Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Bayangan di Lembah Sunyi
Dua tahun telah berlalu sejak gerbang dimensi itu tertutup. Di Akademi Langit Biru, waktu adalah tungku api yang menempa logam menjadi pedang. Bagi Yu Fan, dua tahun ini adalah masa di mana ia membangun kembali fondasi jiwanya yang hancur. Dari seorang pemuda tanpa ingatan, kini ia telah bertransformasi menjadi sosok yang disegani.
Ranah Master Tingkat 3 Menengah.
Pencapaian ini mengguncang koridor akademi. Bukan hanya karena kecepatannya, tetapi karena cara Yu Fan bertarung. Setiap ayunan pedangnya tidak hanya membawa energi Yin yang dingin, tetapi juga teknik-teknik tingkat tinggi yang ia serap dari warisan Leluhur Jin Taixu. Gerakannya efisien, tanpa celah, seolah-olah ia bisa membaca arah angin sebelum angin itu berhembus.
"Lihatlah dia," bisik seorang senior Tingkat 4 sambil memperhatikan Yu Fan berlatih di lapangan tengah. "Gerakan kakinya... itu teknik Langkah Bayangan Ilahi milik Sekte Pedang Ilahi, tapi dia mencampurnya dengan sesuatu yang lebih gelap. Sangat mematikan."
Di sisi lapangan, Jin Yuexin berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya berseri-seri penuh kebanggaan. Ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memamerkan "temannya" itu.
"Bagaimana? Sudah kukatakan bukan?" Yuexin berkata kepada teman-teman sekuliahnya dengan nada sombong yang menggemaskan. "Yu Fan!!, maksudku, perwakilan kerajaanku, adalah jenius nomor satu. Bahkan senior tingkat atas pun mulai berkeringat dingin jika harus berduel dengannya!"
Gosip tentang kedekatan mereka dan kekuatan Yu Fan menjadi santapan harian di enam sekte lainnya. Yu Fan sendiri hanya bersikap biasa saja. Baginya, tingkat kultivasi hanyalah angka; yang ia cari adalah kekuatan untuk melindungi dan jawaban atas kekosongan di hatinya.
"Berhentilah memamerkan ku seperti barang dagangan, Yuexin," ucap Yu Fan setelah menyelesaikan latihannya, menyeka keringat di dahi.
Yuexin mendekat, bibirnya sedikit mengerucut. "Habisnya, kau terlalu pendiam! Kalau aku tidak bicara, orang-orang akan mengira kau sombong. Oh, kudengar Lin Xueru dari Sekte Teratai Putih masih sering mengirimkan salam lewat murid luar? Hmph, mentang-mentang kau menolongnya di tangga dimensi dulu, dia jadi sering mencari alasan untuk bertemu, ya?"
Yu Fan hanya menatapnya datar. "Dia hanya berterima kasih, Yuexin. Tidak lebih."
"Berterima kasih atau cemburu karena kau lebih sering bersamaku?" Yuexin mengejek, meski ada binar geli di matanya. "Sudahlah, ayo pergi makan!"
...****************...
Malam itu, Yu Fan merasa jiwanya gelisah. Ia memutuskan untuk keluar dari lingkungan akademi untuk mencari udara segar dan mencari sesuatu yang manis, kue osmanthus atau tanghulu, untuk menenangkan pikirannya. Namun, saat ia melompati atap-atap bangunan di pinggiran kota akademi, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian.
Sesosok wanita mengenakan jubah putih bersih sedang terbang menggunakan media teratai berwarna merah muda. Itu adalah Lin Xueru.
Ke mana dia pergi selarut ini? pikir Yu Fan. Rasa penasaran mendorongnya untuk mengikuti. Dengan gerakan seringan bulu, Yu Fan melompat dari dahan ke dahan, menyembunyikan hawa keberadaannya di balik kegelapan malam.
Lin Xueru mendarat di sebuah lembah tersembunyi yang dilingkupi kabut tebal. Di sana, seorang pria paruh baya dengan jubah hitam berlambang tengkorak sudah menunggu. Tekanan energinya jauh lebih kuat dari Xueru—seorang Master Tingkat 4 Awal.
"Jadi, kau datang sendiri, Gadis Teratai?" suara pria itu parau dan penuh ancaman. "Di mana dokumen rahasia milik dekanmu?"
