NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3: Lo Baik Baik Aja?

Bel istirahat berbunyi kencang. Para siswa berhamburan keluar kelas, ada yang ke kantin, perpustakaan, taman, atau hanya berdiam diri di kelas seperti Faris. Suara riuh rendah meredup seiring berjalannya waktu, menyisakan keheningan yang justru membuat Faris nyaman.

Ia duduk di bangku paling pojok depan, dekat pintu masuk dan meja guru. Sebuah tempat yang sengaja ia pilih sejak awal semester—jika ia duduk di depan, guru akan lebih mudah melihatnya jika ia perlu menyampaikan sesuatu melalui tulisan. Jauh dari keramaian di belakang, jauh dari tatapan yang menusuk dari belakang, jauh dari paksaan untuk berbicara. Notebook kecilnya terletak di atas meja, selalu dalam jangkauan, selalu siap sedia menjadi jembatan antara dirinya dan dunia luar.

Hari ini, Faris tidak menulis. Tangannya sibuk menggambar sesuatu di buku tulis bergaris itu. Pensil mekanik hitamnya bergerak dengan presisi yang tak terduga—goresan demi goresan membentuk wajah seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut. Rambutnya tergerai sebahu, ada kerutan halus di sudut matanya, dan sesuatu yang hangat terpancar dari gambar itu.

Ibunya.

Faris menggambar ibunya setiap kali ia merasa cemas. Entah mengapa, menggambar wajah ibu selalu membuat detak jantungnya melambat, keringat di telapak tangannya mengering, dan dunia terasa sedikit lebih aman. Ia hampir selesai dengan bagian mata—bagian tersulit yang selalu ia simpan untuk terakhir—ketika bayangan seseorang menutupi kertasnya.

"Wahh! Ris, lo bisa gambar sebagus ini kok diem aja?"

Suara itu terlalu dekat. Terlalu keras. Terlalu tiba-tiba.

Faris tersentak. Tubuhnya kaku. Pensil di tangannya terjatuh dan menggelinding ke lantai. Dalam kepanikan, ia mencoba mundur—terlalu cepat, terlalu panik—dan kursinya kehilangan keseimbangan.

KRAAAK!

Pantatnya membentur lantai dingin. Buku sketsanya terbang, mendarat beberapa meter dari tempatnya jatuh, hampir tepat di depan meja guru. Wajah ibunya yang hampir selesai kini terbalik, tercoreng oleh debu lantai.

Faris tidak bisa bergerak. Tangannya gemetar hebat. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya, membasahi seragam putihnya hingga terasa menempel di kulit. Dadanya naik turun cepat, terlalu cepat. Matanya bergerak liar, mencari—mencari notebook-nya, tapi notebook itu ada di meja, terlalu jauh, ia tidak bisa—

Tidak, tidak, tidak, jangan sekarang. Jangan panik. Tarik napas. Tarik napas. Tarik—

"Hehe maaf ya, gue gak bermaksud bikin lo kaget kok."

Suara itu lagi. Masih dekat. Masih terlalu dekat.

Faris mendongak dengan gerakan tersentak-sentak. Bima berdiri di hadapannya dengan tangan terangkat, telapak tangan terbuka, seperti seseorang yang mencoba menenangkan hewan liar. Ekspresinya bersalah, mulutnya membentuk senyum canggung yang tidak sampai ke mata.

"Gue... gue cuma mau lihat gambarnya. Bagus banget, sumpah." Bima berbicara dengan nada lebih pelan sekarang. Jauh lebih pelan dari biasanya. "Gue gak sengaja bikin lo jatuh. Maaf, ya, Ris."

Faris masih tidak bisa menjawab. Lidahnya terasa seperti batu. Lehernya kaku. Matanya terus bergerak antara Bima, notebook di meja, dan buku sketsa yang tergeletak di lantai dekat meja guru. Ia ingin mengambilnya, tapi kakinya tidak mau bergerak.

Bima mengikuti arah pandangan Faris. "Itu gambar lo, ya?"

Faris mengangguk cepat. Satu kali. Kaku.

