendra goblok, masuk ke ĺbang yang sama, mungkin nawang sebenarnya baik, tapi kena pengaruh ibunya yang gila kuasa, jadi kalau nawang salah dengan pilihan nya mungkin dia menendang hendra ke jalanan, kalau belum terlambat, tapi tetap kalah kalau sudah berhadapan dengan ningsih pasti dibikin busuk di penjara kalau dia menguasai kekayaan pak yudha, ningsih pasti rebutan lagi, walau mungkin yeni dan nawang juga merasakan sengsara, tapi itu buah yang di petik mereka karena serakah 🤣🤣
Senja: Hehehe kita lihat coba nanti kak🤭
total 1 replies
vj'z tri
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ sampah di buang Ningsih mau di pungut Nawang ???gi dah ambil sana 🤣🤣🤣
Dede Maesaroh
lah amsyong🤣
Susma Wati
nawang anaknya yeni, ketemu hendra, bersatu melawan ningsih, kata kebetulan orang 2 yang membuat ningsih sakit hati bersatu, dan ningsih menghadapi mereka dan kehancuran yang mereka dapatkan karena ningsih benar-benar membalas semua sakit hatinya pada orang-orang ang pantas mendapatkan kehancuran
vj'z tri
eh dodo eeee kirain mah dah insaf 🤣🤣🤣🤣🤣
Nice1808
yeni manusia gila harta dia lupa ningsih ank yudha yg skrg kaya hidup sendiri 🤣🤣harta yudha juga akn di wariskn ke ningsih 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!