Lusy peri muda yang tidak memiliki sihir seperti peri lainnya. Dia berkeinginan menjadi ratu peri yang melampaui ratu peri generasi sebelumnya.
Lusy di remehkan oleh kaumnya sendiri. Namun, suatu ketika dia menemukan sebuah teknik terlarang dan sebuah pedang leluhur peri yang membuatnya bisa membangkitkan kekuatan sejatinya.
Lusy bangkit menjadi peri terkuat tanpa sihir, tapi banyak orang yang masih tidak menerima sebuah kenyataan kalau Lusy adalah peri terkuat di alam Peri.
Akankah Lusy berhasil menjadi Ratu Peri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Papendang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Hari Pertama 2
Aww....
Pekik semua orang saat melihat kejadian barusan, mereka para pria bisa merasakan ngilunya meski tidak mengalami sendiri.
"Cih! Dasar bodoh!" gumam Lusy lirih.
Frei dengan sigap menyelamatkan anak didiknya tersebut, dia membawanya ke belakang dan meminta siswa yang bisa menggunakan sihir penyembuhan menolong Creid.
Para siswa silih berganti melawan Golem tersebut, hasilnya ada yang sama seperti Creid, ada juga yang bisa memotong satu tangan Golem tersebut.
Hingga tiba giliran Moris, dia dengan bangganya mengeluarkan pedang mahalnya, dia langsung menerjang ke arah Golem, melompat dan menebas Golem.
Prang....
Pedangnya patah menjadi dua, ternyata karena saking semangatnya, Moris lupa mengalirkan energi sihirnya pada pedang miliknya.
Frei menepuk wajahnya sambil geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka akan melihat kejadian seperti itu.
Bug...
Arghh...
Moris mengalami hal yang sama dengan Creid, dia di hajar Golem batu Frei sampai babak belur. Karena sombong mereka berdua mendapatkan ganjaran yang setimpal untuk mereka masing-masing.
"Berikutnya! Resa Verheiz!" teriak Frei.
Yaap marga resa dan Lusy sama karena mereka bukan hanya teman di masa lalu melainkan saudara kandung.
Res maju dengan santai, dia menghela napas saat berhadapan dengan Golem tersebut. Aura api khas keluarga Verheiz meluap keluar.
"Penerus generasi Verheiz memang sangat menakutkan!"
"Kamu benar, di usianya yang masih muda, dia sudah bisa menggunakan sihir sebesar ini!"
Teman-teman sekelas Resa membicarakan kekaguman mereka, Lusy mengepalkan tangannya, dia masih merasa sakit hati karena tidak bisa seperti Resa.
Resa memang terlahir sebagai jenius sihir, dia juga di gadang-gadang akan menjadi Kaisar sihir selanjutnya jika kedua putra Kaisar peri tidak bisa melampaui Resa.
Di samping resa begitu cerdas, dia juga memiliki energi sihir yang sangat kuat yang bisa meluluh lantakan satu Kota peri.
Segel sihir berwarna merah muncul di bawah Kaki Golem Dangan ukuran yang cukup besar
"Api kematian!"
Sekali resa melepaskannya, sihir Api besar muncul melahap Golem batu, hingga dia tidak terlihat sedikitpun.
Blarrr....
Golem batu langsung hangus seketika, karena sihir Api resa sangatlah kuat, jika itu peri juga sepertinya akan hangus menjadi abu.
Resa menghela napas, dia menarik auranya kembali dan mundur ke belakang ke teman-temannya.
"Kamu memang hebat resa!" puji salah satu teman wanita resa.
"Calon kaisar wanita pertama memang hebat!" teman lainnya menimpali.
"Kalian ini terlalu melebih-lebihkan, aku sama saja seperti kalian." resa tetap merendah meskipun dia sangat kuat.
Lusy kemudian memanggil Siswa terakhirnya "Lusy! Silahkan maju kedepan!"
Frei membangkitkan Golem batu kembali, karena dia ingin melihat sekuat apa Lusy.
Frei sengaja membuat Golem batu tersebut lebih agresif dari yang lainnya.
Lusy maju ke depan dengan santainya, dia mengeluarkan satu Gear dan merubahnya menjadi bentuk bola hitam di tangannya.
Semua siswa mengejek Lusy dengan tatapan sinis, mereka pikir kalau lusy akan mengalami nasib yang sama dengan Creid dan yang lainnya.
Resa memerhatikan Lusy dengan seksama, dia ingin melihat seberapa kuat pria tampan yang baru bergabung dengan kelasnya itu.
Frei juga melakukan hal yang sama dengan resa, dia begitu penasaran dengan kekuatan anak muda yang bisa lolos dari Medan perang.
Frei memerhatikan benda bulat hitam yang sedang di mainkan Lusy, dia tidak tahu apa yang akan di lakukan Lusy dengan benda tersebut.
Lusy memasukan tangan kirinya di saku, sementara tangan kanannya memainkan senjata Gear yang dia rubah menjadi bola hitam.
Golem batu yang sudah di buat Agresif langsung menyerang Lusy. Namun, Lusy langsung melemparkan Gear miliknya ke Golem batu hingga menempel.
Clap....
Tidak terjadi apapun saat Golem batu baru terkena serangan Lusy, seketika tawa pecah dari seluruh Siswa yang melihatnya.
"Hahahaha...
Apa dia sedang melawak?"
"Hahahaha...
Sepertinya begitu!"
Mereka semua menertawakan Lusy yang hanya bisa melempar bola hitam tersebut pada Golem batu.
Frei mengerutkan keningnya, karena Golem batu masih berlari ke arah Lusy dengan cepat.
Tapi Lusy terlihat sangat santai, dia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya.
Resa juga merasa heran kenapa Lusy masih bisa bersantai, sementara Golem batu terus mendekat. Namun, saat Frei dan resa mau menyelamatkan Lusy tiba-tiba Golem batu hancur berkeping-keping oleh duri-duri hitam yang muncul di tubuhnya.