Bima berjalan pelan—sengaja diperlambat—ke arah buku sketsa itu. Ia membungkuk, mengambilnya dengan hati-hati, lalu berbalik. "Nih." Ia mengulurkan buku sketsa, tapi tidak mendekat terlalu cepat. Ia menunggu.

Faris meraih buku itu dengan tangan gemetar. Begitu benda itu menyentuh jarinya, ia menariknya cepat, memeluknya ke dada seperti perisai. Napasnya masih tersengal, tapi perlahan mulai teratur.

"Makasih," bisiknya. Hampir tidak terdengar.

Bima tersenyum. Kali ini senyumnya tulus. "Iya. Maaf ya, tadi gue udah ngagetin lo."

Faris menggeleng pelan. Bukan salah Bima. Ini salahku. Aku selalu seperti ini.

Ia bangkit perlahan, mengembalikan kursinya ke posisi semula, lalu duduk kembali. Tangannya masih sedikit gemetar saat meraih notebook dari meja, membuka halaman kosong, dan mulai menulis:

[Gapapa. Gue aja yang panikan.]

Bima membaca, lalu menghela napas. "Lo tuh, Ris. Lo gak usah minta maaf. Gue yang salah."

Faris tidak menjawab. Ia menunduk, memperbaiki buku gambar yang sedikit kusut di ujungnya. Wajah ibunya masih terlihat, meskipun ada coretan debu di pipi kiri. Ia berusaha membersihkannya dengan ujung jari, hati-hati sekali.

"Lo sering gambar?"

Faris mengangguk.

"Bisa gambar pemandangan? Gunung, laut, gitu-gitu?"

Faris mengangguk lagi.

"Keren," kata Bima. Lalu, setelah jeda, "Gue dulu juga suka gambar. Tapi gak sebagus lo."

Faris mendongak sedikit. Matanya bertemu dengan Bima sekilas sebelum cepat berpaling. Ada sesuatu di mata Bima—bukan iba, bukan kasihan. Hanya... ketertarikan biasa. Seperti berbicara dengan teman yang normal.

[Lo bisa belajar kok, menggambar butuh latihan.]

Bima membaca, lalu tertawa kecil. "Wah, gue mah males latihan gambar. Mending main bola."

Faris hampir tersenyum. Hampir.

Mereka terdiam beberapa saat. Bima duduk di kursi di depan Faris, membalikkan badannya sehingga bisa menghadap ke arahnya. Ia tidak memaksa Faris untuk berbicara, tidak menatap terus-menerus. Ia hanya duduk di sana, sesekali melihat ke luar jendela di sisi kanan kelas, sesekali melirik gambar di tangan Faris.

Dan anehnya, kehadiran Bima tidak seseram yang Faris kira.

Biasanya, ketika seseorang terlalu dekat, tubuh Faris akan bereaksi otomatis—jantung berdebar, tangan gemetar, keringat dingin, dan keinginan kuat untuk lari. Tapi sekarang... sekarang ia masih bisa bernapas. Masih bisa duduk diam. Masih bisa membiarkan Bima berada di ruang yang sama tanpa harus melarikan diri.

Mungkin karena Bima tidak memaksa. Mungkin karena Bima mengerti.

Atau mungkin karena Bima adalah orang pertama yang tidak membuat Faris merasa aneh.

Faris mengambil pensilnya yang jatuh. Ia membuka halaman kosong di buku sketsa, lalu mulai menggambar lagi. Kali ini bukan wajah ibunya.

Goresan pertama membentuk lingkaran. Goresan kedua membentuk tubuh. Goresan ketiga, keempat, kelima—dan perlahan, sosok seorang anak laki-laki mulai muncul di atas kertas. Rambut acak-acakan. Senyum lebar. Postur tegap seperti atlet.

Bima.

Faris tidak menyadari bahwa Bima memperhatikan sampai ia mendengar suara pelan di sampingnya.

"Itu... gue?"

Faris membeku. Tangannya berhenti di tengah goresan. Ia tidak berani mendongak.

