NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO / Tamat
Popularitas:41.1k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

punggung yang tak tersentuh

ya besar. Guntur sambar-menyambar, hujan nekat nabrak jendela kamar kayak mau masuk.

Tapi Vivian tak takut.

Sehabis dari kamar Chindy, negosiasi alot sama adik iparnya itu, Vivian kembali ke kamarnya. Badannya lengket. Gerah. Segegerah hati Chindy yang sekarang sedang merenung di dalam kamarnya, antara mau percaya Vivian atau mau terus benci.

Vivian memutuskan untuk melakukan ritual malam ganjil. Ritual wajib ibu hamil anak Wijaya.

Lulur, kemudian berendam air hangat. Bisa membuat tubuh hamilnya rileks, biarpun hujan badai di luar masih menggelegar dan listrik sempat _jepret_ sekali.

Vivian melepas pakaian-nya satu per satu. _Cardigan_, gaun rumah, semuanya. Membiarkan-nya menggunung di atas ranjang. Paling atas, tentu saja, _topping_-nya: daleman _Victoria’s Secret_, _lace_ hitam. Beli sendiri. Pakai sendiri. Belum ada yang buka.

Kemudian melilitkan handuk putih bersih, tebal, menutupi dada sampai paha. Mengikatnya kencang di atas dada.

Gadis itu berjalan pelan ke arah kamar mandi. Lantainya dingin. AC kamar mandi udah nyala duluan. Dia nyalakan _shower_, air hangat langsung mengguyur bahu dan rambutnya. Membuat tubuhnya setengah basah, handuknya makin nempel ke kulit.

Setelahnya Vivian mengambil lulur herbal di rak marmer. Yang direkomendasikan Dokter Hendra. Wangi sereh sama melati. Cocok untuk kulit ibu hamil, gak panas, gak bikin kontraksi.

"Yang paling aku sukai dari dunia ini adalah aku orang kaya," gumamnya sambil tersenyum miring ke cermin yang mulai berembun. "Bisa beli lulur 3 juta tanpa mikir. Bisa hamil tapi tetap _glowing_."

Tangannya dengan lembut melumuri seluruh tubuhnya dengan krim lulur. Dari leher, bahu, lengan. Gerakannya pelan, memutar, memijat. _Me time_. Satu-satunya waktu dia gak jadi Vivian si menantu, Vivian si kakak ipar, Vivian si musuh Chindy. Cuma jadi Vivian.

...

Sementara di ruang tengah, Eric tak mendapati suara apapun dari lantai atas. Gak ada teriakan. Gak ada suara banting pintu kedua. Chindy dan Vivian tidak bertengkar? Pikirnya.

Karena suasana terlalu hening. Aneh. Biasanya kalau Vivian habis "sidang" sama Chindy, minimal ada suara _prang_ atau jerit Cika.

Eric kemudian bangkit dari kursinya. Gelas _whisky_-nya ditaruh. Berjalan ke arah tangga. Nampak dari kejauhan, pintu kamar Chindy tertutup rapat. Lampu dari celah bawah pintu masih nyala. Sepertinya tak terjadi apa-apa. Atau udah selesai perang.

Pria itu beralih. Berjalan mendekat ke arah kamarnya. Kamarku, koreksinya. Kamar Vivian.

Saat pintu dibuka, tak ada sosok yang ia cari. Vivian.

Hanya setumpuk pakaian di atas kasur. Gaun rumah, _cardigan_, dan... _bertopping_ daleman _Victoria’s Secret_ warna hitam di atasnya. _Lace_.

Eric langsung buang muka. Rahangnya mengeras. _Kenapa ditaruh situ._

_BUG..._

Perhatian Eric teralihkan. Suara benda jatuh. Dari kamar mandi. Keras. Kayak botol kaca ketemu lantai.

Pria itu dengan cepat berlari ke arah kamar mandi. Instingnya bilang: Vivian jatuh. Lantai licin. Hamil.

