Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Langkah kaki Nara terasa berat, seolah setiap jengkal tanah pemakaman yang ia tinggalkan berusaha menahannya untuk tetap di sana. Di depan gerbang, ia melihat siluet mobil hitam mewah yang sangat ia kenal. Bagas. Pria itu bersandar di pintu mobil, menatapnya dengan binar mata yang sarat akan duka dan kerinduan yang tertahan. Bagas tidak bergerak mendekat, ia tahu batas. Ia tahu bahwa saat ini, Nara bukanlah milik siapa pun, bahkan bukan milik dunia. Nara adalah milik kesunyiannya sendiri.
Nara sempat menghentikan langkahnya sebentar, menatap mata Bagas dari kejauhan. Tak ada senyum, tak ada lambaian tangan. Hanya tatapan datar yang kosong. Ia kemudian mengalihkan pandangannya saat sebuah motor ojek berhenti tepat di depannya. Ia ingin ketenangan, setidaknya untuk beberapa hari ke depan, tanpa interupsi dari dunia Bagas yang berkilauan namun menyesakkan.
Nara naik ke atas motor tanpa menoleh lagi. Di tengah perjalanan yang berdebu, ponsel di saku roknya bergetar. Sebuah notifikasi masuk, disusul sebuah pesan singkat.
Aku sudah mengirimkan sedikit untuk peganganmu beberapa hari ke depan. Tolong jangan tersinggung, aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin kamu punya pegangan agar bisa beristirahat dan tidak perlu kembali ke tempat itu (klub) sekarang. Aku merindukanmu, tapi aku sangat menghargai privasimu saat ini.
Nara menatap saldo rekeningnya yang kini bertambah angka yang cukup fantastis bagi orang seperti dirinya. Ia menghargai kebaikan itu, sangat menghargainya, namun ia hanya menyimpan ponselnya kembali tanpa niat membalas. Kata-kata terasa seperti beban tambahan yang tak sanggup ia pikul saat ini.
Saat motor ojek itu memasuki gang sempit menuju rumahnya, suasana berubah drastis. Biasanya, ia akan disambut oleh tatapan sinis atau tawa mengejek. Namun sore ini, udara terasa berbeda. Di depan warung kelontong, beberapa warga berkumpul dengan wajah yang berubah kikuk saat melihatnya.
"Itu Nara..." bisik seorang warga.
Nara turun dari motor, membayar ongkos, dan berjalan dengan punggung tegak. Ia melihat Bu Tyas berdiri di ambang pintunya sendiri, menatap Nara dengan mata yang memerah. Rupanya, Bu Tyas sempat ke rumah sakit pagi tadi untuk menjenguk, namun ia justru mendengar kabar duka itu dari suster sebelum sempat menemui Nara.
"Nara..." Bu Tyas melangkah maju, tangannya ragu-halu ingin menyentuh bahu Nara. "Turut berduka ya, Nak. Ibu tadi ke rumah sakit, tapi kalian sudah tidak ada..."
Nara berhenti sejenak, menatap Bu Tyas dengan sorot mata datar namun tajam.
"Terima kasih, Bu. Ibu saya sudah tenang."
Nara melanjutkan langkahnya. Namun, telinganya yang tajam masih menangkap bisikan dari sudut lain gang, dari mulut-mulut yang seolah tak pernah lelah berkomentar.
"Kasihan ya, tapi ya mau bagaimana lagi. Mungkin ibunya sudah capek dengar omongan orang, makanya penyakitnya makin parah," celetuk seorang wanita di balik pagar.
"Iya, lagian uang hasil kerja begitu apa berkahnya untuk obat," timpal yang lain dengan nada rendah.
Nara tidak berhenti. Ia tidak membalas. Ia masuk ke dalam rumahnya yang sunyi, mengunci pintu rapat-rapat, dan menyandarkan tubuh di balik kayu pintu. Ia menghirup aroma rumah yang masih menyisakan wangi minyak kayu putih kesukaan ibunya. Rumah ini sederhana, penuh kenangan, namun kini terasa begitu luas sekaligus menghimpit.
Ia berjalan ke kamar, merebahkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti pakaian. Selendang hitam yang ia kenakan di pemakaman masih tersampir asal di rambut dan bahunya. Nara menatap langit-langit kamar. Tak ada raungan. Hanya lelehan air mata yang mengalir ke samping, melewati pelipisnya, karena posisinya yang terlentang.
Ia teringat betapa pahit hidupnya.
Ia teringat masa kecilnya. Ayahnya pergi saat ia masih sangat belia, meninggalkan ibunya yang harus berjuang sendiri. Nara tumbuh dengan menari; tari tradisional adalah napasnya. Dulu, ia bangga mengenakan kebaya, meliukkan jemarinya dengan anggun di atas panggung budaya. Namun, kanker darah yang menyerang ibunya mengubah segalanya. Biaya rumah sakit tidak bisa dibayar hanya dengan tepuk tangan penonton seni. Ia terjun ke dunia malam, menukar keanggunan tari tradisional dengan godaan tiang tari klub malam demi botol-botol kemoterapi.
"Nara hanya ingin Ibu hidup lebih lama," bisiknya pada keheningan. "Apa itu salah?"
Demi biaya rumah sakit yang mencekik, ia terjun bebas ke jeratan tiang tari klub malam. Ia menukar keanggunan tarian tradisional dengan sorot lampu remang demi detak jantung ibunya yang kini tetap saja berhenti.
Sementara itu, di sebuah kediaman megah, suasana justru sedang membara. Bagas berdiri dengan tangan mengepal di depan ibunya yang duduk tegak dengan wajah merah padam.
