Rani tanpa sadar dijadikan taruhan oleh Wira karena kalah balapan liar dengan Arlo. Arlo rela memberikan motor sport barunya untuk Wira demi untuk mendapatkan Rani.
Arlo memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan makanan Rani. Arlo hampir melecehkan Rani. Tapi sesuatu terjadi.
Rani berhasil melarikan diri bersama seseorang dan mengalami kecelakaan. Rani menghilang. Arlo dan Wira mencari Rani karena mereka takut Rani membocorkan rahasia mereka.
Rahasia apa yang tersembunyi?
Apa yang akan terjadi kepada Rani?
Apakah Wira dan Arlo tidak akan melepaskan Rani?
Ikuti kelanjutan ceritanya?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenny Een, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Aliran listrik menari-nari ganas di sekujur tubuh Kenzo setelah memegang pegangan pintu. Teriakan Kenzo menggelegar saat aliran listrik merambat ke tangannya. Seketika tubuh Kenzo terbujur kaku membatu.
Pengawal-pengawal Deddy setelah melumpuhkan orang bayaran Kenzo, langsung menuju ke pintu belakang. Mereka menemukan Kenzo yang tidak sadarkan diri. Kenzo dilarikan ke rumah sakit.
Pimpinan pengawal melaporkan kondisi Kenzo kepada Deddy. Deddy melarang Kenzo dibawa ke rumah sakit. Deddy meminta Kenzo dirawat di rumahnya dengan dokter pribadi.
Sementara itu, Bima, Rama dan beberapa orang pengawal mengendap-endap mengitari tempat persembunyian rahasia Deddy. Tempat itu mereka temukan berkat usaha dari anak buah Demian yang menyamar sebagai orang bayaran Kenzo.
Mereka semua berpakaian serba hitam. Orang-orang kepercayaan Demian dan Latif mulai menjalankan tugas mereka masing-masing.
Ada yang bertugas mengacaukan kamera pengawas. Ada juga yang bertugas mendeteksi adanya ranjau atau jebakan yang dipasang di sekitar area tempat persembunyian.
Rama dan Bima ikut memantau kondisi di dalam bangunan. Mereka menemukan Rani dan Widi yang lokasinya tidak jauh dari pintu belakang bangunan. Walaupun terkurung dalam kandang besi setidaknya mereka masih hidup.
Pintu belakang yang dipasangi dengan aliran listrik berhasil dinetralkan. Misi kali ini adalah menyelamatkan Rani dan Widi sebisa mungkin tanpa perlawanan.
Pengawal memberikan isyarat agar semua menutup masker. Bima dan Rama perlahan masuk lewat pintu belakang. Rani dan Widi sontak kaget saat melihat Bima, Rama.
"Ssssttttt, tenang," Bima menaruh telunjuk di atas bibirnya.
Rama memberikan masker kepada Rani dan Widi. Salah seorang pengawal melemparkan sesuatu ke ruang tengah. Dalam sekejap ruangan tengah dipenuhi dengan asap.
Penjaga Deddy yang ada di ruang tengah tiba-tiba saja merasakan kantuk yang luar biasa. Mereka tertidur pulas. Bima dengan hati-hati menutup dan mengunci pintu penghubung antara ruang tengah dan ruangan lainnya.
Para pengawal Demian membuka kandang besi Rani dan Widi. Deddy sungguh kejam. Kandang besi Rani dan Widi sudah dipasang bom. Jika kandang itu terbuka, otomatis akan meledak.
Beruntung, Demian memiliki pengawal yang terlatih. Setelah beberapa menit berjuang, bom itu berhasil dijinakkan. Widi dan Rani dibantu Rama dan Bima keluar melalui pintu belakang.
Misi berhasil. Tidak ada perlawanan. Sistem kamera pengawas dan aliran listrik dikembalikan seperti semula.
Rama, Bima, Rani dan Widi masuk ke dalam mobil. Mereka bersiap meninggalkan tempat persembunyian.
Rani dan Widi di dalam mobil mengucap syukur karena mereka akhirnya bisa keluar dari kandang besi itu. Mereka berdua menangis.
Belum juga mereka benar-benar keluar dari tempat persembunyian Deddy. Mobil pengawal di depan mereka dicegat beberapa orang penjaga Deddy yang entah dari mana datangnya.
Mobil mereka ditembaki. Rani dan Widi histeris berteriak. Bima dan Rama berusaha melindungi mereka berdua.
Peluru berdesing menghancurkan kaca samping kiri mobil. Rama, Bima, Rani, Widi menunduk di kursi penumpang.
"Rama, Bima, tangkap!" Sopir melempar pistol kepada mereka berdua.
Rama dan Bima baru pertama kali memegang pistol. Rama dan Bima saling pandang. Rama memandangi pistol yang ada di tangannya.
"Bima! Di depan lu!" Teriak Rama.