Xueru berdiri tegak meskipun tubuhnya sedikit gemetar menghadapi tekanan Master Tingkat 4. "Sekte Sesat kalian tidak akan pernah mendapatkan apa pun dari Akademi. Aku di sini bukan untuk bernegosiasi, tapi untuk memastikan kalian tidak melangkah lebih jauh!"
"Bodoh!" Pria itu tertawa. "Tingkat 3 Menengah ingin melawan Tingkat 4? Kau hanya menyerahkan nyawamu!"
Pertempuran pecah dalam sekejap. Xueru mengeluarkan teknik teratai suci, kelopak-kelopak energi putih melesat seperti pisau cukur. Namun, pria itu dengan mudah menangkisnya dengan kabut hitam. Setiap serangan pria itu mendarat dengan telak, menghancurkan pertahanan Xueru. Hanya dalam belasan jurus, Xueru sudah terlempar ke dinding batu. Jubahnya yang putih kini ternoda darah merah. Ia terbatuk, napasnya tersengal.
"Energi spiritual yang murni dari Sekte Teratai Putih... akan sangat nikmat jika aku serap untuk kultivasiku," ucap pria itu sambil melangkah maju. Tangannya bercahaya hitam, mulai menarik jiwa Xueru keluar dari tubuhnya yang lemas.
Sial! Yu Fan tidak bisa tinggal diam lagi.
Tepat sebelum tangan hitam itu menyentuh dahi Xueru, sesosok bayangan hitam jatuh dari langit.
KLANG!
Pedang Yu Fan berbenturan dengan energi hitam tersebut, menciptakan ledakan yang menghempaskan sang Master Tingkat 4 beberapa langkah ke belakang.
"Siapa kau?!" teriak pria itu geram.
Xueru membuka matanya yang sayu, terkejut melihat punggung kokoh di depannya. "Yu... Fan?"
"Istirahatlah, Lin Xueru. Biar aku yang mengurus ini," ucap Yu Fan tanpa menoleh.
Pria itu tertawa terbahak-bahak. "Satu lagi bocah Tingkat 3? Kalian semua benar-benar ingin mati lebih cepat!"
Pertarungan kembali meledak. Yu Fan bergerak dengan kecepatan yang membuat pria Tingkat 4 itu kewalahan. Pedang Yu Fan memancarkan aura Yin yang sangat pekat. Namun, perbedaan ranah tetaplah nyata. Master Tingkat 4 itu mengeluarkan jurus ultimatenya, sebuah bola energi kegelapan raksasa yang mampu menghancurkan gunung.
"Mati kau, tikus akademi!"
Yu Fan berdiri di depan Xueru, menolak untuk menghindar. Jika ia menghindar, Xueru akan hancur. Di ambang keputusasaan dan kemarahan karena melihat kekejaman sekte sesat, sesuatu di dalam darah Yu Fan bergejolak.
Aura merah darah mulai merembes keluar dari pori-pori kulitnya. Matanya berubah menjadi merah padam. Kekuatan Asura.
"Enyah!" teriak Yu Fan. Dengan satu tebasan tangan kosong yang dilapisi aura merah, ia membelah bola energi kegelapan itu menjadi dua.
Pria itu terbelalak. "Aura apa ini?! Kenapa begitu menakutkan?!"
Yu Fan menerjang maju. Setiap pukulannya membawa beban ribuan ton. Pria Tingkat 4 itu mencoba menahan, namun pertahanannya hancur berkeping-keping. Meskipun Master Tingkat 4 itu tetap kuat dan berhasil menebas dada Yu Fan sebagai balasan, ia menyadari bahwa ia tidak bisa menang melawan kegilaan aura merah ini. Dengan luka di dada akibat serangan balasan Yu Fan, pria itu melepaskan bom asap hitam dan melarikan diri ke dalam hutan.
...****************...
Aura merah memudar. Yu Fan terhuyung, napasnya berat. Ia segera menghampiri Xueru yang sudah hampir kehilangan kesadaran. Tanpa banyak bicara, Yu Fan menggendongnya posisi bridal style dan memasukkan sebuah pil kesembuhan tingkat tinggi ke mulut gadis itu.
"Tahan sebentar, kita harus kembali," bisik Yu Fan.
