Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26# Gaun Yang Tidak Diinginkan
"Apa-apaan ini? Kenapa kamar Ayla jadi seperti ini? Kenapa tidak ada satupun barang?" setelah masuk ke dalam kamar Ayla, Adnan baru menyadari kalau kamar tersebut kosong melompong, tidak ada foto di dinding, tidak ada bunga di meja dan tidak ada satupun barang milik Ayla yang tertinggal.
"Pelayan! Pelayan!" teriak Adnan.
Tak butuh waktu lama, seorang pelayan pun datang menghampiri nya.
"Ada apa ini tuan muda? Kenapa tuan muda ada di sini?" tanya seorang pelayan yang tau kalau Adnan sebelumnya tidak pernah pergi ke kamar Ayla.
"Jangan banyak tanya, dimana barang-barang Ayla? Foto-foto di dinding, di mana? Kemana semua itu pergi? Apa dia membawa nya?" ucap Adnan dengan wajah memerah karena marah.
"Tidak tuan muda, semua barang di kamar ini sudah di bakar, sebelum nona Ayla pergi dia membakar sebagian besar barang dari kamar nya, dan sebagian lagi ada di bawah ranjang di dalam kotak kardus," ucap sang pelayan menjelaskan.
"Di-dibakar?" ucap Adnan tersentak kaget.
"Ya, ada beberapa baju, dan benda-benda lainnya," ungkap sang pelayan yang kebetulan menyaksikan hal tersebut.
Adnan terdiam, lagi-lagi dia melihat sekeliling kamar yang tampak kosong, bayang-bayang masa lalu seketika terlintas di benak Andan, dimana sang adik selalu berusaha menghiasi dinding kamar dengan foto-foto mereka bertiga semasa kecil.
"Tidak mungkin, Ayla benar-benar menyayangi foto-foto itu, dia tidak mungkin membakar nya," lirih Adnan sambil mencengkram kuat celana nya menahan rasa yang bergejolak di dalam hatinya.
"Kenapa setelah nona Ayla pergi baru orang ini peduli dengan nya bahkan masuk ke kamar nya? Bukan kah dia selalu menyiksa nona Ayla saat dia masih di sini? Keluarga ini benar-benar aneh," batin pelayan yang mengamati reaksi Adnan.
"Keluarkan barang yang ada di bawah ranjang, itu pasti foto-foto kami, berikan semuanya kepada ku," ucap Adnan kepada pelayan nya.
"Baik tuan muda," sang pelayan segera bergegas mengambil satu-satunya kotak yang tertinggal di bawah ranjang milik Ayla dan kemudian memberikan nya kepada Adnan.
Dengan penuh harapan Adnan membuka kotak tersebut, dia berharap kalau ada beberapa barang kenangan mereka masa kecil yang masih di tinggalkan Ayla.
Namun harapan nya seketika pupus setelah kotak tersebut terbuka, isinya hanya sedikit, tidak ada foto di dalamnya, namun beberapa benda membuat hati Adnan kembali bergemuruh.
"Ini kan," ucap Adnan sambil memegang sebuah gaun merah jambu yang lebel harganya masih tertera di sana.
"Ini hadian pertama yang nona dapatkan dari tuan muda Adnan, dia saat itu senang sekali mendapatkan gaun ini sampai-sampai tidak tega memakainya, ini satu-satunya gaun yang nona Ayla punya," ucap pelayan tersebut.
Mata Adnan terasa panas mendengar ucapan sang pelayan, ia tak sanggup lagi menahan gejolak kesedihan yang ada di hatinya.
Flashback on.
Beberapa tahun lalu.
"Alena, aku punya hadiah untuk mu," ucap Adnan sambil menyerahkan kontak segiempat besar dengan pinta mereka di atasnya.
"Apa ini kak? Bukan kah ulang tahun ku masih lama? Kenapa tiba-tiba memberikan hadiah," tanya Alena yang saat itu terlihat sangat senang.
Sementara Ayla hanya memperhatikan mereka sambil mengepel lantai ruang tengah tersebut bersama satu orang pelayan yang saat ini bersama Adnan di kamar Ayla.
