NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Setelah menghabiskan setengah gelas teh hangat, warna di pipi Prita perlahan mulai kembali.

Istri Mas Gendut yang bijak segera berpamitan keluar kamar untuk memberikan ruang bagi mereka berdua.

Suasana menjadi hening, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan sisa rintik hujan yang memukul atap seng.

Prita menyandarkan kepalanya ke bantal, matanya menatap kosong ke arah sarung yang dikenakan Abraham.

Kelelahan fisik rupanya telah meluruhkan ego dan amarahnya yang meluap-luap tadi.

"Mas..." panggil Prita lirih.

Abraham yang sedang memegang gelas kosong itu langsung menoleh.

Ia meletakkan gelas ke meja dan menggenggam tangan Prita yang kini sudah mulai menghangat.

"Iya, Dik? Mas di sini."

"Foto itu, kenapa Mas kelihatan dekat sekali sama dia?" tanya Prita, suaranya parau namun tidak lagi mengandung nada bentakan. Ia akhirnya membuka diri untuk mendengar.

Abraham menarik napas panjang, menatap mata istrinya dengan kejujuran yang telanjang.

"Prita, demi Allah, Mas tidak ada hubungan apa-apa dengan Diana. Kejadian di lapangan tadi itu murni jebakan. Diana datang tiba-tiba membawa makanan atas suruhan Ibu. Mas sudah menolaknya mentah-mentah di depan Deddy dan semua anak-anak lapangan. Mas bahkan bilang ke dia kalau Mas sangat mencintai istri Mas dan tidak mau dia datang lagi."

Abraham merogoh saku sarungnya, mengeluarkan ponsel baru pemberian Prita yang tadi sempat ia selamatkan dari air hujan.

"Foto itu diambil dari jauh, dari sudut yang sengaja dibuat seolah-olah kami mesra. Ibu yang melakukannya, Prita. Dia ingin kita hancur karena dia tahu hanya dengan cara ini kamu akan menyerah pada Mas."

Prita terdiam. Ia teringat kembali rekaman suara yang ia buat tadi pagi di mess.

Kebencian ibu mertuanya memang sudah sampai di tahap yang tidak masuk akal.

"Mas tidak butuh bidan desa, Mas tidak butuh jabatan supervisor kalau itu artinya harus kehilangan kamu," lanjut Abraham dengan suara yang mulai bergetar.

"Mas rela memanjat tower sampai tua, asalkan pulangnya ke kamu, Prita. Jangan pernah pergi lagi seperti tadi. Mas hampir gila waktu lihat kamar kosong dan baju-bajumu tidak ada."

Prita menatap suaminya yang tampak begitu rapuh dalam balutan sarung pinjaman itu.

Ia melihat ketulusan di mata Abraham, jenis ketulusan yang tidak bisa dipalsukan oleh foto mana pun.

Perlahan, Prita menarik tangan Abraham dan menempelkannya ke pipinya.

Air mata kembali luruh, tapi kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa sesal telah meragukan pria yang sudah bertaruh nyawa untuknya.

"Maafkan aku, Mas Ham. Aku terlalu takut kehilangan Mas sampai aku lupa siapa yang harus aku percaya," bisik Prita terisak.

Abraham langsung menarik Prita ke dalam pelukannya.

Di kamar tamu rumah Mas Gendut yang sederhana itu, badai kepercayaan mereka akhirnya mereda, menyisakan janji yang lebih kuat untuk menghadapi dunia yang belum tentu merestui mereka.

Suasana di kamar tamu rumah Mas Gendut yang tadinya tegang dan penuh haru, mendadak berubah cair.

Abraham mengusap sisa air mata di pipi Prita dengan ibu jarinya, lalu menatap lekat-lekat mata istrinya yang masih sembab namun sudah mulai menampakkan binar jenaka.

"Kamu kalau cemburu menakutkan, Dik. Sampai kabur ke gunung segala," bisik Abraham sambil menyunggingkan senyum tipis yang menggoda.

"Tapi tolong, percayalah sama suamimu ini. Mas tidak pernah dan tidak akan pernah selingkuh. Di hati Mas cuma ada kamu, teknisi tower ini cuma punya satu antena pemancar, dan frekuensinya cuma nyambung ke kamu."

Prita memanyunkan bibirnya, sedikit malu karena telah bertindak impulsif sampai pingsan di bawah guyuran hujan.

"Ya habisnya, foto itu kelihatan nyata sekali, Mas. Mana Diananya cantik, putih, pakai seragam bidan lagi. Aku kan cuma begini..."

Abraham langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Prita, menghentikan kalimat minder istrinya.

Ia kemudian mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat wajah Prita yang tadinya pucat langsung berubah merah padam.

"Mas tidak butuh bidan. Mas cuma butuh kamu, karena Mas ingin punya anak dua belas sama kamu, Prita," ucap Abraham dengan nada serius yang dibuat-buat.

