Emma Taylor terpaksa harus melunasi hutang pamannya kepada seorang pria asing kaya raya yang tinggal di rumah besar Anggrek Residen.
Jatuh tempo pembayaran sudah sangat dekat bagi paman Broeri untuk membayar hutang tersebut namun dia tidak mempunyai uang sepeser pun saat dia ditagih oleh pria asing kaya raya itu yang bernama Noah Jones.
Terpaksa Emma yang harus menanggung hutang tersebut kepada Noah Jones pemilik rumah Anggrek Residen.
Karena Emma Taylor juga tidak mempunyai uang buat melunasi hutang paman Broeri maka dia dipaksa membayar dengan rahimnya.
Bagaimana nasib Emma Taylor selanjutnya, sanggupkah dia melunasi hutang milik paman Broeri Goldman atau dia memilih melarikan diri.
Mari kita simak kelanjutan kisah ini dalam novel berjudul Rahim Bayaran Milik Emma.
Salam buat semua pemirsa 🎂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Suatu Kebetulan Yang Sama
Pegawai butik menangkap kekecewaan pada nyonya Charlotte, dengan tanggapnya, dia segera menawarkan secangkir minuman hangat pada nyonya Charlotte.
"Anda bisa menenangkan diri anda terlebih dahulu, mungkin dengan mencoba secangkir teh aroma terapi hangat dari butik kami, bisa meredakan ketegangan pikiran anda, nyonya." hibur pegawai butik.
Rekan kerja pegawai butik tanggap cepat, ia segera menuangkan secangkir teh aroma terapi spesial teruntuk nyonya Charlotte yang gundah gulana hatinya saat ini.
Ia sodorkan minuman hangat itu pada teman kerjanya supaya temannya itu memberikan minumam tersebut pada nyonya Charlotte.
"Silahkan menikmatinya, saya harap suasana anda kembali cerah, nyonya Charlotte seusai meminum teh terapi ini." ucap pegawai butik santun.
"Oh, alangkah beruntung nya aku, dan kuucapkan terimakasih atas keramahan kalian." kata nyonya Charlotte senang hatinya. "Aku akan lanjut kan lagi pembicaraan kita ini."
"Sama-sama, nyonya..." jawab pegawai butik dengan anggukkan kepala pelan. Dan tersenyum ramah.
Nyonya Charlotte atau wanita tua renta segera menerima secangkir teh aroma terapi yang disuguhkan kepada nya, ia memilih tempat duduk di dekat meja penerimaan tamu butik.
"Oh, iya, aku hampir melewatkan sesuatu..." ucapnya tiba-tiba.
Dua pegawai butik langsung menolehkan pandangan mereka kepada nyonya Charlotte, alis keduanya sama-sama terangkat naik. Kamudian salah satu dari mereka bicara.
"Ya, nyonya Charlotte, ada yang bisa kami bantu kembali?"
"Sebentar... Tunggu sebentar..." sahut nyonya Charlotte sambil mengarahkan jari telunjuk nya ke arah bibirnya. Ia mengedarkan pandangan matanya ke seluruh ruangan butik Dior ini, ia mencari-cari keberadaan Emma Taylor padahal semenit yang lalu perempuan muda itu berada sangat dekat disisinya.
"Siapa yang anda cari, nyonya Charlotte?" tanya pegawai butik.
"Aku mencari seorang perempuan muda bernama Wilhelmina, barusan saja dia bersamaku disini, tapi aku tidak melihatnya lagi setelah kalian datang." sahut nyonya Charlotte.
"Mungkin kami kurang memperhatikan tamu yang datang, tapi kami sedari tadi tidak melihat siapa-siapa selain anda, nyonya Charlotte. " kata pegawai butik.
Dua pegawai butik saling berpandangan satu sama lain, menatap bingung seusai mendengar penjelasan wanita tua itu.
Salah satu dari dua pegawai butik memberanikan dirinya untuk berbicara pada nyonya Charlotte.
"Apa sebaiknya kami memanggil security agar membantu anda mencari perempuan muda itu, nyonya Charlotte?" tanya pegawai butik sopan.
"Ah, tidak, tidak perlu. Biarkan saja Wilhelmina pergi, mungkin dia tergesa-gesa karena ada janji sama kekasihnya. Tadi dia sempat disini untuk membeli gaun pesta, dan dia memilih gaun Mid-Length Flared Dress in Purple Silk Faille. " kata nyonya Charlotte.
"Oh, begitu..." sahut pegawai butik dengan sikap santun, tapi pandangan matanya melirik cepat ke arah reka kerjanya, seperti memberi isyarat tertentu.
Dengan tanggapnya, rekan kerjanya segera berjalan ke arah pintu masuk butik, dia memastikan adakah orang lain di sekitar butik ini. Ia berdiri di balik pintu berkaca tebal sembari melihat ke arah luar butik.
Namun dia tidak melihat siapa-siapa diluar sana, hanya ada dua orang security yang berjaga-jaga di dekat pintu masuk.
Pegawai butik menoleh pada rekan kerjanya, dia menggeleng pelan, tanda kalau dia tidak menemukan orang lain diluar butik dan tidak ada seorangpun pelanggan lainnya selain nyonya Charlotte.
"Maafkan kami, nyonya Charlotte. Kami sadar kekeliruan pasti sering terjadi, tapi kami harap anda tidak kecewa dengan pelayanan kami." kata pegawai butik bermata biru laut itu sembari menghampiri nyonya Charlotte.