"Buka saja, kau tidak perlu ulang tahun untuk mendapatkan hadiah," ucap nya kepada Alena.
Alena pun membuka hadiah tersebut dan seketika wajah nya berubah murung setelah melihat gaun itu.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Adnan sambil mengerutkan keningnya.
"Bukan tidak suka gaun nya, tapi aku tidak suka warna nya," ungkap Alena yang ternyata pilih-pilih.
"Astaga aku minta maaf, aku lupa kalau kau tidak suka warna pink," ucap Adnan sambil sedikit menepuk kepala.
Namun Ayla yang melihat itu bergegas menghampiri mereka sambil membawa kain pel nya.
"Kak Alena tidak suka, sebaiknya jangan di buang, bolehkah gaun ini jadi milikku kak?" tanya nya dengan mata berbinar-binar.
Alena menatap Ayla dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, sementara Adnan selalu melempar tatapan jijik kepada sang adik.
"Bagaimana menurut mu Alena?" tanya Adnan lagi.
Bahkan gaun yang tidak di sukai Alena pun harus mendapatkan ijin Alena untuk diberikan kepada Ayla.
"Ambil saja, tidak apa-apa," jawab Alena sambil tersenyum palsu.
"Terima kasih kak, terima kasih banyak," ucap Ayla yang saat itu sangat senang mendapat gaun tersebut.
"Bawa pergi sana," ucap Adnan risih melihat Ayla di hadapan nya.
"Iya kak iya, sekali lagi terima kasih," ucap Ayla bukan main bahagia nya.
Bahkan memiliki gaun seperti itu saja dia harus menunggu Alena tidak suka.
Flashback off.
Adnan yang mengingat kejadian tersebut seketika menangis sejadi-jadinya sambil memeluk gaun itu, belum terlalu lama Ayla pergi dia sudah mulai merasakan sebenarnya siapa yang paling menderita di rumah itu.
"Tuan muda, jangan menangis, nona hanya pergi ke rumah suaminya, kapan-kapan tuan muda bisa bertemu, jika ada penyesalan bukan kah tuan muda masih memiliki kesempatan dan memperbaiki semua ini?" ucap pelayan itu membujuk Adnan.
Mendengar itu Adnan langsung terdiam, dia menatap pelayan nya dengan tatapan dingin.
"Aku hanya merindukan momen masa lalu, aku tidak menyesal, simpan kembali kotak nya, baju ini aku yang akan simpan," ucap Adnan yang kemudian meninggalkan kamar tersebut dengan kursi roda nya.
"Jelas-jelas dia terlihat sangat sedih, tapi tidak mengaku," batin pelayan itu sambil kembali membereskan kotak kardus nya ke tempat semula.
Sementara itu di sisi lain.
Ayla dan Valen kini sedang makan di restoran keluarga Aditama, sementara Leo, dia tidak ikut makan karena tak ingin menganggu waktu berdua Ayla dan Valen yang mungkin saja sedang melakukan pendekatan sedikit demi sedikit.
"Pilih sendiri," ucap Valen sambil menyerahkan buku menu kepada Ayla.
Ayla terdiam menatap berbagai macam jenis menu makanan mewah yang tertera di buku menu tersebut, setelah lima belas tahun lamanya, ini pertama kalinya Ayla di bawa ke restoran yang sangat mahal. Walaupun hidup di kelurga kaya sebelumnya Ayla tidak pernah di bawa jalan-jalan ataupun makan di restoran, balik lagi semua karena keluarga nya yang sangat membenci dirinya.
"Aku boleh makan apapun?" tanya Ayla terlihat sumringah.
"Hm," jawab Valen sambil mengangguk. Ia sedikit bingung dengan reaksi istri kecilnya itu yang tampak aneh.
"Aku mau ini, ini, ini ,ini dan ini," ucap Ayla dengan wajah penuh senyum.
Sementara Valen baru pertama kali melihat tingkah antusias Ayla merasa sedikit lucu.
Namun Ayla sama sekali tidak menyadari kalau saat ini ada dua pasang mata yang tertuju ke arah mereka.
"Itu kan Ayla," ...
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya