Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16 : Mokondo
Revan dan Queen akhirnya kembali masuk ke dalam rumah. Begitu mereka memasuki ruang keluarga, semua mata langsung tertuju pada keduanya.
Kevin yang sejak tadi menunggu bahkan langsung menyeringai. "Nah, akhirnya balik juga."
Queen langsung duduk dengan wajah kusut.
Sedangkan Revan kembali ke tempat duduknya dengan ekspresi tenang seperti biasa.
Ibu Farah tersenyum penuh harap. "Jadi bagaimana?"
Queen langsung menunjuk dirinya sendiri. "Jadi apa, Ma?"
Ibu Farah mengabaikannya dan menatap Revan. "Nak Revan?"
Revan terdiam sesaat. Lalu menjawab dengan tenang. "Queen setuju tante."
DEG!
Queen langsung tersentak dari sofa. "Hah?!"
Semua orang menoleh kepadanya.
Sedangkan Revan melanjutkan dengan santai. "Kami sepakat akan menikah setelah Queen menyelesaikan skripsinya."
Pak Arman mengangguk pelan. "Itu bagus."
Ayah Revan juga terlihat puas. "Sangat masuk akal."
Queen sendiri sudah melotot ke arah Revan. "Pak Revan!"
"Iya?"
"Kenapa Bapak ngomongnya begitu sih!"
Revan mengangkat alis. "Memangnya kenapa?"
"Saya kan nggak setuju!"
"Loh?"
"Loh gimana?"
Revan terlihat berpikir sejenak. "Tadi kamu bilang setuju."
Queen membelalak. "Maksud saya nggak gitu."
"Tapi kamu mengangguk."
"Itu karena Saya setuju untuk fokus ke skripsi dulu."
Kevin yang mendengar itu langsung tertawa. "Hahahaha!"
"Ka Kevin!"
"Maaf."
"Nggak lucu!"
"Bagi gue lucu."
Queen semakin kesal.
Sedangkan Revan terlihat sangat tenang. "Berarti ada kesalahpahaman."
"Jelas ada!"
"Baik."
Namun bukannya selesai, Ibu Farah justru tersenyum semakin lebar. "Oke."
Queen langsung punya firasat buruk. "Oke apa, Ma?"
Farah menatap semua orang di ruangan itu. Lalu berkata dengan santai. "Kalau begitu Mama yang putuskan."
Queen langsung menatap ibunya.."Mama mau mutusin apa?"
Farah tersenyum manis. "Satu minggu dari sekarang kalian akan menikah."
Ruangan mendadak hening.
Queen membeku. "Tunggu."
Farah tetap tersenyum. "Semuanya sudah Mama pikirkan."
"Mama..."
"Keluarga Nak Revan juga setuju."
Ibu Revan tersenyum canggung. Ayah Revan berdeham pelan. Kevin langsung memejamkan mata karena sudah tahu ledakan apa yang akan terjadi. Dan benar saja...
"MAMA..." Suara Queen menggema ke seluruh rumah.
Ibu Farah tetap tenang. "Satu minggu cukup kan?"
"Cukup buat apa?"
"Persiapan."
"Aku kan belum bilang setuju!"
"Nanti juga setuju."
"Nggak!"
Ibu Farah masih terlihat santai.
Sedangkan Queen sudah benar-benar kehilangan kesabaran. "Aku punya pacar, Ma!"
"Kita bicarakan baik-baik."
"Nggak ada lagi yang perlu di bicarakan!"
"Queen."
"Nggak!"
Pak Arman akhirnya ikut angkat bicara. "Queen, kamu tenang dulu."
"Papa juga tahukan soal ini?!"
Pak Arman langsung terdiam. Dan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Queen menatap satu per satu wajah keluarganya. Mama. Papa. Ka Kevin. Lalu Pak Revan. Semuanya seolah sudah membicarakan hal ini jauh sebelum dirinya tahu. Perasaan kesal dan kecewa langsung memenuhi dadanya.
"Aku kecewa sama kalian semua."
"Queen..."
"Aku kecewa, kalian melakukan ini tanpa ngomong sama aku dulu," suara Queen bergetar seperti menahan tangis.
Ruangan kembali hening.
Mata Queen mulai memanas. Namun kali ini bukan karena marah semata. Melainkan karena merasa keputusan hidupnya sedang dibicarakan oleh semua orang kecuali dirinya sendiri.
"Aku mau ke kamar."
"Queen."
"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi."
Setelah mengatakan itu, Queen langsung berbalik. Lalu berjalan cepat menuju tangga.
"Queen!" Suara Ibu Farah terdengar memanggil.
Namun gadis itu tidak berhenti. Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu kamar dibanting dari lantai atas.
BRAK!
Ruangan bawah langsung sunyi.
Kevin mengusap wajahnya. "Nah kan."
Ibu Farah menghela napas panjang. "Sepertinya dia marah."
