Bos mafia yang konon kejam dan tanpa ampun ternyata bisa memiliki sisi lembut dan perhatian. Atau, protagonis wanita selalu dianiaya oleh bos mafia, namun dalam perlawanannya ia secara bertahap dihargai, dan akhirnya meraih kebebasan serta cinta sejati. Bagaimana rasanya dipaksa menggantikan kakak atau adiknya untuk menikahi bos mafia yang ditakuti? Cerita seperti apa yang akan terjalin dalam prosesnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pondasi yang Tak Tergoyahkan
Udara dingin musim gugur di Manhattan kian menusuk tulang, tetapi di dalam ruang kerja utama lantai dua mansion Barrett, suasananya terasa begitu hangat dan hidup. Perapian batu alam yang besar menyala dengan konstan, memantulkan cahaya keemasan di atas lantai kayu hitam yang berkilau. Wangi seduhan teh kamomil bercampur dengan aroma maskulin kayu cedar yang khas dari parfum Nicholas memenuhi setiap sudut ruangan.
Elena duduk di kursi kulit besar di balik meja kerja pualam putih, mengenakan sweater rajut tebal berleher tinggi berwarna merah muda pastel yang dipadukan dengan rok plisket panjang berwarna putih gading. Di depannya, tumpukan dokumen hukum berkop segel emas dari Pengadilan Tinggi berjejer rapi, berdampingan dengan sketsa-sketsa arsitektur untuk pengembangan galeri seni barunya.
Sejak penyerahan berkas wasiat almarhumah ibunya oleh Catherine minggu lalu, seluruh hidup Elena mengalami eskalasi yang luar biasa. Dia bukan lagi sekadar seorang istri bos mafia yang mengelola bisnis galeri seni; kepemilikan mutlak atas wilayah kilang minyak legal di utara kini menjadikannya salah satu wanita terkaya dan paling berpengaruh di pantai timur secara hukum negara.
*Tok, tok.*
Pintu terbuka secara perlahan setelah ketukan yang teratur. Christian melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu formal, membawa sebuah koper kulit hitam kecil yang tampak berat. Di belakangnya, Thomas menyusul dengan nampan berisi cangkir kopi hitam tanpa gula dan sepiring kecil biskuit gandum kesukaan Nicholas.
"Selamat sore, Nyonya Barrett," sapa Christian dengan membungkuk hormat, gestur yang kini dia lakukan dengan ketulusan mutlak tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Seluruh tim hukum dari firma pengacara kita di Wall Street telah menyelesaikan proses likuidasi dan pemindahan hak milik. Ini adalah seluruh sertifikat autentik dan kunci akses digital untuk operasional kilang minyak utara."
Elena menerima berkas utama yang disodorkan Christian, membukanya dengan gerakan jemari yang tenang dan jeli. Sisi administrasi dalam dirinya langsung bekerja dengan efisiensi tinggi saat matanya memindai angka-angka aset dan struktur kepemimpinan lama yang harus segera dia bersihkan.
"Bagaimana dengan para dewan direksi lama yang ditunjuk oleh Arthur sebelum dia dideportasi, Christian?" tanya Elena, nada suaranya terdengar begitu tenang, teratur, namun memiliki resonansi ketegasan yang sangat mirip dengan cara Nicholas berbicara.
"Sesuai dengan perintah Anda kemarin, Nyonya," jawab Christian dengan senyuman taktis,
"kami telah membekukan seluruh pesangon mereka dan melakukan audit investigatif atas dugaan penggelapan dana selama lima tahun terakhir. Tiga dari mereka telah menyerahkan surat pengunduran diri secara sukarela pagi ini setelah Tim Alpha mengunjungi kediaman mereka untuk sekadar... bertukar pikiran."
Elena menaikkan sebelah alisnya yang indah, menyembunyikan senyuman tipis di sudut bibirnya. Dia tahu betul apa arti 'bertukar pikiran' bagi para anak buah suaminya. Dunia hitam ini telah mengajarkannya bahwa kebaikan tanpa kekuatan hanya akan menjadi mangsa bagi orang-orang serakah seperti Arthur dan Alana di masa lalu.