Pegawai perempuan itu tersenyum ramah seraya mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Boleh saya memberikan pijatan ringan pereda letih pada bahu anda, saya harap layanan tambahan ini dapat mengurangi rasa lelah karena lama menunggu di butik kami." ucapnya.
"Oh, ya, silahkan, tapi aku tidak mau merepotkan mu, nak. Tapi kuucapkan terimakasih atas perhatian tulus mu ini." kata nyonya Charlotte membalas dengan senyuman lembut.
"Baiklah, kita mulai sekarang saja layanan pijatan nya. Semoga anda puas dengan layanan ini, nyonya." kata pegawai butik yang mulai memijat ringan dua bahu milik nyonya Charlotte.
"Aku tadi menyarankan pada Wilhelmina supaya dia memilih gaun warna ungu itu, tapi dia pergi tanpa berpamitan padaku." kata nyonya Charlotte lalu tertawa ringan.
"Mid-Length Flared Dress in Purple Silk Faille merupakan gaun Dior paling diminati para pelanggan elite, terutama dikalangan para selebriti serta pesohor mancanegara yang melihat katalog resmi Dior." sahut pegawai butik dengan tangan terus memijat.
"Coba kau periksa, masih adakah gaun itu. Atau mungkin Wilhelmina meninggalkan nya disini karena dia tergesa-gesa pergi." kata nyonya Charlotte.
"Rekan kerja saya yang akan melihatnya." sahut pegawai butik kemudian memberi kode pada rekan kerjanya yang berdiri di balik meja penerima tamu untuk memeriksa gaun tersebut.
Rekan kerjanya segera tanggap cepat, ia berjalan keluar dari sisi meja penerima tamu menuju deretan rak baju koleksi Dior yang terpajang di dekat jendela besar.
Ia memberi tanda pada temannya itu sembari mengangkat dua jari jempolnya.
"Sip!" ucapnya dari tempatnya berdiri.
Pegawai butik yang sedang melayani nyonya Charlotte dengan servis pijat langsung menganggukkan kepalanya, ia tahu kalau Mid-Length Flared Dress in Purple Silk Faille masih di tempatnya semula.
Di toilet...
Suara air kran terdengar keras dari arah wastafel, tampak berdiri Emma Taylor di depan sana. Ia membasuh kedua telapak tangannya.
"Ssssrhhh... Ssssrhhh..." Air kran dari wastafel mengalir deras ke lengan Emma.
"Aku sangat benci bau Hermione, parfum apa yang dia pakai hingga baunya menyengat kuat seperti ini..." gerutu Emma.
Ternyata Emma masih di butik Dior, tapi dia sedang ke toilet.
"Perutku sejak tadi terasa mulas, rasanya perih sekali, situasi menegangkan yang terjadi di butik sangat membuatku tak nyaman." keluh Emma. Diraihnya kertas tisu dari gulungan lalu ia keringkan dua tangannya.
Sekali lagi ia mengaca pada cermin di wastafel, memastikan riasan wajahnya masih sempurna. Tidak ingin Noah Jones melihatnya dengan penampilan acak-acakan karena pertengkaran tadi.
"Fuih... Syukurlah... Riasan wajahku masih menempel sempurna, aku paling kesal jika harus merias kembali." lanjutnya lalu membuang kertas tisu ke arah tong sampah.
Emma segera merapikan letak gaunnya yang miring akibat tarikan Hermione.
"Aku sebaiknya mengirim pesan singkat pada Noah Jones, mungkin dia akan membacanya seusai rapat klien di kantor. Biar dia menjemput ku ke butik lalu meminta padanya untuk membantu nenek." ucapnya.
Emma terburu-buru keluar dari ruangan toilet, ia berjalan cepat sembari mengirim pesan.
Tiba-tiba ingatannya tertuju pada wanita tua renta di butik yang bersamanya lalu dia mengingat nama nenek itu.
"Se-sebentar... Tadi salah satu pegawai butik memanggil nama nenek dengan sebutan nyonya Charlotte... Apa mungkin ini suatu kebetulan yang sama...?"
Pikiran Emma terfokus kembali pada pertemuan nya dengan wanita tua renta yang dia temui di Butik Dior ini, bertanya-tanya tentang nama nenek itu yang memiliki kemiripan dengan Nenek Charlotte yaitu nenek dari Noah Jones.
"Dari nama cucunya juga kebetulan sama dengan nama Noah Jones, laki-laki yang berniat memakai rahimku buat menanam benih calon anaknya. Dan nama nenek itu juga mirip dengan neneknya Noah Jones yang bernama sama Charlotte." ucap Emma mulai berpikir serius.
Saking seriusnya, kepala Emma miring ke kiri dan otomatis tubuhnya condong ke samping kiri. Ia berdiri sambil melipat tangan ke depan dada, dengan salah satu tangannya menggenggam Vertu.
"Satu lagi yang sama dengan mereka berdua, cucu nenek itu juga sama sedang ada urusan penting dengan kliennya, sama halnya yang terjadi situasinya pada Noah Jones."
Emma tak habis mengerti, bagaimana mungkin ada suatu kebetulan yang sama diantara mereka berdua. Mulai dari nama, urusan pekerjaan hingga nama nenek mereka yang mirip.
Ia menarik nafas panjang lalu mendongak ke atas, pandangannya tertuju ke langit-langit di koridor jalan masuk menuju ruangan Butik Dior.
Emma terus saja memikirkan tentang kemiripan itu, tapi ia tidak terlalu ambil pusing buat larut dalam keadaan unik yang menjadi suatu kebetulan itu. Ia lanjutkan langkah kakinya maju menuju ruangan dalam butik.