"Bukan sepertinya lagi, dia pasti marah banget," gumam Kevin.
Sedangkan di sudut ruangan, Revan hanya menatap ke arah tangga dengan ekspresi tenang. Kali ini pria itu menyadari bahwa situasi ini ternyata jauh lebih rumit daripada membimbing skripsi Queen.
Ruangan masih dipenuhi suasana canggung setelah Queen pergi. Tak ada yang langsung berbicara selama beberapa saat.
Kevin akhirnya menghela napas panjang lalu menatap Revan. "Van."
Revan mengalihkan pandangan dari tangga. "Hm?"
"Sorry ya."
Revan mengernyit. "Untuk apa?"
Kevin tersenyum kecil. "Untuk tingkah adik gue."
Revan langsung menggeleng. "Lo nggak perlu minta maaf."
"Tetap aja gue nggak enak." Kevin menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Gue yakin Queen cuma kesal."
Ayah Revan dan Pak Arman ikut mendengarkan.
"Dia memang keras kepala."
"Itu gue juga tahu."
Kevin sampai tertawa kecil. "Nah kan." Lalu pria itu melanjutkan dengan nada lebih serius. "Tapi kalau memang lo mau melanjutkan semua ini..."
Semua orang langsung memperhatikan.
"Gue akan bantu bujuk dia."
"Kevin!" tegur Pak Arman.
"Kenapa Pa?"
"Kamu jangan ikut-ikutan."
Kevin mengangkat bahu santai. "Aku cuma berusah bantu, Pa."
Namun sebelum siapa pun berbicara lagi...
Ibu Farah tiba-tiba menyela. "Ya memang harus dong, Vin."
Semua langsung menoleh.
Ibu Farah terlihat sangat yakin dengan pendapatnya. "Mama memang ingin Nak Revan jadi menantu Mama."
Kevin langsung memijat pelipisnya. "Mama..."
"Kenapa?"
"Jangan terlalu jujur begitu."
"Loh memang iya."
Ayah Revan sampai tertawa kecil. Sedangkan Revan hanya diam.
Ibu Farah lalu menatap Kevin. "Mama hanya berharap kalau Queen menikah dengan Nak Revan, hidupnya akan lebih baik."
Kevin mengangkat alis. "Maksud Mama?"
"Ya lihat saja." Ibu Farah mulai menghitung dengan jari. "Revan sabar, baik, bertanggung jawab, dan yang paling penting punya masa depan yang jelas."
Kevin langsung tertawa. "Oke, lanjut."
"Coba kamu lihat Queen, kalau tidak ada Nak Revan, itu skripsi mungkin selesai tahun depan."
Pak Arman sampai menahan senyum. Sedangkan Revan terlihat pasrah mendengar dirinya dijadikan bahan kampanye.
Ibu Farah melanjutkan dengan penuh keyakinan. "Makanya Mama suka."
Kevin tertawa kecil. "Tapi Queen kan punya pacar, Ma."
Mendengar itu, ekspresi Farah langsung berubah. "Mama tidak setuju."
Semua langsung menoleh.
Kevin mengernyit. "Kenapa?"
Ibu Farah menyilangkan tangan. "Karena Mama sudah selidiki."
"Selidiki?"
"Iya."
Kevin mulai merasa tidak enak. "Mama ngapain?"
Ibu Farah menjawab dengan santai. "Pacarnya Queen itu mokondo."
Kevin membeku. Pak Arman hampir tersedak minuman. Bahkan Ibu Revan terlihat kaget.
"Mokondo?" ulang Kevin.
"Iya."
"Mama tahu dari mana istilah begitu?"
Ibu Farah langsung menjawab tanpa rasa bersalah.
"Dari TikTok."
Kevin langsung memejamkan mata. "Pantesan."
Ibu Farah malah terlihat bangga. "Mama sekarang mengikuti perkembangan zaman."
"Ma..."
"Benar."
"Mama tahu arti mokondo nggak?"
"Tahu."
"Apa?"
Ibu Farah langsung menjawab dengan penuh percaya diri. "Modal koneksi doang."
Semua langsung terdiam.
Kevin menatap langit-langit. Pak Arman menutupi wajahnya. Sedangkan Revan akhirnya menunduk karena hampir tertawa.
Kevin menghela napas panjang.
"Ma."
"Hm?"
"Bukan itu artinya."
"Bukan?"
"Iya."
Ibu Farah terlihat bingung. "Loh terus apa?"
Kevin langsung menyesal telah membuka topik itu. Sementara di sudut ruangan, terdengar suara tawa kecil dari Revan. Pria itu menggeleng pelan.
Dan entah kenapa, di tengah situasi yang kacau itu, suasana menjadi sedikit lebih ringan. Karena ternyata sumber kekacauan terbesar di rumah itu bukan Queen. Melainkan Ibu Farah dan TikTok-nya.
Saling support sabi kali ya😉