Tanpa permisi, tanpa ketok, tangannya langsung dorong pintu. _Brak_.

Matanya seketika terbelalak melihat pemandangan yang ada di depannya.

Vivian. Menunduk. Satu lutut napak di lantai _marble_. Tangannya lagi mungut botol lulur yang jatuh. Handuknya... melorot. Turun sampai pinggang karena posisinya. Punggungnya polos, putih, masih belepotan krim lulur yang belum rata. Rambut basah nempel di tengkuk. Tetes air ngalir dari ujung rambut, lewat tulang punggung, hilang di lipatan handuk.

Mata gadis itu juga langsung terarah pada sosok di depan-nya. Eric. Dengan kaos basah kena tempias, muka kaget, mata gak berkedip.

"Aaa...!!!" Teriaknya spontan. Refleks. Tangannya narik handuk ke atas, nutup dada. Botol lulur jatoh lagi.

Wajah Eric merah. Merah padam sampai ke telinga. Kayak kepiting rebus. Malu. Salah tingkah. Terutama salah dia. "So-sorry," gagapnya. Pertama kali Eric gagap sejak umur 5 tahun.

Langsung ingin keluar dan menutup pintu. _Tutup. Lupa. Anggap gak liat._

Namun sebelum pria itu pergi, sebelum kakinya nyampe pintu, tangan Vivian dengan cepat menggenggam pergelangan tangannya. Basah. Dingin. Ada sisa lulur.

"Terlanjur sudah di sini," ucap Vivian. Napasnya masih kaget, tapi suaranya... lembut. Nahan malu juga. "Bantu aku oleskan ini di punggung. Tanganku gak sampe."

Dia ngasongkan botol berisi krim lulur. Botol kaca dingin. Isinya tinggal setengah.

Eric tak bisa menolak. Dia sudah terjebak. Mau mundur, gengsi. Mau maju, jantungnya mau copot. Di depan mata: punggung istri. Yang 2 tahun ini cuma dia sentuh pas berantem.

Kini Vivian duduk di dalam _bathtub_ yang belum diisi air. _Bathtub_ marmer, gede. Dia duduk nyamping, kaki ditekuk. Handuk masih melilit dada, tapi punggung terbuka. Matanya fokus ke depan, ke dinding. Tegak. Canggung. Kayak patung.

Sementara Eric jongkok di luar _bathtub_. Lututnya nyentuh lantai dingin. Tangannya... gemetar. Baru kali ini.

Dia tuang lulur ke telapak tangan. Dingin. Terus dengan lembut, mengoleskan krim ke punggung Vivian.

Gerakannya pelan. Hati-hati. Persis seperti sedang memandikan bayi. Atau megang barang antik Dinasti Ming. Dari bahu, turun ke tulang belikat, ke pinggang. Gak berani lebih turun.

Suasananya canggung. Hanya ada suara hujan di luar, suara _shower_ yang masih netes, dan suara napas mereka berdua yang sama-sama ditahan.

Kulit Vivian halus. Anget. Ada bekas _bra_ dikit. Eric ngeliat itu, terus buang muka lagi. _Fokus, Eric. Ini punggung. Bukan apa-apa._

"Apa kamu butuh dipijat?" Tanya Eric. Suaranya pecah. Serak. Saat merasakan punggung Vivian tegang. Ototnya kaku semua.

Bukan khawatir pada Vivian. Sama sekali bukan. Dia khawatir pada bayinya. Ibu stres, bayi stres. Dokter Hendra bilang gitu. _Alasan_.

"Mungkin," jawab Vivian. Pelan. Sambil mencairkan suasana, biarpun dadanya udah _dig dug_ tak bisa bohong. Jantungnya 200 km/jam. "Tegang banget. Dari tadi _meeting_ sama Chindy."

