NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27.

Di balik dinding sunyi nan mewah, tempat yang menjadi saksi buah kejahatan. Di sini, ruang rawat inap tipe president suite berkelas tinggi, terhampar aroma antiseptik bercampur kelembutan kain linen.

Seorang gadis muda terbaring lemah bagai bunga yang layu belum sempat mekar sempurna. Kulitnya yang biasanya mulus kini terhias bercak kemerahan, sisa iritasi pahit dari air kolam yang tercampur racun.

Pandangannya masih kabur, seolah dunia di hadapannya terbalut kabut tebal, tak sanggup melihat dengan jernih siapa pun yang berdiri di dekatnya.

Namun kelemahan raganya tak memadamkan bara amarah yang membara di dalam dadanya. Begitu melihat sosok Jessy mendekat, suaranya terdengar parau namun penuh dendam, memecah keheningan ruangan.

“Lo liat gue Jessy...! Liat gueee...!" Lena membentak, tangannya gemetar berusaha mengangkat, seolah ingin mencengkeram leher gadis yang berdiri di ambang pintu.

“Ini semua gara-gara lo, sialan...!" ia menjerit histeris. Wajahnya kusam dengan bintik kemerahan yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Rambutnya kusut berantakan, bahkan ia sekarang sulit dikenali karena perubahan drastis di fisiknya.

"Lo nyalahin gue? Nggak salah tuh? Cih... Gue nyiapin jebakan itu buat si jalang Naysilla, ngapain lo pake ikut-ikutan masuk kolam segala? Dasar tolol...!"

Ia melangkah anggun dengan wajah angkuhnya, seolah meremehkan kesakitan di depan, dan angkat tangan untuk semuanya.

"Aaaaaakhh....! Kenapa harus gue...? Kenapa harus gue yang rasain ini... Kenapa nggak lo ajah siakan...!"

"Lo jahat Jessy... Lo jahat. Lo yang pantas disini, bukan gue..." pekiknya nyaring, dengan sisa tenaga ia tumpahkan semua rasa.

Tangannya mendekap dadanya sendiri, terasa sesak, begitu sesak. Lelehan air mata membanjiri pipinya. Ia tak mempedulikan suaranya yang semakin serak, efek racun juga karena terlalu banyak berteriak.

Ia tidak terima kondisinya, sampai kapanpun ia tak akan bisa terima. Diam-diam ia mengutuk temannya, bibit kebencian mulai tertanam, serta dendam mulai tumbuh mengakar.

"Tenang Lena, tenang. Lo pasti bakal cepat pulih, dan penampilannya akan kembali seperti semula" bisik Angela lirih.

Ia merapikan surai panjangnya yang berantakan. Matanya berkaca-kaca menyaksikan penderitaan temannya ulah temannya yang lain.

Sedangkan di sisi sebelahnya, Olivia diam-diam menahan penderitaan. Ia juga korban yang ikut menelan serbuk racun itu. Selama ini ia menahan lukanya, ia menekan rasa sakit dan selalu memasang wajah baik-baik saja.

Bukan untuk terlihat kuat, tapi agar ia bisa bertahan sedikit lebih lama dan tidak di buang begitu saja.

"Kamu beruntung Lena. Kamu kaya, banyak yang sayang, banyak yang peduli. Sedangkan aku? Banyak sekali yang harus di korbannya hanya untuk sebuah pengakuan" batin Olivia.

Ia menunduk dalam, membayangkan betapa kejamnya dirinya kala itu. Ketika ibunya datang ke sekolah, memenuhi undangan yang ada, demi untuk membela dirinya.

Tapi ia memasang wajah angkuh, membangun dinding tebal untuk memisahkan dirinya dengan ibunya sendiri. Hanya karena gengsi dan ingin di akui, ia mengaku ibunya hanyalah seorang pembantu di rumahnya.

Dua gadis yang sama‑sama merasakan pahitnya racun, sama‑sama menolak menerima nasib buruk ini. Satu berani bersuara meluapkan amarah, satu lagi memilih bungkam, bukan karena lemah, tapi demi menjaga keamanan dirinya.

"Ayo guys, waktunya kita pulang"

Jessy melangkah pergi tanpa beban, tak merasa bersalah sedikitpun. Ia meninggalkan ruangan beserta luka perih yang kini menjadi milik tempat itu.

Di antara kedua gadis itu, seseorang diam‑diam menghentikan rekaman dan menyimpannya dengan aman. Identitasnya tersembunyi, menjadi rahasia di antara mereka sendiri. Lalu keduanya pun menyusul kepergian Jessy.

...****************...

Udara terasa lebih ringan ketika meninggalkan ruang UKS terbengkalai, meski tenaga Naysilla belum sepenuhnya pulih. Langkahnya sedikit gontai, bahunya sesekali bersandar lembut pada lengan Mohan yang setia menopangnya.

"Lemes, Na?"

"Sedikit..."

"Mau gendong?"

