Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ice cream Vanilla topping coklat
Hana tertidur bersandar di bahu Luca ketika mereka dalam perjalanan pulang. Pria itu seperti tak keberatan dengan hal tersebut.
Tangannya menggenggam erat tangan mungil Hana tanpa gadis itu sadari, mulut yang sedikit terbuka membuatnya terlihat lucu di mata Luca.
Hanya hening yang ada di dalam mobil sepanjang perjalanan. Mereka sudah lelah dengan kegiatan hari ini.
Pukul dua dini hari, mereka sampai di apartemen. Dengan penyamaran ekstra, Luca menggendong Hana yang tertidur masuk ke unitnya.
Pria itu tak membawa Hana ke kamar gadis itu, melainkan ke kamarnya. Luca ketagihan dengan aroma tubuh Hana yang menenangkan.
Setelah membersihkan tubuh dan berganti pakaian, Luca menyusul Hana yang terus tertidur. Pria itu membawa Hana ke pelukannya di bawah selimut tebal. Dirinya menghirup dalam-dalam aroma Hana sebelum memejamkan mata.
Keinginan untuk buang air kecil sudah tak tertahankan, langkah kecil itu berlari ke kamar mandi dan menuntaskannya.
Ia mengaruk kepalanya yang tak gatal ketika menyadari dirinya kembali berada di kamar sang majikan. Hana yakin bahwa dirinya dibawa oleh Luca kemari, bukan dari keinginannya sendiri.
Saat membuka pintu kamar mandi, ia terkejut mendapati Luca yang seolah menunggunya.
"Sudah selesai?"
GLEK!
Pria itu seperti lukisan, sangat tampan.
"Kemari."
Seperti dihipnotis, Hana melangkah pelan menuju tempat tidur dan naik ke sisi Luca. Pria itu langsung membawanya ke pelukan hangat.
Hana langsung tertidur kembali begitu juga Luca. Mereka berpelukan sampai pagi menyambut.
Kali ini, Hana yang terbangun lebih dulu. Sebelum sang majikan bangun, dirinya langsung keluar dari kamar. Ia tak ingin berakhir malu seperti kemarin.
Langkahnya terayun menyusuri trotoar menuju tempat dirinya bekerja. Ia sesekali melirik arlojinya, memastikan bahwa masih ada waktu untuk menikmati suasana di perjalanan.
"Sudah masuk musim hujan, aku harus membawa payung."
Hana menyapa para karyawan dengan anggukan kepala, ia tak pandai berbasa-basi ditambah karyawan di sini suka mengejeknya.
"Kau lihat berita semalam?"
"Tidak, berita apa?"
"CEO kita kembali menjalin hubungan dengan perempuan sosialita."
Hana jelas mendengar obrolan sesama cleaning service ketika mereka membersihkan suatu ruangan yang sepi.
"Kupikir itu rumor seperti kabar yang tersebar setelah beliau mengakhiri tunangan dengan Nona Helen Madelaine." ucap satunya.
"Kupikir tidak. Aku melihat fotonya sedang berdua di sebuah restoran mewah. Mereka tampak serasi dengan pakaian yang mahal, seperti kencan.
"Kita tunggu saja kebenarannya. Aku sangat menyayangkan kesendirian beliau dengan ketampanan yang begitu memikat."
"Benar, jika aku kaya mungkin aku berani mendekatinya."
"Ahh~ sayang sekali diriku tak pandai menggoda lelaki. Hahaha."
"Oh, Hana, kau pekerja yang sering dipanggil ke ruangan beliau, kan?"
Hana mendongak, ia mengangguk pelan.
"Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku membersihkan ruangan. Seperti di sini."
"Benarkah? Tapi kau tak terlihat membawa peralatan kebersihan seperti di sini."
"Di sana sudah tersedia."
"Kupikir kau menggodanya hingga kau berkali-kali di panggil." Sambung yang lain. Mereka tertawa mengejek Hana.
"Aku tak memiliki bakat seperti itu. Ditambah dengan kepribadian beliau yang sadis." Hana kembali fokus menyapu.
"Ah, benar juga. Kau lihat saja penampilan culunnya itu. Bisa-bisa seperti badut. Hahaha."
Gadis itu hanya diam membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan. Hana tak peduli, ia hanya peduli pada tanggal menerima gaji.
"Ice cream vanilla dengan topping coklat." Hana menyebutkan salah satu menu yang ia pesan pada kasir.
