Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Tamu yang Tidak Diundang
Langit bersiap pergi saat matahari belum benar-benar tinggi. Udara pagi masih dingin ketika ia berdiri di teras rumah. Mobilnya sudah terparkir di depan pagar.
Ishani berdiri di samping pintu sambil menggendong Iyan yang masih setengah tertidur. Bayi itu baru saja selesai menyusu. “Kak Langit yakin tidak mau sarapan dulu?” tanya Ishani.
Langit menggeleng kecil. “Aku makan nanti di jalan.”
Bu Maura keluar dari dapur sambil membawa termos kecil. “Setidaknya minum kopi dulu.”
Langit menerima termos itu dengan senyum tipis. “Terima kasih, Bu.”
Beberapa saat mereka berdiri dalam diam. Langit menatap bayi di pelukan Ishani. “Dia tidur lagi?”
“Iya.”
Langit mengangguk kecil. “Anak ini semalam membuat semua orang panik.”
Ishani tersenyum tipis. “Tapi langsung diam waktu digendong Kak Langit.”
Langit tidak menjawab. Namun matanya kembali tertuju pada wajah kecil bayi itu. “Aku harus berangkat sekarang,” katanya akhirnya.
Ishani mengangguk. “Kak Langit hati-hati.”
Langit membuka pintu mobilnya lalu berhenti sebentar. “Kontrol pertama satu minggu lagi, kan?”
“Iya.”
“Aku akan datang.”
Ishani langsung menggeleng. “Kak Langit tidak perlu memaksakan diri.”
Langit menatapnya serius. “Aku yang akan mengantar kalian ke rumah sakit.” Nada tegas dan menekan, tidak bisa dibantah.
Ishani akhirnya hanya mengangguk pelan. “Baik.”
Langit masuk ke mobilnya. Mesin menyala. Mobil itu perlahan keluar dari halaman kecil rumah itu. Ishani masih berdiri di teras sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.
Bu Maura mendekat. “Masuklah. Anginnya dingin.”
Ishani mengangguk.
🥀🥀🥀🥀🥀
Siang di rumah itu kembali dipenuhi suara bayi. Iyan bangun lagi dan menangis cukup keras. Ishani berjalan mondar-mandir di ruang tamu sambil menimangnya. “Sudah… sudah…”
Namun bayi itu masih rewel.
Bu Maura keluar dari dapur. “Coba digendong sambil berdiri dekat jendela.”
Ishani mengikutinya. Beberapa menit kemudian tangisan itu akhirnya mereda. “Alhamdulillah,” gumam Ishani lega.
Belum sempat mereka benar-benar tenang, suara mobil berhenti terdengar di depan rumah. Ishani mengerutkan kening. “Siapa ya?”
Bu Maura ikut menoleh, mengangkat bahu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah mendekat.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu terdengar tegas. Ishani berjalan ke arah pintu sambil masih menggendong Iyan. Ia membuka pintu. Dan langsung berhenti.
Seorang wanita berdiri di depan rumah dengan pakaian yang sangat rapi. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya. Namun aura dingin dari wanita itu terasa jelas.
“Ini rumah Ishani?”
Ishani mengangguk perlahan. “Saya Ishani.”
Wanita itu menurunkan kacamata hitamnya. Tatapannya tajam. “Akhirnya.”
Ishani mengerutkan kening. “Maaf… kita pernah bertemu?”
Wanita itu melangkah masuk tanpa menunggu izin. “Saya Meilina.”
Nama itu terdengar asing bagi Ishani. Ia menatap wanita itu bingung.
Bu Maura keluar dari dapur. “Siapa?”
Meilina menatap ruangan itu sekilas sebelum kembali melihat Ishani. “Jadi kamu perempuan yang dipilih Langit.”
Ishani mengerutkan kening. “Saya tidak mengerti maksud Anda.”
Meilina tersenyum tipis. “Langit tidak pernah bercerita?”