"Nggak usah. Harusnya dari tadi kek, udah mau nyampe baru ditawarin" ucapnya menggerutu. Bibirnya mengerucut ke depan, terlihat sangat menggemaskan bagi Mohan.

"Ya udah, ayo kita ulang. Nanti gue gendong dari sana"

"Besok ajah. Inget yah, lo utang gendong gue!" ucapnya penuh peringatan.

"Oke..." jawab Mohan mantap. Ia menahan senyuman, lucu sekali gadis itu, pikirnya.

"Dewi..." ucapnya lantang, tubuhnya kembali bersemangat seketika.

Di salah satu meja sudut, Dewi sudah menunggu sambil melambai ramah. Tatapannya hangat, bukan ke Naysilla, tapi pemuda berwajah dingin di sampingnya.

“Akhirnya dateng juga. Sini duduk, gue siapin minuman anget dulu yah” ucapnya lembut, menarik kursi untuk Naysilla.

"Minuman anget? Nggak mau, gue mau es" protesnya. Tapi seketika tatapan tajam menyorot padanya.

"Na..."

"Iya, iya... Teh anget yah Wi" nadanya terpaksa, yang di balas senyuman kecil di ujung sana.

"Na, gue tinggal bentar yah, ada perlu di luar"

"Tapi..."

"Nanti gue balik, bawain martabak" bisiknya lirih, dengan sedikit nada menggoda.

gadis itu duduk dengan wajah cemberut, sampai temannya datang membawa segelas teh hangat untuknya. Juga semangkuk bubur ayam toping bakso kesukaannya. Tapi pandangannya masih belum lepas dari Mohan yang masih sedikit tampak dari kejauhan

"Makan dulu, Nay. Gue temenin, sambil ngobrol-ngobrol"

Dewi mengambil duduk tepat di depannya. Wajahnya tersenyum manis seperti biasa, tapi Naysilla merasakan ada yang berbeda dari penampilan temannya.

Ia memandang intens dari atas sampai bawah, mengamatinya, sampai ia menemukan beberapa poin perubahan besar pada temannya.

"Dewi... " ucapannya ia urungkan, ketika notifikasi baru masuk di ponselnya. pesan dari Mohan, tapi tangannya yang licin malah menekan grup forum gosip sekolah, tepat pada foto Mohan yang terbaring manja di pangkuan gadis yang menyerupai dirinya.

"Lho kok, kaya..." hatinya kembali menilai foto itu, tanpa sengaja matanya menangkap hal kecil didalamnya, sebuah jam tangan mewah melingkar sempurna di tangan gadis itu, dan ia mengenalinya.

"Nggak mungkin Jessy, tapi terakhir jam itu ada sama dia..."

Ia menerka-nerka dalam hati, berniat ingin meminta pendapat pada teman di depannya, tapi seketika ia malah terkejut sendiri melihat jam yang dipakai Dewi, sama persis seperti jam yang ada di foto itu.

"Kenapa, Nay. Tadi lo mau ngomong apa" Dewi mengibaskan rambut panjangnya, rambut yang tergerai indah tidak berkepang dua seperti biasa.

"Cantik amat Wi, mau kemana nih" ucap Naysilla dengan nada menggoda.

"Biasa ajah kok, gue lagi pengen ajah tampil beda, biar cantik kaya lo, Nay" ucapnya penuh arti.

"Bagus banget jam tangannya, keliatan mewah gitu. Ini baru yah?" ucapnya menyelidik. Ia dengan cepat meraih tangan Dewi, berpura-pura takjub pada jam tangan mewah yang dipakainya, demi memastikan sesuatu yang ada. Dan yah, ia menemukannya.

"Enggak kok, ini cuma jam tiruan, KW" dustanya. Ia menarik tangannya halus.

Naysilla tetap memandang jam itu, matanya tak bisa beralih meski lapar dan dahaga melanda.

Ia tahu persis barang itu, dulu ia sering memegangnya, merasakan berat logamnya yang pas, meraba ukiran nama kecil di bagian belakang yang hanya diketahui dirinya sendiri. Tak mungkin tiruan bisa terasa sama, tak mungkin barang KW punya kilau yang persis seperti aslinya.

“Oh, gitu" ucapnya datar, berusaha menyembunyikan keraguan di balik nada biasa saja. Jemarinya tanpa sadar meremas ujung meja, membayangkan saat jam itu dirampas paksa oleh Jessy, dan belum dikembalikan hingga saat ini.

"Di makan, Nay. Keburu dingin nanti ngga enak"

Ia mendorong piring dan gelas lebih dekat, namun tatapannya menghindari tatapan Temannya. Di hati Naysilla, rasa lapar dan dahaga itu seolah terbungkus rasa dingin yang tak terjelaskan.

Ia hanya mengangguk lemah, berpura‑pura percaya, padahal satu pertanyaan terus berputar di kepalanya. Kalau benar cuma tiruan… mengapa rasanya seolah melihat kembali bagian dari diriku yang hilang, dan mengapa Dewi terlihat begitu tergesa menutupi semuanya?

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!