Lin Xiurong dahulu adalah putri manusia yang mati secara tragis karena dibunuh oleh kekasihnya sendiri, Yao Tian, akibat fitnah dan permainan takdir. Kebencian, cinta, dan luka yang tidak selesai membuatnya jatuh ke Alam Bawah. Di sana, ia tidak mati, tidak hidup, dan perlahan berubah menjadi iblis terkuat.
Ribuan tahun kemudian, Lin Xiurong berhasil membunuh Raja Iblis lama dan menjadi penguasa Alam Kegelapan. Semua makhluk takut padanya, tetapi tidak ada yang tahu bahwa penguasa paling kejam itu hanya menunggu satu orang: Yao Tian.
Namun, saat Yao Tian akhirnya datang, ia tidak datang sebagai kekasih yang mengingat janji lama. Ia datang sebagai murid Kaisar Dewa yang ditugaskan untuk membunuh Lin Xiurong.
Masalahnya, Lin Xiurong masih mencintainya.
Dan Yao Tian tidak ingat bahwa perempuan yang ingin ia bunuh adalah perempuan yang pernah ia cintai sampai mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Mo Yan
Lin Xiurong tidak tidur. Sejak menjadi iblis, tidur baginya hanya bentuk lain dari penyiksaan. Setiap kali memejamkan mata terlalu lama, masa lalu datang seperti pencuri. Kadang sebagai taman manusia, kadang sebagai pedang di dada, kadang sebagai suara Yao Tian yang salah menuduhnya. Karena itu ia lebih suka duduk sendirian di balkon istana, membiarkan angin panas Alam Bawah menyentuh wajahnya sampai semua ingatan mundur.
Namun malam setelah cermin Makam Seribu Nama pecah, kantuk datang tanpa izin.
Lin Xiurong duduk di kursi batu, hanya berniat memejamkan mata sebentar. Ketika membuka mata lagi, ia tidak berada di balkon. Ia berdiri di taman manusia yang dulu sangat ia kenal. Pohon bunga putih berguguran di atas jalan batu. Danau kecil memantulkan bulan, bukan bulan merah, melainkan bulan kuning pucat yang pernah menerangi masa mudanya.
Ia tahu ini mimpi. Lebih tepatnya, ini jebakan.
“Aku tidak menyangka kau masih mengingat tempat ini,” suara seorang pria terdengar dari belakang.
Lin Xiurong tidak menoleh. “Tempat ini tidak penting. Yang penting adalah siapa yang akan kubunuh di sini.”
Mo Yan tertawa pelan. Ia muncul di bawah pohon, mengenakan jubah hitam dengan sulaman emas kusam. Wajahnya tampan dalam cara yang membuat orang tidak nyaman. Ia seperti lukisan indah yang disimpan terlalu lama di ruangan penuh racun.
“Masih setajam dulu,” katanya. “Itulah yang kusukai darimu.”
“Aku tidak membutuhkan seleramu.”
“Kau selalu mengatakan itu, tetapi kau tetap mendengarkan.”
Lin Xiurong mengangkat tangan. Api Phoenix muncul. Namun nyala itu tidak sebesar biasanya. Di dunia mimpi ini, lukanya masih membatasi kekuatan.
Mo Yan tersenyum melihatnya. “Tenang. Jika aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya ketika Yao Tian menusukmu.”
Lin Xiurong menatapnya tanpa berkedip. “Kau yang menghasut Yao Tian di kehidupan pertama.”
“Benar.”
“Kau yang mengikat kutukan.”
“Benar.”
“Kau yang membuat kami mati berulang kali.”
“Tidak sepenuhnya.”
Api di tangan Lin Xiurong membesar. “Jangan bermain kata denganku.”
Mo Yan melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak aman. “Aku hanya memberi dorongan. Yao Tian yang memilih percaya. Kau yang memilih menunggu. Langit yang memilih menutup mata. Semua orang punya bagian dalam bencana ini.”
Kalimat itu menjijikkan karena ada sedikit kebenaran di dalamnya. Lin Xiurong membencinya justru karena itu. Kebohongan murni mudah dibakar. Kebenaran yang tercampur racun lebih sulit dihancurkan.
“Apa maumu?” tanyanya.
Mo Yan mengangkat tangan. Di telapak tangannya muncul sebuah bunga hitam dengan kelopak merah. “Aku menawarkan jalan keluar. Potong benang kutukanmu dengan Yao Tian. Serahkan ingatan tentangnya kepadaku, dan kau akan bebas. Tidak ada lagi sakit ketika ia terluka. Tidak ada lagi mimpi buruk. Tidak ada lagi nama yang membuatmu lemah.”
