Noora Agatha William adalah seorang wanita karir dan cantik yang berprofesi sebagai model papan atas, bahkan Noora juga mempunyai suami yang tampan dan juga mapan. Bahkan rumah tangga Noora begitu terlihat sangat bahagia dan harmonis, namun seketika pernikahan yang selama ia bina bersama sang suami tidak menyangka akan di rusak oleh orang ke tiga.
Akan kah pernikahan Noora dan Adam masih bisa di pertahankan, atau malah mereka berdua milih berpisah untuk kebahagian mereka masing-masing.
Kita simak terus yuk perjalanan rumah tangga Noora dan Adam, kalau kalian suka dengan Novel ini jangan lupa tinggalkan jejak. Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi cahya rahma R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adam membabi buta
Pagi hari Noora baru saja sampai di kantor dengan Devan, hari ini Devan menemani Noora beraktifitas di kantor, karena Devan takut Adam akan berbuat hal kurang ajar lagi dengan Noora.
"Sayang, aku bisa memecat Adam sendiri, kamu tidak usah repot-repot menemani." ucap Noora yang masih di dalam mobil.
"Bukan kamu yang memecatnya, tapi aku yang akan memecatnya." Devan yang sudah turun begitu saja dari mobil.
Noora yang mendengar ucapan Devan sudah tidak bisa di hentikan ia pun hanya pasrah, lalu Noora turun dari mobil segera menyusul Devan yang sudah turun lebih dulu.
Dengan tatapan tajam, Devan terus melangkah menggontai koridor-koridor kantor, dengan Noora berjalan di sampingnya, namun sedetik kemudian Devan langsung menghentikan langkahnya saat ia melihat Adam baru saja masuk ke ruangannya.
"Masih berani juga orang gila itu datang ke kantor, benar-benar tidak punya malu." ucap Devan lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ke ruang Direktur.
Saat Devan dan Noora sudah tiba di ruangan, ternyata Viola sudah tiba lebih dulu di dalam ruang Direktur.
"Lohh.. kamu ke kantor Ra? luka mu belum sembuh total." ucap Viola yang melihat kehadiran Devan dan Noora.
"Tadi aku sudah melarangnya untuk tidak usah ke kantor, tapi temanmu ini sangat keras kepala." Devan yang sedikit jengkel menatap pada kekasihnya yang begitu super ngeyel.
"Ini hanya luka biasa, dan sudah sembuh juga." sahut Noora yang tau kalau Devan sedang marah.
Jam masuk kerja pun sudah tiba, semua karyawan sudah masuk dan mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Viola pun segera menghubungi pihak HRD untuk menyuruh Adam datang ke ruang Direktur.
"Jangan berantem lagi, aku tidak suka kalian berantem." Noora yang duduk di samping Devan.
"Kenapa? kamu takut dia babak belur di tanganku?." Devan yang menatap ke arah wanita cantik di sampingnya.
"Bukan tapi ini di kan_."
"Aku akan membuatnya babak belur lalu melemparnya dari atas sini." Devan yang menunjuk pada jendela ruangan.
"Sayang..." Noora yang menampilkan ekspresi memohon.
Tidak lama pintu pun sudah terbuka, dan Adam pun sudah masuk ke dalam ruangan. Adam sedikit terkejut melihat kehadiran Devan di kantor Noora. Sebelumnya Adam sudah berfisat bahwa Devan akan datang ke kantor untuk menemani sang kekasih karena kejadian tadi malam Adam mencoba memperkosa Noora.
"Sialan! ini semua gara-gara Safa, coba wanita bodoh itu tadi malam tidak datang." umpat Adam di dalam hati.
"Ternyata kamu masih berani ya datang di kantor ini, urat malumu benar-benar sudah putus!." Devan yang beranjak berdiri untuk mendekat kepada Adam.
Adam yang mendengar ucapan Devan hanya diam, tanpa berkata sepatah apapun.
"Kenapa kamu diam, apa kamu tidak punya mulut, apa nyalimu hanya mengedab-edab bersembunyi di rumah wanita, lalu mencoba melecehkannya?." tanya Devan.
"Urusanku hanya dengan Rara, kau tidak usah ikut campur!." Adam yang membuka suara.
"Urusan Rara juga menjadi urusanku, karena dia adalah tanggung jawabku."
Adam yang mendengar ucapan Devan seketika tersenyum kencur. "Sejak kapan Rara menjadi tanggung jawabmu, sampai kapan pun dia akan menjadi tanggung jawabku." sahut Adam.
Noora terdiam berdiri di samping Viola, mereka berdua hanya mendengarkan Devan dan Adam beradu mulut. Noora juga yakin bahwa Devan bisa menyelesaikan ini semua.
"Atas kelancanganmu melukai tunanganku, mulai hari ini dan detik ini, kamu di pecat dari perusahaan ini!." ucap Devan dengan tegas.
"Kau siapa berani-beraninya memecat ku, kau bukan pemilik perusahaan ini, dan kau tidak berhak memecatku!."
"Kemasi sekarang barang-barangmu, dan angkat kakimu dari kantor ini secepatnya." perintah Devan lagi.
"Tidak! sebelum Rara yang memecatku, aku tidak akan pergi dari perusahaan ini." sahut Devan.
Devan yang mendengar ucapan Adam seketika langsung menatap ke arah Noora untuk mengisyaratkan bahwa Adam resmi di pecat dari perusahaannya. Namun Noora seketika terdiam terus menatap wajah Adam yang juga menatap wajahnya dengan berharap Noora tidak akan memecatnya.