Mata Prita membelalak lebar. Ia spontan mencubit pinggang Abraham yang hanya tertutup sarung kotak-kotak itu.

"Issshh! Mas Ham ngawur! Dua belas? Mas mau buka klub sepak bola atau gimana?!" seru Prita sambil tertawa kecil di sela kekesalannya.

"Memangnya aku ini mesin pencetak gol?"

Melihat reaksi istrinya yang sudah bisa bercanda kembali, Abraham tidak bisa menahan diri lagi.

Ia tertawa terbahak-bahak hingga bahunya berguncang hebat.

Suara tawa khas laki-laki lapangan itu memenuhi kamar, seolah mengusir sisa-sisa hawa dingin dan kesedihan yang sempat menggelayuti mereka sejak sore tadi.

"Lho, kan bagus, Dik. Sebelas jadi pemain, satu jadi cadangan. Mas yang jadi pelatihnya, kamu manajernya. Kita bikin tim 'Mess FC' biar Deddy makin pusing lihat kita ramai-ramai," goda Abraham lagi sambil merangkul bahu Prita erat-erat.

Prita akhirnya ikut tertawa lepas, menyandarkan kepalanya di dada Abraham yang hangat.

"Dasar Mas Ham, bicaranya makin melantur kalau sudah pakai sarung begini."

Di luar, hujan sudah benar-benar reda, menyisakan suara tetesan air dari atap dan aroma tanah basah yang menenangkan.

Di dalam rumah kayu Mas Gendut yang sederhana, dua insan itu akhirnya menemukan kembali jangkar mereka.

Malam semakin larut di kawasan Gunung Kawi. Setelah badai emosi mereda, Abraham mengajak Prita keluar sebentar ke teras rumah Mas Gendut untuk menghirup udara pegunungan yang bersih.

Kabut tipis mulai turun, menyelimuti deretan pohon kamboja dan bangunan-bangunan tua di sekitar pesarean.

Aroma dupa yang terbawa angin malam menciptakan suasana yang kental dengan nuansa mistis namun entah mengapa terasa sangat romantis bagi mereka yang baru saja berbaikan.

Prita merapatkan jaket pinjaman dari istri Mas Gendut, jemarinya bertautan erat dengan tangan kasar Abraham.

"Serem ya, Mas, hawanya beda sekali sama di kota," bisik Prita sambil melirik bayangan pohon yang bergoyang tertiup angin.

Abraham tersenyum tipis, tatapannya menerawang ke arah kegelapan jalanan menanjak.

"Dulu, Mas sering sekali dapat tugas di sini sama Ronny. Kami harus jaga sinyal tetap stabil karena peziarah di sini banyak sekali. Pernah suatu kali, Mas sama Ronny terpaksa menginap di bawah tower karena hujan badai seperti tadi."

"Terus, Mas? Ada apa?" tanya Prita penasaran, meski hatinya mulai was-was.

"Banyak hal menakutkan, Dik. Ronny itu penakut sekali. Pernah dia teriak-teriak katannya lihat sosok putih duduk di atas panel listrik. Padahal pas Mas senter, cuma ada kain sisa proyek yang nyangkut. Tapi memang, suara-suara di sini itu aneh, kadang seperti ada orang yang berbisik tepat di telinga kita..."

Abraham sengaja merendahkan suaranya, membuat Prita semakin merapat ke tubuhnya.

"Tiba-tiba saja kalau suasana sunyi begini, biasanya ada yang..."

"HAAA!!" teriak Abraham tiba-tiba tepat di samping wajah Prita.

"Aaaaaak!! Mas Ham!!" jerit Prita kaget setengah mati.

Ia sampai meloncat dan hampir terjungkal kalau saja Abraham tidak cepat-cepat menangkap pinggangnya.

Napas Prita tersenggal-senggal, wajahnya yang tadi tenang kini pucat kembali karena kaget.

"Mas! Jangan bikin aku jantungan! Ini di Gunung Kawi, Mas, jangan sembarangan!" omel Prita sambil memukuli lengan Abraham berkali-kali.

Abraham bukannya merasa bersalah, ia justru tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggema di keheningan malam.

Tawanya terdengar sangat lepas, seolah beban berat yang ia panggul seharian telah luruh bersama candaan itu.

"Hahaha! Maaf, maaf, Sayang. Habisnya kamu serius sekali," ucap Abraham di sela tawanya, ia menarik Prita ke dalam dekapan hangatnya kembali.

"Nggak ada apa-apa, Sayang. Mas cuma ingin lihat ekspresi kamu saja. Ternyata istri Mas ini kalau takut lucunya minta ampun."

Prita mengerucutkan bibirnya, namun ia tidak bisa menahan senyumnya saat melihat suaminya bisa tertawa sebahagia itu.

Di tengah suasana Gunung Kawi yang penuh misteri, pelukan Abraham adalah tempat paling aman yang pernah ia miliki.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!