"Gue makin yakin nih, lo jago banget gambar," kata Bima, nadanya tidak mengejek, tidak berlebihan. Hanya jujur. "Bisa minta tolong nggak suatu hari nanti lo gambar gue lagi? Tapi yang gue lagi main bola gitu. Gue mau kirim ke kakak gue."

Faris mendongak. Matanya membulat sedikit.

"Kakak gue di Malaysia," Bima menjelaskan, suaranya sedikit lebih pelan. "Jadi gue jarang ketemu. Kalau punya foto atau gambar gue lagi main bola, mungkin dia seneng."

Faris menatap Bima beberapa saat. Lalu ia mengangguk.

Satu anggukan kecil. Tapi pasti.

Bima tersenyum lebar. "Makasih, Ris. Lo baik banget."

Faris menunduk lagi, tapi kali ini sudut bibirnya benar-benar terangkat. Senyum kecil yang nyaris tak terlihat, tapi nyata.

Di luar jendela, matahari bersinar terang. Seseorang berlari di lapangan upacara, tawanya terdengar sampai ke dalam kelas. Dunia di luar sana tetap berisik dan ramai dan menakutkan. Tapi di sudut depan kelas XII IPS 2 ini, untuk pertama kalinya, Faris merasa tidak sendirian.

...~•~•~•~...

Bel masuk berbunyi setengah jam kemudian. Bima pamit untuk kembali ke bangkunya di baris tengah, tapi sebelum pergi ia sempat berkata, "Nanti lo tunjukin gambar lo yang lain ya, Ris. Gue penasaran."

Faris hanya mengangguk, tapi tangannya tanpa sadar merapikan buku gambar di atas meja. Mengelus sampulnya pelan. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia membiarkan seseorang melihat gambarnya. Dan orang itu tidak menertawakannya. Tidak juga mengejeknya. Dan tidak menyebutnya aneh.

Mungkin... mungkin tidak semua orang akan menolaknya.

...~•~•~•~...

Bu Dina memasuki kelas dengan langkah mantap, membawa setumpuk buku dan laptop di tangannya. Beliau adalah guru Bahasa Inggris yang terkenal disiplin tapi juga adil—murid yang malas akan ditegur, tapi murid yang berusaha akan mendapat apresiasi. Kacamata bundarnya meluncur di pangkal hidung saat matanya menyapu ruangan.

"Good morning, class."

"Good morning, Miss Dina," serempak siswa kelas XII IPS 2, meskipun dengan semangat yang bervariasi.

"Morning, morning. Silakan duduk. Hari ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang analytical exposition. Minggu lalu kita sudah membahas struktur dan kaidah kebahasaannya. Hari ini kita akan mencoba membaca beberapa paragraf dan mengidentifikasi thesis, arguments, dan reiteration-nya."

Bu Dina membuka laptop, menghubungkannya ke proyektor. Sebuah teks berjudul The Importance of Reading muncul di layar putih.

"Siapa yang bisa membaca paragraf pertama?"

Keheningan. Beberapa siswa menunduk, berpura-pura sibuk dengan buku. Yang lain saling melirik, berharap ada yang mengorbankan diri. Bu Dina menghela napas—pemandangan yang sudah biasa.

"Tidak ada yang mau? Baiklah, saya tunjuk."

Mata Bu Dina bergerak dari baris depan ke belakang. Matanya sempat berhenti sekilas di Faris yang duduk di pojok depan—tapi ia langsung mengalihkan pandangan. Bukan karena tidak percaya, tapi karena ia tahu. Ia sudah mengenal kondisi Faris sejak awal tahun. Memaksanya hanya akan memperburuk keadaan.

Pandangannya terus bergerak ke belakang, ke baris paling pojok dekat jendela.

"Azril."

Azril tersentak dari bangkunya di pojok belakang. Ia tidak menyangka namanya akan dipanggil. Biasanya, guru-guru di sekolah lamanya tidak pernah memperhatikan anak di pojok belakang seperti dirinya. Dan di kelas ini, posisinya benar-benar terpencil—jauh dari pintu, jauh dari meja guru, di ujung ruangan yang paling tidak terlihat.

