Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. PAGI YANG MENEGANGKAN
Suara burung kicau bersahutan dihalaman belakang Mansion. Para Maid sudah sibuk melakukan pekerjaan mereka masing masing.
Sementara sepasang suami istri itu masih bergelut didalam selimut sambil berpelukan. Hanna mengerjapkan matanya, tidurnya terasa sangat nyenyak tetapi tubuhnya seperti dililit sesuatu yang berat.
Matanya melebar, wajahnya panik. Hanna menelan ludahnya, saat ini wajahnya sedang berhadapan dengan wajah Murat dan jarak mereka sangat dekat. Bahkan Hanna bisa merasakan hembusan napas suaminya.
Dengan perlahan Hanna mencoba melepaskan lilitan tangan suaminya. Gerakannya begitu hati hati, dia takut membangunkan pria itu.
Suaminya pasti sangat marah, kalau terbangun dengan memeluk dirinya. Dengan susah payah akhirnya wanita itu bisa terbebas dari lilitan tangan suaminya.
Jantungnya hampir copot. Dulu dia memang membayangkan suaminya akan memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Tetapi dia tahu Murat tidak mungkin memeluknya dalam keadaan sadar. Suaminya itu pasti sedang mengigau dan bermimpi sedang memeluk Zahra.
Wanita itu lalu melihat box baby. Baby Malika ternyata sudah bangun, bayi cantiknya itu sedang bermain main sendiri.
" Ya ampun, anak mamah pintar sekali" Hanna menggendong bayinya. Tumben sekali bayinya itu tidak terbangun tengah malam.
" Okey sayang kita mandi yah, nanti kita bangunin abang, okey". Dia menimang nimang bayinya. Hanna harus bergegas sebelum suaminya bangun. Dia takut suaminya menyadari bagaimana posisi tidur mereka tadi.
30 menit kemudian Murat terbangun. Matanya masih tertutup dia meraba raba sisi kasurnya, kosong. Dia membuka matanya untuk memastikan ternyata benar istrinya sudah bangun terlebih dahulu.
Ada rasa kecewa yang menghinggapi hatinya. Dia duduk dan melihat box baby. " ternyata mereka sudah turun".
Murat merenggangkan tubuhnya. bibirnya tersenyum bahagia, tidur kali ini adalah tidur ternyenyak yang pernah dia rasakan. Pria itu secepat kilat berlari ke Kamar Mandi setelah melihat baju yang telah disiapkan oleh istrinya.
...****************...
" Hanna" Halil menduduki dirinya di sofa yang sama dengan Hanna.
" Bisa kita bicara?" Hanna tersenyum menanggapinya.
" Bagaimana kondisimu sekarang, apa lebih baik?" Suara pria itu begitu khawatir. Semalam dia tidak bisa tidur memikirkan kondisi Hanna apalagi Murat yang terlihat kasar pada dirinya semalam.
" Aku sudah lebih baik kak". Wanita itu menjawab dengan tenang seolah kejadian semalam bukan hal yang serius.
" Apa Murat, ehm... Maksudku dia melakukan sesuatu kepadamu?" Dia menatap Hanna dalam. Matanya memperhatikan wajah Hanna secara seksama, takut jika memang ada luka atau memar pada wajah wanita itu.
" Semuanya baik kak, kenapa?" Wanita itu merasa aneh dengan pertanyaan Halil.
" Ah tidak, itu bukan apa apa" Halil salah tingkah, dia tersadar dengan pertanyaanya yang aneh. Dia baru ingat harus menyampaikan hal penting pada wanita itu.
" Maaf bukan maksudku memaksamu, Hanna sebaiknya kamu memeriksakan diri di Rumah Sakit. Kalau sakitnya hilang timbul seperti itu, sepertinya perutmu tidak baik baik saja".
Sebagai seorang dokter spesialis Onkolog, dia tidak mau menduga duga, dia ingin memastikan sesuatu dulu dan berharap kecurigaannya itu tidak terjadi.
" Aku tahu kak, tetapi aku belum siap, a...ku takut dengan hasilnya". Suara Hanna melemah, dia semakin erat memeluk Baby Malika yang ada di pangkuannya.
