Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 28 Hubungan
Bukan Shafiya saat ini yang nyaman berada dipelukan Arash, tetapi sepertinya Arash, bagaimana tidak awalnya hanya ingin menenangkan Shafiya dengan memberi kehangatan pada tubuh istrinya yang kedinginan, siapa sangka ternyata dia tertidur.
Tubuh keduanya saling berhadapan dengan lengan Arash di jadikan bantal oleh Shafiya, nafas keduanya saling menerpa untuk pertama kali mereka berdua tidur di atas ranjang yang sama.
Dratt-dratt-dratt.
Arash mengerutkan dahi ketika ponselnya berdiri di atas nakas, ponsel itu benar-benar mengganggu membuat tangan sebelah kirinya langsung mengambil dan mengangkat tanpa melihat panggilan masuk itu.
"Ada apa?" tanyanya.
Entahlah siapa yang menghubunginya di tengah malam seperti ini membuat ekspresi wajah Arash tampak kaget mendengar informasi yang baru saja dia terima.
"Baiklah, saya minta kamu untuk memastikan sekali lagi dan besok pagi hubungi saya lagi, saya juga akan memeriksa sendiri apakah benar yang kamu katakan," ucap Arash sampai akhirnya mematikan telepon tersebut.
Arash baru menyadari lengan sebelah kanannya terasa begitu berat membuatnya menoleh dan ternyata Shafiya masih tertidur pulas di dekatnya.
Meski Arash cukup banyak bergerak, tetapi Shafiya tidak terbangun sama sekali, wajahnya yang teduh dan begitu cantik, terus ditatap oleh Arash.
Arash harus mengakui jika Shafiya memang sangat cantik, memiliki daya tarik sendiri bahkan seseorang sepertinya sudah mulai terlihat kasihan.
Tatapan matanya tidak berhenti, tidak berkedip dan bahkan sengaja tidak bergerak seakan-akan tidak ingin wanita yang saat ini begitu dekat dengannya itu tidak terbangun.
Mata Arash terus memperhatikan secara inti wajah cantik itu, kelopak matanya yang begitu indah, wajah kurus serta bibir merah seperti buah persik.
"Apa yang kau pikirkan Arash!" Arash mencoba untuk mengendalikan diri dengan menggeleng-gelengkan kepala.
Arash berusaha tidak simpati kepada Shafiya, berusaha tidak berubah, perasaan tetap Arash dipenuhi dengan dendam.
Untuk mencegah hal-hal yang tidak dia inginkan, apalagi sudah sampai melibatkan hati membuat Arash mengangkat secara perlahan kepala Shafiya, meletakkannya di atas bantal dan mengambil tangannya.
Perlahan Arash mulai bergerak dan tidak lupa menarik selimut sampai ke dada Shafiya dan kemudian dengan perlahan Arash turun dari ranjang.
******
Mentari pagi telah tiba. Arash terlihat berbicara dengan pelayan seperti biasa menyiapkan sarapan di dapur.
"Apa ini makanan yang biasa dia konsumsi di pagi hari?" tanya Arash memastikan makanan yang berada di dalam nampan.
"Benar tuan, Nona Shafiya menyukai nasi goreng dan setiap pagi Nona Shafiya hanya sarapan dengan nasi goreng, potongan buah dan air putih," jawab Bibi.
"Baiklah, kalau begitu langsung saja berikan kepadanya, kamu temani dia sampai menyelesaikan sarapannya dan juga dampingi dia, jangan sampai kejadian kemarin terulang kembali, jangan biarkan dia ke kamar mandi sendirian," ucap Arash memberi perintah kepada pelayan tersebut.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap pelayan itu menundukkan kepala dan langsung pergi.
Arash menghela nafas.
"Tumben sekali kamu perhatikan makannya, memerintahkan Bibi untuk menjaganya? kenapa? Kamu mulai menyesal dengan apa yang kamu lakukan?" tanya Nenek tiba-tiba saja sudah muncul di hadapannya dan memberi sindiran.
"Aku menyesal?Hah!"
"Di dalam kamusku tidak ada kata menyesal, aku melakukan hal itu karena tidak ingin saja ada mayat di rumahku yang pada akhirnya aku juga akan repot," jawab Arash dengan tersenyum miring.
"Terserah apapun yang kamu katakan. Nenek hanya percaya dengan kata hidayah itu pasti akan datang dan semoga saja Allah memberikan hidayahnya kepada manusia yang penuh dendam seperti kamu, semoga saja hati kamu dibersihkan dan juga begitu dengan pikiran kamu," ucap Nenek.
"Nek, aku sudah mengatakan kepada Nenek untuk berhenti ikut campur. Aku tidak memberikan perhatian kepada Shafiya dan seperti apa yang aku katakan bahwa tidak akan ada yang berubah. Bukankah Nenek sangat mengetahui bahwa aku adalah cucu yang paling kejam," ucap Arash dengan santai dan bahkan seperti sengaja berbicara seperti itu.
"Saat ini kamu memang adalah cucu yang paling kejam, tetapi Nenek juga pernah mengakui kamu sebagai cucu yang paling baik dan sangat penyayang," ucap Nenek berlalu dari hadapan Arash.
"Hah!" Arash mengusap wajahnya menggunakan satu tangannya dengan mendengus kasar.
Kemudian Arash juga langsung pergi meninggalkan dapur karena dia harus ke kantor. Siapa sangka ternyata Amelia mendengarkan pembicaraan cucu dan Nenek itu.
