NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Panik yang Menjadi Jalan Masuk

Dua hari sejak batas waktu disampaikan, suasana di kantor Surya Abadi terasa berubah drastis dari yang kelihatan tenang jadi kacau balau tanpa perlu ditutup-tutupi lagi. Dari luar pagar saja sudah bisa ditebak kalau ada sesuatu yang nggak beres: pintu utama sering terbuka dan tertutup cepat, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar sampai ke jalan, lampu ruang kerja tetap menyala terang meski malam sudah larut sekali seolah tak ada waktu buat istirahat. Rusdi yang dulu selalu tampil rapi, kemeja kancing sampai leher dan senyum manis tak pernah hilang, sekarang terlihat berantakan sekali, rambutnya acak-acakan, keringat membasahi pelipisnya meski ruangan pakai pendingin udara, dan matanya melotot ke sana kemari seolah tak tahu harus mulai dari mana membenahi semuanya.

Faris Arjuna lewat di pinggir jalan depan gedung itu dengan gaya santai seperti biasa, tangan kanan memegang rokok yang sesekali dihisap pelan, mata melirik sekilas tapi sudah menangkap setiap perubahan kecil yang terjadi. Dia sengaja lewat di jam yang sama berulang kali supaya terlihat cuma orang yang lalu-lalang biasa, bukan orang yang sedang mengawasi. Begitu sampai kembali ke ruang kerja Viona, dia duduk di tempat kesukaannya, menyandarkan punggung dengan nyaman, baru mulai bicara dengan nada yang tetap ringan tapi penuh arti.

Bu Viona, sekarang mereka mulai masuk ke jebakan yang dibuat sendiri itu pelan-pelan tapi pasti,” kata Faris Arjuna sambil memutar-mutar batang rokok di jari kirinya. “Rusdi itu sekarang bukan lagi orang yang percaya diri dan berlagak pandai, dia sudah mulai ketakutan setengah mati. Tadi saya lihat lewat celah jendela, dia sampai menyalahkan bawahannya tanpa alasan jelas, memerintah ini itu terus berubah dalam waktu singkat, dan yang paling lucu dia berusaha menyembunyikan tumpukan berkas lama ke dalam lemari paling pojok sambil melirik ke kanan kiri takut ada yang melihat. Padahal Bu Viona, semakin dia berusaha menyembunyikan sesuatu, semakin jelas terlihat kalau itu memang ada yang salah.”

Viona mengangguk sambil mendengarkan saksama, tangannya menyilangkan di dada dengan sikap waspada tapi tenang. “Terus Faris Arjuna, apa yang harus kita lakukan sekarang? Biarkan saja atau kasih tekanan lagi supaya mereka makin terburu-buru?”

Faris Arjuna tersenyum lebar gaya sengklek khasnya, lalu menjawab tanpa ragu sedikitpun. Tentu saja biarkan saja dulu Bu Viona, jangan ganggu mereka. Biarkan rasa panik itu bekerja lebih keras dari apa pun yang bisa kita lakukan. Orang yang sudah panik pikirannya jadi kacau, perbuatannya jadi ceroboh, dan dia akan melakukan hal-hal yang sebenarnya justru memperburuk keadaan dia sendiri tanpa sadar. Tadi sore Faris Arjuna sempat mendengar suara pertengkaran dari balik tembok yang agak tipis itu, Rusdi berteriak pelan tapi cukup keras terdengar jelas kalau dia marah besar.”

Faris Arjuna lalu menirukan situasinya dengan nada yang tetap santai seolah sedang bercerita kejadian lucu. “Begini katanya Rusdi, suaranya gemetar menahan emosi: Kamu bilang aman, kamu bilang tak akan ada jejak yang terlihat! Sekarang mereka minta semua berkas diperiksa ulang dalam waktu singkat, bagaimana kita bisa mengatur semuanya tanpa ada yang ketahuan? Dan bawahannya jawab balik dengan nada takut: Mas Rusdi, saya sudah bilang dari awal penjaga yang selalu ada di dekat Nona Viona itu bukan orang sembarangan, dia melihat lebih banyak dari apa yang kita kira. Dia tahu celah mana yang kita lewati, catatan mana yang kita ubah, jalan mana yang kita pakai secara diam-diam.”

Faris Arjuna menghembuskan asap rokok perlahan yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil sebelum hilang terbawa angin. “Lihat sendiri kan Bu Viona? Mereka sudah mulai saling tuduh dan curiga satu sama lain. Itu tanda yang paling jelas kalau benteng yang mereka bangun untuk menyembunyikan kesalahan itu sudah mulai retak dari dalam. Kalau sudah saling curiga, nanti tanpa sadar salah satu dari mereka akan melakukan kesalahan baru yang lebih besar lagi, entah salah tulis nomor, salah taruh dokumen, atau bahkan bicara terlalu banyak di tempat yang tidak semestinya.”

