Lima tahun telah berlalu sejak Edeline putus dengan kekasihnya. Namun wanita itu masih belum mampu melupakan mantan kekasihnya itu. Setelah sekian lama kehilangan kontak dengan mantan kekasih, waktu akhirnya mempertemukan mereka kembali. Takdir keduanya pun telah berubah. Edeline kehilangan harapannya. Namun tanpa dirinya sadari ada seseorang yang selama ini diam-diam mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eriza Yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28 Makan Malam Keluarga
...Bab. 28...
...MAKAN MALAM KELUARGA...
Keith dan Ariana duduk di bangku tepi jembatan. Ariana telah menceritakan semuanya. Ia meminta pendapat Keith sebab dirinya sendiri sedang begitu gundah.
"Kamu gadis yang baik. Lupakanlah semua sakit hatimu. Kemudian mulai kembali dengan kehidupan yang baru. Sebelumnya aku juga sama sepertimu. Aku justru membutuhkan lebih banyak keberanian untuk pergi menemui ayahku kembali. Sekarang nenek sudah menyadari kesalahannya, dia sudah minta maaf padamu, maka maafkanlah dia. Sakit hatimu pun akan sembuh seiring waktu." Keith menasehati. Ia juga menceritakan kedatangan Ny. Martha ke toko bunga tadi pagi kepada Ariana. Untuk meyakinkan padanya kalau Ny. Martha benar-benar berubah.
"Aku akan kembali memikirkannya. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan menemaniku di sini," ucap Ariana.
"Tidak perlu merasa sungkan. Aku akan berusaha ada ketika kamu butuh. Karena aku ini kakakmu," balas Keith sambil merangkul pundak Ariana. Ariana melepaskan rangkulan tangan Keith.
"Ngomong-ngomong, aku sudah lama tidak melihatmu membeli bunga untuk persembahan kuil. Apa kamu sudah tidak ke sana lagi?" tanya Keith.
"Aku tidak punya waktu. Setelah pindah tempat kerja jadi sering pulang malam. Kebetulan saja hari ini pulang cepat karena kehabisan bahan," jawab Ariana.
"Oh ... Lalu, bagaimana dengan pemuda yang kamu sukai, yang dulu sering kamu doakan itu?! Aku penasaran. Sebagai kakak aku tentu harus tahu seperti apa pemuda itu, bukan?" tanya Keith yang tiba-tiba teringat.
Ariana agak sulit menjawabnya. Dia tidak tahu mau berkata terus terang atau berbohong. Tapi jika dipikir-pikir lagi justru rasanya jadi lucu. Dia menarik nafas sambil menatap jauh ke depan.
"Sebenarnya ... dia sudah bersama seseorang. Aku bisa melihat betapa dia mencintai wanita itu ketika aku melihatnya ... di rumah sakit waktu itu. Sayang sekali takdir berkata lain," ungkap Ariana dengan pelan.
Sementara Keith mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Kamu mau tahu yang sebenarnya? Orang yang ku sukai dulu ternyata kakak tiriku sekarang. Ah, jangan khawatir. Aku akan jadi adik yang manis. Ku rasa perasaan itu juga sudah memudar, aku terbiasa dengan sosok seorang kakak yang tiba-tiba hadir di dalam hidupku. Ya, sepertinya itu juga anugerah. Terima kasih, Kakak!" jelas Ariana dengan senyuman tulus. Keith juga dapat tersenyum lega.
"Aku mau pulang, tapi sendiri. Aku ingin berpikir sendiri," ujar Ariana.
"Bukan berpikir tentang aku, kan?!" goda Keith.
"Bukan. Aku tidak mungkin melawan takdir. Kakak, fokus saja pada gadis pemilik toko bunga itu. Supaya aku bisa segera memiliki kakak ipar dan mendapat bunga gratis," jawab Ariana sambil tertawa mengejek. Ia sudah berjalan meninggalkan Keith.
"Dasar! Hati-hati, ya!" pesan Keith.
Ariana mengacungkan jempolnya.
...🌸🌸🌸...
Pintu rumah dibuka, Ny. Martha melihat Ariana berdiri di sana. Ariana menyodorkan sebuah kotak berisi aneka kue kepadanya.
"Aku tidak tahu mana yang Nenek suka. Aku memilih yang tidak terlalu manis," kata Ariana dengan perasaan bimbang takut ditolak seperti yang pernah terjadi.
Ny. Martha tersenyum kemudian tanpa berkata apa-apa memeluknya.
"Terima kasih, Cucuku. Ayo, masuklah! Kita makan kuenya sama-sama," ajak Ny. Martha sambil merangkulnya dengan hangat. Ariana tersenyum lega dan mengangguk.
