NovelToon NovelToon
JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

JEBAKAN SANG MANTAN : Membeli Kehancuranmu Dengan Senyuman

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

​"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."

​Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".

​Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.

Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Di Antara Bahaya dan Getaran Jiwa

​Siang itu, matahari menggantung tinggi di atas gedung pencakar langit Gemilang Bintang Corporation (GBC). Angin kota Jakarta berembus kencang, mempermainkan ujung blazer hitam formal yang dikenakan oleh Kirana. Setelah pertemuan yang sangat sukses dan memukau bersama Tuan Rudi Dewantara, Kirana melangkah keluar dari lobi utama dengan keanggunan yang sempurna. Langkah kakinya tegas, mengetuk lantai marmer dengan ritme yang penuh rasa percaya diri. Di balik kacamata hitamnya, sorot matanya memancarkan kilatan kepuasan. Takhta GBC sudah berada di dalam genggamannya, dan senjata untuk menghancurkan Adiwangsa Logistik telah siap ditembakkan.

​"Nona Kirana, mohon tunggu di sini sebentar. Saya akan mengambil mobil terlebih dahulu di area parkir khusus," kata Martin dengan nada suara yang sangat sopan namun tegas, berdiri setengah badan di belakang Kirana.

​Kirana menoleh sedikit, lalu mengangguk sambil tersenyum tipis. "Baik, Martin. Jangan lama."

​Martin membungkuk hormat lalu melangkah cepat menuju area parkir bawah tanah, meninggalkan Kirana yang berdiri sendirian di selasar depan gedung yang sedikit lengang karena jam makan siang baru saja dimulai.

​Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah samping tiang pilar aksara gedung, muncul sekelompok pria berperawakan kotor dan berwajah garang. Jumlah mereka lima orang, dengan pakaian lusuh dan tato yang memenuhi lengan. Tatapan mata mereka sangat liar, langsung tertuju pada tas kulit mewah keluaran terbaru yang sedang dicangklang oleh Kirana. Itu adalah tas berharga ratusan juta yang di dalamnya terdapat dokumen penting GBC dan Purnama Group.

​Srett!

​Tanpa peringatan sama sekali, salah satu preman berambut panjang langsung berlari cepat dan menjambret tas tersebut dengan kasar. Kirana tersentak kaget. Namun, refleks bertahan yang selama ini teruji saat menghadapi tekanan di rumah Adrian membuatnya tidak langsung melepaskan tas itu begitu saja. Kirana menarik kembali tali tasnya dengan sangat kuat.

​"Lepaskan! Dasar penjahat!" teriak Kirana, matanya memancarkan kemarahan, bukan ketakutan.

​"Wah, perempuan ini berani melawan!" bentak preman yang memakai jaket kulit rombeng. Dengan cepat, dia mengeluarkan sebilah pisau lipat yang berkilat di bawah sinar matahari, langsung diarahkan ke depan wajah Kirana. "Lepaskan tasnya, atau wajah cantikmu ini hancur?!"

​Melihat mata pisau yang sangat dekat dan demi keselamatan nyawanya, Kirana akhirnya terpaksa melepaskan genggaman tas tersebut. Namun, karena tarikan preman itu terlalu keras dan Kirana mengenakan sepatu hak tinggi yang cukup jangkung, keseimbangan tubuhnya langsung menjadi tidak stabil. Tubuh Kirana terhuyung ke belakang, siap untuk terjatuh di atas lantai semen yang keras.

​Kirana memejamkan matanya, bersiap merasakan sakit. Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sebuah tangan berotot yang sangat kuat dan kokoh langsung menangkap pinggangnya dengan sigap.

​Grep.

​Waktu yang Melambat

​Dalam sekejap mata, waktu seolah berjalan sangat lambat. Deru angin dan bising kota Jakarta seketika senyap. Kirana perlahan membuka matanya dan menemukan dirinya berada di dalam dekapan Martin. Kacamata hitam Kirana sempurna terlepas, menampilkan sepasang mata indah yang sedang terbelalak kaget.