Dia melanjutkan dengan nada yang makin nyelekit tapi tetap enak didengar. “Faris Arjuna juga sudah dapat kabar lagi dari tukang parkir yang sama, dia bilang sejak dua hari ini kendaraan yang lewat jalan belakang itu makin sering dan makin terburu-buru. Lampunya tidak lagi diredupkan saja tapi kadang mati total, sopirnya mengemudi cepat sekali sampai debu beterbangan ke mana-mana. Mereka pikir makin cepat makin aman, padahal makin cepat gerakannya makin banyak jejak yang tertinggal: bekas roda yang dalam, debu yang menempel di dinding, suara mesin yang keras sampai terdengar ke rumah warga sekitar, semuanya menjadi bukti yang tak bisa dihapus cuma dengan disapu atau ditutup kain.”

Faris Arjuna lalu menunjuk ke arah tumpukan catatan kecil yang dia tulis rapi di atas meja. Semua ini sudah Faris Arjuna catat jam berapa lewat, jenis kendaraannya apa, perkiraan berat muatannya dari bekas jejak roda itu, bahkan nama orang yang sering ikut masuk lewat pintu samping itu sudah tercatat dengan jelas. Mereka pikir tempat itu sepi dan tak ada yang memperhatikan, padahal Faris Arjuna sudah mengatur semuanya seperti membaca buku yang terbuka lebar. Setiap langkah yang mereka ambil, setiap keputusan yang mereka buat, semuanya justru membantu kita menyusun bukti yang makin kuat dan lengkap tanpa perlu kita mengeluarkan tenaga banyak.”

Terus langkah selanjutnya apa Faris Arjuna?” tanya Viona dengan nada yang makin tenang karena sudah melihat jalannya rencana berjalan sempurna.

Faris Arjuna menyandarkan kepalanya sedikit ke belakang sambil tersenyum lebar. “Besok pagi kita kirim surat resmi lagi Bu Viona, isinya sopan saja, cuma mengingatkan bahwa batas waktu tinggal satu hari lagi dan semua berkas harus sudah diserahkan lengkap paling lambat sore hari itu juga. Jangan tambah apa-apa yang menakutkan, cukup tegaskan saja aturan yang sudah disepakati. Tujuannya cuma satu: kasih mereka waktu yang makin sempit. Orang yang punya waktu banyak kadang masih bisa berpikir meskipun salah, tapi kalau waktunya sudah mepet dan hati sudah penuh rasa takut, dia pasti akan membuat kesalahan yang lebih besar lagi untuk menutupi kesalahan yang sudah ada.”

Dia melanjutkan penjelasannya dengan gaya yang makin santai tapi makin tajam isinya. “Ingat Bu Viona, rasa panik itu ibarat air yang bocor dari genting kecil. Kalau dibiarkan saja perlahan-lahan, lama-lama lubangnya makin besar dan airnya makin deras keluar membawa serta semua kotoran yang tadinya tertimbun rapi di dalam. Begitu juga dengan Rusdi dan orang-orangnya. Mereka sekarang sedang menggali lubang yang makin dalam dengan tangan mereka sendiri, berusaha keluar dari satu lubang kecil malah masuk ke lubang yang lebih besar lagi tanpa sadar.”

Faris Arjuna menambahkan lagi dengan nada yang terdengar seperti sedang mengajari hal sederhana. “Faris Arjuna sudah belajar hal ini sejak lama Bu Viona: musuh yang tenang dan yakin akan dirinya memang lebih sulit ditangkap, tapi musuh yang sudah mulai panik dan takut itu justru menjadi sekutu kita yang paling rajin. Dia akan berbicara terlalu banyak, bergerak terlalu terburu-buru, menyembunyikan sesuatu terlalu rajin sampai akhirnya terlihat mencolok, dan yang paling penting dia akan membuat kesalahan demi kesalahan yang saling berkaitan satu sama lain. Nanti kalau kita susun semuanya satu per satu, akan terlihat jelas seperti benang yang panjang, dari ujung sampai pangkalnya tidak ada yang terputus dan tidak ada yang bisa disangkal lagi.”

Dia mengangkat batang rokok yang sudah hampir habis itu ke depan matanya sebentar lalu mematikannya perlahan di dalam asbak keramik. Jadi kita cuma duduk saja di sini Bu Viona, minum kopi kalau mau, nikmati saja prosesnya pelan-pelan. Biarkan mereka yang bekerja keras mempersiapkan semuanya buat kita. Semakin mereka berusaha meluruskan yang sudah bengkok, semakin mereka mengikat tali yang menjerat kaki mereka sendiri. Nanti pas hari terakhir tiba, kita tidak hanya punya selisih angka di kertas saja, tapi juga punya jejak kendaraan, saksi mata, rekaman suara, dan kelakuan mereka sendiri yang membuktikan semuanya itu bukan kebetulan tapi memang sudah direncanakan sejak awal. Itu yang disebut menang tanpa perlu berjuang keras, cuma sabar menunggu sampai jebakan itu menutup sendiri karena beratnya ditindih oleh keserakahan mereka sendiri

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!