Raisa Maureen ditinggal mati suaminya di dalam kondisi masih prawan, lalu ia melakukan hubungan satu malam dengan kakak iparnya karena pria itu mabuk berat dan kehilangan keperawanannya. setelah menikah dengan Evan ia baru mengetahui kenapa selama ini Aditya almarhum suaminya tidak pernah menyentuhnya. Apa yang sebenarnya terjadi? ikuti kelanjutan kisah nya hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Linggrie
Raisa masih sibuk menghabiskan es krimnya sambil sesekali menghindari tatapan Evan yang dari tadi tidak lepas darinya.
"Kenapa lihatin aku terus?" tanyanya akhirnya.
Evan menopang dagu dengan tangan.
"Karena mas senang lihat kamu mulai senyum lagi."
Raisa terdiam sesaat, lalu menunduk malu.
"Aku tadi kira… habis dari tempat itu aku bakal terus nangis."
Evan menghela napas kecil.
"Mas juga takut kamu hancur."
Raisa memainkan sendok es krimnya pelan.
"Aku memang sakit hati… tapi setidaknya sekarang aku tahu kenyataannya."
Evan mengangguk.
"Dan sekarang kamu nggak sendirian lagi."
Raisa menatap Evan beberapa detik sebelum tersenyum tipis.
"Kamu tahu nggak sih…"
"Hm?"
"Kamu itu kadang nyebelin."
Evan tertawa kecil.
"Kadang aja?"
"Iya. Sisanya mesum."
Evan pura-pura berpikir.
"Berarti masih ada bagusnya."
Raisa langsung mendengus kecil sambil menahan senyum.
Tak lama kemudian Evan berdiri.
"Ayo."
"Mau ke mana lagi?"
"Katanya tadi mau belanja."
Raisa langsung menggeleng cepat.
"Nggak jadi."
Evan mendekat lalu membungkuk sedikit sejajar dengan wajah Raisa.
"Takut mas keluar banyak uang?"
"Aku nggak enak…"
Evan mengusap pelan kepala Raisa.
"Biasain."
Raisa menatapnya bingung.
"Biasain apa?"
"Dimanja calon suami."
Raisa langsung salah tingkah lagi.
"Mas…"
Evan tertawa kecil lalu menggenggam tangannya.
"Ayo sebelum mall tutup."
Raisa akhirnya ikut berdiri sambil tetap menggenggam tangan Evan erat tanpa sadar mulai merasa nyaman berjalan di samping pria itu.
Mereka berjalan pelan menyusuri koridor mall sambil bergandengan tangan. Raisa sesekali melihat etalase toko, sementara Evan terus memperhatikannya diam-diam.
"Sa…" panggil Evan tiba-tiba.
"Hm? Iya, mas?"
Evan tersenyum tipis.
"Kamu sebenarnya lebih suka yang gimana?"
Raisa mengernyit bingung.
"Maksudnya?"
Evan mendekat sedikit sambil berbisik jahil,
"Yang agak mesum kayak mas… atau yang alim kayak Aditya?"
Raisa langsung melotot kecil.
"Mas!"
Evan malah tertawa pelan.
"Loh, salah ya?"
Raisa memalingkan wajahnya karena malu.
"Kenapa jadi nanya begitu sih…"
Evan memasukkan satu tangan ke saku celana, masih tersenyum santai.
"Soalnya dulu kamu bilang Aditya itu baik, alim, kalem… sedangkan mas kebalikannya."
Raisa mendengus kecil.
"Mas tuh bukan kebalikannya… mas terlalu banyak godain aku."
Evan mengangkat alis.
"Berarti kamu nggak suka?"
Raisa langsung gugup.
"Aku nggak bilang nggak suka…"
Evan berhenti berjalan sebentar, membuat Raisa ikut berhenti.
"Nah lho," godanya pelan. "Berarti suka?"
Pipi Raisa langsung merah.
"Kamu tuh suka mancing jawaban."
Evan tertawa kecil melihat reaksinya.
Raisa akhirnya menjawab pelan sambil menunduk,
"Setidaknya… aku merasa diinginkan sama kamu."
Ucapan itu membuat Evan sedikit terdiam.
Raisa menggigit bibirnya pelan.
"Dulu aku selalu mikir mungkin aku kurang cantik… kurang menarik…"
Evan langsung menghentikan langkahnya lagi lalu memegang kedua bahu Raisa lembut.
"Jangan ngomong begitu."
Tatapannya serius sekarang.
"Dari pertama mas lihat kamu… mas sudah suka."
Raisa menatap matanya perlahan.
Evan mengusap pelan pipinya.
"Dan percaya sama mas… bukan karena nafsu aja mas dekat sama kamu."
Raisa tersenyum tipis, meski matanya masih terlihat rapuh.
"Iya… aku tahu."
Evan kembali menggenggam tangannya.
"Tapi kalau soal sedikit mesum… itu bonus."
Raisa langsung memukul pelan lengannya lagi.
"Ih!"
Evan tertawa puas sementara Raisa cuma bisa geleng-geleng kepala menahan malu.
Evan tiba-tiba menarik tangan Raisa masuk ke sebuah toko.
"Eh… mas?" Raisa langsung menghentikan langkah begitu melihat papan nama toko di depan mereka. "Ini kan Victoria’s Secret…"
Evan terlihat santai.
"Iya."
Raisa langsung menatapnya tidak percaya.
"Mas mau ngapain masuk sini?"
Evan mendekat sedikit sambil berbisik jahil,
"Mas mau beliin kamu lingerie."
Pipi Raisa langsung merah seketika.
"Mas!"
Evan malah tertawa kecil melihat reaksinya.
"Apa salahnya? Buat calon istri mas juga."
Raisa buru-buru menarik tangannya pelan.
"Aku nggak mau… malu."
Evan mencondongkan wajahnya sedikit.
"Kenapa malu?"
"Ya malu aja!" Raisa melirik sekitar panik. "Banyak orang."
Evan justru terlihat santai sambil melihat beberapa display.
"Mas pengen lihat kamu pakai yang lucu-lucu."
Raisa langsung memukul pelan lengannya.
"Ih, dasar mesum."
Evan tertawa kecil.
"Lagian perempuan lain aja santai masuk sini."
"Itu mereka, bukan aku," gumam Raisa malu.
Seorang pegawai toko mendekat dengan ramah.
"Selamat siang, Kak. Ada yang bisa dibantu?"
Raisa makin salah tingkah sampai buru-buru sembunyi sedikit di belakang Evan.
Evan menahan senyum.
"Boleh lihat koleksi terbaru."
Pegawai itu langsung mengangguk antusias.
"Tentu, Kak. Silakan."
Raisa mencubit pelan pinggang Evan.
"Mas…"
Evan meliriknya sambil tersenyum jail.
"Apa?"
"Aku malu…"
Evan meraih tangannya lagi lalu menggenggamnya hangat.
"Nggak usah malu. Mas cuma pengen manjain kamu."
Raisa menghela napas pasrah sementara Evan terlihat semakin menikmati wajah malu-malu wanita itu.
ulat bulu mulai berdatangan...
Raisa kamu harus kuat menghadapi para uget uget yang mengincar Evan...
semangat naik ranjang
udah tau juga belang Aditya..
udah dengerin aja,jangan jadi orang yang sok tau gimana Aditya
udah di obok obok tiap hari msak gak mau dinikahi..
ada2 aja,kemana harga diri Mu Sa
pak David tukang kibul malah dikibulin...
anak sendiri pula pelakunya 🤣🤣🤣🤣