Cikal Bakal Tim Divisi Kasus Dingin
Ini GD setelah GD 1 sebelum GD 2 ( Shea n the gank ). Makanya aku kasih judul Ghost Detective Season 1.5.
Isinya awal tim gabut dibentuk. Masih the o.g tim ( bang Dean, mas Rayyan, mbak Nana, mbak Tikah dan pak Jarot ). Jangan cari mbak Lilis karena belum ada tapi ada awal mula mbak Susi ikutan. Ada mbak Nita juga, ada anomali lainnya ( belum musim Saja Boys versi tuyul ). Masih ada Hoshi dan Bima. Ini masih bersama L, Nyes dan Dendeng.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Rahasia
Dokter Rahmat datang menjelang malam dimana Raiden sudah membantu para pegawai disana dengan korban dua gelas dan satu piring pecah. Dia pun dengan santainya mengeluarkan satu lembar uang bewarna merah untuk ganti rugi.
"Tenang, aku sudah persiapan karena tahu bakalan mecahin sesuatu," ucapnya dengan cuek saat pengurus panti memintanya untuk ganti rugi.
Dokter Rahmat yang diberitahu oleh para pegawai karena Raiden tangannya aduhai, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia juga sudah diberitahukan oleh AKP Dean Thomas dan Iptu Rayyan, 'kelebihan' seorang Raiden Park.
"Ya ampun mas Raiden, bisa-bisa uang mas Raiden habis nanti," bisik dokter Rahmat.
"Dok, uang aku di bank itu dollar Amerika, Singapura, Euro dan Yen. Dibandingkan dengan rupiah, cuma berapa sih?" jawab Raiden sombong.
Dokter Rahmat hanya mengusap tengkuknya karena tahu bagaimana kayanya keluarga Raiden Park. Punya usaha properti di Korea Selatan, punya toko emas eksklusif di Jepang, belum tabungan dari kakek buyutnya. Iptu Rayyan sudah wanti-wanti agar dokter Rahmat tidak shock.
"Ya wajar saja mecahin piring dan gelas yang tidak seberapa harganya, jadi receh di mata Mas Raiden Park," batin dokter Rahmat.
"Apakah Mas Raiden menemukan sesuatu?" bisik dokter Rahmat usai memeriksa pasien bernama Liana.
"Ada pintu rahasia. Aku tidak tahu apakah pintu itu masih dipakai atau tidak karena aku belum sempat mengeceknya." Raiden mengedikkan dagunya. "Ada CCTV disana. Tapi sepertinya tidak aktif yang ke arah pintu itu."
"Kok aku tidak tahu ya mas Raiden," bisik dokter Rahmat.
"Karena tidak kepikiran bakalan kejadian seperti ini kan?" senyum Raiden. "Bisa jadi itu pintu memang tidak dipakai. Kalau soal hack CCTV, aku harus minta tolong sama mas Ai atau mas Kai. Tidak bisa sendirian."
Dokter Rahmat menoleh ke arah Grandpa's Clock atau jam dinding besar di sana. Selama ini, dia tidak memperhatikan apa yang ada di balik jam kayu itu.
Beneran! Ada pintu!
"Kita periksa ke samping. Anggap saja kita nyasar." Raiden mengajak dokter Rahmat menuju bagian samping rumah jompo itu.
Dokter Rahmat melihat Raiden sudah persiapan membawa senter kecil yang cuku terang. Rasanya dia bersama dengan Conan Edogawa atau ... Hajime Kindaichi ... eh, Heiji Hattori karena kulit Raiden tidak terlalu putih untuk ukuran anak campuran.
"Di sini rupanya pintunya," gumam Raiden. Dia memeriksa pintu itu dan tersenyum. "Bekas dibuka. Lihat. Ada di laser pada kaitan gemboknya."
Dokter Rahmat melongo. "Ada? Alatnya?"
Raiden menatap datar. "Jaman sekarang, apa sih yang nggak ada?"
Dokter Rahmat merasa dirinya terlalu kudet karena dia hanya memikirkan studinya saja. Boro-boro memikirkan alat pemotong kaitan gembok! Memikirkan kasus ini saja sudah membuatnya pusing!
"Sayangnya, aku tidak bawa gadget dan sekali lagi, yang jago hack itu anak keluarga Reeves."
Dokter Rahmat melihat sekelilingnya. "Dia masuk dari pintu belakang situ, lalu ke pintu rahasia yang tertutup meja-meja bekas dan barang-barang lainnya. Lihat, ini ada bekas orang lewat."
Mereka melihat ada debu yang bergeser. "Anda benar, Dok. Ada yang lewat disini. Seharusnya CCTV di atas pagar bisa menunjukkan siapa atau apa."
"Tapi kita tidak ada hak bukan?" tanya dokter Rahmat.
Raiden mengambil ponselnya. "Mas Kai, nganggur? Bisa cek lokasi aku? Tolong hack CCTV disini ya?"