"Coba baca paragraf pertama. Lantang dan jelas."

Azril berdiri perlahan. Dari tempatnya di belakang, ia bisa melihat seluruh kelas terhampar di depannya—punggung-punggung teman sekelas, meja guru di depan, dan di pojok depan dekat pintu, ia bisa melihat Faris yang menunduk, tangannya sudah berada di atas notebook.

Azril menarik napas. Buku teks terbuka di hadapannya, tapi matanya sudah hafal dengan teks itu—ia membaca ulang semalam, seperti biasa. Tapi berdiri di depan kelas, dengan semua mata tertuju padanya...

Dadanya terasa sedikit sesak. Gugup.

"Take your time," Bu Dina berkata lembut dari depan.

Azril menarik napas. Ia membayangkan Bima ada di samping kirinya—dan benar, Bima menoleh dari bangku di sebelahnya, tersenyum cengengesan seperti biasa. Ia membayangkan kata-kata Bima: Lo bisa, Prof.

"Reading is one of the most important skills that a person can develop," Azril memulai. Suaranya pelan di awal, tapi perlahan menguat. "It is through reading that we gain knowledge, expand our vocabulary, and improve our critical thinking. Without the habit of reading, a person may find it difficult to keep up with the rapid flow of information in today's world."

Ia berhenti sejenak, mengecek apakah ada yang salah. Bu Dina mengangguk, matanya menunjukkan persetujuan.

"Continue."

Azril membaca hingga akhir paragraf. Setiap kata keluar dengan jelas, pelafalannya akurat, intonasinya tepat. Siswa-siswa lain mulai memperhatikan—bukan karena iri, tapi karena kagum. Di sekolah yang rata-rata kemampuan Bahasa Inggrisnya pas-pasan, Azril terdengar seperti berbeda.

"Excellent," Bu Dina berkata ketika Azril selesai. Senyumnya tulus, penuh apresiasi. "Pelafalanmu sangat baik, Azril. Intonasi dan ekspresimu juga tepat. Kamu sering berlatih di rumah?"

Azril mengangguk malu-malu. "Iya, Miss. Saya suka baca buku Bahasa Inggris."

"Bagus. Itulah yang disebut dengan kebiasaan baik. Silakan duduk."

Azril duduk kembali, napasnya sedikit lega. Bima dari samping mengacungkan jempol, berbisik, "Keren, Zril! Gak nyangka lo jago Inggris!"

Azril tersenyum kecil, tapi perasaan hangat di dadanya tidak hanya karena pujian Bima. Bu Dina memujinya. Guru itu memujinya di depan kelas. Di sekolah lamanya, guru-guru hanya melihatnya sebagai "anak pindahan yang bermasalah" atau "anak culun yang tidak punya masa depan".

Mungkin sekolah ini memang berbeda.

"Baik, sekarang kita lanjut ke paragraf kedua. Siapa yang mau mencoba?"

Keheningan kembali. Beberapa siswa mulai sibuk dengan ponsel di bawah meja.

Bu Dina menghela napas. "Baik, saya akan tunjuk lagi. Jangan harap kalian bisa menghindar."

Matanya menyapu ruangan. Melewati baris depan. Berhenti di baris tengah. Lalu, dengan pertimbangan yang matang, matanya kembali ke depan.

"Faris."

Faris membeku di kursinya di pojok depan.

Seluruh kelas mendadak sunyi. Beberapa siswa menoleh ke arah Faris dengan tatapan yang tidak bisa diartikan—ada yang iba, ada yang penasaran, ada yang tidak peduli. Tapi bagi Faris, semua tatapan itu terasa sama: seperti ribuan jarum yang menusuk kulitnya. Dan karena ia duduk di depan, semua orang bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tidak ada tempat bersembunyi. Tidak ada punggung orang lain untuk berlindung.

"Faris, tolong baca paragraf kedua," ulang Bu Dina, suaranya lebih lembut sekarang. Ia tahu posisi Faris mungkin membuatnya semakin tertekan, tapi ia juga ingin memberi kesempatan. Siapa tahu kali ini berbeda.