"Ada tambahan lagi, Kak?"
"Tidak. Itu saja."
"Baik, silakan ditunggu ya Kak."
Hana berdiri di depan meja kasir, di belakangnya terdapat empat orang yang mengantre di kedai coffe and ice cream tersebut.
Hari sudah gelap, ia menyelesaikan pekerjaan tambahan untuk membereskan sisa-sisa pesta kecil ulang tahun salah satu staff di kantor.
Cukup membuatnya kembali bahagia dengan membeli satu cup ice cream dan memakannya di taman sebelum pulang ke apartemen.
"Kau di mana? Kenapa tidak ada di apartemen?"
Pesan dari Luca yang masuk, namun karena profil diam yang belum dirubah gadis itu tak mengetahuinya.
Srekk!
Sebuah pisau mengkilap melintang di depan lehernya. Ice cream yang tersisa satu sendok tidak jadi ia masukkan ke mulut. Tubuh gadis itu menegang seketika.
"Diam dan ikut denganku."
Hana susah payah menelan ludah. Ia berdiri mengikuti langkah pria yang tidak ia lihat. Tangannya meraba ponsel yang ada di saku. Ia menekan password tetap dalam saku lalu mengira-ngira kontak Luca, ia melakukan panggilan kepada pria itu.
Matanya ditutup kain hitam, ia hanya mengandalkan pendengarannya yang ia tebak berada di sebuah tempat yang jauh dari pemukiman.
Tubuhnya di dorong dan didudukkan secara kasar pada benda keras.
"Akh!"
Penutup mata dibuka. Hana mencoba mengerjapkan beberapa kali matanya untuk membiasakan cahaya remang. Ia dibawa ke gudang kosong.
Di sana ada beberapa pria berbadan besar dengan tatto di lengan kiri. Dan ada di sebuah kursi tak jauh darinya seorang perempuan cantik mengenakan dress maroon selutut sedang duduk menatap nyalang ke arahnya.
"Pintar sekali kau bersandiwara gadis kampung."
"Ah, Nona Helen. Mantan tunangan tuan Luca."
"Apa tujuan Anda menyekap saya di sini?"
"Heh! Kau sudah merusak rencana pernikahanku dengan Romano! Dengan tak tahu dirinya kau masih bertanya? Dasar bodoh!"
Hana diam. Dia tak merasa menjadi perusak, dia juga korban dari pria itu. Dan kenapa baru sekarang perempuan ini mencarinya? Hubungan mereka putus sudah hampir dua tahun lalu.
"Saya tidak melakukannya, Nona. Anda salah paham."
Helen berdiri dan mendekat pada Hana.
"Salah paham?! Kau pikir mataku bisa kau tipu, Hah? Kau keluar masuk apartemen milik Romano untuk menggodanya, 'kan!"
Ia ingin pergi dari sini, tapi bahunya ditekan begitu kuat oleh orang yang membawanya kemari.
"Aku sudah mengira sejak lama, dan dugaanku benar. Dasar jalang sialan!"
PLAK!!
PLAK!!
Tamparan di kedua pipinya terasa cukup pedas, ia merasa bibirnya robek.
Hana ingin membalas, namun kalah cepat dengan gerakan pria di belakangnya. Kedua tangannya dicekal ke belakang membuat dirinya tak bisa membalas perbuatan Helen.
"Terima akibat mengganggu milikku, jalang!"
BUGH!
BUGH!!
Helen memberikan beberapa tinju dan tendangan ke perut Hana. Gadis itu tak kuat menahan, ia memuntahkan darah yang cukup banyak dari mulutnya.
Cekalan tangannya dilepaskan, sontak tubuhnya langsung terjerembab ke lantai yang penuh debu tebal dan dedaunan kering.
Ia merintih kesakitan, dalam benaknya ia meminta maaf pada sang ibu karena tak bisa menjaga dirinya dengan baik. Air mata keluar membasahi lantai, samar-samar ia mendengar suara keributan dan suara tembakan.
Hana mengenali salah satu suara, itu suara Luca. Sebelum kesadarannya hilang, ia melihat pria itu berlari ke arahnya dengan raut penuh kekhawatiran.
"Hana!"
"Hana! Tetap sadar!"
"Hana! Jawab aku!"
Pipinya ditepuk beberapa kali, ia mencoba untuk sadar tapi otaknya memerintahkan untuk tidur.
Perlahan, kedua matanya menutup saat tubuhnya di pelukan pria itu.