Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
...«----------------🍀{LINDA}🍀----------------»...
Sinar matahari sore yang menembus jendela apartemen nomor 404 terasa terlalu tajam, terlalu asing, dan terlalu mengganggu. Aku berdiri di tengah ruang tamu, mengamati setiap sudut ruangan dengan napas yang memburu. Ada sesuatu yang salah. Lantai kayu ini terlalu keras. Sudut-sudut sofa itu terlalu kaku. Udara di sini terasa... tidak cukup melindungi.
“Ada yang kurang,” Keluh ku, sementara ekor-ekor ku bergerak gelisah di balik daster sutra longgar yang aku kenakan. “Elkan butuh sesuatu yang lebih empuk. Sesuatu yang melingkar. Sesuatu yang berbau Dimas dan aku secara merata. Rahim pun sudah menjadi sarang yang sempurna, tapi kenapa lingkungan luar ini terasa begitu bermusuhan? Aku harus memperbaikinya. Sekarang.”
Insting siluman yang sudah terkubur selama ratusan tahun di dalam darah siluman ku mendadak bangkit dengan kekuatan yang menghancurkan logika manusianya. Aku tidak bisa berhenti. Aku mulai bergerak seperti orang kesurupan. Aku menuju kamar tidur, menyambar dua bantal bulu angsa, lalu kembali ke ruang tamu dan melemparkannya ke tengah lantai.
Belum cukup.
Aku kembali lagi, menarik selimut bedcover tebal bermotif melati, menyambar guling, dan menyeret bantal-bantal kecil dari sofa. Aku menumpuknya di tengah karpet bulu, menyusunnya membentuk lingkaran besar.
“Lebih banyak lagi,” bisik suara di kepala ku. “Celah itu masih ada. Dingin bisa masuk dari bawah pintu. Kita butuh barikade kelembutan.”
Aku membongkar lemari handuk. Aku mengambil semua handuk bersih yang baru saja dilipat Dimas semalam. Aku menebarkannya di sekeliling tumpukan bantal. Aku bahkan mengambil jaket-jaket Dimas dari gantungan, jaket yang paling sering ia pakai, yang aromanya paling kuat dan meletakkannya tepat di titik tengah lingkaran itu.
"Linda? Sayang? Apa yang sedang kau..."
Suara Dimas terdengar dari arah pintu depan. Dia baru saja pulang kerja, tas kulitnya masih menggantung di bahu, dan wajahnya tampak kelelahan. Dia mematung di ambang pintu, menatap ruang tamunya yang kini tampak seperti gudang tekstil yang meledak.
"Jangan masuk dulu!" teriak ku, tangan ku terangkat seolah-olah sedang menahan serangan musuh. "Kau membawa debu luar! Masuk ke kamar mandi, ganti baju, pakai kaus yang paling lama kau pakai, lalu kemari."
Dimas berkedip berkali-kali. "Linda... ini jam lima sore. Aku baru mau menyapa istri ku. Kenapa ruang tamu kita berubah menjadi... apakah ini benteng bantal?"
"Ini sarang, Dimas! Bukan benteng!" aku mendesis, telinga ku mencuat keluar dari balik rambut, berdiri tegak dengan ujung yang bergetar. "Elkan merasa kedinginan. Lantai ini terlalu keras untuknya. Kita harus berada di sini. Bersama."
Dimas menghela napas panjang, sebuah senyum lelah namun penuh pengertian muncul di wajahnya. "Oke, oke. Sarang. Beri aku lima menit."
Sambil menunggu Dimas, aku terus menyempurnakan mahakarya ku. Aku menyeret bantal dari kursi kerja Dimas, mengambil selimut cadangan dari gudang, dan akhirnya, aku duduk di tengah-tengah tumpukan itu. Aku meringkuk, merasakan kelembutan kain di sekeliling ku, tapi rasanya masih sepi.
“Sarang ini belum lengkap,” Keluh ku, mata ku terpa ku pada pintu kamar mandi. “Tanpa jantan di pusatnya, sarang ini hanyalah tumpukan kain mati. Dia harus ada di sini. Aromanya harus menyatu dengan aroma sihir ku agar Elkan tahu bahwa dunia ini aman.”
