NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Teman Sekelas

Mengandung Anak Teman Sekelas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Hamil di luar nikah
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nongkrong

[Rumah Kaisar & Raline]

Malam Hari

Raline duduk di meja belajar, menyalin catatan milik salah satu temannya karena tadi tak sempat menulis materi pelajaran ketika ia harus ikut latihan.

Kamar di lantai bawah itu terasa begitu hening, hanya menyisakan suara gesekan ujung pena di atas kertas dan detak jam dinding yang seolah berpacu dengan pikiran Raline. Cahaya dari lampu belajar yang temaram menyinari tumpukan buku, menciptakan bayangan panjang di dinding yang catnya mulai mengelupas di beberapa sudut. Di luar, suara jangkrik bersahutan, menambah kesan sunyi di rumah tua milik nenek Kaisar ini.

Raline mencoba fokus pada barisan kalimat-kalimat yang tertulis di buku, namun bayangan di lapangan basket sore tadi terus menyeruak. Ingatannya terus memutar ulang adegan Nana yang menyeka keringat Kaisar, serta bagaimana Kaisar memacu motornya dengan ugal-ugalan seolah ingin membuktikan sesuatu.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan di pintu kayu kamarnya membuat Raline yang sedang fokus itu sedikit terkejut.

"Lin, lo belum tidur, kan?"

Suara Kaisar terdengar dari balik pintu.

"Belum. Masuk aja, nggak dikunci," jawab Raline datar tanpa menoleh.

Pintu terbuka dengan derit halus. Kaisar muncul dengan pakaian rapi. Ia memakai celana jeans dan jaket kesayangannya. Rambutnya tampak sudah rapi, dan aroma parfum maskulin yang segar langsung memenuhi ruangan itu.

Terlihat jelas ia baru saja mandi dan telah siap untuk pergi.

"Gue bawain susu, nih. Nanti lo kelupaan lagi kayak kemaren gara-gara terlalu sibuk," ucap Kaisar sambil melangkah mendekat. Ia meletakkan segelas susu khusus ibu hamil di sudut meja belajar Raline.

Raline akhirnya meletakkan penanya dan berbalik. Ia menatap gelas itu, lalu beralih menatap wajah Kaisar yang tampak segar sehabis mandi.

"Makasih," gumam Raline singkat. "Gue kira lo udah pergi. Katanya mau nongkrong sama temen-temen lo."

Kaisar menggeleng. "Bentar lagi gue berangkat. Cuma mau mastiin aja lo udah minum susunya terus gak bakal ngerasa kesepian kalo gue pergi."

"Kesepian?" ulang Raline dengan sebelah alis terangkat. "Gue gak pernah kesepian ditinggal sama lo. Yakali gue harus selalu ditemenin," dustanya.

"Siapa tau aja gue ngangenin," canda Kaisar.

Raline tersenyum kecil dan geleng-geleng kepala. Ia meraih gelas susu tadi, meniupinya sebentar lalu menyesapnya.

Kaisar sering membuatkan susu itu untuknya kala ia lupa. Pemuda itu berusaha sebaik mungkin memberikan yang terbaik untuk calon anaknya. Ia banyak belajar, dan sering mencari-cari info dari internet agar bisa menjaga Raline dan janinnya dengan baik.

Meski awalnya ia tak mau menerima kehadiran darah dagingnya, tapi faktanya kini Kaisar merasa senang bisa menjaga calon anaknya itu.

"Oh iya, kalo nanti gue pergi jangan lupa kunci kamar lo," kata Kaisar. "Jangan sampe gue harus negur lo berkali-kali biar lo paham kalo itu bahaya waktu gak ada siapa-siapa di rumah."

"Iya, iya... Bawel lo."

Kaisar menyentuh kepala Raline dan mengacak rambutnya lembut tapi penuh rasa gemas.

"Bawel juga demi kebaikan lo."

"Ish!" Raline menjauhkan tangan Kaisar dari rambutnya yang kini sedikit berantakan, bibirnya cemberut. "Rambut gue berantakan, tau!"