"Kenapa laki-laki yang dulu aku cintai, selalu membuatku nyaman, dan selalu membuatku tersenyum, sekarang berubah justru ingin melukaiku dengan cara yang tak terduka, dulu aku sungguh mencintainya tuhan, tapi kenapa sekarang aku begitu membencinya." ucap Noora di dalam hati terus menatap lamat-lamat wajah mantan suaminya tersebut.
"Lihatlah.. kekasihmu tidak akan bisa memecatku tuan Devan, bahkan matanya berkaca-kaca." Adam yang begitu percaya diri lalu tersenyum kencur.
"Sayang..." panggil Devan untuk menyadarkan lamunan Noora.
"Adam." panggil Noora.
"Iya sayang." jawab Adam dengan wajah sumpringah, bahwa dia yakin Noora tidak akan memecatnya.
"Kemasi barang-barangmu, tinggalkan kantor ini sekarang, dan jangan pernah tunjukan wajahmu lagi di depanku." ucap Noora.
Adam yang mendengar ucapan Noora yang tadi wajahnya terlihat tenang sekarang berubah 99 derajat, dadanya kembang kempis, hembusan nafasnya menjadi memburu, siap akan menerkam semua manusia yang ada di depannya.
"Tidak! aku tidak akan pergi dari perusahaan ini, apa kamu lupa Ra, aku yang mengelola perusahaan ini setelah Ayahmu meninggal, aku yang membuat perusahaan ini mendapat banyak penghargaan dan berkembang pesat, apa kamu lupa dengan kerja kerasku selama menjadi Direktur di perusahaan ini?."
"Iya.. aku lupa, aku lupa atas segala kebaikanmu kepadaku, aku lupa kasih sayangmu, aku lupa perjuanganmu, aku lupa semuanya, karena kamu sendiri yang membuat aku untuk melupakannya!." jawab Noora yang seketika berkaca-kaca."Dan aku mohon tinggalkan kantor ini sekarang." lanjut Noora lagi.
Adam yang tidak terima dengan keputusan Noora langsung saja berlari ke meja Direktur.
"Srakkkk! carrr!." Adam yang sudah mengobrak-abrik semua isi meja Noora. Komputer, dokumen-dokumen pun sudah jatuh berserakan di lantai, bahkan kaca nama Noora sebagai Direktur utama di atas meja pun ikut pecah di lantai.
Devan, Noora, dan Viola yang melihat Adam sudah memecahkan semua barang di atas meja seketika terkejut.
"Apa yang kamu lakukan orang gila, hentikan!." teriak Devan melihat perilaku Adam.
"Mati saja kalian semua." Adam yang sudah mengeluarkan peso kecil dari dalam saku jasnya. "Aku akan membunuh kalian semua, lalu perusahaan ini akan menjadi milikku seutuhnya!." teriak Adam.
Devan pun sudah melangkah 1 langkah mundur melihat Adam membawa peso, dan memberi isyarat kepada Noora dan Viola agar tidak mendekat. Noora dan Viola begitu ketakutan melihat Adam begitu sangat membabi buta.
"Berani sekali kalian mengusirku dari perusahaan yang sudah membesarkan namaku, mati saja kalian!." Adam yang sudah maju dan dengan sigap Devan segera menghentikannya, namun Devan begitu kesulitan karena Adam membawa peso yang begitu sangat tajam.
Semua barang-barang yang ada di dalam ruangan seketika saling berjatuhan akibat Adam dan Devan berkelahi. Viola dan Noora semakin ketakutan mereka berdua sudah berdiri di pojok ruangan, bahkan Noora melihat pergelangan Devan sudah terluka akibat peso yang di pegang Adam.
Noora yang melihat Devan terluka pun segera melangkah untuk membantunya.
"Mau kemana kamu?." Viola yang sudah menarik tangan Noora.
"Aku harus membantu Devan La." Noora yang menoleh kepada Viola.
"Apa kamu gila, lihat Adam membawa senjata tajam." ucap Viola.
"Noora.. Viola.. cepat hubungi security!." teriak Devan yang masih mencoba melawan Adam dengan nafas tersenggal-senggal.
Viola pun segera menekan nomor telefon untuk menghubungi security. Namun Adam mencoba mendekat untuk menghentikannya.
"Hentikan brengsek! aku tidak akan membiarkan manusia seperti kalian hidup!." Adam yang terus menerka-nerka mencoba meraih Viola agar tidak menghubungi security.
"Cepat Viola! cepat!." teriak Devan lagi.
"Srakk.. crat.." Devan yang sudah terluka di bagian perutnya. Darah segar pun sudah mengalir begitu saja karena peso berhasil menyayat perutnya cukup dalam, namun Devan masih mencoba untuk kuat melawan Adam, karena Devan tidak mau Noora dan Viola terluka.
"Devan?." teriak Noora yang menangis melihat Devan sudah terluka begitu parah.
"Jangan mendekat Ra, aku baik-baik saja." Devan yang melihat Noora sudah menangis. Namun wajah tidak bisa berbohong bahwa dirinya sudah terluka begitu parah dan kesakitan.
Viola pun sudah berhasil menghubungi Security, dan tidak lama 4 Security pun sudah datang dan berhasil meringkus Adam begitu saja.
Devan yang melihat Adam sudah berhasil di amankan, ia pun langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai, sambil memegangi perut yang sudah bersimpah darah. Noora yang melihat Devan sudah lemah tak berdaya segera mendekat.
"Devan..." Noora yang sudah berjongkok menyentuh pipi calon tunangannya. Namun tiba-tiba Devan tidak sadarkan diri langsung menjatuhkan kepalanya ke dekapan Noora.
"Devan.. sayang.. bangun.." Noora yang sudah histeris menangis melihat Devan menutup matanya.
"Viola, cepat hubungi ambulan sekarang." teriak Noora. Dan Viola pun segera menghubungi ambulan.