Dimas keluar dari kamar mandi mengenakan kaos oblong abu-abu favorit ku, yang sudah agak tipis tapi baunya sangat khas dirinya. Dia mendekati pinggiran "sarang" buatan ku dengan ragu.
"Boleh aku masuk ke kedaulatan bantal ini, Baginda Ratu?" godanya.
"Masuk. Sekarang," aku menarik tangannya dengan paksa.
Dimas terjatuh ke atas tumpukan selimut yang empuk. Aku segera merangkak naik ke tubuhnya, membungkus kami berdua dengan bedcover tebal sampai hanya kepala kami yang terlihat. Aku melingkarkan kesembilan ekor ku di sekeliling kami, menciptakan lapisan perlindungan tambahan yang hangat dan tidak tembus pandang bagi manusia biasa.
"Wah... ini sebenarnya... sangat nyaman," gumam Dimas, ia menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal. "Rasanya seperti tenggelam di dalam awan."
"Kau tidak boleh pergi," kata ku, wajah ku terbenam di dadanya. "Kita akan makan di sini, tidur di sini, dan menghabiskan malam di sini. Aku tidak mau kau menyentuh furnitur kayu yang keras itu. Itu berbahaya bagi keseimbangan energi Elkan."
Dimas tertawa kecil, getaran di dadanya membuat ku merasa sangat tenang. "Linda, kita tidak bisa hidup di tumpukan bantal selamanya. Aku harus ke dapur untuk memasak makan malam."
"Tidak! Pesan antar saja! Dan suruh kurirnya meletakkan makanan di depan pintu. Jangan biarkan dia melihat sarang kita," aku mempererat lilitan ekor ku di pinggangnya. "Jika kau bangun, suhunya akan turun. Kau adalah pemanas alami Elkan."
“Dia tidak mengerti,” Keluh ku, sementara tangan ku mulai meraba permukaan kaosnya dengan posesif. “Setiap serat kain di sini sekarang mengandung proteksi ku. Di dalam lingkaran ini, waktu seolah berhenti. Tidak ada Genta, tidak ada klan rubah, tidak ada tuntutan dunia manusia. Hanya ada napasnya, detak jantungnya, dan denyut kehidupan anak kami.”
Suasana di dalam "sarang" bantal itu mulai berubah menjadi lebih intens. Ruangannya sempit, hangat, dan dipenuhi aroma tubuh kami yang bercampur menjadi satu. Aku bisa merasakan gairah Dimas yang mulai bangkit, sebuah respons alami pria terhadap kedekatan fisik yang sedemikian intim.
"Linda... kau tahu kan, posisi ini sangat... memancing?" bisik Dimas, suaranya memberat.
Aku mendongak, mata ku yang hijau berkilat dalam kegelapan di bawah selimut. "Memancing apa? Aku hanya ingin melindungi kalian."
"Kau mencium leher ku terus-menerus sejak tadi," Dimas memegang dagu ku. "Dan ekor mu... mereka mulai mengelus kaki ku dengan cara yang tidak sopan."
"Ekor punya pikiran mereka sendiri saat mereka merasa aman," aku membela diri, meskipun sebenarnya aku tahu persis apa yang mereka lakukan. Aku merasa sangat haus akan sentuhannya, sebuah efek samping dari hormon siluman yang sedang membangun energi kehidupan. "Lagi pula, ini adalah bagian dari membangun ikatan keluarga. Elkan butuh bukti kalau orang tuanya sangat... akrab."
Aku menciumnya. Sebuah ciuman yang dalam, lambat, dan penuh dengan rasa memiliki. Di tengah tumpukan bantal yang kami kumpulkan dari seluruh penjuru apartemen, aku merasa seperti kembali ke alam liar, namun dengan kenyamanan modern. Tidak ada sofa mahal atau dekorasi minimalis yang berarti sekarang. Hanya ada tekstur kain dan kulit.
"Kau benar-benar agresif hari ini," Dimas terengah-engah saat aku mulai melepaskan kaosnya di bawah lindungan selimut.
"Ini insting bersarang, Dimas. Aku harus memastikan 'pusat' sarang ini tetap hangat," kata ku dengan seringai rubah ku yang paling nakal.