​Tatapan matanya langsung beradu dengan sorot mata Martin. Namun, kali ini sorot mata Martin terlihat sangat berbeda. Itu bukan lagi tatapan dingin dan patuh dari seorang pengawal pribadi kepada majikannya. Di dalam manik mata Martin, terdapat sebuah kilatan kekaguman yang sangat dalam, sebuah perlindungan yang tulus, dan getaran jiwa yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat. Kirana merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat, bukan karena kejadian jambret tadi, namun karena jarak wajah Martin yang sangat dekat hingga dia bisa merasakan deru napas pria tersebut.

​Martin menatap setiap sisi wajah Kirana, memastikan wanita yang dikaguminya ini tidak terluka sedikit pun. Kirana tertegun, merasakan bahwa Martin benar-benar berada di sana untuk melindunginya dengan seluruh hidupnya.

​"Maaf, Nona...!!" kata Martin seketika memecah keheningan, suaranya terdengar rendah dan bergetar sedikit saat dia perlahan membantu Kirana untuk berdiri tegap kembali. "Anda tidak apa-apa... Nona Kirana?" lanjutnya dengan nada penuh khawatir.

​"Aku... aku tidak apa-apa, Martin," jawab Kirana sambil merapikan blazer-nya, berusaha menutupi tingkah salah tingkahnya karena debaran jantung yang belum mereda.

​Martin langsung berbalik, menatap kelima preman yang sekarang sedang tertawa-tawa sambil memegang tas Kirana. Wajah Martin yang tadi lembut saat menatap Kirana, seketika berubah menjadi sangat dingin dan mengerikan. Matanya menyipit seperti seekor serigala yang siap menerkam para pengganggu wilayahnya.

​"Serahkan tas Nona Kirana...!!" teriak Martin dengan suara lantang yang bergema di selasar gedung. "Kalian semua akan kuampuni dan bisa pulang dengan tangan utuh kalau tas itu kembali sekarang juga."

​Merasa pernyataan Martin sangat sombong dan menantang, para preman itu seketika tertawa terpingkal-pingkal meremehkan.

​"Hahaha! Siapa kamu, Hah?! Pahlawan kesiangan?!" bentak si pemimpin preman sambil mengacungkan pisunya kembali. "Mau menyerahkan nyawa ke kami heuh?! Cari mati kamu, sopir bodoh!"

​Pertempuran yang Epik

​Martin tidak menjawab lagi. Ia tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Dengan satu hentakan kaki yang sangat kuat, Martin langsung menerjang ke depan secepat kilat.

​Bugh!

​Pukulan pertama Martin langsung menghantam rahang preman yang memegang pisau. Seketika, pria berperawakan raksasa itu terpelanting sejauh dua meter, pisunya terlepas dan gigi depannya ambrol di lantai. Keempat preman lainnya yang melihat temannya tumbang dalam satu detik langsung menjadi panik namun seketika maju bersamaan untuk mengepung Martin.

​Dua preman mencoba memukul pundak Martin dari arah belakang, namun Martin dengan cerdik merunduk, membiarkan kedua tangan preman itu saling berbenturan. Tanpa membuang waktu, Martin melakukan gerakan berputar dan melepaskan tendangan menyapu lantai (low-kick) yang sangat keras hingga membuat kedua preman itu kehilangan pijakan dan terjungkir balik menabrak tiang pilar marmer.

​Krak!

​Suara retakan tiang terdengar, bersamaan dengan teriakan kesakitan para preman tersebut. Dua preman tersisa mencoba melarikan diri sambil membawa tas Kirana, namun Martin langsung melompat dan melakukan tendangan terbang (flying kick) yang sangat tepat menembak punggung preman terakhir hingga tersungkur ke depan parit. Tas Kirana terlempar ke udara, dan dengan sangat sempurna Martin menangkap tas tersebut sebelum menyentuh lantai.

​Seluruh pertempuran singkat itu terasa sangat epik dan sinematik. Gerakan Martin sangat bersih, cepat, dan penuh tenaga, seolah dia sedang menari di atas panggung kemarahan. Kelima preman itu sekarang tergeletak merintih sakit di lantai, sebelum akhirnya mereka memaksakan diri untuk berdiri dan kabur terbirit-birit ketakutan meninggalkan area gedung GBC.