"Bagus. Pastikan posisi-posisi kosong itu diisi oleh para profesional legal yang bersih dari jaringan lama keluarga Vance. Saya ingin laporan arus kas pertama dari kilang utara sudah berada di meja saya sebelum pameran musim dingin dimulai," perintah Elena dengan ketukan jemari yang ritmis di atas meja.
"Akan segera saya laksanakan, Nyonya Barrett," sahut Christian, membungkuk sekali lagi sebelum melangkah mundur keluar dari ruangan bersama Thomas, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruang kerja tersebut.
---
Satu jam berlalu dalam keheningan yang produktif sebelum pintu ruangan kembali terbuka tanpa ketukan. Elena tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang; langkah kaki yang berat, konstan, dan sarat akan aura dominasi yang mutlak itu hanya milik satu orang di rumah ini.
Nicholas Barrett melangkah masuk, membiarkan pintu ek hitam di belakangnya tertutup rapat dengan suara klik yang pelan. Pria itu baru saja kembali dari pelabuhan utama; dia mengenakan kemeja hitam formal yang kancing atasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis rahangnya yang tegas dan lehernya yang kokoh. Jas wol gelapnya tersampir asal di lengan kirinya yang kekar.
Begitu sepasang mata abu-abu Nicholas tertuju pada sosok Elena yang duduk di balik meja pualam dengan sweater merah mudanya, seluruh ketegangan pembantaian bisnis di luar seolah menguap tanpa sisa dari wajah tampannya. Binar kepemilikan yang hangat dan posesif langsung memenuhi manik matanya.
Nicholas berjalan mendekat, meletakkan jasnya di atas sofa kulit, lalu melangkah memutari meja kerja besar itu. Dia tidak berdiri di depan meja seperti seorang tamu; dia langsung merengkuh pinggang kecil Elena dari belakang kursi, menundukkan tubuh jangkungnya hingga wajah mereka sejajar.
"Kau menghabiskan tiga jam penuh hari ini bersama Christian dan dokumen-dokumen itu, Elena," bisik Nicholas dengan suara serak yang seksi tepat di dekat telinga istrinya, mengirimkan getaran halus yang membuat bulu kuduk Elena meremang indah.
Nicholas menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Elena, menghirup dalam-dalam aroma manis stroberi yang menjadi candu mutlaknya sejak malam pernikahan mereka.
"Suamimu pulang dengan tubuh penuh aroma mesiu dan mesiu pelabuhan, dan kau bahkan tidak menyambutku di lobi utama."
Elena tertawa rendah, memutar tubuhnya sedikit di atas kursi kulit untuk menghadap suaminya. Dia menaikkan kedua tangannya, melingkarkannya di leher kokoh Nicholas, membiarkan jemari lembutnya bermain di antara helai rambut hitam pendek pria itu yang terasa agak kasar.
"Aku sedang mengamankan kekayaan keluarga kita, Nicholas," ucap Elena dengan binar jenaka di mata abu-abu kecokelatannya.
"Kilang minyak utara memiliki beberapa kebocoran administrasi yang sengaja ditinggalkan oleh orang-orang Arthur. Jika aku tidak membereskannya sekarang, mereka akan mengira Nyonya Barrett adalah wanita yang bisa dibohongi dengan angka-angka palsu."
Nicholas menyipitkan matanya penuh kekaguman yang masif. Dia mencengkeram pinggang Elena dengan tangan kirinya yang besar, lalu dengan satu sentakan kekuatan absolut yang mudah, dia mengangkat tubuh kecil istrinya dari atas kursi kerja dan mendudukkannya di atas permukaan meja pualam putih, di antara tumpukan berkas hukum yang berantakan.
Nicholas mengurung tubuh Elena dengan meletakkan kedua telapak tangannya di sisi kiri dan kanan paha istrinya, menatap dalam-dalam ke mata Elena dengan tatapan yang sarat akan gairah posesif.
"Aku tidak peduli dengan seluruh minyak di utara itu, Elena," gumam Nicholas, suaranya terdengar sangat rendah dan bergetar di dada bidangnya yang tegap.
