Dave yakin guru tk para keponakannya adalah perempuan yang menjadikannya sebagai sasaran kekalahannya dalam permainan true or dare dua malam yang lalu.
Bisa bisanya perempuan yang suka clubbing jadi guru tk. Bagaimana nanti masa depan keponakan keponakannya?
Semoga suka♡♡♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ditolak dan dipecat
Baskara masih menatap foto foto Rhea dengan hati yang tiba tiba merasa terluka. Seolah ada yang direnggut paksa di sana.
Gadis yang ingin dia seriusi ternyata sudah punya kekasih.
"Kak, masih tetap akan melanjutkan pertunangan dengan Rhea?" tanya Talisha setelah cukup lama bersabar melihat kediaman laki laki idamannya.
"Kamu dapat foto ini dari mana?' tanya Baskara dengan tatapan menyudutkan Talisha.
"Ada yang mengirimkannya padaku. Maaf, aku ngga bisa bilang orangnya kak. Katanya dia ketemu Rhea di club," bohong Talisha lancar.
"Temanmu?" kejar Baskara.
"Teman lama."
"Jani atau Moli?" tanya Baskara lagi.
Talisha tersenyum kaku.
"Aku ngga bisa bilang, kak."
Baskara menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Ngga yakin kalo Jani atau Moli yang melakukannya.
"Ngga masalah siapa yang ngambil fotonya, kak. Sekarang tergantung Kak Baskara aja." Talisha berusaha mempengaruhi Baskara yang masih sibuk dengan pikirannya.
"Mungkin kita harusnya bersyukur, jadi tau kalo Rhea udah punya pacar. Misalnya pertunangan Kak Baskara dan Rhea mau dilanjut, Kak Baskara ngga khawatir kalo nanti Rhea berhubungan lagi dengan kekasihnya ini?"
Baskara menatap gadis di depannya. Pikirannya sedikit menyetujui yang dikatakan Talisha. Tapi hatinya sudah terlalu dipenuhi oleh Rhea.
Saat tau Rhea dijodohkan dengannya, dia merasa jalannya makin mudah bersama Rhea. Setelah bertahun tahun menyimpan asa.
"Aku harus menemui Rhea dulu. Kami akan bicarakan hal ini." Baskara tidak merasa perlu lagi terlalu lama untuk mengobrol bersama Talisha. Dia akan menghubungi Tante Nara, meminta klarifikasi foto foto ini. Jadi dia langsung bangkit dari duduknya.
"Pertunangannya akan dibatalkan, ya, kak?" Talisha juga ikutan bangkit dengan hati dipenuhi rasa bahagia. Dia masih bisa berharap lagi dengan Baskara.
Baskara tersenyum tipis.
"Aku akan minta Rhea memutuskan pacarnya." Setelah mengatakannya Baskara berjalan pergi meninggalkan Talisha. Rhea akan menikah dengannya, karena kedua orang tua mereka sudah setuju. Baskara akan melupakan foto foto ini.
Rahang Talisha seperti terlepas dari wajahnya dan jatuh ke lantai dengan keras hingga hancur ngga berbentuk.
Dia ngga salah dengar? batinnya terkejut.
Tangan Talisha mengepal kuat karena ngga terima dengan ucapan Baskara. Dia menatap nanar punggung laki laki yang sudah ditaksirnya sejak SMA yang kini sudah menjauh.
Dia kemudian menatap foto Rhea di ponselnya dengan geram.
Kenapa kesalahan kamu bisa dimaafkan semudah ini!
Tangannya makin erat menggenggam ponselnya.
Getaran ponsel yang tiada henti membuat dia mendekatkan ponselnya ke telinganya.
Papanya yang menelponnya. Dengan perasaan malas, Talisha mengangkatnya.
"Ada apa, pa?" tanyanya pelan.
Bukan suara papanya yang dia dengar. Melainkan henbusan nafas berat papanya.
"Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Aku melakukan apa, pa?" Talisha merasa kesal mendengar perkataan papanya di saat hatinya yang sedang terpuruk begini.
"Kenapa kamu memfoto Rhea dan mengirimkan foto ngga pantasnya ke papanya?!" Suara Andika-papa Talisha sedikit menggelegar.
'Fitnah itu, pa!" Bantah Talisha cepat setelah keterkejutannya hilang. Dia yang ngga menyangka papanya akan menyasar topik demikian ditengah memburuknya perasaannya saat ini.
Papanya, kok, bisa tau? Batinnya panik.
Terdengar lagi hembusan nafas papanya. Kali ini lebih berat dan panjang.
"Kamu sudah tidak bisa membantah lagi. Buktinya ada. Jani dan Moli sudah memberitau."
DEG DEG DUAR!
Hening.
Jani?
Moli?
Kurang ajar kalian!
"Mereka bohong, pa. Mereka sekongkol. Aku dapat fotonya dari Jani, pa. Aku ngga kirim kemana mana," bohongnya berusaha meyakinkan papanya sambil melemparkan tuduhan pada temannya.
Hening.
"Kamu benar ngga bohong?"
"Ngga, pa." Talisha menjawab tegas.
"Papa berusaha percaya denagn kamu. Kalo kamu memamg punya fotonya, hapus sekarang. Jangan tunjukkan pada siapa siapa."