Lin Xiurong menatap bunga itu. Tawaran itu terdengar seperti racun paling manis. Selama ribuan tahun, ia mengira yang diinginkannya adalah Yao Tian kembali. Namun setelah pria itu kembali dengan pedang, ia mulai bertanya pada dirinya sendiri: apakah ia benar-benar menunggu cinta, atau hanya menunggu alasan untuk berhenti sakit?
Mo Yan membaca keraguannya. “Kau bisa menjadi raja yang sempurna tanpa dia. Kau bisa membakar langit, menundukkan neraka, dan membangun alam baru. Mengapa mempertahankan pria yang sudah dua kali membunuhmu?”
Lin Xiurong tidak langsung menjawab.
“Apa harga sebenarnya?” tanya Lin Xiurong akhirnya.
Mo Yan tersenyum, seperti guru yang puas melihat murid cerdas. “Tidak banyak. Hanya satu hal.”
“Tentu saja.”
“Kau harus membunuh Yao Tian dengan tanganmu sendiri.”
Taman mendadak hening. Bunga putih berhenti jatuh. Danau berhenti beriak. Bahkan mimpi itu seolah menahan napas.
Lin Xiurong memandang Mo Yan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Mungkin karena ia sudah menduga. Tawaran dari orang seperti Mo Yan tidak pernah datang tanpa darah.
“Kau terobsesi melihat kami saling membunuh.”
“Aku terobsesi pada kebenaran,” jawab Mo Yan. “Cinta yang besar hanya terbukti jika tetap ada setelah dikhianati. Jika hancur, berarti sejak awal ia hanya kebodohan.”
“Dan kau menyebut dirimu dewa sumpah?”
“Aku menyebut diriku satu-satunya yang berani menguji sumpah.”
Lin Xiurong tertawa. “Kau bukan penguji sumpah. Kau pencuri yang terlalu malu mengaku kalah.”
Wajah Mo Yan sedikit berubah. Hanya sedikit, tetapi cukup. Untuk pertama kali dalam mimpi itu, senyumnya retak.
“Berhati-hatilah, Xiurong. Aku menawarkan kebebasan. Jika kau menolak, kau akan kembali kehilangan segalanya.”
“Aku sudah kehilangan segalanya berkali-kali. Ancamanmu terlambat beberapa ribu tahun.”
Mo Yan mengangkat bunga hitam itu lebih tinggi. Kelopaknya terbuka dan memperlihatkan bayangan masa depan: Yao Tian berdiri di atas tubuh Lin Xiurong yang kembali berdarah. Qi An mati di gerbang istana. Song Xiaolian menangis tanpa suara. Kota Hantu terbakar oleh cahaya putih.
Lin Xiurong menegang.
“Ini bukan kemungkinan,” bisik Mo Yan. “Ini pola. Selama kau memilih Yao Tian, pola itu akan menemukan jalan.”
Lin Xiurong menatap bayangan itu lama sekali. Bukan karena takut pada kematiannya sendiri. Ia sudah terlalu akrab dengan kematian. Yang membuat dadanya terasa sempit adalah melihat Qi An dan Song Xiaolian jatuh karena pilihannya. Mereka telah mengikutinya melewati ribuan malam. Jika takdir kembali menagih lewat nyawa mereka, apakah ia masih pantas menyebut dirinya raja?
Mo Yan melihat celah itu. “Aku bisa menyelamatkan mereka. Bunuh Yao Tian, serahkan sisa cintamu, dan semua orang yang setia padamu akan hidup.”
Lin Xiurong memejamkan mata.
Untuk sesaat, ia membayangkan melakukannya. Satu tebasan. Satu tubuh jatuh. Satu ikatan putus. Mungkin ia akan bebas. Mungkin sakitnya akan berhenti. Mungkin ia tidak akan lagi menjadi perempuan bodoh yang menunggu pria yang tidak pernah datang tepat waktu.
Lalu ia membuka mata.
Api Phoenix menyala di seluruh taman. Bunga putih berubah menjadi abu merah. Danau mendidih. Langit mimpi retak.
“Kau salah menghitung satu hal, Mo Yan.”
Mo Yan mundur. “Apa?”
“Aku boleh membenci Yao Tian. Aku boleh ingin membunuhnya. Aku bahkan mungkin benar-benar akan melakukannya suatu hari nanti.” Lin Xiurong melangkah maju. “Tapi keputusan itu milikku, bukan milikmu.”
Api menghantam Mo Yan. Tubuhnya pecah menjadi asap hitam, tetapi tawanya masih terdengar.