Eric diem. Jempolnya nekan pelan di antara tulang belikat Vivian. Satu. Dua. Vivian gigit bibir. _Geli. Panas. Salah tingkah._

"Selesaikan mandinya cepat," ucap lelaki itu akhirnya. Suaranya balik datar. Topeng CEO-nya dipake lagi. Cepet. "Aku akan pijat kamu. Di kamar. Lima menit."

Dia berdiri. Gerakannya kaku kayak robot habis _update_. Cuci tangannya di _wastafel_, sabunan 10 detik, kayak dokter mau operasi. Terus keluar dari kamar mandi. Pintu ditutup pelan. _Klik_.

Gak nengok. Gak bilang "jangan lama-lama". Cuma pergi.

Vivian masih diem di _bathtub_. 5 detik. 10 detik.

Terus dia napas. Panjang. _Fuuuh_.

"Tenangkan dirimu, Vivian," bisik Vivian ke cermin berembun. Dia mukul pipinya sendiri. Lembut. _Pluk. Pluk_. "Dia peduli bayinya. Bukan kamu. Jangan baper. Jangan baper. Dia Eric. Es batu. Kulkas dua pintu."

Tapi kenapa tangannya tadi... anget banget?

Di luar, Eric sandaran ke pintu kamar mandi. Tangannya masih bau melati. Jantungnya belum normal.

_Sial_. _Kenapa harus aku yang liat._

Lima menit. Dia janji pijat. Karena bayi. Bukan karena punggung itu putih banget. Bukan.

Hujan makin deras. Di dalam, dua orang sama-sama perang sama diri sendiri.

Romantis? Iya.

Dingin? Banget.

Lanjut? Tergantung siapa yang nyerah duluan.

lanjutin yang di hotel gak nih? komen sebanyak-banyaknya...

Kasih gift biar gak di ganggu Cika🥵.

1
Ai Oncom
Suka ceritanya.. Bagus.. keren..
MOZZA AUDYA
bagussss aku suka kek nya bakal jadi favorit aku nih
Uthie
Duhhh.... keseruan dan hangatnya keluarga mereka masih ikut berasa banget bacanya Thor 😍👍👍

pleasee bonus nya lagiiii 🙏🙏🙏
Uthie
Yaaaa.... dah Ending dehhhh 😍😍😍😍

Pastinya berkesan donggg... kan dah ikutin sampai sinii 😘😘😘😍

Semangat berkarya.... ditunggu lagii yg bagus nya gak kalah dari kisah Vivian dan Eric 👍😘😁😍😍
Anne
mkasiiii thorr😍
Irsyad layla
lanjut dulu dong thor sampai buk Ratna balik
Pisces97
kisah Vivian ada ngeh ga Thor erick dan keluarga nya sebenarnya Vivian asli bukan dari novel ???
Uthie
Season 2 nya gpp lanjut aja👍😍🤗

Gak akan bosen koq ceritain soal kebucinan dan posesif nya Eric👍👍
juga kisah Chindy dan Cika juga 👍🤗

kalau bisa ada Silvi dan Endru juga ikutin main 👍😁
Uthie
Silvi dan Endru apa ada dicerita lain? kalau ada mauu dong info 😍😍🙏
Uthie
mengharukan semuanya 🙂
Nurfi Susiana
silvi ama endru kayaknya seru juga thor,,boleh lh di spil agak banyak atau ada lapak sendiri gitu😄😄
Uthie
Yaaaa... semoga bukan Ending nya yaaa 😭
lexxa
jan mati vivian, suami kita nanti gimn?
Uthie
seruuu 😍👍
Anne
mauuuu
Uthie
Segera lapor Eric itu 😡
Uthie
Part ini berasa panjaanggg banget isinya... Puasssss 😍😍👍
Uthie
sepertinya masih panjang cerita soal Cika dan dendam nya Kevin Thor... Jangan buru-buru End 😁
Uthie
nicee💞
Uthie
Duhhh segera tangkap tuhhh si Alea 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!