Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
"Tante, aku mau pakai kamar yang itu ya," ucap Nisa sambil. menunjuk ke arah kamar Natalie.
"Nggak bisa. Kamar itu punya Natalie, kamu bisa cari kamar yang lain," kata Dewi.
"Ayolah, tan. Aku mau yang itu, Natalie kan bisa pakai kamar lain. Lagian kamarnya nggak cuman itu doang, itu buat aku aja. Ya, ya, ya."
"Nggak bisa, Nisa. Itu kamar Natalie, kamu nggak bisa dong maksa tante kayak gitu. Lagian kayak yang kami bilang tadi, masih ada kamar lain kan selain punya Natalie. Kamu bisa milih yang lain, asal jangan punya Natalie," sarkas Dewi.
Kesal Dewi tuh dengan sikap Nisa. Sedari awal ia memang nggak terlalu suka dengan keponakannya yang satu itu. Karena sifatnya persis kayak nenek lampir, menjengkelkan.
"Tante kok gitu, sih! Aku aduin nenek pokoknya, biar di marahin sekalian," kata Nisa.
"Silahkan. Saya nggak takut," tantang Dewi.
Dengan muka kesal, Nisa langsung menghubungi neneknya.
"Halo, ada apa sayang?"
"Nek, masa tante nyuruh aku cari kamar lain. Padahal yang aku mau itu kamar yang di pakai Natalie. Kamarnya bagus, banyak bintang-bintangnnya—masa aku nggak boleh tidur di situ," adunya.
"Mana Natalie, berikan handphonenya sama dia. Biar nenek yang bicara langsung."
"Nih, nenek mau ngomong," ucap Nisa dengan sedikit meledek.
"Halo, nek."
"Natalie, kamu kan udah dewasa harusnya ngalah dong sama Nisa. Gimanapun juga dia itu adik kamu. nggak bisa apa ngalah dikit, kasih kamar kamu ke Nisa. Kamu bisakan cari kamar yang lain!"
"Iya, nek."
Nisa langsung merebut hp-nya lanjut mengobrol dengan nenek. Dengan langkah riang di sertai senyuman lebar sekaligus meledek, ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Natalie.
"Nata, kamu nggak seharusnya kasih kamar itu buat dia. Itu kamar kamu dan kamu. berhak untuk menolak," ucap Dewi.
"Nggak apa-apa, tan. Aku bisa cari kamar lain kok."
"Terserah, deh. Asalkan kamu nyaman."
"Iya, tante. Yaudah kalau gitu aku mau ngemasin barang-barang aku dulu ya, tan," pamitnya.
Natalie menyusul Nisa yang lebih dulu masuk kamar. Tubuhnya mematung saat melihat Nisa yang membuang semua barang-barangnya. Bahkan beberapa foto yang ia cetak sudah terbakar di samping jendela.
"Nisa! Lo ngapain!?" teriaknya.
"Hanya membuang sampah-sampah. Kenapa? Lagian itu semua nggak berguna buatku," judesnya.
"Lo—"
Natalie menghentikan ucapannya. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan gejolak amarah yang hampir meledak. Dengan gemetar ia mengambil foto-fotonya yang masih terbakar. Meniupnya berharap dapat berhenti.
"Ian, Nathan, sorry. Foto yang kalian kasih jadi terbakar," batinnya.
Tangannya terkepal erat, membuat percikan api yang masih tersisa membakar telapak tangannya. Rasa panas dari api menjalar ke telapak tangan.
Natalie tak memperdulikan rasa sakit itu. Ia langsung mengambil semua barang-barang yang tersisa.
"Nata, kamu nangis?" tanya Dewi yang tak sengaja berpas-pasan dengan Natalie di tangga.
Natalie mengusap pipinya, tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. "Nggak kok, tan. Tadi ada debu masuk ke mata waktu beberes," alibinya.
"Serius?"
Natalie mengangguk pelan.
"Oh iya, jangan lupa hp kamu aktifin. Kasian mereka nyariin kamu. Terus tadi kata satpam di depan mereka ke sini nyariin kamu. Mana katanya mereka kucel semua lagi," ucap Dewi di akhiri dengan kekehan ringan.
"Iya, tan. Aku mau ke kamar bawah ya, tan. Sekalian beberes kamar," pamitnya.
Sesampainya di dalam kamar, Natalie tak langsung menata semua barang-barangnya. Ia duduk di lantai menata semua foto-fotonya yang hangus terbakar. Tangannya tremor, bibirnya sedikit bergetar. Matanya berkaca-kaca menatap foto-fotonya.
Dengan tangannya yang masih tremor, ia menyalakan handphonenya. Terdapat banyak notif dan panggilan tak terjawab dari Fabian dan Nathan. Ia menekan nomor keduanya.
"Nata!" pekik keduanya dalam telepon.