Faris tidak bergerak. Tangannya yang tadinya memegang pensil mulai gemetar. Keringat dingin muncul di dahinya, mengalir pelan ke pelipis. Dadanya terasa sesak, seperti ada yang duduk di atas tulang rusuknya.

Baca. Baca saja. Cuma satu paragraf. Lo pasti bisa. Lo udah latihan di rumah. Lo hafal kata-katanya. Lo—

Tapi lidahnya tidak mau bergerak.

Beberapa siswa mulai berbisik. Suara-suara kecil yang bagi Faris terdengar seperti teriakan.

"Dia kenapa sih?"

"Kayaknya dari dulu gitu deh, gak pernah ngomong."

"Kasihan deh."

Faris menggenggam notebook-nya erat-erat. Tangannya gemetar hebat saat membuka halaman kosong. Ia menulis, tapi tulisannya amburadul, hampir tidak terbaca:

[Saya tidak bisa, Miss.]

Dari bangkunya di pojok belakang, Azril melihat semuanya. Ia melihat punggung Faris yang membeku. Ia melihat bahu Faris yang naik turun cepat. Ia melihat tangan Faris yang gemetar saat menulis. Dan untuk sesaat, ia melihat dirinya sendiri beberapa tahun lalu. Di kelas yang sama. Di posisi yang sama. Dengan ketakutan yang sama.

Tapi tidak ada Bima untuknya saat itu.

Bu Dina membaca tulisan Faris dari tempat dia berdiri. Wajahnya menunjukkan pengertian, bukan kekecewaan. "Baik, tidak apa-apa. Terima kasih sudah mencoba, Faris."

Tapi itu tidak cukup. Faris masih merasakan tatapan-tatapan itu dari belakang. Masih merasakan jantungnya yang hendak meledak. Masih merasakan dunia di sekelilingnya berputar terlalu cepat, terlalu kencang, terlalu—

Tiba-tiba, suara kursi bergeser.

Dari pojok belakang, Azril melihat Bima berdiri. Sahabatnya itu melangkah melewati baris demi baris kursi, mendekati Faris yang masih membeku di kursi depan. Azril tidak tahu apa yang akan dilakukan Bima, tapi dadanya tiba-tiba terasa sesak—bukan penyakit, tapi sesuatu yang lain. Perasaan campur aduk antara khawatir dan... iri? Tidak. Bukan iri. Kagum. Ya, kagum.

Bima berhenti di samping Faris. Tanpa ragu, ia menggenggam pergelangan tangan Faris—tidak erat, tidak memaksa. Hanya... menempel. Seperti jangkar.

"Miss," Bima berkata, suaranya tenang tapi jelas. "Saya mau minta izin temani Faris ke UKS. Dia kelihatan kurang sehat."

Bu Dina menatap Bima, lalu Faris, lalu mengangguk. "Baik. Bawa dia ke UKS, Bima. Kalau perlu, antar dia pulang ya Bima."

Bima mengangguk. Perlahan, ia membantu Faris berdiri. Faris tidak sadar kapan kakinya mulai bergerak, tapi tiba-tiba mereka sudah berada di lorong sekolah, meninggalkan kelas XII IPS 2 yang mulai ramai lagi.

Azril memperhatikan mereka dari belakang. Ia melihat bagaimana Bima berjalan di samping Faris, tidak terburu-buru, tidak memaksa. Ia melihat bagaimana Bima, tanpa diminta, tahu persis apa yang dibutuhkan oleh seseorang yang sedang dalam ketakutan.

Dan untuk pertama kalinya, Azril bertanya pada dirinya sendiri: Apakah aku bisa menjadi seperti itu? Apakah aku bisa menjadi seseorang yang menolong, bukan hanya ditolong?

Ia menggenggam pulpennya lebih erat. Mungkin suatu saat nanti. Mungkin ia bisa belajar.

...~•~•~•~...