"Iya, pa. Aku hapus sekarang."
Terdengar helaan nafas lega Andika.
"Syukurlah kalo bukan kamu yang melakukannya. Kamu kapan pulang?"
"Sore ini, pa." Talisha menatap foto Rhea yang masih ada di layar ponselnya dengan geram.
"Kamu mau ketemu cucunya Opa Hendy?"
"Papa tau?" Talisha bertanya antusias.
"Opamu yang bilang. Tapi kata kamu, laki laki itu tidak tertarik dengan kamu? Lebih baik lupakan saja. Masih banyak laki laki yang lain."
"Bukan tidak, pa. Tapi belum."
"Lebih baik ngga usah aja. Masa lalu keluarga laki laki itu suram. Lebih baik kamu pulang aja."
Keningnya mengernyit. Dia memang belum tau apa apa soal Dave. Apalagi keluarganya. Selama ini yang dia tau, keluarga Dave baik baik aja.
"Masa lalu keluarganya?"
"Sudah, jangan tanya tanya lagi. Papa mau ketemu Nazar dulu."
Talisha hampir protes, tapi papanya sudah memutuskan komunikasi mereka.
Talisha masih terdiam karena percakapan terakhir papanya mengganggu pikirannya. Tapi kemudian dia memutuskan pergi.
*
*
*
Baskara sedang berada di samping pintu lift dan masih berdiam diri di sana setelah mendapat informasi dari Tante Nara.
Yang dikatakan Tante Nara malah bertolak belakang dengan yang dia dengar dari Talisha. Kemudian tanpa ragu, Baskara menelpon Jani.
"Ada apa, Pak Baskara?"
"Jangan terlalu formal. Aku hanya ingin kamu katakan yang sebenarnya terjadi?"
"Kelihatannya sangat serius."
"Ya, Jani. Ini tentang..... Begini, Talisha memperlihatkan foto Rhea di club padaku tadi."
Tidak ada sahutan dari Jani untuk beberapa saat.
"Kata Tante Nara, kamu dan Moli tau hal ini. Aku ingin pastikan." Baskara menjeda ucapannya. Dia.menarik nafas dalam.
Jani seakan menunggu kelanjutan bicaranya.
"Laki laki itu.....Pacar Rhea atau bukan?" Baskara sebenarnya benci harus mengaitkan laki laki itu demi kelanjutan hubungannya.
"Bukan pacar Rhea, kak. Kami baru melihatnya malam itu. Kami juga ngga kenal."
Darah Baskara memanas.
"Laki laki itu memanfaatkannya?" Suara Baskara terdengar geram.
"Begitulah, Kak. Maaf, aku dan Moli malah membiarkannya." Suara Jani terdengar penuh penyesalan.
Baskara menarik nafas dalam dalam untuk meredakan kemarahannya. Dia tidak menduga Jani dan Moli terlibat juga. Padahal mereka berempat sangat akrab sejak SMA bahkan hingga sekarang.
"Oke. Thank's infonya." Baskara memutuskan komunikasinya. Dia menghembuskan nafas perlahan. Terselip perasaan lega karena Rhea tidak seburuk yang dia pikirkan.
"Lho, Kak Baskara? Ketemu lagi."
Baskara melayangkan tatapan tajamnya pada Talisha yang barusan menegurnya. Asistennya yang merupakan teman akrab Rhea. Tidak disangkanya bertemu Talisha secepat ini setelah kejahatannya terbongkar.
"Ada apa, kak?" Talisha merasa heran dengan tatap tak bersahabat Baskara.
"Kenapa kamu bohong?"
"Bohong apa, kak?" Talisha balik bertanya dengan jantung berdebar cepat. Tatapan Baskara sangat menyudutkannya, seakan.dia sudah melakukan kesalahan besar.
"Kamu tega sekali dengan Rhea. Sebenarnya apa maksud tindakan kamu?"
Talisha mematung kaku, tidak bisa menggerakkan lidahnya yang biasanya lentur untuk merangkai kata.
"Kak....." Suara Talisha yang terdengar sangat parau.
"Rhea tidak ada hubungannya dengan laki laki itu. Aku akan menikah dengannya. Jangan fitnah Rhea lagi."
Baskara menatap pintu lift yang terbuka, tapi sudah dimasuki oleh beberapa orang. Dia akan ikut masuk ke dalamnya.
"Kak, dengar dulu. Kak Baskara harus tau kenapa aku melakukan ini," seru Talisha membuat langkah Baskara tertahan dan perhatian orang orang teralihkan pada mereka.
Baskara berbalik agar orang orang yang ada di dalam lift tidak menahan pintu lift lagi.
Baskara kini menatap Talisha tajam.
"Katakan. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Aku harus segera menemui Rhea."
Hati Talisha makin hancur mendengarnya.
"Aku... Aku sudah lama menyukai kamu, Kak Bas."
Baskara tersenyum miring saat mendengarnya mendengar alasan yang sama sekali tidak terduga.
"Terimakasih sudah menyukai aku. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Oh ya, kamu dibebaskan bekerja di perusahaanku. Lebih baik kamu menjauh dari aku dan Rhea."
Baskara tidak peduli dengan raut pias di wajah Talisa. Dia lebih peduli pada pintu lift yang sudah terbuka di sebelah lift yang tadi hampir dia masuki.