Bima menarik pelatuknya. Bima menembakkan pistolnya ke arah depan. Tembakan Bima meleset. Sebuah peluru menghantam bodi mobil menyebabkan suara logam beradu.
Rani dan Widi menunduk. Mereka tidak berani mengangkat kepala. Mobil mereka saat ini dihujani peluru. Terdengar suara ledakan di depan sana.
DUAAAARRR!
Mobil pengawal di depan mereka meledak dan melambung tinggi. Suaranya memekakkan telinga. Api membesar, melahap kerangka besi mobil. Hawa panas langsung menyerbu.
Rani dan Widi spontan mengintip dari dalam mobil. Mereka tidak sedang menonton film aksi. Mereka mengalami sendiri. Aksi tembak menembak, dikejar penjahat membuat mereka berasa di ujung maut.
DOORRRR!
Tangan sopir mereka tertembak. Mobil yang mereka tumpangi oleng tidak dapat terkendali. Sopir itu sekuat tenaga menahan agar mobil tidak terbalik dan nyawa Rama, Bima, Rani dan Widi bisa selamat.
Mobil mereka berputar-putar di tengah hutan. Sebelum mobil itu menabrak sesuatu, sopir sempat menyalakan alarm bahaya yang tersambung ke kantor 'Naga Putih'. Ledakan kecil pun terdengar lagi.
DUAAAARRR!
...----------------...
🌑 Kediaman Bima.
Latif menerima kabar, anak buahnya gagal menjalankan misi. Demian juga mendapatkan kabar, mobil yang dia kirim untuk misi mengalami ledakan.
Rama, Bima, Rani dan Widi belum bisa dipastikan apakah mereka selamat. Sedangkan pengawal Demian maupun Latif yang berada di mobil satunya sudah bisa dipastikan tidak ada yang selamat. Rekaman ledakan mobil sudah mereka dapatkan.
Baik Demian dan Latif mengumpulkan semakin banyak orang-orangnya untuk kembali menyelamatkan anak-anak mereka. Demian dan Latif langsung menuju ke tempat kejadian.
Dengan perasaan marah, khawatir, takut akan keselamatan anak-anaknya, Demian dan Latif tiba di tempat persembunyian milik Deddy.
Nampak lah kepulan asap putih dan bangkai mobil yang habis terbakar. Para pengawal Latif dan Demian berserta petugas medis yang mereka datangkan, langsung mengevakuasi korban.
Mereka juga menemukan mobil yang terbalik. Di dalamnya hanya ada sopir dalam keadaan tidak bergerak.
Dengan hati-hati, sopir itu dikeluarkan. Sopir itu masih bernapas dalam kondisi luka di sekujur tubuh sak kepalanya.
Dengan susah payah dia bilang, anak-anak dibawa pergi. Belum sempat dia menyelesaikan kalimat berikutnya, sopir itu kembali tidak sadarkan diri.
Demian dan Latif masuk ke dalam tempat persembunyian. Tempat itu sepi. Latif menemukan dua kandang besi di dalam ruangan itu. Deddy menarik semua pengawalnya. Tempat itu benar-benar ditinggalkan.
Masih tercium asap mesiu yang berbau tajam dan menyengat hidung bercampur dengan aroma darah yang gosong.
Pecahan kaca mobil berhamburan dan selongsong peluru berserakan. Benar-benar terjadi adu tembak di tempat itu.
Kali ini Latif dan Demian menemui lawan yang kuat. Deddy tidak bisa dianggap remeh. Deddy ternyata lebih kuat dibandingkan beberapa tahun yang lalu.
Demian dengan ragu mengambil ponselnya. Demian mencari nama Deddy. Setelah sekian lamanya, Demian menghubungi Deddy.
Panggilan telepon tersambung, Deddy kaget saat Demian menghubunginya. Demian tanpa basa-basi meminta Deddy melepaskan Rama, Bima, Rani dan Widi.
Dari balik telepon Deddy tertawa, ternyata takdir mempertemukan mereka kembali. Kali ini, Demian memohon kepada Deddy untuk melepaskan empat orang yang kini jadi tawanannya.
"Deddy, apa syaratnya?” suara Demian bergetar hebat.
"Satu nyawa 20 M."
Demian terperanjat, "Kirim lokasi. Gue sendiri yang datang. Gue ingin mereka semua selamat!"
Demian menutup panggilan. Demian sangat mengenal siapa Deddy. Demian sudah lama menunggu untuk bertemu langsung dengan Deddy.
Demian sudah mendapatkan lokasi tempat pertemuannya dengan Deddy. Demian mempersiapkan diri. Demian menggunakan rompi anti peluru. Demian juga menyiapkan senjata yang dia taruh di dalam mobilnya.
"Bos, aku akan menemui Deddy."
"Berhati-hatilah. Kami ada dibelakangmu," Latif melepas kepergian Demian.
Demian dengan mobilnya sendiri melaju menemui Deddy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...