"Benarkah perhatian yang diberikan Arash kepada Shafiya tidak berarti apapun? itu karena hanya dia tidak ingin wanita itu mati di rumah ini karena kebodohannya?"
"Tidak mungkin Arash melakukan semua itu karena kasihan. Aku sangat yakin apa yang dia katakan kepada Tante memang adalah benar karena dia tidak ingin terlibat dalam urusan apapun. Aku akan tetap memantau Arash, jangan sampai dia kasihan kepada wanita itu dan menghancurkan semuanya. Saat ini hanya Arash yang bisa membalas rasa sakit hatiku," batin Amelia.
Sebenarnya dia sudah mulai dipenuhi dengan rasa ketakutan, rasa panik dan apalagi dengan sikap Arash belakangan ini cukup memberi perhatian kepada Shafiya walau secara tidak langsung melainkan melalui pelayan yang dia percaya di rumah itu.
******
Abi Shafiya sedang berada di ruang perpustakaan seperti biasa pria itu sangat hobi membaca buku yang berkaitan dengan keagamaan.
"Abi...." Umi Laina mengetuk pintu berdiri di depan pintu membuat Abi melihat kearah Umi.
"Masuklah Umi," sahut Abi.
Umi menganggukan kepala berjalan menghampiri suaminya itu dengan duduk di sebelah suaminya.
"Ada surat dari pos," Laina memberikan amplop berwarna coklat itu.
"Surat dari siapa ini? Apa ini dari pesantren?" Abi membuka amplop tersebut dan ternyata terdapat amplop lagi berwarna pink.
"Seperti surat cinta saja diberikan amplop warna pink seperti itu," sahut Umi tersenyum melihat surat tersebut.
"Ya, entahlah surat dari pesantren mana, karena biasanya jika ini surat dari pesantren maka akan ada pengirimnya," sahut Abi.
"Abi. Bacalah. Umi sekalian ingin meminta izin untuk ke kantor polisi. Umi ingin berkunjung menemui Willi," ucap Umi.
"Baiklah, titip salam pada Willi," ucap Abi.
"Baik. Abi," sahut Umi mencium punggung tangan suaminya itu dan kemudian langsung pergi tidak lupa mengucapkan salam.
Ketika istrinya pergi dan barulah Abi mengeluarkan surat tersebut dari amplop pink.
..."Assalamualaikum Thoriq,"...
..."Apa kamu masih mengingat tulisanku? tulisan yang aku selalu berikan kepadamu dalam tulisan surat disaat kita dulu sama-sama menempuh pendidikan. Thoriq aku saat ini masih baik-baik saja dan meski hatiku belum sepenuhnya baik, semua akibat luka yang kamu berikan puluhan tahun yang lalu, aku pikir setelah kau menyakitiku maka hidupmu akan menderita, siapa sangka kau bahagia dengan pernikahanmu, memiliki satu putra yang tampan dan juga putri yang cantik,"...
..."Siapa sangka hidupmu dipenuhi dengan sanjungan, banyak orang-orang mengagumi, mengenalmu dan menjadikanmu sebagai panutan tanpa mereka ketahui bahwa kau adalah pria yang menghancurkan hidupku dan menyakitiku, kau meninggalkanku dan melanjutkan pernikahanmu dengan kehidupanmu yang seperti orang tidak berdosa,"...
Thoriq cukup kaget menerima surat tersebut, dengan kesulitan menelan ludah, tetapi sayang sekali surat itu tidak memiliki nama pengirim sama sekali dan dia tidak mengetahui siapa orang yang mengirimnya.
..."Takdir kembali mempertemukan kita melalui Putri yang kau cintai, apakah kau tahu jika putrimu telah menjadi bagian dari hidupku,"...
Thoriq kaget mendengar pernyataan terakhir dari surat itu.
"Astagfirullah...." ucapnya sungguh tidak mengerti dengan apa yang tertulis dalam surat itu sampai akhirnya Thoriq merasa ada sesuatu kembali di dalam amplop itu dan melihat amplop tersebut.
Foto seorang wanita yang tak lain adalah Amelia.
"Amelia...." lirih Thoriq.
Di belakang foto tersebut terdapat tulisan.
..."Kau tahu jika Arash adalah keponakanku dan putri kesayanganmu tinggal bersamaku, mungkin perasaanmu sudah mulai tidak enak jika pernikahannya tidak baik-baik saja, ya perasaanmu akan menjawab semuanya bahwa perbuatanmu di masa lalu akan ditanggung oleh putri kesayanganmu, sayang sekali seharusnya kita bertemu secara langsung di hari pernikahan putrimu, tetapi kau tidak menyadari keberadaanku sehingga kita tidak saling menyapa,"...
Thoriq sampai tidak bisa berkata-kata melihat tulisan tersebut hingga tulisan terakhir membuat perlahan foto itu terjatuh dari tangannya.
"Astagfirullah...." ucapnya berkali-kali mengucapkan istighfar.
"Tidak mungkin," Thoriq sepertinya memang mengenal Amelia.
"Bagaimana mungkin Amelia melakukan semua ini. Apa sungguh Amelia memiliki hubungan dengan Arash dan saat ini Shafiya juga berada dalam genggamannya?"
"Ya Allah, sesungguhnya semua ini tidak mungkin, jika memang Amelia memiliki rasa dendam dan sakit hati kepadaku dan seharusnya dia tidak mengganggu keluargaku dan apalagi putriku yang tidak berdosa,"
"Tenanglah Thoriq, semua ini belum tentu benar, kamu harus tenang menghadapi semua ini.
Bersambung.....