“Kita lihat berapa lama harga dirimu bertahan, Raja Iblis.”
Lin Xiurong terbangun di balkon. Napasnya berat. Luka di dadanya kembali berdarah sedikit. Di hadapannya, Yao Tian berdiri dengan wajah pucat. Tampaknya ia merasakan mimpi itu lewat ikatan kutukan.
“Kau melihat?” tanya Lin Xiurong.
“Sebagian.”
“Bagian mana?”
“Bagian ketika dia memintamu membunuhku.”
Lin Xiurong menyeka darah di bibirnya. “Jangan tersanjung. Aku menolak bukan karena kau berharga.”
Yao Tian menunduk. “Aku tahu.”
“Bagus.”
Namun ketika Yao Tian hendak pergi, Lin Xiurong berkata lagi, sangat pelan, “Jangan mati tanpa izinku.”
Yao Tian berhenti. Di bawah cahaya bulan merah, ia menjawab, “Aku akan menunggu izinnya selama mungkin.”
Lin Xiurong memalingkan wajah. Ia membenci betapa mudah kalimat sederhana itu mengguncang sisa hatinya.
Setelah mimpi itu, Lin Xiurong tidak mengizinkan siapa pun tinggal terlalu dekat. Ia mengatakan ingin sendiri, dan semua orang memahami “sendiri” berarti tidak ada yang boleh terlihat mengkhawatirkannya. Song Xiaolian pergi menyiapkan obat. Qi An pergi memeriksa penjaga, meski sebenarnya ia berputar tiga kali di lorong yang sama agar tetap dekat. Yao Tian menjadi satu-satunya yang masih berdiri di balkon, karena kutukan membuat jarak mereka tidak bisa terlalu jauh.
“Pergilah,” kata Lin Xiurong tanpa menoleh.
“Jika aku pergi lebih jauh, lukamu sakit.”
“Kalau begitu berdirilah di sana dan jangan bernapas terlalu keras.”
Yao Tian hampir tertawa, tetapi menahannya. Malam itu terlalu rapuh untuk tawa.
Mereka diam lama. Di bawah balkon, Kota Hantu meredup. Api-api kecil menyala di rumah penduduk yang belum dievakuasi. Dari jauh terdengar nyanyian kasar prajurit iblis yang berjaga. Suaranya jelek, nadanya tidak seimbang, tetapi anehnya membuat istana terasa tidak terlalu mati.
“Aku tidak akan membelanya,” kata Yao Tian akhirnya.
“Siapa?”
“Diriku yang dulu. Jika ingatanku kembali sepenuhnya dan ternyata aku memang seburuk yang kau ingat, aku tidak akan mencari alasan.”
Lin Xiurong menatap langit. “Orang yang bersalah sering mengira korban membutuhkan pengakuan mereka. Padahal kadang korban hanya ingin rasa sakitnya berhenti.”
“Apa rasa sakitmu bisa berhenti?”
“Tidak tahu.”
Jawaban itu jujur, dan karena jujur, terdengar lebih menyedihkan daripada kemarahan. Yao Tian ingin menyentuhnya, tetapi tidak berani. Hak sederhana seperti menyentuh bahu pun terasa terlalu besar untuk orang yang pernah menusuk dadanya.
Lin Xiurong berkata lagi, “Mo Yan menawarkan kebebasan.”
“Dengan membunuhku.”
“Ya.”
“Apakah kau mempertimbangkannya?”
“Tentu.”
Yao Tian menunduk. “Aku mengerti.”
Lin Xiurong akhirnya menoleh. “Itu saja?”
“Aku tidak punya hak memintamu tidak melakukannya. Tapi jika suatu hari kau memilih itu karena kehendakmu sendiri, aku akan menerimanya. Jika kau memilih karena dia memaksamu, aku akan melawan bahkan jika yang kulawan adalah pedangmu.”
Untuk beberapa detik, Lin Xiurong tidak bisa berkata apa-apa. Ia membenci kalimat itu. Bukan karena buruk, tetapi karena terlalu terlambat terdengar indah.
“Yao Tian,” panggilnya pelan.
“Ya?”
“Jangan membuatku ingin percaya padamu terlalu cepat.”
Pria itu menatapnya dengan mata yang menyimpan rasa sakit. “Aku akan berusaha tidak terburu-buru.”
Di langit, seekor gagak hitam terbang lewat tanpa suara. Mereka berdua tidak melihatnya. Tetapi Mo Yan melihat mereka, dan kesunyian itu justru membuatnya lebih waspada daripada pertengkaran.