Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
Itu memang Maya. Sahabatnya itu ternyata tidak tinggal diam di Jakarta. Maya telah menggunakan sisa tabungannya untuk terbang ke Sydney tepat setelah mendengar kabar isolasi Laras. Ia telah menunggu berjam-jam di sekitar Opera House, menebak-nebak di mana Elang akan membawa Laras pergi.
"Laras! Jangan ikut dengannya!" teriak Maya, ia mencoba berlari mendekat namun segera diadang oleh dua pengawal pria.
"Biarkan dia bicara," ucap Elang dingin. Ia ingin Laras melihat betapa sia-sianya upaya penyelamatan dari sahabatnya itu.
Laras melepaskan diri dari pegangan Elang dan berlari menuju Maya. Kedua sahabat itu berpelukan erat di bawah lampu temaram parkiran bawah tanah. Laras menangis terisak di bahu Maya, sebuah isakan yang selama ini ia tahan di depan Elang.
"Maya... kenapa kamu di sini?" bisik Laras di sela tangisnya.
"Aku datang untuk menjemputmu, Ras. Ayo pergi sekarang. Kita bisa ke kedutaan, kita bisa minta perlindungan. Aku sudah bicara dengan Julian, dia siap membantu," Maya bicara dengan cepat, matanya menatap tajam ke arah Elang yang berdiri beberapa meter di belakang mereka dengan tenang.
Laras melepaskan pelukannya perlahan, menatap wajah Maya yang penuh harapan. Ia kemudian melirik ke arah Elang, lalu ke arah barisan pengawal, dan terakhir ke arah cincin berlian biru yang melingkar di jarinya—sebuah borgol yang secara hukum telah mengikatnya.
"Aku tidak bisa, May," suara Laras terdengar seperti bisikan kematian. "Semua sudah terlambat. Aku sudah menandatangani semuanya. Jika aku pergi sekarang, Elang akan menghancurkan semua orang yang membantuku, termasuk kamu. Aku tidak mau kamu dalam bahaya karena egoku."
"Aku tidak peduli tentang bahaya, Laras! Aku peduli tentang kamu!" Maya berteriak, air mata mulai mengalir di pipinya. "Jangan biarkan dia membawamu pergi. Jika kamu naik ke pesawat itu, kamu tidak akan pernah kembali lagi menjadi Laras yang aku kenal."
Elang melangkah maju, kehadirannya seolah menyedot seluruh udara di sekitar mereka. Ia meletakkan tangannya di pundak Laras, sebuah klaim kepemilikan yang mutlak.
"Waktunya habis, Maya," ucap Elang tanpa nada benci, namun penuh otoritas. "Terima kasih sudah datang sejauh ini untuk mengucapkan selamat tinggal. Laras akan sangat aman bersamaku. Aku akan memastikan dia memiliki segalanya, lebih dari yang bisa diberikan oleh persahabatan miskinmu itu."
Laras menatap Maya untuk terakhir kalinya. Ia melihat kehancuran di mata sahabatnya—sebuah cermin dari kehancurannya sendiri. Laras meraih tangan Maya, menekannya sejenak, lalu melepaskannya dengan berat.
"Maafkan aku, May... Teruslah menari untukku di Jakarta. Jangan berhenti, meski aku tidak ada di sana untuk melihatmu," bisik Laras.
Laras berbalik, berjalan perlahan menuju mobil Elang. Setiap langkahnya terasa seperti beban berton-ton. Sebelum masuk ke dalam SUV, ia sempat menoleh kembali ke arah Maya yang masih ditahan oleh pengawal. Laras sedikit terisak, bahunya berguncang, namun ia tetap masuk ke dalam kegelapan kabin mobil.
***
Iring-iringan mobil melaju kencang menuju Bandara Kingsford Smith melalui jalan tol yang sepi. Di dalam mobil, Laras duduk di samping Elang. Elang menarik kepala Laras agar bersandar di bahunya, mengusap rambutnya dengan gerakan yang seolah-olah menenangkan, padahal itu adalah bentuk penaklukan.
Sesampainya di terminal pribadi, jet pribadi Elang sudah menunggu dengan tangga yang terbuka dan mesin yang mulai menderu pelan. Angin bandara yang kencang menerbangkan jubah hitam Laras, menyingkap kostum tari safirnya yang berkilauan di bawah lampu landasan.
Laras berhenti sejenak di depan tangga pesawat. Ia melihat ke arah cakrawala Sydney untuk terakhir kalinya. Di kejauhan, lampu-lampu kota tampak mengecil. Ia tahu, di suatu tempat di kota itu, Maya mungkin sedang duduk di pinggir jalan, menangisi perpisahan mereka. Dan Julian mungkin sedang menatap panggung kosong yang baru saja ia tinggalkan.
Laras terisak lagi, sebuah tangisan pendek yang menyayat hati. Ia menyadari bahwa mulai detik ini, identitasnya sebagai "Laras Maheswari sang penari" telah mati. Yang tersisa hanyalah "Laras, tunangan Elang Dirgantara".
"Ayo, Sayang. Rumah menanti kita," bisik Elang di belakangnya.
Laras melangkah naik ke tangga jet pribadi itu. Begitu ia masuk ke dalam kabin yang mewah namun terasa seperti peti mati itu, pintu pesawat ditutup dengan suara dentuman logam yang final. Elang segera membimbingnya duduk di kursi utama, memesan sampanye, dan meminta Amy untuk menyiapkan handuk hangat.
Pesawat mulai bergerak menuju landasan pacu, lalu melesat membelah kegelapan malam, meninggalkan benua Australia. Di atas awan, Laras menatap cincin di jarinya yang berkilau dalam kegelapan kabin. Ia telah memberikan tarian terbaik dalam hidupnya, dan sebagai imbalannya, ia kehilangan dunianya.
Di sampingnya, Elang menatapnya dengan senyum puas, menggenggam tangannya erat-erat, memastikan bahwa dalam tidur atau terjaga, dalam tangis atau tawa, Laras tidak akan pernah lagi memiliki jalan untuk pergi. Sang Elang telah membawa bidadarinya pulang, kembali ke dalam sangkar emas yang takkan pernah lagi terbuka.