"Ian … Athan …." panggilnya dengan nada bergetar.
"Nata, lo oke?"
"Princess, lo kenapa? Kok suara lo kayak gitu?"
Natalie menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Menahan isakan yang hampir saja lolos.
"Gue mau ketemu kalian, bisa?"
"Tentu saja."
"Gue tunggu kalian di taman biasa."
"Sekarang? Tapi ini udah tengah malem banget loh princess. Lo yakin nggak apa-apa?"
"Gue tunggu di sana."
Tut …
Natalie memutuskan panggilan mereka begitu saja. Ia langsung beranjak keluar tanpa mengenakan pakain penghangat lainnya. Hanya bermodalkan atasan berlengan pendek dan celana jeans.
Tak lupa ia mengambil foto-foto itu untuk di bawanya ke taman. Tangannya bahkan belum ia beri salep atau semacamnya. Membuat tangannya terlihat seperti melepuh.
"Nata, kamu mau ke mana malem-malem begini?" tanya Dewi dari dapur.
"Aku mau ke taman dulu tan, bentar."
"Malem-malem gini?"
"Hmm."
"Yaudah, hati-hati," ucap Dewi.
Natalie berjalan kaki menuju taman. Udara dingin menusuk kulitnya, tak membuatnya merasa kedinginan. Sesekali pandangannya sedikit melebur, tapi berusaha ia tangkis. Bibirnya yang sedikit pucat mengeluarkan darah akibat gigitannya yang terlalu kuat.
Sesampainya di taman, Natalie duduk di bawah pohon beralaskan rumput. Ia menekuk kedua kakinya, kepalanya bertumpu pada kedua lututnya. Air matanya menetes, tapi pandangannya kosong menghadap ke depan.
Tak ada isakan. Tak ada suara. Hanya suara burung hantu yang menggema di taman. Taman yang begitu luas rasanya seperti menghimpit pasokan udaranya. Menekannya begitu dalam, hingga membuatnya terasa berat hanya untuk bernapas.
Detik demi detik, menit demi menit berlalu. Natalie menunggu kedatangan kedua sahabatnya. Sendirian, dalam mall yang cukup hening.
"Nata!" teriakan dari Nathan tak membuatnya merespon sedikit pun. Pandangannya tetap kosong, tak mempedulikan sekitar.
"Nata," panggil Fabian, tetap tak ada respon.
Keduanya berjongkok tepat di hadapan Natalie, mencoba menyadarkan sahabatnya itu. Fabian menyentuh pelan pundak Natalie, membuatnya sedikit mendongak.
"Nata, ini kita," lirih Nathan.
"Ian … Athan …." gumamnya lirih.
"Iya, ini kita …."
Natalie berhasil mendapatkan kesadarannya kembali. Ia berhambur ke pelukan kedua sahabatnya, menumpahkan tangisan yang ia tahan sedari tadi.
"Ian … Athan …, maaf. Maafin gue. Gue nggak bisa jaga foto dari kalian. Gue gagal, gue gagal," ucapnya sambil memukul-mukul dadanya.
Fabian dan Nathan melepaskan pelukan mereka, menatap wajah Natalie yang terlihat sangat kacau.
"Hey, lo kenapa?" Fabian menangkup kedua pipi Natalie.
Dengan tangan gemetar, Natalie mengeluarkan sisa-sisa foto yang ia simpan rapat-rapat di sakunya. Fabian dan Nathan mengerti sekarang dengan apa yang terjadi.
"Princess, look at me." Natalie melihat ke arah Nathan. "Nggak apa-apa, nanti kita bisa buat yang lebih banyak lagi, gimana?"
"T-tapi fotonya," ucap Natalie terputus-putus. Napasnya sedikit memberat.
"Hey, it's okay. Napas pelan-pelan, sayang," kata Fabian.
Nathan meraih tangan Natalie, mengambil foto yang ia remat. Saat tangannya menyentuh tangan Natalie, terlihat luka bakar yang melepuh di telapak tangan sahabatnya itu.
"Nata, tangan kamu kenapa?" tanya Nathan khawatir.
Fabian yang notis dengan apa yang terjadi pun ikutan panik. Keduanya meniup telapak tangan Natalie, berharap rasa sakit itu tak terlalu terasa.
"Mau cerita?" tanya Nathan lembut.
Natalie menceritakan semua yang terjadi padanya selama satu minggu ini. Tak ada yang ia tutup-tutupi lagi. Semua unek-unek yang di simpannya, ia. keluarkan semuanya.
Nathan dan Fabian yang mendengar cerita Natalie menjadi marah. Mereka tak suka saat ada orang lain yang berani-beraninya menyakiti Natalie—sahabat yang mereka lindungi selama ini. Terutama dengan perlakuan kembaran Natalie yang menurut mereka benar-benar keterlaluan.
.
.
.