Sambil melompat melintasi perbukitan, Xueru perlahan membuka matanya. Ia merasakan kehangatan dari dada Yu Fan dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi darah. Ia terpaku, terpukau dengan wajah Yu Fan yang tampak sangat fokus menyelamatkannya. Ada rasa aman yang belum pernah ia rasakan di sektenya yang penuh aturan kaku.
"Kenapa... kau menolongku?" tanya Xueru sangat pelan.
"Karena kita pernah berjanji untuk saling membantu di tangga ujian," jawab Yu Fan singkat.
Sesampainya di depan asrama wanita, mereka dihadang oleh Jin Yuexin dan seorang siswi dari Sekte Penggoda yang kebetulan lewat. Mata Yuexin membelalak melihat Yu Fan menggendong Xueru yang penuh luka.
"YU FAN! Apa yang terjadi?!" Yuexin berteriak, antara cemas dan cemburu yang meledak seketika.
"Dia diserang sekte sesat. Tolong urus dia," ucap Yu Fan sambil menurunkan Xueru dengan hati-hati. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Yu Fan berbalik dan pergi, meninggalkan Yuexin yang mengomel dan Xueru yang menatap punggungnya dengan pandangan penuh misteri.
...****************...
Tiga hari kemudian, Yu Fan dan Lin Xueru dipanggil ke ruang kerja Dekan. Di sana, suasana sangat serius.
"Yu Fan, Lin Xueru, kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku memberikan misi berbahaya kepada seorang murid sendirian," ucap Dekan sambil menatap mereka. "Xueru sebenarnya sedang memata-matai Sekte Tengkorak Hitam atas perintahku. Sayangnya, mereka lebih cerdik dari yang kita duga."
"Maafkan kegagalan saya, Dekan," ucap Xueru sambil menunduk.
"Tidak, kau sudah melakukannya dengan baik. Dan Yu Fan, tindakan penyelamatanmu sangat luar biasa. Oleh karena itu, aku memutuskan: kalian berdua akan ditugaskan secara resmi dalam misi pembasmian cabang Sekte Tengkorak Hitam di wilayah perbatasan."
"Hanya kami berdua?" tanya Yu Fan.
"Tentu saja tidak. Kalian akan ditemani oleh seorang senior tingkat atas."
Tiba-tiba, dari bayangan di pojok ruangan, sesosok pria tinggi dengan jubah biru gelap melangkah maju. Yu Fan dan Xueru tersentak; mereka sama sekali tidak menyadari ada orang lain di sana.
"Kenalkan, ini Senior Han. Master Tingkat 4 Menengah. Dia adalah ahli dalam penyembunyian hawa dan pembunuhan diam-diam," jelas Dekan.
Senior Han hanya mengangguk dingin. "Aku akan berada di bayang-bayang. Tugas kalian adalah menjadi umpan dan penyerang utama. Jangan mati sebelum misinya selesai."
Setelah pertemuan itu, sore hari nya, Yu Fan berjalan menuju taman akademi untuk menenangkan diri, namun ia sudah dicegat oleh Yuexin dan Xueru.
"Jadi, kalian akan menjalankan misi berdua?" Yuexin mengejek sambil menyilangkan tangan di dada. "Hati-hati ya, jangan sampai ada yang 'terjatuh' lagi ke pelukan orang lain di tengah hutan."
Xueru tersenyum tipis, kali ini tatapannya kepada Yu Fan tampak lebih dalam dan berbeda. "Terima kasih kembali untuk yang malam itu, Yu Fan. Tanpamu, jiwaku mungkin sudah menjadi santapan sekte sesat."
"Sudahlah! Ayo kita makan! Aku yang traktir, supaya kalian punya tenaga untuk misi besok," potong Yuexin, menarik lengan mereka berdua menuju ruang makan akademi.
Di meja makan, suasananya sangat unik. Yuexin terus berceloteh ceria untuk menutupi rasa cemburunya, sementara Xueru lebih banyak diam namun matanya sesekali mencuri pandang ke arah Yu Fan. Yu Fan sendiri sibuk dengan makanannya, merasakan beban misi yang akan datang.
Xueru tidak menceritakan soal aura merah Asura yang ia lihat malam itu kepada siapa pun, termasuk dekan. Ia menyimpannya sebagai rahasia antara dirinya dan pemuda berbaju hitam itu. Di balik obrolan santai mereka, ada rencana dan niat yang tersimpan rapat, menunggu waktu untuk meledak di medan tempur yang sesungguhnya.