​Martin menepuk-nepuk jasnya untuk membersihkan debu halus, lalu melangkah kembali ke arah Kirana dengan wajah yang seketika kembali menjadi sopan dan tenang, seolah kejadian tempur tadi tidak pernah terjadi.

​"Ini tas Anda, Nona Kirana. Semua dokumen di dalamnya aman," kata Martin sambil menyerahkan tas kulit tersebut dengan kedua tangannya.

​Bela Diri atau Bela Nona?

​Kirana menatap Martin dengan tatapan tidak percaya. Matanya berkedip-kedip beberapa kali, masih terpaku atas aksi heroik dan kehebatan luar biasa yang baru saja ditunjukkan oleh pengawalnya.

​"Kamu... kamu bisa beladiri juga, Martin?!" tanya Kirana dengan nada suara yang penuh kejutan dan kekaguman.

​Martin terdiam sebentar, lalu sebuah senyuman tipis dan sedikit malu-malu muncul di wajahnya yang tampan. "Belum bisa... belum bisa, Nona...!!"

​Kirana mengernyitkan dahi sedikit, merasa heran. "Belum bisa maksudmu? Itu tadi kamu melawan lima preman berbahaya dan semuanya tumbang sekaligus! Kamu sangat hebat, Martin."

​Martin menatap langsung ke manik mata Kirana, kali ini dengan kilatan kejenakaan dan kelembutan yang membuat suasana menjadi terasa romantis dan manis. "Itu tadi bukan beladiri, Nona Kirana. Itu saya lakukan karena bela Nona Kirana."

​"Kalau beladiri... saya belum mampu," lanjut Martin dengan nada suara polos.

​Kirana tertegun, rahangnya sedikit terbuka karena bingung. "Maksudmu... apa, Martin? Jangan berbelit-belit."

​Martin maju satu langkah, membuat jarak di antara mereka kembali merapat. Ia menundukkan kepalanya sedikit hingga sejajar dengan Kirana, lalu berbisik dengan nada bercanda namun terdengar sangat manis. "Saya tidak bisa beladiri... karena saya selalu kehilangan daya bela diri saya... saat berdiri di depan Nona yang sangat cantik dan berwibawa di hadapan saya ini. Seluruh pertahanan saya langsung runtuh."

​Deg.

​Wajah Kirana seketika berubah menjadi merah merona seperti buah tomat yang matang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pengawalnya yang terkenal dingin dan patuh itu ternyata bisa mempunyai gombalan maut tingkat tinggi seperti ini.

​"Kamu... kamu bisa aja!" kata Kirana sambil membuang wajahnya ke arah samping, berusaha menyembunyikan senyuman lebar dan perasaan senang yang meluap-luap di dalam ddadanya. Ia menyenggol pundak Martin seketika dengan gemas.

​Kirana mulai merasakan daya tarik yang sangat kuat terhadap karakter Martin. Selama lima tahun hidup bersama Adrian yang selalu menuntut dan angkuh, Kirana tidak pernah merasakan perlakuan manis seperti ini. Martin bukan hanya seorang pria yang jago dan kuat untuk melindunginya, namun dia juga sangat lucu, menghibur, dan memiliki wajah tampan maskulin yang sangat memikat hati.

​"Ya sudah, mobilnya mana? Ayo kita kembali ke kantor Paman Aldo. Aku harus segera menyiapkan berkas perdana GBC," kata Kirana, berusaha kembali profesional meskipun suaranya masih terdengar manja dan bergetar.

​"Baik, Nona Kirana... Mobil sudah siap di depan," jawab Martin dengan senyuman nakal sambil membukakan pintu mobil sedan mewah yang baru saja tiba di selasar.

​Kirana masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang berbunga-bunga. Di dalam benaknya, rencana balas dendam terhadap Adrian dan keluarga Adiwangsa masih berkobar, namun kali ini, perjalanan panjang tersebut tidak akan terasa sepi lagi karena kehadiran Martin di sampingnya. Sisi chiclit dan drama romantis baru saja dimulai di antara takhta GBC dan kesetiaan seorang pengawal tampan.

1
Katumbiri Lazuardi
berikan saran dan kritiknya ya teman-teman
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!