"Bahkan jika seluruh kekayaan Vance itu terbakar menjadi abu malam ini, kau tetaplah wanita terkaya di dunia ini karena kau memiliki seluruh kekaisaran Barrett, seluruh hidupku, dan setiap tetes darah yang mengalir di dalam tubuhku. Kau adalah pemilik mutlak dari pria ini."
Nicholas menundukkan kepalanya, mengikis sisa jarak di antara mereka, dan mengunci bibir Elena dalam sebuah ciuman yang mendalam. Ciuman sore ini berjalan lambat, tanpa tuntutan yang terburu-buru seperti saat perang di pulau pribadi, melainkan sebuah ciuman yang sarat akan pemujaan yang murni atas kehadiran Elena di dalam hidupnya yang kelam.
Nicholas melumat bibir bawah Elena dengan kelembutan yang memabukkan, sementara tangan kanannya naik mencengkeram tengkuk Elena lembut, memperdalam penyatuan mereka.
Elena memejamkan matanya, membiarkan seluruh pertahanan dirinya larut di dalam dekapannya yang kukuh. Dia meremas bahu kokoh Nicholas, merasakan detak jantung suaminya yang berirama kuat di bawah telapak tangannya sebuah ritme yang hanya didedikasikan khusus untuk dirinya sendiri.
Ketika Nicholas akhirnya melepaskan tautan bibir mereka dengan perlahan, napas mereka berdua terengah-engah di dalam keheningan ruangan yang romantis. Nicholas tidak menjauhkan wajahnya; dia menyatukan kening mereka, membiarkan ujung hidung mereka saling bersentuhan dengan mesra.
"Ada sesuatu yang ingin kuberikan padamu untuk pameran musim dingin nanti, Elena," bisik Nicholas, ibu jarinya mengusap permukaan bibir Elena yang kini tampak sedikit basah dan merona merah akibat ciuman mereka.
"Apa itu?" tanya Elena dengan napas yang masih belum teratur sepenuhnya.
Nicholas meraih sesuatu dari dalam saku kemeja hitamnya sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam pekat dengan lambang elang emas keluarga Barrett di bagian atasnya. Dia membuka kotak itu di depan mata Elena, menampilkan sebuah cincin berlian berpotongan emerald-cut berwarna merah muda langka berukuran besar, yang dikelilingi oleh jajaran berlian putih kecil berkilau di sepanjang lingkar platinumnya.
Cahaya sore yang masuk dari jendela memantulkan kilau yang luar biasa dari batu permata tersebut, menciptakan pendaran warna pink yang begitu indah di atas kulit lembut tangan Elena.
"Ini adalah The Rose of Atlantic" ucap Nicholas, mengambil jemari tangan kanan Elena dan perlahan memasukkan cincin itu ke jari manis istrinya, bersanding sempurna dengan cincin pernikahan mereka yang lama.
"Berlian merah muda alami terbesar yang pernah ditemukan di tambang Afrika Selatan. Aku membelinya lewat lelang tertutup di Jenewa tiga bulan lalu. Alana pernah menangis memohon pada ayahnya untuk membelikan berlian ini di masa lalu, namun Arthur tidak pernah memiliki cukup uang untuk menyentuhnya."
Nicholas mengecup punggung tangan Elena yang kini telah terhiasi oleh berlian merah muda itu dengan penuh pengabdian. "Mulai hari ini, berlian ini berada di tempat yang seharusnya. Di jemari wanita yang memiliki keindahan dan ketulusan yang sesungguhnya. Tunjukkan pada dunia di pameran musim dingin nanti, bahwa tidak ada satu pun bayangan dari masa lalu yang sanggup menandingi kilaumu sebagai Nyonya Barrett."
Air mata haru dan bahagia akhirnya menetes di pipi Elena, memantulkan cahaya senja yang hangat. Dia melihat ke arah cincin di jarinya, lalu kembali menatap mata abu-abu Nicholas yang dipenuhi oleh cinta yang teramat masif untuknya. Pengantin pengganti yang dulunya diseret ke dalam rumah ini sebagai tumbal pembantaian, kini telah memiliki segalanya keadilan, kekayaan, harga diri, dan yang terpenting dari semua itu: cinta sejati dari sang penguasa kegelapan pantai timur yang tak akan pernah melepaskannya seumur hidup.