Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak seharusnya.
"Ada apa?" tanya Aiden sambil menerima kertas dari tangan Kirana.
Kirana tidak menjawab, wajahnya tetap pucat saat menatap dokumen yang baru saja dibaca. Selina terlihat semakin gelisah, sementara Gavin mulai kehilangan kesabaran karena tidak seorang pun mau menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Jangan membuat saya menebak." Gavin mengusap wajahnya.
Aiden membaca beberapa baris pertama alu matanya langsung menyipit. Ekspresi santainya menghilang dalam hitungan detik, dokumen itu memang hanya selembar kertas tetapi isinya cukup untuk membuat suasana di sekitar mereka berubah.
"Ini dari mana?" Aiden mengangkat pandangannya.
"Aku menemukannya di dalam kotak arsip." Selina merapatkan tasnya ke dada. "Awalnya aku pikir itu tidak penting."
"Kamu yakin dokumen itu milik Rendra?" tanya Kirana sambil menatap Selina.
"Aku menemukannya bersama catatan-catatan lain." Selina mengangguk. "Semuanya disimpan di tempat yang sama."
Aiden kembali melihat lembar tersebut, daftar akses internal Pradana Group yang tercetak di sana bukan informasi publik bahkan beberapa data di dalamnya hanya bisa diketahui oleh orang-orang tertentu di lingkungan perusahaan.
"Bos." Gavin mendekat. "Saya tidak suka wajah itu."
"Aku juga tidak suka isi dokumennya." Aiden menyerahkan kertas itu kepadanya.
Gavin membaca cepat lalu langsung membeku.
"Ini bukan daftar biasa." Gavin mengangkat kepala.
"Aku tahu."
"Kenapa dia bisa punya ini?"
"Itu yang ingin aku ketahui."
Kirana berdiri diam sambil memikirkan satu hal yang sama, jika dokumen itu benar-benar berasal dari Rendra berarti pria tersebut sudah mencari informasi tentang Pradana Group jauh sebelum mengajukan mutasi.
"Tuan." Staf HR kembali menghampiri mereka. "Kami sudah mencoba menghubungi Pak Rendra beberapa kali."
"Hasilnya?" Aiden menoleh.
"Masih tidak aktif."
"Ada yang melihat dia keluar gedung?"
"Belum ada laporan."
Aiden mengangguk singkat, situasi mulai terlihat semakin buruk. Jika Rendra tidak bersalah, menghilang tepat setelah informasi itu ditemukan adalah keputusan paling bodoh yang bisa dilakukan.
"Aku akan ke ruang rapat." Aiden memasukkan dokumen ke dalam map yang dibawanya.
"Saya ikut." Kirana langsung melangkah maju.
"Tidak."
"Saya perlu tahu apa yang terjadi."
Aiden menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas pelan.
"Baik." Aiden mengangguk. "Tapi tetap di sampingku."
Gavin langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau saya?"
"Kamu ikut juga." Aiden berjalan menuju lift.
"Saya selalu tahu Bos sayang saya." Gavin tersenyum puas.
"Jangan membuatku berubah pikiran."
Ruang rapat utama sudah dipenuhi beberapa manajer ketika mereka tiba, Armand berdiri di dekat layar proyektor dengan wajah serius sementara beberapa orang lain terlihat sedang membaca dokumen yang sama.
"Kita mulai." Armand menutup mapnya. "Ada perkembangan baru terkait karyawan yang baru bergabung pagi ini."
Suasana langsung berubah sunyi.
"Rendra Atmajaya saat ini tidak dapat dihubungi." Armand mengalihkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Dan beberapa dokumen tambahan baru saja ditemukan."
Beberapa manajer saling berpandangan.
"Dokumen apa?" tanya salah satu manajer.
"Informasi internal perusahaan." Armand menjawab singkat.
"Itu sudah dipastikan?"
"Belum."
"Kalau begitu kenapa kita membahasnya sekarang?"
"Karena saya tidak suka menunggu sampai masalah menjadi lebih besar."