Di rumah, Keith bercerita tentang kedatangan Ny. Martha kepada Henoch. Ia merasa amat lega sekarang karena masalahnya telah selesai. Dia juga bercerita mengenai Ariana yang sedang ia cemaskan. Henoch menghiburnya dengan penuh keyakinan. "Semuanya pasti akan baik-baik saja, Nak! Kalian akan kembali berkumpul kembali sebagai satu keluarga!"
"Aku juga berharap seperti itu, Ayah." Keith meyakini ucapan ayahnya.
Merasa tidak ada keperluan lagi di kota ini, Henoch mengutarakan keinginannya untuk pulang kembali ke desa. Awalnya Keith tidak setuju. Dia memaksa Henoch untuk tinggal lebih lama. Tapi Henoch sangat keras kepala, setelah ber-argumen sebentar, Keith hanya bisa menahannya tinggal sehari lagi di sini. Ya, setidaknya supaya dia bisa mengantar ayahnya pulang di hari libur kerja. Keith mengerti, di sini ayahnya tidak punya teman bicara jika ia bekerja. Kalau di desa, ayahnya itu masih bisa mengobrol dengan tetangga atau mengurus kebun kecilnya.
...🌸🌸🌸...
Aku baru saja membuka toko, Ariana datang dengan wajah gembira.
"Pagi, Kakak Edeline! Apa kakakku ada?" tanya Ariana dengan semangat.
"Keith belum datang," jawabku.
"Oh," gumam Ariana dengan bibir maju ke depan.
"Ada apa? Sampai-sampai kamu datang pagi begini? Kalau mau menunggu, sebentar lagi dia pasti datang," kataku.
Benar saja belum sempat Ariana menjawab Keith sudah masuk ke toko.
"Loh Ariana, ada masalah apa?" tanya Keith dengan wajah cemas.
"Tidak ada. Sebenarnya aku datang untuk menyampaikan sesuatu. Malam ini nenek mengundang Kakak, Kakak Edeline, dan paman Henoch untuk makan malam di rumahnya. Jadi, kalian harus datang ya!" Ariana mengumumkan dengan semangat.
"Ah, kamu ini ... aku kira ada masalah apa, ternyata hanya itu. Ada lagi?" tanya Keith yang awalnya cemas jadi tenang.
Ariana menggeleng ke kiri dan kanan. "Jangan lupa ya, harus datang! Kakak ajak paman Henoch, ya! Aku belum pernah bertemu dengannya," pinta Ariana.
"Iya. Iya. Kami pasti datang. Kamu juga diundang, kan?! " tanya Keith dengan tatapan menggoda.
"Tentu saja. Baiklah, aku harus pergi bekerja. Makanya aku datang pagi-pagi. Sampai jumpa nanti malam. Bye ...," pamit Ariana sambil berjalan ke pintu.
Ariana masih melambaikan tangan padaku dan Keith. Begitu ia menarik pintu untuk ke luar, Ronan yang juga memegang gangang pintu hendak masuk ikut tertarik ke dalam. Untungnya tidak jatuh hanya kepalanya membentur dahi Ariana.
"Aduh ... Kenapa tidak melihat jalan sih?" gerutu Ariana sambil memegang dahinya yang sakit.
"Maaf. Maaf. Aku tidak tahu kamu ada di balik pintu sini," jawab Ronan.
"Ya, sudahlah!" seru Ariana yang berlalu dengan cepat begitu saja.
Aku dan Keith menertawainya. Ronan sendiri kebingungan.
"Dia kenapa sih? Kepalaku juga sakit kali," katanya seorang diri.
...🌸🌸🌸...
Aku sedang berdiri di depan cermin memeriksa penampilanku. Aku mengenakan gaun selutut berwarna biru pastel. Tidak terlalu formal tapi cukup sopan. Begitu siap aku keluar dari kamar menunggu Keith datang. Ternyata di luar ada Celine, Hans, dan Libelle. Mereka datang untuk mengajak kami makan malam di luar karena mama memberitahunya aku punya acara jadi mama sendiri yang pergi.
"Bagaimana pendapat Kakak? Apa aku terlihat aneh?" tanyaku pada Celine.
"Tidak. Kamu cantik. Memangnya kamu mau pergi ke mana? Mama tidak memberitahuku acara apa yang akan kamu hadiri," jawab Celine.
"Hanya acara makan malam di rumah nenek Keith," jawabku.
"Oya?! Jadi, semuanya sudah kembali normal?" tanya Celine.
Aku mengangguk.