Kaisar tertawa puas. Ia kemudian berbalik untuk pergi, tapi menoleh sekali lagi pada Raline.

"Habisin susunya, jangan sampe lo sisain," pesannya.

"Iya. Cerewet banget!" jawab Raline ketus sembari merapikan rambutnya yang diacak Kaisar.

"Cerewet juga demi kebaik kalian."

Raline mendelik sebal ke arah Kaisar. Pemuda itu terkekeh lalu keluar dari kamar istrinya.

Begitu pintu tertutup, Raline justru menatap pintu kamarnya sendiri, tempat di mana suaminya keluar meninggalkan dirinya sendiri.

"Hati-hati di jalan, Kai," ucapnya pelan. "Jangan pulang terlalu malam, gue kesepian."

*****

Suara deru mesin Ninja merah milik Kaisar membelah kesunyian malam, menuju sebuah bangunan tua yang menjadi tempat berkumpul favoritnya. Begitu motornya memasuki halaman basecamp, sorot lampu depan menyapu barisan motor yang sudah terparkir rapi. Keempat sahabatnya langsung melambaikan tangan menyambut kedatangan Kaisar.

"Dateng juga akhirnya! Panjang umur lo, baru aja diomongin," seru Aris sambil mengangkat gelas plastiknya tinggi-tinggi begitu Kaisar melepas helm.

Kaisar turun dari motor, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena helm. Di teras basecamp, Aris, Irfan, Edwin, dan Faiz sedang duduk melingkar. Aroma rokok dan kopi instan menyeruak di udara.

"Tumben lo telat, Kai. Biasanya paling gercep kalo soal nongkrong," celetuk Irfan sambil menggeser kursi plastik untuk Kaisar.

"Ada urusan bentar di rumah," jawab Kaisar singkat. Ia duduk, mencoba menyesuaikan diri dengan kebisingan teman-temannya.

"Urusan apa? Anak SMA kayak kita kesibukannya cuma sekolah doang. Lo udah kayak bapak-bapak aja banyak sibuknya." kata Edwin.

Kaisar terkekeh hambar. "Ya sibuk aja... Namanya orang udah dewasa, pasti ada aja kesibukannya."

"Yaudah sih gak usah dibahas. Yang penting sekarang kita udah ngumpul di sini," ujar Irfan sembari meneguk kopi hitamnya.

"Eh, denger-denger anak-anak SMA sebelah nantangin balap di jalan baru jam satu nanti," ujar Aris semangat. "Gimana, Kai? Gas lah ya? Ninja lo udah lama nggak diajak lari."

"Bener tuh!" sahut Edwin. "Udah lama juga kita gak main-main di jalan."

"Bahaya, anjir," timpal Faiz. "Itu jalan masih baru, belum sepenuhnya aman. Mending kagak usah."

"Tapi balapannya kan cuma balapan ringan. Aman-aman aja kok," jawab Edwin. "Lagian kita cuma balapan anak SMA, bukan balapan kayak Valentino Rossi."

Aris menepuk bahu Kaisar. "Jadi, gimana? Lo mau apa nggak nih?"

Kaisar terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran itu. Namun, jiwa liarnya lebih dominan malam ini.

Ia juga sudah merasa rindu dengan dunianya yang selalu bebas. Mungkin tak ada salahnya mencoba kembali seperti remaja pada umumnya malam ini.

Ia akhirnya mengangguk mantap. "Boleh lah. Gue udah kangen juga balap-balapan."

"Bagus! Nanti kita ke sana deh buat terima tantangan mereka," sahut Aris puas.

"Terus kita ngapain dulu nih sambil nunggu tengah malem?" tanya Faiz.

"Kita seru-seruan dulu aja," jawab Aris antusias. "Nyanyi-nyanyi, anggap aja kita lagi konser, hahaha!"

"Yaudah, tapi lo yang main gitarnya," kata Kaisar sambil menyandarkan punggungnya ke kursi. "Gue lagi males mainin gitar."

"Sip!"