Tidak ada yang membantah, sebagian besar orang di ruangan itu sudah mengenal Armand cukup lama untuk tahu bahwa pria tersebut tidak pernah bereaksi berlebihan tanpa alasan.
"Tuan." Seorang staf keamanan mengetuk pintu lalu masuk dengan wajah tegang.
"Ada apa?" Aiden menoleh.
"Kami menemukan sesuatu."
Ruangan kembali sunyi.
"Apa?" Armand mengernyit.
"Mobil Pak Rendra masih ada di area parkir."
Beberapa orang langsung saling berpandangan.
"Masih ada?" Gavin mengangkat alis.
"Iya."
"Berarti dia belum pulang."
"Sepertinya begitu."
Aiden langsung berdiri, jika mobil Rendra masih berada di gedung berarti ada kemungkinan pria itu masih berada di sekitar kantor.
"Periksa seluruh area." Aiden menatap staf keamanan.
"Kami sudah mulai."
"Percepat."
"Baik, Tuan."
Staf itu segera keluar, begitu pintu tertutup suasana kembali dipenuhi ketegangan. Tidak seorang pun menyukai arah perkembangan situasi tersebut.
"Kamu percaya dia terlibat?" tanya Kirana pelan.
Aiden tidak langsung menjawab, ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar soal pekerjaan. Bagi Kirana, jawaban tersebut menyangkut seseorang yang pernah menjadi bagian terbesar dalam hidupnya.
"Aku belum punya cukup fakta." Aiden akhirnya bersuara.
"Itu bukan jawaban."
"Itu satu-satunya jawaban yang jujur."
Kirana menunduk, ia tidak bisa membantah.
Sementara itu, di lantai parkir bawah tanah yang jarang digunakan seseorang berdiri di antara deretan kendaraan yang sepi. Ponsel di tangannya masih menampilkan puluhan panggilan tak terjawab, tetapi tidak satu pun mendapat respons.
Rendra menatap layar itu beberapa saat sebelum mematikannya, ia tahu semuanya akan sampai pada titik ini hanya saja ia tidak menyangka secepat ini. Langkah kaki terdengar dari kejauhan, Rendra langsung mengangkat kepala.
"Jadi kamu benar-benar di sini." Suara seorang pria terdengar dari balik deretan mobil.
Rendra langsung menegang.
"Kamu." Rendra mengepalkan rahangnya.
"Aku sudah bilang kita akan bertemu lagi." Pria itu tertawa pendek lalu mendekat perlahan.
"Aku tidak ingin melihatmu."
"Itu masalahmu." Pria tersebut berhenti beberapa langkah di depannya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rendra dengan suara rendah.
"Mengambil kembali sesuatu yang menjadi milikku."
"Kamu gila."
"Mungkin."
Pria itu tersenyum tipis, tetapi sorot matanya sama sekali tidak menunjukkan humor.
"Kamu yang membocorkan semuanya?" Rendra menatapnya tajam.
"Akhirnya kamu bertanya juga."
Jawaban itu membuat wajah Rendra langsung berubah karena selama ini ia mengira masalah yang muncul berasal dari perusahaan lamanya, ternyata tidak.
"Kamu tidak akan lolos." Rendra melangkah maju.
"Aku tidak berencana lari."
"Kenapa sekarang?"
"Karena waktunya sudah tepat."
Pria itu memasukkan kedua tangannya ke saku sambil tetap tersenyum.
.
Di ruang rapat, ponsel Aiden tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, awalnya ia berniat mengabaikannya, tetapi isi pesan yang muncul membuatnya langsung berdiri.
"Ada apa?" tanya Armand.
Aiden tidak menjawab, ia hanya menunjukkan layar ponselnya dan dalam sekejap, seluruh ruangan berubah tegang karena pesan itu hanya berisi satu kalimat pendek:
Kalau ingin tahu kebenaran tentang Rendra, datang sendiri ke parkir bawah tanah.
Di bawah kalimat itu terdapat satu foto. Foto Rendra dan seseorang yang berdiri tepat di depannya.