“Bercerita apa?”
“Bahwa dia sudah bertunangan.”
Ruangan itu mendadak dingin. Ishani membeku. “Bertunangan?”
Bu Maura juga terlihat kaget. “Langit bertunangan?”
Meilina mengangkat alis. “Dia tidak memberi tahu kalian?”
Ishani menatap wanita itu tidak percaya. “Tidak.”
Bu Maura juga menggeleng. “Langit tidak pernah mengatakan apa pun.”
Meilina tertawa kecil. “Tentu saja.”
Ia berjalan beberapa langkah mendekati Ishani. “Pertunangan itu seharusnya dengan saya.”
Kalimat itu membuat Ishani semakin bingung. “Saya tidak tahu apa-apa tentang itu.”
“Benarkah?”
Tatapan Meilina turun ke arah bayi di pelukan Ishani. “Ini anaknya?”
Ishani langsung menegang. “Ya.”
Meilina memiringkan kepalanya. “Aku dengar anak ini bukan anak Langit.”
Bu Maura langsung berkata tegas, “Maaf, Anda datang ke sini sebenarnya untuk apa?”
Meilina menoleh sebentar. “Saya hanya ingin melihat.”
“Melihat apa?”
“Perempuan seperti apa yang membuat Langit membatalkan pertunangannya.”
Ishani menatapnya lurus. “Saya tidak pernah meminta Kak Langit melakukan itu.”
Meilina tersenyum tipis. “Mungkin tidak secara langsung.”
Ia kembali menatap bayi itu. “Namun tetap saja… menarik.”
Semuanya terdiam.
Lalu Ishani berkata pelan, “Kalau tidak ada urusan lain, sebaiknya Anda pergi.”
Meilina memakainya kembali kacamata hitamnya. “Aku tidak datang untuk berkelahi.”
Ia berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia berhenti. Tatapannya kembali pada Ishani. “Aku hanya ingin kamu mengerti satu hal.”
“Apa?”
“Dunia Langit bukan dunia kamu.”
Kalimat itu kembali membuat Ishani membeku. Ia tidak sepenuhnya memahami perkataan wanita itu.
Lalu Meilina keluar dari rumah. Suara pintu mobil terdengar beberapa detik kemudian. Mobil itu pergi meninggalkan halaman kecil itu.
Ishani masih berdiri di tempatnya. Wajahnya pucat.
Bu Maura mendekat. “Kamu tidak apa-apa?”
Ishani menatap pintu yang sudah tertutup.
Lalu berkata pelan, “Bu…”
“Iya?”
“Kenapa Kak Langit tidak pernah mengatakan bahwa dia pernah bertunangan?”
Bu Maura tidak bisa menjawab.
Dan untuk pertama kalinya sejak Langit pergi pagi itu, hati Ishani terasa tidak tenang.
Untuk beberapa saat, Rumah terasa sangat sunyi. Ishani masih berdiri di ruang tamu sambil memeluk Iyan. Bayi itu kembali tertidur, seolah tidak merasakan ketegangan yang baru saja terjadi.
Bu Maura menatap Ishani dengan khawatir. “Kamu tidak perlu memikirkan kata-kata perempuan itu.”
Ishani tidak langsung menjawab.
Ia menatap ponselnya yang tergeletak di meja. “Bu…”
“Iya?”
“Aku ingin menelepon Kak Langit.”
Bu Maura mengangguk pelan. “Telepon saja.”
Ishani mengambil ponselnya. Tangannya sedikit gemetar saat mencari nama Langit di layar. Ia menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa detik. Lalu suara Langit terdengar dari seberang.
📞 "Shani?”
Suara mesin mobil terdengar samar di belakang suaranya.
“Kak Langit masih di jalan?”
📞 "Iya. Ada apa?”
Ishani terdiam beberapa detik.
Langit langsung menyadarinya.
📞 “Ada sesuatu terjadi?”
Ishani menelan ludah.
