Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 Talak 3
Prang!
Gelas di tangan Ragil terlepas dengan sendirinya dan pecah berkeping-keping di lantai. Suaranya menggema, memantul di dinding rumah sederhana yang mendadak terasa sunyi dan menegangkan.
Wajah Ragil memanas, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal mendengar pengakuan Razna. Pengakuan itu bagaikan batu yang menghantamnya dari atas bukit.
Ragil menatap istrinya dengan amarah yang bercampur dengan rasa tak terima dengan jumlah uang yang pernah ia keluarkan untuk biaya persalinan.
“Jadi… semua itu sia-sia? Aku sudah mengeluarkan banyak uang buat persalinan, tapi ujung-ujungnya bayi itu meninggal?” gumamnya pelan, namun cukup menohok, berhasil melukai hati istrinya.
Ibu mertua menoleh cepat. “Ragil!” tegurnya, nada suaranya berubah tegas. Seraya menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ucapan Ragil yang seolah tidak ikhlas menolong istrinya sendiri.
Namun Ragil seolah tidak mendengar teguran Ibunya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Razna kembali dengan sorot mata yang sulit ditebak antara kecewa dan kesal.
“Aku sudah keluar biaya banyak, sudah repot pinjam ke sana-sini hanya untuk bela-belain kamu operasi sesar, tapi hasilnya begini?” lanjutnya, suaranya meninggi. Napasnya berburu.
Tubuh Razna bergetar hebat. Ia menunduk lebih dalam, air matanya berderai tanpa suara. Dadanya terasa semakin sesak, seolah setiap kata yang keluar dari mulut suaminya menekan luka yang belum sempat sembuh. Luka tak berdarah itu pun terus bertambah mengoyak hatinya yang kini kian rapuh.
“Cukup, Ragil!” Ibu mertua berdiri, suaranya kali ini benar-benar meninggi. Dia tidak ingin melihat menantunya hancur karena kejadian ini.
“Ini bukan soal uang. Kamu tahu? Yang meninggal itu cucu Ibu, anak kamu juga!” lanjut sang Ibu dengan suara bergetar, menahan emosi yang membuncah.
Ragil terdiam sesaat, napasnya masih memburu. Namun, ucapan Ibunya tetap tak mampu menutupi ketidakikhlasannya dalam memberikan sumbangsih untuk istrinya.
“Kamu tahu? Orang yang paling terpukul dan merasakan kehilangan bayi itu Razna. Kamu seharusnya ada di sampingnya untuk menenangkan jiwanya, bukan malah menyalahkan keadaan!” ujar Ibu dengan emosi yang meletup.
Ragil mengepalkan tangannya. Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata apa-apa.
Razna perlahan mengangkat wajahnya. Matanya sembab, tapi kini terlihat lebih tegar. Apa pun yang akan terjadi, Razna akan siap menerimanya.
“Tidak apa-apa, Bu…” ucapnya pelan, meski suaranya masih bergetar.
“Mungkin karena dari awal Razna yang terlalu berharap semuanya akan baik-baik saja. Melahirkan anak dan bisa hidup bahagia bersama Mas Ragil. Tapi nyatanya, kebahagiaan itu harus pupus," lanjutnya dengan suara pelan.
Kalimat itu sederhana, namun menyimpan luka yang sangat dalam. Razna kembali memejamkan matanya menahan perih di dada.
Ragil mundur selangkah. Wajahnya yang semula kosong perlahan berubah menjadi penuh kecurigaan. Ragil kembali menatap istrinya dengan tajam.
“Jadi anak kita meninggal?” ulangnya pelan, lalu matanya menyipit.
Razna hanya mengangguk pelan, dia tidak sanggup untuk berbicara lagi.
“Kalau memang begitu, terus mana bayinya?”
Deg!
Pertanyaan itu membuat Razna terdiam. Bibirnya bergetar, seolah ada sesuatu yang sulit ia ucapkan. Dia menggigit bibir bawahnya. Sore ini benar-benar kejujurannya sedang dilucuti oleh suaminya.
Ibu mertua menatapnya lembut, meski air matanya masih mengalir, “Tidak apa-apa, Nak… kalau memang bayi itu belum sempat dibawa pulang, kita bisa menjemputnya bersama."
“Maaf Bu. Tapi bayinya memang sudah tidak ada,” potong Razna lirih.
Ragil langsung menangkap kalimat itu dengan kecurigaan. Mencecar dengan berbagai pertanyaan yang sangat menyudutkan perasaan istrinya .
“Apa maksudmu tidak ada?” nadanya meninggi, “Jangan bilang bayi kita, kamu tinggalkan begitu saja di rumah sakit?”