Lorong sekolah sepi. Hanya suara langkah kaki mereka yang bergema di dinding-dinding kosong. Bima tidak melepaskan genggamannya, tapi juga tidak menambah tekanan. Ia hanya berjalan di samping Faris, mengikuti langkahnya yang masih sedikit goyah.

Mereka berhenti di bangku panjang dekat ruang UKS. Bima membantu Faris duduk, lalu duduk di sampingnya. Jarak di antara mereka cukup—tidak terlalu dekat sehingga membuat Faris panik, tidak terlalu jauh sehingga Faris merasa ditinggalkan.

"Lo baik baik aja?" Bima bertanya pelan.

Faris tidak menjawab. Ia masih memegang notebook-nya dengan kedua tangan, buku itu naik turun mengikuti detak jantungnya yang masih kencang.

"Gue minta maaf, ya," Bima berkata lagi. "Gue ambil tindakan sendiri bawa lo keluar kelas. Tapi lo keliatan panik banget, Ris. Gue khawatir."

Faris mendongak. Matanya masih basah, bukan karena menangis, tapi karena keringat yang mengalir dari dahi. Ia membuka notebook-nya dengan tangan gemetar.

[Maaf. Gue udah ngerepotin.]

Bima membaca, lalu menghela napas panjang. Ia menoleh, menatap Faris dengan serius—sesuatu yang jarang dilakukan oleh cowok yang selalu tersenyum itu.

"Denger ya, Ris." Suara Bima pelan, tapi tegas. "Lo gak pernah repotin gue. Lo gak pernah repotin siapapun. Lo cuma... punya caramu sendiri. Dan itu gak masalah."

Faris menatap Bima. Matanya masih merah, masih ada sisa ketakutan di sana. Tapi perlahan, napasnya mulai teratur.

"Lo tau gak?" Bima melanjutkan, suaranya sedikit lebih santai. "Dulu waktu gue kecil, gue juga punya temen yang kayak lo. Susah ngomong di depan umum. Tiap kali disuruh maju ke depan kelas, dia nangis."

Faris menegang.

"Tapi sekarang dia jadi youtuber. Serius. Ngomong di depan kamera, di depan ribuan orang. Keren kan?" Bima tersenyum. "Gue bukan bilang lo harus kayak dia. Tapi gue cuma mau lo tau... orang bisa berubah. Termasuk lo."

Faris menunduk. Tangannya meremas ujung notebook.

[Tapi gue takut.]

"Takut itu wajar, Ris. Siapa yang gak takut?" Bima menyandarkan punggungnya ke dinding. "Gue aja takut. Takut gak bisa jadi pemain bola kayak impian gue. Takut nanti disuruh jadi TKI kayak kakak gue. Takut bikin mama kecewa."

Faris mendongak. Ini pertama kalinya Bima berbicara tentang keluarganya.

"Tapi gue pikir... takut itu bukan alasan buat berhenti. Lo setuju?"

Faris tidak menjawab. Tapi perlahan, sudut bibirnya terangkat. Senyum kecil yang hampir tidak terlihat.

Bima melihat itu dan tersenyum lebar. "Nah gitu dong. Lo cakep kalo senyum."

Faris tersentak, wajahnya memerah. Ia menunduk cepat, menyembunyikan wajahnya di balik notebook. Bima tertawa kecil—tawa yang hangat, bukan tawa yang mengejek.

"Yaudah, lo istirahat di sini dulu. Gue balik ke kelas, takut ditegur Miss Dina."

Bima berdiri. Tapi sebelum pergi, ia menepuk pundak Faris pelan.

"Besok kita lanjut belajar Bahasa Inggris bareng, ya. Gue juga gak jago. Kita belajar sama-sama aja."

Faris mengangguk. Anggukan kecil, tapi pasti.

Bima melambaikan tangan, lalu berjalan meninggalkan Faris di bangku panjang itu. Faris memperhatikan punggung Bima yang semakin menjauh, lalu menunduk ke notebook-nya.

Di halaman kosong di antara tulisan-tulisan sebelumnya, ia menulis satu kalimat. Perlahan. Dengan tangan yang tidak lagi gemetar.

[Hari ini gue nggak sendirian.]