Dokter Rahmat melongo. Ini benar-benar definisi anak orang kaya yang gabut, punya teknologi yang digunakan untuk keadilan dan kebenaran.
"Pantas Pak Dean dan Pak Rayyan bilang kalau tidak banyak orang beruntung bisa masuk ke circle keluarga Pratomo. Ternyata memang ada hukum alam yang menyortir pertemanan ini," batin dokter Rahmat.
"Oke. Kirim saja mas nanti kalau sudah dapat. Sorry ganggu sama mbak Ana ... Hehehehe," kekeh Raiden tanpa dosa.
Dokter Rahmat menatap Raiden yang sudah menyimpan ponselnya. "Bagaimana?"
"Easy peasy lemon squeezy," cengir Raiden. "Ini bukan gedung PRC yang teknologia. Jadi kita tunggu besok."
Note
"Easy peasy lemon squeezy" (atau sering disingkat easy peasy) adalah ungkapan slang bahasa Inggris yang berarti "sangat mudah" atau "gampang sekali". Ungkapan ini bersifat informal, sering digunakan anak-anak, dan berima agar terdengar menyenangkan.
Sumber Google
"Sekarang kita ngapain?" tanya dokter Rahmat.
"Pulang lah. Aku rasa si pembunuh tidak akan datang kemari malam ini."
***
Kediaman keluarga Reeves
Kaivan mengomel panjang pendek karena dia sedang mengobrol dengan Anastasia usai menidurkan Aleksei. Malam ini dirinya berada di rumah Hoshi karena Opanya ingin Aleksei sekeluarga menginap disana.
"Kamu mau kemana Kai?" tanya Hoshi yang hendak tidur tapi sedang mengambil pisang karena lapar.
"Bantuin Dendeng!" jawab Kaivan judes.
"Lha? Anak itu kenapa?" Hoshi membatalkan masuk kamar karena penasaran.
"Minta tolong hack CCTV yang diperkirakan jadi ajang pembunuhan untuk mengambil organ tubuh manusia," jawab Kaivan sambil membuka pintu ruang IT.
"Lha? Macam kasusnya Jayde dan Wira?" tanya Hoshi.
"Iya. Tapi sepertinya ini lebih parah daripada kasusnya Oom Jayde dan Oom Wira." Kaivan menyalakan semua layar komputer dan Hoshi pun ikut duduk di sebelah cucunya sambil makan pisang.
"Oke aku cek GPS Dendeng ...." Kaivan mulai melakukan hack di gedung Harmoni Life. "Ya ampun, ini CCTV level pentium satu!"
"Pentium satu dirilis itu kamu belum brojol, Kai!" celetuk Hoshi sambil melihat satu persatu layar di hadapannya.
"Itu kan hanya ungkapan," kekeh Kaivan.
Kedua Opa dan cucu itu mulai melakukan hack usai Hoshi menghabiskan pisangnya. Keduanya terkejut saat ada yang masuk ke dalam halaman dari pintu belakang. Keduanya merasa kesal karena si pelaku memakai topi hingga menutup separuh wajahnya yang memakai masker.
"Wajah boleh ditutup tapi gaya berjalan seseorang itu seperti tanda tangan. Mau kamu amnesia, jika disuruh tanda tangan, pasti reflek. Karena itu sudah disimpan dalam memori," ucap Hoshi.
"Serius Opa?" tanya Kaivan.
"Serius! Jika amnesia disebabkan oleh cedera fisik yang mempengaruhi tangan atau kemampuan motorik, tanda tangan mungkin terganggu. Namun, jika amnesia hanya bersifat kognitif ( hilang ingatan ), kemampuan tanda tangan tetap ada. Itu sudah ada penelitiannya," jawab Hoshi. "Bahkan jika orang itu mengalami alzheimer. Tapi tahap awal ya?"
Kaivan mengangguk. Meskipun Hoshi sudah kepala tujuh akhir mau delapan, tapi yang namanya memori, Opa cantik itu masih bagus. Bahkan dia masih ribut dengan musuh bebuyutannya, Bima Baskara.
"Sepertinya obat panjang umur Opa itu membaca," senyum Kaivan.
"Benar. Membaca itu mengurangi pikun. Plus ribut dengan Werkudara itu seru!" kekeh Hoshi.
"Kalau soal itu tidak perlu dira ...." Kaivan terdiam begitu juga dengan Hoshi.
"Apa itu yang dibawa?"
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa gaaeeessss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
tp nkmti dlu teror dr krban kjhtannya,atw mngkn pra arwah dr dvisi gabut mau ikutan jg????🤣🤣🤣
Belum lagi nanti teror para anomali ...
kuapokmu kapannnnn 🤣🤣🤣
Ga nyangka y opa boncabe bkln brjdoh sm oma rina,scra dr zmn dlu kl ktmu rbut mulu...sling ledek,taunya jth cintrong.....😁😁😁