" Hanna tidak ada yang perlu kamu takutkan. Kamu hanya perlu melakukan medical chek up. Seperti yang rutin Om dan Tante lakukan". Sebagai seorang dokter dia mengerti, banyak pasien seperti Hanna, yang selalu berasumsi sendiri.
" Akan aku pikirkan kak, terima kasih" Hanna pikir mungkin dia harus lebih mempercayai Halil. Yang pasti pria itu lebih tahu dibanding dirinya.
" ah ..kak bisa kah kakak merahasiakan ini. Aku hanya tidak mau membuat semua orang khawatir". sebenarnya pria itu tidak setuju. Tetapi akhirnya dia mengangguk agar wanita itu mau melakukan pemeriksaan.
Obrolan mereka terus berlanjut dan terlihat begitu asyik, sampai sampai Hanna tidak menyadari suaminya sudah turun dari tangga dan menatap mereka tajam.
Langkah Murat lebar dengan cepat dia mendekati kedua manusia itu. " Apa yang kalian lakukan? Apa kalian tidak lihat semua orang menunggu kalian!". Suaranya tajam dan penuh intimidasi.
Hanna dan Halil melihat beberapa kursi meja makan telah terisi dan memang sepertinya mereka semua menunggunya termasuk Murat.
Murat lalu mengambil baby Malika yang baru saja digendong Halil. Murat menarik tangan Hanna tapi kali ini pria itu menggenggam tangan istrinya dengan lebih lembut.
Meskipun Halil menyadari keduanya adalah sepasang suami istri tetap saja hatinya selalu dilanda cemburu yang tidak seharusnya.
...****************...
Setelah acara breakfast yang terlambat, semua orang kini melakukan kegiatan masing masing.
Seperti saat ini Halil sedang bermain dengan para bocah. Keberadaannya selalu membuat anak anak itu terhibur.
" Bisaka kita bicara sebentar". Suara Murat datar dan terdengar serius. Halil mengangguk dan mengikuti langkah pria itu.
Sekarang mereka duduk di kursi panjang yang ada didepan kolam ikan. Halil penasaran dengan apa yang akan Murat katakan.
" Bisa kah kamu menjaga batasanmu!" Suara Murat seperti sebuah perintah
" Hanna istriku, sebaiknya kalian jangan terlalu akrab. bukankah tidak pantas seorang pria terlalu akrab dengan istri orang!". Kalimat itu seperti peringatan yang harus dipatuhi.
" Apa maksudmu, kami hanya berbincang tidak lebih". Halil merasa saat ini Murat tengah menuduhnya yang tidak tidak.
Murat berdiri untuk menyudahi perbincangan mereka. " Apa pun yang kamu bicarakan dengan istriku itu, aku tidak peduli. Yang jelas jangan terlalu dekat dengannya".
Dua kali dirinya melihat bagaimana Hanna berbincang akrab dengan Halil membuat hatinya panas. Ditambah lagi Halil yang memang mudah disukai orang. Murat hanya takut Hanna menyukai pria ini.
" Kamu menuduhku". Pria itu berdiri, dia tidak terima dengan tuduhan adik sepupunya. Keduanya kini berdiri berhadapan dengan jarak satu meter.
" Aku tidak menuduhmu, aku hanya mengingatkanmu". Wajah keduanya kini seperti hewan buas yang siap mempertahankan wilayahnya.
Halil maju selangkah " Kau tidak tahu apapun tentang Hanna". Suaranya penuh tekanan dan intimidasi.
Murat mendekati Halil dan mencengkram kerah lehernya. " AKU SUAMINYA. JANGAN MELEWATI BATASMU !". Cengkraman tangan Murat semakin kuat.
Begitupun Halil, pria itu tidak mau kalah dia juga mencengkram kerah leher Murat dengan sangat kuat hingga kulit tangannya memutih. Pria itu tersenyum miring. " Benarkah, apakah kamu tahu apa yang dia rasakan sekarang?".
"ITU BUKAN URUSANMU". Murat semakin emosi, rasanya dia ingin meninju kakak sepupunya ini.
" Jangan kasar padanya !" Halil seolah menghidupkan bara. kejadian semalam sudah memberi kesimpulan padanya, bagaimana cara Pria itu memperlakukan istrinya.
Murat sudah tidak tahan, tangannya sudah siap menghantam wajah Halil.
" APA YANG KALIAN BERDUA LAKUKAN!"