Menjadi editor sebatang kara itu membosankan, tapi dirampok sampai pingsan dan pindah ke dunia novel? Itu diluar nalar!
Lin Xia Yi bertransmigrasi menjadi Lin Xia Mei, wanita yang akan tewas karena cinta buta suaminya, Wei Zhu Chen. Untuk bertahan hidup, ia harus menurunkan tingkat rasa suka Wei Zhu Chen dari 99% ke 20%.
Bersama sistem berwujud kucing imut bersayap bernama Bao, Lin Xia Yi akan memulai misi demi kembali ke dunianya serta membawa pulang hadiah yang menggiurkan.
Hadiah menggiurkan menanti, tapi nyawa taruhannya. Siapkan camilan favoritmu dan temanilah Lin Xia Yi sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
028~ Demi Bunga
Ini adalah pengalaman pertamanya diberi bunga segar oleh orang lain, Lin Xia Mei tertegun.
"Inang, selamat. Rasa suka tokoh utama turun lagi, sekarang sudag 51%." ucap Bao.
Lin Xia Mei tidak merespon, ia masih terpaku.
"Inang? Kenapa diam saja?"
"Ibu... Ini untuk Ibu." Wei Ji Xiang menyerahkan buket bunga segar miliknya pada Lin Xia Mei.
Dengan tangan gemetar ia menerima bunga dari Wei Ji Xiang.
"Maaf mengganggu istirahatmu." ucap Wei Zhu Chen sambil menyodorkan bunga darinya.
Wei Ji Xiang menarik ujung pakaian Ayahnya sebagai kode. Wei Zhu Chen menangkap kode itu, ia tersenyum lalu maju selangkah dan menghilangkan jarak diantara keduanya, Wei Ji Xiang tersenyum malu lalu menutup matanya. Kecupan lembut mendarat di kening Lin Xia Mei, Bao menepuk jidatnya pelan saat menyadari jantung Lin Xia Mei berdegup kencang sebagai respon.
"Inang, sadarlah."
Wei Zhu Chen tersenyum lembut lalu mengelus pipi Lin Xia Mei, gerakan yang sangat tulus dan mampu mengguncang pertahanan Lin Xia Mei.
"Ini adalah bunga ke-300 dariku, kenapa masih canggung menerimanya?" tanya Wei Zhu Chen.
"Ini bunga pertamaku," batin Lin Xia Yi.
"Terima kasih." ucap pelan Lin Xia Mei.
Bao memasang wajah datar sambil mengacungkan jempol pada Lin Xia Mei.
"Cinta memang meresahkan." ucap Bao.
Tingkat rasa suka Wei Zhu Chen langsung naik lagi saat telinganya mendengar ucapan terima kasih dari Lin Xia Mei, meskipun volumenya pelan namun mampu menggetarkan hati Wei Zhu Chen.
Mata Wei Zhu Chen memerah dan cairan bening menumpuk di kelopak matanya.
"Aku tidak salah dengar kan?!"
"Tidak, Ayah." sahut Wei Ji Xiang.
Lin Xia Mei menyadari kesalahannya, spontan ia menutup mulutnya dengan rapat. Langsung saja Wei Zhu Chen memeluk Lin Xia Mei dengan erat, tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir begitu saja, ia sangat bahagia.
"Inang, rasa suka tokoh utama naik lagi, sekarang 60%!" ucap Bao mengingatkan.
Raut wajah Lin Xia Mei tampak panik, Wei Ji Xiang menyadari hal ini namun ia tetap tertawa bahagia untuk menutupi sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Lin Xia Mei mendorong Wei Zhu Chen dengan sekuat tenaga, sontak Wei Zhu Chen kembali dibuat bingung atas perubahan sikap istrinya.
"Zhu Chen, lancang sekali memelukku!!!" teriak Lin Xia Mei.
"Sayang, ada apa?" tanya Wei Zhu Chen dengan suara gemetar.
Lin Xia Mei tidak menjawab, ia memandangi dua buket bunga di tangannya dengan tatapan kebencian.
"Aku benci bunga!"
"Tidak, kau berbohong! Aku menyiapkan taman belakang untuk bunga-bunga kesukaanmu."
"Itu dulu, sekarang aku benci bunga, Wei Zhu Chen!" bentak Lin Xia Mei.