Ia menatap kalimat itu beberapa saat. Lalu ia membalik halaman, membuka buku sketsanya, dan mulai menggambar lagi.

Sosok laki-laki dengan rambut acak-acakan, sedang berdiri di depan kelas, berbicara dengan percaya diri.

Di bawah gambar itu, Faris menulis:

Untuk Bima. Teman pertamaku.

...~•~•~•~...

Sore itu, setelah pulang sekolah, Azril duduk di kamarnya yang sempit. Buku catatan Bahasa Inggris terbuka di hadapannya, tapi pikirannya tidak fokus. Ia mengingat Faris yang gemetar di kelas tadi. Ia mengingat bagaimana Bima langsung berdiri dari bangku di sampingnya, berjalan ke depan, dan membawa Faris keluar.

Bima selalu ada untuk orang lain. Untuk dirinya. Untuk Faris.

Azril menghela napas. Dadanya terasa sedikit sesak—bukan penyakit, tapi rasa hangat yang sama seperti kemarin. Sesuatu yang membuat ia ingin melakukan sesuatu. Membalas kebaikan Bima. Membantu Faris. Menjadi lebih dari sekadar "anak baru yang culun" yang duduk di pojok belakang, jauh dari mana pun.

Ia mengambil ponselnya. Menekan nama Bima di kontak.

Azril: Bim, lo baik-baik aja?

Balasan datang cepat.

Bima: Gue sehat-sehat aja Zril. Lo kenapa?

Azril: Faris, tadi dia pulang bareng lo kan?

Bima: Iya, dia udah masuk kayaknya. Gue anterin sampe rumah. Ibunya udah nungguin di depan rumah

Azril: Lo baik banget Bim.

Bima: Biasa aja. Lo juga pasti bakal gitu kalo ada yang perlu

Azril menatap layar ponselnya. Lo juga pasti bakal gitu kalo ada yang perlu.

Apakah ia akan seperti itu? Selama ini, ia selalu menjadi orang yang dibela, bukan yang membela. Tapi mungkin... mungkin ia juga bisa. Mungkin ia juga punya sesuatu untuk ditawarkan.

Ia mengetik lagi.

Azril: Besok kita belajar bareng? Gue bisa bantu lo dan Faris belajar bahasa Inggris.

Bima: Wah mauuuu! Gue kasih tau Faris nanti!

Bima: Eh lo tahu gak tadi Faris gambar gue di buku gambarnya

Bima: Keren banget sumpah

Azril tersenyum membaca pesan-pesan itu. Di kamarnya yang sempit, di tengah tumpukan buku dan catatan, untuk pertama kalinya ia merasa bahwa ia memiliki tempat. Bukan hanya sebagai murid pendiam yang cuma duduk berdiam diri di kelas. Bukan hanya sebagai korban bulli.

Tapi sebagai teman.

...~•~•~•~...

Di rumahnya yang sunyi, Faris duduk di depan meja belajar. Buku gambarnya terbuka di halaman terakhir yang ia warnai sore tadi—gambar Bima yang belum selesai.

Ia mengambil pensil warna biru untuk seragam, tapi tangannya berhenti. Matanya beralih ke ponsel yang bergetar di sudut meja.

Pesan masuk dari Bima.

Bima: Ris, besok kita belajar bareng ya sama Azril. Lo mau kan?

Faris menatap layar. Jari-jarinya bergetar sedikit saat mengetik balasan.

Faris: Mau.

Hanya satu kata. Tapi satu kata itu terasa berat.

Balasan Bima datang cepat.

Bima: MANTAP! Besok habis sekolah langsung ke rumah Azril aja

Bima: Yaudah gua istirahat dulu ya. Ketemu di sekolah besok

Faris tidak membalas. Tapi ia tersenyum. Senyum kecil yang jarang muncul, tapi kali ini terasa nyata.

Ia mengambil pensil biru, dan mulai mewarnai seragam pada gambar Bima.

Di luar jendela, langit sore berwarna jingga. Hari ini berat. Tapi hari ini juga... ada yang berbeda.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!