Aris mengambil gitar kesayangannya di dalam basecamp, lalu kembali berkumpul dengan teman-temannya.

Ia mulai memetik senar gitarnya, memainkan melodi lagu yang sedang hits. Suasana berubah ramai dengan suara nyanyian mereka yang saling bersahutan, mengusir sunyi di lingkungan sekitar basecamp.

Aris bernyanyi dengan suara lantang yang terdengar cukup merdu. Sementara Irfan dan Faiz dengan percaya diri menyumbang suara mereka yang fals. Kaisar sesekali ikut menyahut di bagian refrain, mencoba melebur dalam keseruan yang biasanya menjadi pelariannya dari segala masalah. Dan Edwin hanya memilih angguk-angguk kepala menikmati nyanyian dari suara teman-temannya sembari komat kamit mengucapkan lirik tanpa mengeluarkan suara.

Suasana hangat itu sejenak membuat mereka lupa tentang kesibukan sekolah dan juga kesibukan lainnya, yang selalu mereka lakukan setiap harinya.

Lima remaja yang sudah bersahabat sejak lama itu selalu kompak. Mereka sudah seperti keluarga, ikatan persahabatan antara mereka begitu erat dan belum pernah terjadi perpisahan meski sesekali mereka tak sepaham.

Namun, di tengah kehangatan nyanyian mereka, suara raungan mesin motor yang ramai mendadak terdengar dari kejauhan.

Brummm!

Brummm!

Suaranya semakin nyaring, membelah kesunyian gang dan perlahan mendekat ke arah basecamp.

Genjrengan gitar Aris terhenti. Irfan dan Edwin saling lirik.

"Siapa tuh? Siapa yang berisik malam-malam gini?" tanya Edwin, wajahnya mendadak serius.

Lampu-lampu motor yang menyilaukan akhirnya menerobos masuk ke halaman basecamp, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergerak liar. Sekitar lima motor berhenti dengan deru mesin yang sengaja digeber kencang sebelum akhirnya dimatikan.

Kaisar berdiri perlahan, matanya menyipit ke arah mereka yang baru datang.

Dari motor paling depan, seorang pemuda turun sambil melepas helm dengan gerakan pongah. Begitu wajahnya terkena cahaya lampu teras, rahang Kaisar mengeras seketika.

Itu Bisma. Atau yang lebih dikenal dengan julukan Si Buaya.

Sebutan itu melekat padanya bukan tanpa alasan. Bisma adalah mantan kekasih Nana saat SMP yang ketahuan selingkuh berkali-kali. Hubungan mereka berakhir kacau setelah Kaisar menghajar Bisma habis-habisan hingga masuk rumah sakit demi membela Nana yang kala itu sudah jadi mantan Bisma. Sejak saat itu, dendam di antara mereka seperti api yang tidak pernah padam.

Setiap bertemu mereka akan adu mulut hingga saling serang. Tak salah jika teman-teman Kaisar ikut campur dalam urusan keduanya, sebab mereka tak mau Kaisar menghadapi Bisma sendirian. Apalagi Bisma selalu membawa teman-temannya, membuat mereka semakin khawatir membiarkan Kaisar sendirian.

"Wah, wah... ada yang lagi asik-asik nyanyi nih," ucap Bisma dengan nada mengejek, melangkah masuk ke area teras diikuti teman-temannya. "Kayaknya bakal lebih seru kalo ada fight. Bener gak, Kai?"

Matanya menatap tepat ke arah Kaisar dengan senyum miring.

1
Nurul Hilmi
lanjut Thor, selalu menunggu karyamu
Lisdaa Rustandy: makasih
total 1 replies
deeRa
nyess kan bang-kai🤭
Martha Dimas
double up thor, mkin seru
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
kok judulnya beda ya thor
Lisdaa Rustandy: aku ubah kak🙏
total 1 replies
deeRa
Kai, aku bingung mau mendeskripsikan kamu Seperti apa.
😌
falea sezi
lama amat cerai nah laki oon gini nunggu lo nyesel kai
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double thor
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!