"Kamu sudah gila, Bagas! Benar-benar gila!" teriak ibu Bagas sembari membanting laporan dari orang suruhannya.
"Aku tidak gila, Ma. Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja, aku hanya mencintai seorang wanita yang sedang kehilangan dunianya," jawab Bagas dengan suara rendah namun penuh penekanan."
"Wanita? Kamu sebut penari klub itu wanita yang pantas untuk keluarga kita? Ayahmu menelepon dari Singapura. Dia pusing setengah mati menutup berita agar tidak sampai ke media! Kamu mau menghancurkan reputasi bisnis kita hanya karena seorang anak 'pelacur'?"
Bagas menarik napas panjang. Bagas maju satu langkah, matanya berkilat marah.
"Jaga bicara Mama, aku tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Mama! Nara bukan pelacur. Dia menari karena dia terdesak. Dan ibunya baru saja meninggal tadi pagi. Di mana rasa kemanusiaan Mama?"
"Kemanusiaan tidak akan memberimu keuntungan saham, Bagas! Sinta adalah pilihan yang tepat. Keluarganya setara dengan kita!"
"Aku sudah membatalkan pertunangan dengan Sinta. Itu sudah final," potong Bagas cepat.
Nyonya besar nan terhormat itu tertawa sinis, sebuah tawa yang kering dan tajam.
"Baik. Batalkan saja dengan Sinta jika itu maumu. Mama tidak peduli lagi soal Sinta. Tapi dengarkan ini baik-baik, Bagaskara... Mama tidak akan pernah, sampai detik napas terakhir Mama, merestui kamu dengan perempuan itu. Never!Jangan harap dia bisa menginjakkan kaki di rumah ini."
"Aku tidak butuh restu jika restu itu harus dibayar dengan kebahagiaanku, aku mencintainya," balas Bagas dingin.
"Kamu pikir hidup dengan cinta saja cukup? Dia itu pembawa sial! Lihat ibunya, mati dalam kehinaan karena gunjingan orang. Kamu mau bernasib sama? Cinta? Itu hanya nafsu sesaat karena kamu melihatnya molek di atas panggung! Suatu saat kamu akan sadar dia hanya sampah yang mencoba menempel di permata!"
Bagas menatap ibunya dengan tatapan kecewa.
"Cukup, Ma!" Bagas membentak, membuat ibunya terdiam sejenak. "Nara adalah hal terbaik yang pernah terjadi di hidupku yang membosankan dan penuh kepura-puraan ini. Mama boleh membencinya, tapi Mama tidak bisa menghentikanku untuk menjaganya."
Bagas berbalik, hendak keluar dari ruangan itu. Namun langkahnya terhenti oleh suara ibunya yang kini merendah, namun lebih mengancam.
"Bagas, kamu anakku. Aku tahu kamu hanya sedang merasa kasihan padanya. Itu bukan cinta, itu simpati yang salah tempat. Suatu saat kamu akan sadar bahwa dia tidak lebih dari sampah yang mencoba menempel di permata."
Bagas menoleh sedikit, tersenyum pahit.
"Mungkin bagi Mama dia sampah. Tapi bagiku, dialah satu-satunya yang asli di antara semua perhiasan mahal yang Mama miliki."
Bagas melangkah pergi, meninggalkan ibunya yang gemetar karena amarah. Nyonya besar itu segera mengambil ponselnya, jarinya menari cepat mencari sebuah nomor.
"Halo? Cari tahu di mana rumah gadis itu. Aku ingin alamat lengkapnya besok pagi. Dan pastikan tidak ada yang tahu aku pergi ke sana."
"Dia harus disingkirkan sebelum Bagas benar-benar kehilangan akal," gumamnya pelan.
Keesokan paginya.
Cahaya matahari masuk dengan malu-malu ke dalam ruang tamu Nara yang berdebu. Nara baru saja selesai membersihkan sisa-sisa bunga dari pakaiannya semalam. Ia belum makan, hanya meminum segelas air putih sejak pagi. Keheningan rumah itu tiba-tiba pecah oleh suara deru mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan gang, disusul suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang terdengar asing di lantai tanah depan rumahnya.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu tidak terdengar seperti ketukan tetangga yang ingin mengucap duka. Ketukannya berwibawa, menuntut, dan penuh kuasa.
Nara berdiri. Ia merapikan sedikit rambutnya yang kusut, namun tak ada niat untuk memoles wajahnya. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah tenang. Saat pintu kayu itu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan pakaian sangat berkelas dan kacamata hitam berdiri di sana. Aura dingin dan meremehkan langsung menyeruak masuk sebelum si tamu sempat berucap.
Nara menatap wanita itu, ibu Bagas, wanita elegan nan angkuh yang pernah dilihatnya di acara pertunangan Bagas dan Sinta dulu, dia tidak lupa. Nara menatapnya tenang terkesan datar, tanpa kedipan. Tak ada rasa takut, tak ada kejutan, apalagi ekspresi sedih. Wajahnya sedatar dinding batu, namun sorot matanya setajam belati yang baru saja diasah.
Wanita di depannya membuka kacamata hitamnya, menatap rumah kumuh Nara dengan raut jijik yang tak disembunyikan.
"Jadi... ini rumah penari yang sudah menyihir putraku?" tanya ibu Bagas dengan nada menghina.
Nara hanya diam, memegang gagang pintu dengan tangan yang kokoh, menatap lurus ke dalam mata wanita yang kini menjadi ancaman baru dalam hidupnya yang sudah hancur.
besok ditunggu ya next chapter nya.
bahagia buat Nara & Othor ;)
Tq, sehat selalu😊
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