Razna menggeleng pelan. Air matanya kembali jatuh.
“Razna tidak punya biaya, Bu…” suaranya hampir hilang.
Ibu mertua mengerutkan keningnya,
"Bukankah masalah biaya itu sudah dilunasi oleh suamimu?" tanya Ibu sambil melirik ke arah Ragil yang pura-pura tidak mendengar.
Razna menggeleng, “Ternyata biaya administrasi belum lunas, Bu. Belum lagi biaya pemulasaran semuanya butuh uang. Razna tidak bisa pergi mencari uang sendirian karena Razna masih tahap pemulihan. Menghubungi orang-orang terdekat pun tidak berhasil. Aku bingung, Bu. Sementara pihak rumah sakit mengancam kalau tidak segera dilunasi, bayi tidak bisa dimakamkan," jelas Razna panjang lebar.
Ragil tertawa sinis. Menatap tajam istrinya yang berwajah sembab. Dia tidak peduli lagi perasaan istrinya yang tengah hancur.
“Terus...kemana bayi itu sekarang? Kamu pulang tanpa membawa bayi. Kemana?" suara Ragil meninggi lagi, wajahnya memerah menahan amarah.
Hening mulai terasa walaupun sesaat. Hanya suara sholawatan yang terdengar samar di ujung gang sana.
Tidak lama kemudian, dengan sisa kekuatan dan keberanian yang ia kumpulkan, Razna berkata,
“Razna sudah menyerahkan bayi itu pada seorang ibu yang menawarkan bantuan untuk melunasi biaya rumah sakit dan membiayai pemakaman sampai selesai."
"Ibu siapa, apa kamu kenal, Nak?" tanya Ibu mertua dengan lembut.
Razna menggeleng pelan, wajahnya menunduk.
Ragil menatap tajam. “Menyerahkan bayi itu pada Ibu yang tidak kamu kenal?”
Ragil mendekat, suaranya penuh tekanan. “Atau… kamu menjual bayi itu demi imbalan pelunasan biaya rumah sakit dan biaya pemakaman?”
Kalimat itu menghantamnya seperti petir. Wajah Raznalira menegang. Tuduhan Itulah yang paling tidak ia kehendaki. Terlebih suaminya sendiri tidak percaya pada ucapannya dan tega menuduh hal yang keji pada dirinya.
Razna langsung menggeleng kuat. “Bukan begitu. Jangan salah paham, Mas!"
“Salah paham gimana? Ini sudah jelas. Kamu pulang tidak membawa bayi dan kamu menyerahkan bayi itu pada ibu-ibu yang tidak kamu kenal, dengan imbalan lunas semua biaya rumah sakit!” bentak Ragil sengit.
Ragil menjeda ucapannya sebentar, lalu melanjutkannya lagi dengan kalimat yg lebih menohok.
“Orang kayak kamu bisa saja melakukan hal yang nekat. Karena desakan ekonomi bisa saja melakukan apapun! Jangan-jangan kamu memang menjual jasad anak kita! Jawab!" ujarnya dengan suara meninggi.
“Ragil. Jaga ucapanmu!” bentak Ibu merasa kasihan pada menantunya yang sudah pasti tertekan
Namun Ragil sudah dikuasai amarah dan prasangka buruk pada istrinya. Sehingga dia tidak mau tahu, alasan apapun yang diucapkan Ibunya.
“Kalau bukan dijual, mana buktinya? Mana anak itu?” desaknya.
Razna menutup wajahnya dengan menangis. Ia terlalu lelah untuk menjelaskan panjang lebar pada suaminya. Terlalu hancur untuk membela diri.
Razna terdiam. Hal ini justru membuat Ragil semakin yakin dengan tuduhannya.
“Dasar, ibu macam apa kamu ini?” desisnya penuh hina. “Anak sendiri saja tega kamu lepaskan demi uang!”
Kata-kata itu begitu meremas hati Razna yang masih mencoba untuk bertahan.
Dengan suara bergetar, Ragil melangkah mundur, lalu berkata dingin, “Aku sudah tidak bisa mentolelir kejadian ini.”
Ibu menatap Ragil dengan bingung. “Ragil, kamu mau apa lagi sekarang?”
Ragil menatap Razna tajam. Tidak ada lagi ragu di matanya. Ini pun dijadikan kesempatan buat Ragil untuk melepaskan Razna sebagai istrinya.
“Disaksikan Ibu kandungku sendiri, hari ini aku talak kamu. Raznalira Utami mulai sekarang, kamu bukan istriku lagi!" ujar Ragil mantap.
bnar kata renndra.. patuhin aja razz
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...