"Jika memang benar seperti itu, tolong terima bunga ini, Istriku. Setidaknya demi Wei Ji Xiang. Kita tidak seharunya ribut di depan anak kita."
Lin Xia Mei menyeringai.
"Anak kita? Aku tidak pernah melahirkannya!"
Wei Ji Xiang menatap Lin Xia Mei dengan mata yang membendung air mata. Di usianya saat ini ia sudah mengerti maksud perkataan Lin Xia Mei.
"Dan bunga-bunga ini..."
"Aku membencinya!"
Lin Xia Mei berbalik badan, ia melempar dua buket bunga itu ke danau dengan kekuatan penuh, dua buket bunga itu mengambang di tengah-tengah danau. Bao bertepuk tangan.
"Inang, rasa suka tokoh utama turun lagi, kembali ke 51%."
Lin Xia Mei langsung melangkah pergi meninggalkan Wei Zhu Chen dan Wei Ji Xiang. Mereka memandangi bunga yang mengambang di tengah danau.
Wei Ji Xiang tidak bisa marah, ia sadar ada sesuatu yang tidak beres.
"Ayah, ayo kita pergi. Kita harus menyusul Ibu." ajak wei Ji Xiang.
Wei Zhu Chen menghela napas, menahan sesak di dada lalu menyeka air matanya.
"Anakku, mungkin Ibu masih tidak tenang hatinya." Wei Ji Xiang berusaha menghibur anaknya.
"Iya, kita bisa cari tahu kesukaan Ibu yang lain."
Wei Zhu Chen berlutut lalu memeluk Wei Ji Xiang dengan erat.
"Ayah, ayo kita pergi sebelum Ibu semakin jauh."
Wei Zhu Chen mengangguk, ia menggandeng tangan Wei Ji Xiang dan berjalan ke arah Lin Xia Mei pergi tadi. Namun sepertinya mereka kehilangan jejak Lin Xia Mei lagi.
"Ibu memang hebat, baru saja pergi tapi sudah tidak bisa disusul." ucap Wei Ji Xiang.
"Mungkin Ibu ke tempat istirahat tadi." sahut Wei Zhu Chen.
"Iya,"
Mereka pun segera pergi ke tempat mereka istirahat tadi. Tanpa mereka sadari sebenarnya Lin Xia Mei bersembunyi dibalik pohon besar yang mereka lalui tadi.
Dengan mata basah air mata, ia segera berlari ke danau tadi.
"Inang, ada apa?" tanya Bao yang melihat Lin Xia Mei menangis tanpa suara, namun matanya sudah sangat merah.
Lin Xia Mei tidak menjawab, ia menatap ke arah buket bunga yang masih mengambang di tengah danau.
'BYUUURR'
Mata Bao membulat sempurna saat Lin Xia Mei langsung melompat ke danau tanpa aba-aba.
"Inang! Danau ini sangat dalam!" teriak Bao.
Tidak peduli ada bahaya apa di dalam danau ini, Lin Xia Mei tetap terus berenang ke tengah danau.
"Itu bunga pertamaku!" batinnya.
"Inang, jangan membahayakan diri. Ini hanya dunia fiksi."
Lin Xia Mei tidak patuh, ia tetap berenang hingga sampai di tengah danau, ia segera mengambil dua buket bunga itu dengan derai air mata.
Dibalik pohon yang tidak terlalu besar, sepasang mata dengan tatapan sayu sedang memperhatikan tindakan Lin Xia Mei yang rela berenang ke tengah danau demi dua buket bunga yang dibuangnya tadi.
Lin Xia Mei segera berenang ke tepi karena kakinya mulai terasa dingin, ia keluar dari danau dan duduk di tepi dengan memeluk buket bunga yang sudah basah.
"Inang, kau memang pemberani. Danau ini sangat dalam dan kalau sampai kakimu kram, itu akan sangat berbahaya."
"Bao, aku hanya terlalu bahagia mendapat bunga untuk pertama kalinya, jadi aku tidak takut untuk berenang ke sana."
"Inang, gunakan suara hati saat berkomunikasi dengan Bao."
"Ah iya, maaf aku lupa, Bao."
"Syukurlah bunganya tidak rusak." kata Lin Xia Mei.