📞 “Tadi… ada tamu datang.”
📞 “Tamu?”
📞 “Seorang wanita.”
Langit langsung bertanya.
📞 “Siapa?”
📞 “Ia bilang namanya Meilina.”
Suara di seberang telepon langsung hening. Beberapa detik.
📞 “Dia datang ke rumah?”
Nada suara Langit berubah tajam.
📞 “Iya.”
📞 “Apa yang dia katakan?”
Ishani melirik Bu Maura sebentar sebelum menjawab.
📞 “Dia bilang… Kak Langit pernah bertunangan dengannya.”
Di seberang telepon hanya terdengar suara napas Langit.
📞 “Shani.”
📞 “Iya?”
📞 “Apa dia mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?”
Ishani terdiam.
📞 “Dia bilang… dunia Kak Langit bukan duniaku.”
Langit menghela napas panjang.
📞 “Jangan dengarkan dia.”
📞 "Jadi… itu benar?”
📞 "Apa?”
📞 “Kak Langit pernah bertunangan.”
Beberapa detik Langit tidak menjawab.
Mobilnya terdengar melambat.
📞 “Iya.”
Jawaban itu akhirnya keluar.
Ishani menunduk sedikit.
📞 “Kenapa Kak Langit tidak pernah mengatakan itu?”
Langit terdiam lagi sebelum berkata pelan.
📞 “Karena itu tidak penting.”
📞 "Bagaimana mungkin tidak penting. Kakak bertunangan. Ada wanita dalam hidup kakak. Aku ti–”
📞 “Shani, dengar!”
potong Langit cepat. Ia tidak mau Ishani salah memahami situasinya.
📞 “Pertunangan itu hanya transaksi bisnis. Tidak ada cinta. Wanita itu… bukan apa-apa untukku. Belum ada publikasi juga tentang pertunangan itu. Seperti kubilang tadi, itu tidak penting.”
Ishani terdiam. Dia meremas ujung bajunya.
📞 “Shani…”
Panggil Langit kemudian karena Ishani tidak merespon.
Ishani menghela napas.
📞 “Tapi dia datang ke rumah.”
📞 “Aku tahu.”
📞 “Kalau dia datang lagi, jangan biarkan dia masuk.”
Nada suara Langit terdengar jauh lebih tegas sekarang.
📞 “Baik.”
📞 “Dan kalau dia mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman… telepon aku.”
📞 “Iya.”
Ishani mengangguk pelan meskipun Langit tidak bisa melihatnya.
📞 "Shani…”
📞 “Iya?”
📞 “Aku akan menyelesaikan ini.”
Nada suaranya tenang, tapi ada sesuatu yang sangat serius di dalamnya.
Telepon akhirnya terputus. Ishani menurunkan ponselnya perlahan.
Bu Maura menatapnya. “Apa kata Langit?”
Ishani menghela napas pelan.
“Dia bilang tidak perlu mendengarkan Meilina.”
Bu Maura mengangguk kecil. Namun kali ini ekspresi wanita tua itu terlihat sedikit khawatir.
Sementara jauh di jalan tol menuju Jakarta, Langit menggenggam setir mobilnya lebih erat dari biasanya. Matanya tajam menatap jalan di depan. Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah itu pagi tadi, pikirannya tidak lagi tenang.
biar ishani gak ngerasa cuma jadi beban
tapi kalo cuma karena kasihan dan tanggung jawab sama biru, mending gausah dinikahin
kasih nafkah aja tiap bulan
kalo gak nyaman harusnya nolak aja
bukan kewajiban kamu kok
emang dia udah mau jadi suami dan ayah untuk ishani sama anaknya
mereka sama2 masih anak2
kalian yg dewasa yg harusnya jaga mereka
Ini hanya mimpi sih ya...
Sebenarnya, kalau Langit ga jatuh cinta sama Ishani, kayak yang ga adil sih buat dia. kayak yang ga punya kehidupan sendiri. 🥲