"Oh, syukurlah!" ujar Celine penuh syukur. Ia kembali menatapku kemudian menarikku duduk di kursi. Jarinya mulai merapikan rambutku yang tergerai. Ia membuat kepangan kecil di sisi kanan dan kiri kemudian menyatukannya dengan semua rambut mengepangnya kembali sampai ke bahu.
"Nah, sekarang lebih baik," puji Celine.
Aku tidak tahu seperti apa rambutku. Aku harus kembali ke kamar untuk melihatnya di cermin namun Celine menahanku. Tepat saat Keith datang. Celine meyakinkan kalau penampilanku oke. Keith masuk dan ia tertegun menatapku. Aku bingung.
"Ada yang aneh?" tanyaku.
"Tidak. Kamu sangat ... sempurna! Kamu siap?" jawab Keith terkagum-kagum.
"Ya," ujarku.
Keith mempersilahkanku jalan lebih dulu. Ia berpamitan dengan mama dan Celine. Celine berpesan pada Keith. "Aku percayakan Edeline padamu!"
Keith mengangguk. "Aku akan menjaganya!" janjinya.
Keith membukakan pintu mobil untukku.
"Bukankah ini mobil nenek?" tanyaku.
"Iya. Aku meminjamnya untuk membawa ayahku ke rumah nenek. Dan juga menjemput permaisuriku," jawab Keith sedikit merayu.
Aku masuk sambil menahan tawa. Keith pun sudah berada dibalik kemudi. Mobil melaju dengan pelan.
"Aku tidak tahu kamu bisa mengemudi," kataku.
"Ya, dulu ayahmu yang mengajariku. Hanya sekarang tidak ada keperluan yang harus membuatku mengemudi sendiri. Aku tetap lebih suka sepedaku. Namun tidak mungkin kan membawa wanita cantik ini dengan sepeda butut," jelas Keith sambil menggombal.
"Kamu jadi pandai merayu sekarang," ejekku.
"Aku tidak merayu. Kamu memang cantik sekali, Edeline! Aku tidak pernah melihat penampilanmu seperti ini sebelumnya," puji Keith yang membuatku tersipu malu.
Mobil memasuki halaman rumah Ny. Martha. Keith keluar membukakan pintu untukku.
"Trims," balasku. Dia merangkul pinggangku mengajakku masuk ke dalam rumah Ny. Martha. Di ruang keluarga sudah ada Ny. Martha, Ariana, bibi Amera, dan paman Henoch. Aku menyapa mereka satu persatu dan berkenalan dengan bibi Amera. Ariana nampak sudah akrab dengan paman Henoch.
"Wow! Kakak Edeline sangat cantik!" puji Ariana kagum.
"Trims. Kamu juga cantik, Ariana!" balasku. Ya Ariana terlihat sangat anggun dengan balutan gaun pink lembut malam ini.
"Terima kasih," sahut Ariana juga.
"Aku kira ini bukan acara formal tapi kalian berpakaian seperti hendak menghadiri pesta para menteri saja," gurau Ny. Martha karena dia sendiri begitu santai. Semua tertawa.
"Menurutku ini juga acara yang penting. Karena ini pertama kalinya kita semua dapat berkumpul seperti ini. Dengan wajah tersenyum dan dengan perasaan bahagia. Bukankah begitu, Ibu?" bibi Amera berkata.
"Iya. Kamu benar, Amera. Aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk berkumpul dengan kalian. Terutama dirimu, Henoch. Terima kasih telah membuka pikiranku. Hanya kalianlah yang aku miliki sekarang. Terima kasih kalian telah memaafkanku. Aku menyayangi kalian semua," tutur Ny. Martha dengan tulus yang disambut pelukan dari Ariana dan Keith.
"Kami juga menyayangi Nenek!" ucap keduanya. Ciara datang memberitahukan bahwa makanan telah siap.
"Ya sudah. Ayo, jangan banyak bicara lagi. Mari kita ke meja makan!" ajak Ny. Martha pada semuanya.
Di meja makan pun semuanya masih senang bersenda gurau. Usai makan malam kami masih berkumpul hingga larut malam.
^^^bersambung...^^^
karna buka kisah baru itu perlu tenaga jga hirup udara yg pas😌 utk qm edeline semangat ya buat kisah baru nya lgi😌
ga segampang itu menjalani kisah baru dan melupakan yg lama
cari kerjaan baru mngkn akan berubah kehidupan baru dan pastinya akan bertemu dgn org yg baru
semangat
masih nyangkut masa lalu jgn mulai buka halaman baru
bisa aja qm yg selanjutnya menyakiti perasaan nya 🙄 pahamkan itu jgn asal hdup aja🙄
basa basi