Kami menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Dunia luar benar-benar lenyap. Komedi tentang Dimas yang kesulitan bergerak karena tertimbun bantal berubah menjadi momen romansa dewasa yang sangat emosional. Aku menangis sedikit di tengah-tengah percintaan kami, lagi-lagi karena hormon, merasa betapa beruntungnya aku memiliki pria manusia yang mau mengikuti kegilaan insting ku tanpa banyak protes.
“Betapa rapuhnya dia, namun betapa kuatnya dia menopang seluruh kegilaan ku,” pikir ku sambil menatap wajah Dimas yang tertidur kelelahan setelah "sesi sarang" kami yang panjang. “Genta tidak akan pernah mengerti keindahan dari menjadi rapuh bersama seperti ini. Di klan, semuanya adalah tentang kekuatan, dominasi, dan garis keturunan murni. Di sini, di tengah tumpukan handuk dan jaket bekas ini, ada sesuatu yang jauh lebih kuat dari sihir kuno: kenyamanan.”
Beberapa jam kemudian, aku terbangun karena merasa lapar. Aku melihat sekeliling. Sarang kami masih utuh, meski bantal-bantalnya sudah bergeser tak keruan. Dimas masih memeluk ku, tangannya diletakkan protektif di atas perut ku bahkan dalam tidurnya.
"Dimas... bangun," aku mencolek hidungnya dengan ujung ekor ku.
"Hmmm? Apa ada musuh? Apa bantalnya kurang?" igauannya membuat ku tertawa.
"Aku lapar. Dan aku ingin makan di sini," kata ku.
Dimas membuka mata, mengerang sambil meregangkan ototnya. "Oke, Nyonya Besar. Aku akan memesan martabak manis. Tapi tolong, biarkan aku keluar sebentar untuk mengambil ponsel di meja makan."
"Gunakan sihir atau tarik mejanya kemari!" sahut ku.
"Aku manusia, Linda! Aku tidak punya magnet di tangan!" Dimas akhirnya berhasil meloloskan diri dari lilitan ekor ku, merangkak keluar dari gundukan selimut seperti penyintas dari reruntuhan bangunan.
Aku memperhatikan punggungnya saat dia berjalan menuju meja makan. Dia tampak sedikit kacau, rambutnya berantakan penuh bulu bantal, tapi dia tersenyum. Dia mengambil ponsel, memesan makanan, lalu kembali lagi ke sarang kami dengan membawa dua botol air mineral.
"Kau tahu, kalau tetangga lihat, mereka pasti pikir kita sedang pindahan tapi malas mengangkut barang," kata Dimas sambil menyelinap kembali ke dalam selimut.
"Biarkan saja mereka pikir apa. Mereka tidak punya sarang sehangat ini," aku merapat kembali padanya. "Dimas... terima kasih ya. Karena tidak menertawakan ku saat aku mulai menumpuk barang-barang ini."
Dimas mengecup kening ku. "Aku sudah bilang, kan? Aku akan mengikuti alur mu. Kalau besok kau ingin kita tidur di dalam lemari karena merasa lebih aman, aku akan beli bantal kecil untuk diletakkan di sana."
Aku tersenyum puas. Rasa tidak aman yang menghantui ku sejak sore tadi akhirnya menguap sepenuhnya. Elkan di dalam sana juga tampak sangat tenang, seolah dia juga menikmati kelembutan luar biasa yang mengelilinginya.
“Mungkin besok aku akan menambah beberapa boneka lembut dari toko mainan,” Keluh ku saat kami menunggu pesanan martabak datang. “Dan mungkin aku butuh lebih banyak kaos Dimas. Baunya adalah kunci dari semua kedamaian ini. Hari ini ternyata bukan hanya soal bahaya, tapi soal menemukan kembali identitas liar ku dalam balutan cinta manusia.”
Malam itu, kami benar-benar tidur di ruang tamu, di atas tumpukan bantal dan selimut, di dalam sarang yang kami bangun bersama. CCTV Dimas mungkin berjaga di plafon, tapi pelukan Dimas di pusat sarang ini adalah satu-satunya keamanan yang benar-benar aku butuhkan.
"Selamat malam, Dimas," bisik ku.
"Selamat malam, Linda. Selamat malam, Elkan," jawabnya, suaranya sudah mulai menghilang ke alam mimpi.
Di apartemen nomor 404, insting bersarang sang istri protektif telah terpenuhi. Untuk saat ini, badai di luar sana terasa sangat jauh.
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